Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
She's Weird



Setelah Akira bebas dari hukuman ia sudah kembali bekerja dan mengurus usahanya seperti biasa.


Kali ini ia berniat pergi ke Kafe yang belum lama ia buka, syukurlah segalanya berjalan dengan amat baik ditangan Viara.


"Ra, kapan nih kumpulnya dulu lo yang sering semangat, sekarang sejak nikah susah gini"


ujar Viara.


"Lah iya, belom izin gue lupa ntar deh pas dia dirumah biar enak ngomongnya"


"Oke sip lah" sahut Viara.


Setelah selesai dengan pekerjaannya untuk memantau perkembangan ekonomi dan menjamin karyawannya teliti dalam melaksanakan tugasnya ia mencuri kesempatan untuk berbelanja dengan kartu milik Farid. Ia menelpon suaminya untuk meminta izin ia takut dihukum dan dikurung jika melakukan sesuatu tanpa seizinnya.


"Halo, aku boleh belanja pakai kartu yang kamu kasih?"


Tsk, kenapa bertanya kan sudah aku berikan berarti kau boleh gunakan


"Ya siapa tau kamu marah"


Pakailah dan kau harus habiskan seratus juta dalam satu bulan atau kau aku hukum tidak boleh berbelanja ! sahut Farid dari seberang telepon dan langsung mematikannya secara sepihak.


"Wow, baik banget tapi sebulan abis segitu emang aku bakalan beli apa coba" gumamnya pelan.


Akira berkeliling mencari sesuatu yang mungkin akan ia sukai.


Tak terasa ia sudah mengantongi beberapa pakaian dan sepatu.


Hemm lumayan juga ini duit gue utuh, enak juga punya suami kaya batinnya dan mengulas senyum jahil.


Ia memutuskan akan kembali karna waktu sudah sore. Namun, langkahnya terhenti saat melihat tempat bertuliskan Baby's Shop.


Akira yang sangat menyukai hal - hal yang menurutnya cute tanpa pikir panjang memasuki tempat itu, lihat - lihat sebentar gak masalah kan? Begitu pikirnya.


Ia melihat baju bayi bergambar lebah yang membuatnya gemas.


Ih lucu jadi mau beli, tapi gak ada baby dirumah, gak masalah deh beli aja siapa tau bisa dikasih ke calon adik Leo


Setelah selesai dengan acara belanjanya ia benar - benar kembali ke rumah.


Merebahkan tubuh lelahnya lalu tergerak untuk membuka paperbag yang berisi belanjaannya.


Setelah puas melihat - lihat ia memutuskan untuk mandi lebih dulu tanpa membereskan belanjaannya yang terserak diranjang, ia sudah sangat ingin mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ya, jika orang lain memilih air hangat, berbeda dengan Akira yang lebih suka air dingin.


Farid melangkah memasuki rumahnya, tanpa sambutan istrinya seperti dulu.


Ia berpikir Akira terlalu senang baru dibebaskan sampai lupa tugasnya.


"Wisnu, dimana istriku?"


"Nona, belum keluar sejak pulang dari luar" jawab Wisnu.


"Jam berapa dia pulang?"


"Sekitar satu jam yang lalu, Tuan saya tidak tau pastinya"


Setelah mendengar jawaban Wisnu, Farid melangkah memasuki kamarnya, ia terheran dengan banyak belanjaan diatas ranjang.


"Akira!" panggil Farid.


Akira kaget dengan panggilan yang tiba - tiba, ia segera menjawab sebelum pria itu mencari kemari.


"Hah! Apa aku sedang mandi" sahutnya.


Tak lama ia keluar dengan bathrobe ditubuhnya.


"Maaf aku gak tau kamu pulang, siniin jasnya, aku udah siapin air hangat buat mandi"


"Jawab dulu, ini kenapa disini?" tanya Farid menunjuk pada belanjaan Akira.


"Hehe..ntar aku beresin kok"


"Bentar! Ini kamu beli baju aneh lagi? Gambar lebah?! Kan aku sudah pernah bilang ja- "


"Ih itu bukan baju buat aku, itu baju bayi"


"Suka aja, gemes liatnya" jawabnya santai.


"Emang siapa yang mau pakai ini?"


"Ngga ada sih, ya siapa tau ntar kalau Leo punya adik buat adiknya Leo" jawab Akira tanpa keraguan.


Farid hanya mendengus menanggapi keanehan istrinya dan pergi mandi.


----------------


"Bi Tuti ! Gorengin ikan ya buat makan malam, lagi pengen, oh iya jangan lupa sama buat sambel" perintahnya pada Astuti.


Astuti melaksanakan apa perintah Akira meski heran biasanya ia tidak minta ikan dan barusan menyingkirkan susu stroberi kesukaannya, tapi ia tak mungkin protes ia hanya pembantu.


Setelahnya ia duduk dan menunggu Farid, setelah 20 menit Farid datang dan makanannya juga datang.


"Kenapa ada ikan disini, bukankah sudah saya bilang jangan masak ikan yang tidak disukai istri saya" protes Farid melihat penampakan ikan dimeja makan.


"Eh aku yang minta tadi, jangan marahi bibi" sambar Akira.


Farid menatap Akira bingung menurut info dari Gio istrinya tak suka makan ikan, jadi ia menyuruh Wisnu untuk tidak membiarkan orang dapur memasak ikan jika bukan dari perintahnya atau Akira.


Baru satu suapan, Akira menyuarakan protes.


"Bi Tuti ! Bibi gak goreng dulu cabenya ya?"


"Maaf Nona"


"Aku gak mau makan pakai itu, buatin sambel lagi, cabe sama bawang merahnya di goreng ya bi" pintanya.


Lagi lagi Farid mengernyitkan dahinya bingung, sejak kapan Akira begitu cerewet soal makanan, yang ia tahu selama ini Akira terima saja yang dimasak pembantu.


"Kalau gak sesuai kenapa bukan kamu yang masak?"


"Aku males masak sendiri" sahut Akira.


"Biasanya juga kamu ngotot mau masak sendiri"


"Kamu marah aku minta ganti sambalnya? Aku ganggu makan kamu ya?" cecar Akira dengan nada ingin menangis.


"Tidak, aku tidak marah aku hanya-"


"Yaudah maaf ngerepotin" ucap Akira menunduk dan mulai menangis.


"Kok nangis? Kamu berhak menyuruh mereka kamu Nyonya dirumah ini"


"Tapi tadi kamu marah" lirih Akira.


"Aku tidak marah!" elak Farid kesal.


"Tuh kan, yaudah aku gak jadi makan" ucap Akira lalu pergi ke kamarnya.


Farid menghela nafasnya pelan, dan mengikuti perginya Akira.


"Ayo turun, makan lagi" ajak Farid mendekati Akira yang terduduk diranjang.


Akira hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Jangan membangkang Akira"ucap Farid mulai jengah.


Akira hanya diam tak menanggapi.


" Ya sudah terserahmu saja" pasrahnya dan mulai berbalik menjauh.


"Kamu mau kemana, sini aja!" pekik Akira.


"Mau lanjut makan, kenapa lagi?"


"Makannya disini aja, aku pengen liat kamu makan" ucap Akira malu - malu.


Akhirnya, Farid mengalah dan menuruti kemauan Akira yang aneh dan tidak seperti biasanya.


Awalnya, ia mau menolak tapi tatapan Akira yang seakan memohon membuatnya tak tega.