
"Katakan, siapa anda dan ada urusan apa dengan saya?" tanya seorang pria yang tampak tidak senang menatap wanita dihadapannya yang menyilangkan kaki dan tangannya dengan sombong.
"Kamu gak kenal saya? Saya ini model terkenal loh" ujar wanita itu sombong.
"Tck, saya tidak perduli cepat katakan maksudmu"
"Santai jangan tergesa-gesa, aku hanya ingin mengajakmu bekerja sama," sahutnya membuat alis pria itu terangkat sebelah, "Akira, kamu tau gadis itu?"
"Jangan bertele-tele, aku masih punya banyak pekerjaan penting!" ketusnya sembari menatap jam tangannya.
"Baiklah langsung saja, aku tau kamu mencintai Akira, kamu mau memilikinya?"
"Jika aku bisa, sedangkan dia sudah memiliki suami"
"Dan suaminya adalah pria yang aku cintai, aku mencintai Farid dan kamu mencintai Akira kita sama, mari bekerja sama untuk memisahkan mereka" jelas Rayrin dengan senyum penuh arti.
"Tidak, aku bahagia jika dia bahagia, meski dia tidak pernah tau perasaanku tapi melihatnya bahagia saja sudah cukup, permisi!" sentaknya pada Rayrin dan beranjak meninggalkan restoran tempat mereka bertemu.
"Akira menderita bersama Farid!" teriak Rayrin yang membuat pria itu duduk kembali dikursinya.
"Apa maksudmu?!" tanyanya membuat Rayrin tersenyum penuh kemenangan.
"Farid mencintai aku, dia hanya memperalat Akira, tapi karena tiba-tiba dia hamil, Farid terpaksa bertahan sedikit lebih lama, tapi aku tidak sabar aku tidak suka melihatnya bersama Akira"
"Apa yang bisa membuat aku mempercayaimu?!"
"Tidakkah kamu berpikir, pernikahan mereka terlalu mendadak?" ucap Rayrin yang membuat pria itu berpikir sejenak,
"Jangan banyak berpikir, bawa Akira bersamamu buat dia bahagia, aku akan membantumu, bagaimana?" tawar Rayrin.
.
.
.
Akira menikmati asrinya alam melalui halaman villa yang kini telah menjadi miliknya, Farid benar-benar memberikan tempat ini untuknya. Villa kecil, namun indah dan nyaman menyejukan jiwanya, kata Farid awalnya si pemilik tidak ingin menjualnya karena ternyata ia punya selera yang sama dengan Akira hingga membangun villa kecil di pedalaman desa, tapi bukan Farid namanya kalau tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Mas, aku- ah bukan aku tapi-"
"Anak kita mau apa?" sambar Farid yang mengerti arah ucapan istrinya. Akira meringis canggung karena niatnya telah diketahui oleh sang suami.
"Mau mangga muda sama jambu air terus dimakan pake bumbu rujak, makannya dihalaman belakang yang deket sungai" pintanya dengan lancar.
"Astaga Ki, tinggal bilang mau rujak gitu"
"Hehe iya"
Jadilah mereka menuruti apa mau Akira, dengan beralaskan tikar pandan mereka menikmati rujak, mungkin bukan mereka tapi hanya Akira, sebab Farid terlihat mengernyit asam saat Akira menyodorkan potongan mangga muda yang sudah dibubuhi bumbu rujak.
"Kamu saja yang makan, aku gak suka, asam rasanya" tolak Farid saat istrinya akan menyuapkan potongan mangga muda untuk yang ketiga kalinya.
"Ini enak tau, makannya aku mau berbagi sama kamu, eh malah gak mau, ya sudah" ketusnya lalu menikmati buah asam itu dengan lahap.
Apa lidah ibu hamil itu sudah mati ya, bisa- bisanya menyantap mangga muda asam seperti itu dengan biasa saja batin Farid sembari memakan jambu air yang dirasa aman dilidah.
"Rasanya seperti piknik ya, sayang baby belum lahir, kalau udah lahir pasti makin seru" celetuk Akira.
"Kita bisa kesini lagi, ketika dia lahir,bahkan ketika adiknya lahir, sampai adiknya memiliki adik lagi kita bisa kembali kesini kapanpun" ucap Farid membuat Akira tertegun. Ia berpikir, benarkah ia tidak salah dengar ? Itu artinya pria yang dicintainya menyusun masa depan bersamanya bahkan dia bilang mereka akan memiliki anak selain bayi di kandungannya nantinya.
"Kenapa diam? Apa kamu tidak setuju?"
"Setuju kok, setuju banget" sahut Akira kelabakan karena Farid mengagetkannya yang sedari tadi terlihat melamun.
"Kapan pulang?" tanya Farid membuatnya berang dan menatap suaminya tajam.
"Apa yang Rayrin lakukan memangnya?"
"Emh..enggak ada, emm dia kan suka nempel sama kamu, aku gak suka gitu" jelasnya gugup, yang membuat Farid semakin penasaran.
"Yakin hanya itu?"
"Iyalah apalagi memangnya, sudahlah aku lapar mau makan nasi nanti sakit perut kalau cuma makan beginian" cerocosnya mengalihkan pembicaraan.
Astaga, kenapa mulutnya cerewet sekali sampai kelepasan bicara begitu.
Akira melenggang memasuki dapur dan membuka lemari pendingin yang baru saja Gio bawa dari kota dengan segala isinya.
Ia memasak capcai untuk makan siangnya lalu memanaskan ikan kaleng. Anehnya Akira, ia lebih suka makan ikan kaleng dan ikan asin daripada ikan segar.
Ia menata masakannya dimeja bundar berbahan kayu namun dilapisi kaca, yang ada didapur dan mengajak suaminya untuk makan siang.
"Wow, kamu masak?"
"Ya iyalah masak nutur" ketus Akira.
"Hush, gak sopan mulutnya, orang hamil juga" tegur Farid.
"Hihi maaf, segini cukup?" tanya Akira sembari menunjukan piring berisi nasi.
"Tambah sedikit lagi, cukup" sahut Farid menunjukan porsi yang ia inginkan.
Jujur, hidup damai didesa lebih menyenangkan dibanding saat dikota penuh denga tekanan dari sekitar.
Bagi Akira tidak apa hidup sederhana asal setenang dan sebahagia ini, yang penting ada pria yang ia cintai disisinya yang juga akan menyayanginya.
Disisi lain, Rayrin tengah sibuk mencari keberadaan pria incarannya, entah kemana Farid dirumah tidak ada,dikantor tidak ada, ia memutuskan untuk mencarinya ke rumah mama, tapi nihil, " Farid, gak kesini Ray memang kenapa?"
"Ma, Farid gak ada dimana-mana, sekertarisnya aja gak mau kasih tau"
"Yaudah biar mama yang nanya Sergio" ucap mama dan segera mengambil ponselnya diatas meja.
"Gio, dimana anak saya?"
"Maaf, Tuan tidak mengizinkan saya memberitahukan keberadaannya pada anda"
"Beraninya kamu, saya ini ibunya atasan kamu"
"Dan yang atasan saya adalah Tuan Farid, bukan anda, mohon maaf Nyonya" sahut Gio dari seberang dan langsung menutup sambungan telepon.
"Kurang ajar, berani sekali sekertaris itu!" umpatnya.
"Bagaimana ma?"
"Farid sengaja gak mau kita tau dia dimana, sepertinya dia sengaja jauhin kamu Ray" ucap mama menatap sendu Rayrin.
"Nggak bisa dong ma, nggak mungkin, Far itu cinta sama Ray, pasti dia dihasut sama istrinya itu deh ma!" rengek Rayrin manja pada mama.
"Iya, kamu benar. Sudah punya cara untuk mengusir perempuan rendahan itu?"
"Sip ma, sudah. Ray sudah punya senjata untuk menyerangnya sehingga Farid akan mengusirnya tanpa ragu" ucap Rayrin dengan mengacungkan kedua ibu jari tangannya.
Dengan memanfaatkan mama, aku akan buat Akira menderita, sudah aku bilang Akira, Farid hanya milikku tidak akan aku biarkan kamu bahagia bersamanya batinnya lalu tersenyum licik.
Adakah yang masih nunggu?
Vote ya kalau penasaran banget sama kelanjutan cerita ini, vote sampe masuk ranking vote