
Akira sedang berjalan dibelakang Farid dengan bersungut - sungut juga menggerutu didalam hati. Bagaimana tidak sejak tadi ia menemani pria itu berkeliling pusat perbelanjaan, tak sedikit pakaian dan sepatu yang ia coba, tapi kemudian tidak jadi ia beli tak sekali dua kali pria itu meminta pilihan Akira, giliran Akira berpendapat dan memilih ia malah memilih barang yang lain.
"Farid, aku capek!"
"Baru juga sebentar" santainya menyahut.
Hah sebentar katanya, ini udah lebih dari satu jam tau gak?! lagian ada angin apa sih tuh orang belanja sendiri, biasa juga palingan nyuruh Gio geramnya dalam hati.
"Menurutmu bagus kemeja hitam atau navy?" tanyanya pada Akira sembari memegang dua buah kemeja ditangannya.
"Hitam aja" sahut Akira.
"Tapi sepertinya sudah punya banyak, yang maroon aja deh" ucapnya tanpa dosa.
Sedangkan Akira hanya melongo tak percaya.
"Ih gak usah tanya aku lagi!" pekik Akira kesal.
Farid tersenyum puas melihat kejengkelan istrinya, membuat Akira jengkel seperti hiburan untuknya sekarang.
Pipinya yang merah dan menggembung karna menahan marah, bibirnya yang terus menggerutu dan mengerucut membuatnya semakin menggemaskan menurut Farid.
Akhirnya pria itu punya belas kasihan juga dan membiarkan keduanya beristirahat direstaurant cepat saji. Farid awalnya menolak mentah - mentah ajakan Akira, tapi gadis itu merengek bahkan hampir menangis.
"Mau pesan apa anak nakal?"
"Burger Cheese dua,french frise,milkshake stroberi,dan ya spicy chicken!" ujarnya semangat.
Sesaat setelah pesanan mereka datang.
Farid hanya menggelengkan kepala melihat Akira melahap semua itu sendiri.
"Kamu gak mau? Enak loh, masa cuma minum doang?" tawar Akira menyodorkan burgernya yang masih ada satu.
"Nggak, kamu saja, kamu tidak makan berapa hari sih, sepertinya aku selalu beri kamu makan" tanya Farid heran.
"Aku laper dan lagi pengen banget makan ini"
"Tapi itu gak baik buat kesehatan dan kamu makan sebanyak itu, mana itu ayam pedas lagi nanti sakit perut kamu"
"Gak ikhlas ya beliinnya? Yaudah ntar aku bayar sendiri" ketus Akira.
"Bukannya gak ikhlas sayang, tapi itu-"
"Kan aku gak makan ini setiap hari juga kan? Lagian aku tuh capek ngikutin kamu" potong Akira, membuat Farid lebih memilih diam dan mengalah, ia juga sadar tadi habis mengerjai Akira. Oke, mengalah sekali masalah makanan tidak akan mengurangi wibawa seorang Tuan Muda Danuarta.
"Farid! Kamu ngapain disini?" sapa seseorang dengan tiba - tiba yang ternyata adalah Rayrin.
Akira langsung memutar bola matanya jengah dan mencebikan bibirnya.
Sedangkan Farid hanya tersenyum kikuk menanggapi Rayrin.
"Dih buta ya? Makan lah!" sinis Akira.
"Heh gue gak nanya lo ya, gue nanya sama pacar gue!" balas Rayrin tak kalah ketus dan sinis.
"Hah? Pacar?!"
"Iya, ngapa lo gak suka? Asal lo tau gue sama Farid belum pernah bilang putus, gue cuma pergi aja sementara dan lo cuma penjaganya" ujar Rayrin yang membuat Akira tersulut emosi.
"Sinting! Kamu kok diem aja sih, kamu mau belain dia lagi gitu?" tunjuk Akira pada Farid.
"Rayrin mending kamu pergi aku gak mau ada gosip aneh tentang aku" ucap Farid mencoba untuk tenang.
"Nggak, aku mau disini sama kamu" ujar Rayrin dan mendudukan dirinya dikursi sebelah Farid.
"Pergi nggak lo, rese sih jadi orang mau jadi pelakor? Apa mau gue teriakin pelakor?"
"Lo tu yang ambil kesempatan dalam kesempitan" tuduh Rayrin.
" Lo makin jadi ya *****!"
"Akira, jaga ucapan kamu!"
Rayrin menyeringai licik, ia merasa berhasil membuat Farid kembali membentak Akira karna tersulut emosi berbicara kasar yang sukses membuat pria itu terkesan membelanya.
Rayrin menatap mengejek dan tersenyum pada Akira dengan penuh kemenangan.
Akira yang tak tahan dan merasa kalah langsung membalas Rayrin.
"Cih, emang ya pelakor tuh suka gak tahu malu!" ucap Akira lalu menyiramkan minumannya ke wajah Rayrin.
"Farid lihat, apa yang dia lakukan"
"Akira kamu keterlaluan" geram Farid.
"Bela aja terus, kamu suruh aku jadi istri yang nurut? Mau nurut gimana kalau suaminya aja lebih belain perempuan lain!" bentak Akira penuh kemarahan dan segera bersiap pergi.
"Mau kemana kamu?"
"Pulang!" ketus Akira dan berjalan meninggalkan tempat duduknya, baru dua langkah ia berjalan ia tersandung kaki Rayrin atau mungkin lebih tepatnya sengaja menyandung. Akira jatuh terduduk dan bersiap memaki Akira.
"Keluar juga sifat jahat lo, lo sengaja kan!" tuduh Akira sembari berusaha berdiri.
"Kamu kok tuduh aku sih"
"Iyuhh! Sok kemanisan!"
"Kamu gak apa - apa Ra?" tanya Farid khawatir.
"Menurut kamu? Ajarin tuh cewek kamu biar gak jahat"
"Kamu gak bisa tuduh Rayrin sembarangan Kira"
"Nuduh, kamu bilang? Jelas- jelas disini gak ada batu, gak ada minyak,mana bisa aku jatuhin diri sendiri, kamu pikir aku sepicik itu?"
"Mungkin kamu yang kurang hati - hati, sudahlah jangan buat keributan!" ucap Farid pelan penuh penekanan.
"Oke! Aku pergi nikmati kebersamaan kalian!"
Farid memilih pergi mengikuti Akira biar bagaimapun ia sudah memutuskan untuk melupakan masa lalunya bersama Rayrin dan mencoba untuk mencintai Akira sama seperti Akira mencintainya, sialnya setiap melihat Rayrin ia menjadi lemah.
"Farid, kamu mau kemana?!" pekik Rayrin saat melihat Farid mengejar Akira. Namun, tak disahuti oleh pria itu. Rayrin menggeram tertahan dengan mata penuh kilatan amarah dan kelicikan.
"Akira berhenti!" teriak Farid, tapi tidak digugu oleh gadis itu.
"Akira berhenti, ini perintah!" teriak Farid dengan nada marah, yang sukses membuat gadis itu memberhentikan langkahnya.
Farid segera menarik tangan Akira agar gadis itu berbalik menatapnya.
"Kamu jangan ribut setiap ada Rayrin bisa?"
"Nggak, aku gak suka dia licik" sahut Akira dengan kilat amarah.
"Malu Ra, kalau ribut kaya tadi"
"Jadi kamu salahin aku gitu? Salah terus hidupku gak dirumah orang tua, gak dirumah suami, gak dimata mertua salah selalu salah mending kabur sama Rangga aja yang selalu baik sama aku!" gerutu Akira.
"Kamu bilang apa, ayo ikut aku!" ucap Farid menyeret tangan Akira menuju mobil dan menyuruh Akira masuk dengan paksa.
"Apaan sih kamu seret - seret aku, emang karung apa!"
"Maksudnya apa ucapan kamu tadi?"
"Nggak maksud apa - apa"
"Aku tidak ingin mendengar namanya dari mulutmu lagi, mengerti?!" gertak Farid.
"Bagus"
"Kamu bisa jauhin Rayrin?"
"..."
"Hah, baiklah aku paham" ucap Akira tersenyum kecut.
"Aku bisa, asalkan kau tidak pergi dariku sepertinya, asalkan kau jadi milikku tanpa memberontak" ungkap Farid lalu segera melajukan kendaraannya untuk kembali pulang.
Akira berusaha mencerna ucapan suaminya, apa barusan pria itu menjelaskan bahwa ia akan menjauhi Rayrin, jika Akira setia padanya? Entahlah hanya Farid dan Tuhan yang tau maksud kata - kata tak jelasnya barusan.
"Aakkhh..sakit" rintih Akira memegangi perutnya. Farid dengan sigap menepikan kendaraannya dipinggir jalan.
"Kenapa? Sakit perut? Aku kan sudah bilang tadi jangan makan ayam pedas" sambar Farid dengan nada panik.
"Ini sakit banget, aku gak kuat" ujar Akira hampir menangis.
"Baru apa sudah sejak makan tadi sakitnya?"
"Tadi udah agak sakit gara - gara jatuh, tapi sekarang makin sakit" jelas Akira.
"Oke, kita ke rumah sakit sekarang"
"Jangan, aku gak mau gak suka diperiksa!" cegah Akira.
"Jangan membantah!"
"Nggak perlu, nanti pasti sembuh cuma sakit perut aja kok"
"Tadi bilang sakit banget?"
"Iya, tapi gak perlu periksa!" pekik Akira.
"Harus periksa, kita pulang biar nanti panggil dokter Adilla saja"
------------------------------
"Tadi kamu makan apa?"
"Makan junk food dok" jawab Akira.
"Okey, saya periksa dulu" ujar dokter Adilla dan mulai memeriksa perut Akira,lalu beralih pada tangan Akira untuk memeriksa denyut nadi gadis itu.
"Terakhir datang bulan?"
Akira bingung sejenak, yang sakit perutnya kenapa malah nanya datang bulan coba.
"Lupa dok, saya gak pernah hitung tanggal"
Dokter Adilla menghela nafas lembut dan menampilkan senyum tipis, lalu berbalik melihat Farid yang menunggu dibelakangnya.
"Selamat aku gak nyangka kamu akan jadi ayah" ujar dokter Adilla dengan senyum lebar. Akira dan Farid mengerutkan kening mereka merasa bingung dengan ucapan dokter.
"Maksudnya gimana si dok?" tanya Akira.
"Akira hamil dan sakit perutnya itu kemungkinan disebabkan oleh stres atau benturan yang terjadi dan membuat gangguan pada janin, saya sarankan agar kalian memriksanya ke rumah sakit agar lebih jelas"
Akira panik mendengar penuturan dokter, lebih lagi saat ia melirik raut wajah Farid yang tampak bingung. Ia merasa takut apa setelah ini Farid akan marah?
"Baik, sekarang kau boleh pergi" ucap Farid datar.
Akira semakin takut mendapatkan kenyataan bahwa sekarang hanya ada mereka berdua tanpa dokter Adilla lagi.
Bagaimana reaksi pria itu ia tak sanggup membayangkannya.
"Farid, ak- aku minta maaf aku gak tau gimana bisa hamil, tapi tolong jangan suruh aku gugurin dia ya" ucap Akira terbata - bata.
"Akira kau bi-"
"Tolong, aku akan urus dia sendiri jika kau tak menginginkan dia, aku ak-"
"Akira dengar! Jangan bicara macam - macam sekarang ayo periksakan dia ke dokter kandungan!"
------
Dokter mulai memeriksa dengan menyentuh perut Akira dan memeriksa denyut nadi, lalu dilanjutkan dengan USG dibarengi dengan rentetan pertanyaan sebab apa ia merasa sakit diperutnya.
Selesai dengan pemeriksaannya, dokter kembali ke tempat duduknya, diikuti Akira yang duduk dihadapannya bersama Farid.
"Saya harap anda sebagai suaminya bisa lebih menjaga istri anda dan juga calon bayinya, untung saja tidak terjadi pendarahan, jika jatuhnya Nyonya Akira tadi sampai menyebabkan pendarahan kalian bisa kehilangan janin yang ada diperut Nyonya" jelas dokter panjang lebar.
"Baik, saya akan menjaganya" jawab Farid datar.
Akira merasa sakit yang tak biasa dihatinya, tanpa disadari ia hampir kehilangan nyawa bayinya tanpa tahu keberadaannya, hampir saja. Syukurlah ia masih diberi kesempatan untuk memiliki calon bayinya.
"Dok, berapa usianya?" tanya Akira.
" 5 minggu Nyonya, saya akan berikan vitamin untuk kembali memperkuat janin" jawab sang dokter dengan senyum mengembang seakan tak akan pernah layu.
"Kalau begitu, kami pamit dok jika sudah selesai"
"Baik, tolong jaga istrinya" ucap dokter wanita itu. Farid hanya menanggapi dengan senyum tipis.
------------------
Akira bingung bagaimana ia bicara dengan Farid, ia takut. Sejak tadi pria itu belum kembali dari ruang kerjanya. Dengan segala keberanian yang ia miliki ia menghampiri suaminya.
Tok Tok Tok
" Aku boleh masuk?"
"Masuklah!" sahut Farid dari dalam.
Akira dengan hati - hati melangkah masuk ke dalam ruangan kerja suaminya, terlihat pria itu sedang terduduk dikursi kerjannya.
"Kenapa? Harusnya kamu istirahat saja dikamar"
"Eh itu, aku..kamu " Akira tergagap tak bisa menyelesaikan ucapnya.
"Akira, dia juga anak aku, aku tidak akan menggugurkanya" ucap Farid seolah mengerti apa yang akan gadis itu bicarakan.
"Beneran, kamu gak marah?"
"Kemari!"
Akira segera mendekat ke suaminya dengan langkah takut. Tanpa diduga pria itu menggenggam tangannya erat.
"Awalnya aku kaget, tapi aku harus terima, dia ada juga karena aku, yaudah jangan mikir apapun istirahatlah"
"Tapi aku gak enak sama kamu, kalau aku hamil gimana sama perasaan kamu?"
"Waktu kamu bertengkar dengan Rayrin kamu mikirin perasaan aku emangnya"
Akira tertunduk mendengar ucapan Farid.
"Maaf"
"Aku akan mencoba untuk mencintaimu demi dia" ucap Farid menyentuh perut rata Akira.
"Istirahatlah, jangan membangkang atau aku hukum!" sambung Farid dengan nada mengancam.
Akira akhirnya kembali ke kamarnya dengan berjuta keraguan, akankah? Mungkinkah? Farid yang tak pernah menyukainya dan menginginkannya?