
Nyatanya, tidak semua masa lalu hanya akan tertinggal di belakang, tidak semua masa lalu hanya akan bisa di kenang.
Siapa yang tahu, bahwa masa lalu dapat maju menjadi masa depan.
Untuk kita.
Untuk mereka.
Akira dan Farid.
Mungkin dulunya, Akira bagi Farid hanyalah angin yang pernah lewat berhembus menerpa kulitnya beberapa detik.
Namun, sekarang Akira bagaikan oksigen yang akan selalu Farid butuhkan untuk terus hidup.
Farid bagi Akira, tak terlupakan dan begitu seterusnya, hingga saat ini.
Bahkan saat dunia menentang,
restu ibu menghalangi, namun cinta akan selalu jadi perekat jiwa yang terkuat.
Satu tahun hampir terlewati, satu tahun penuh dilema dan kebingungan dalam hati Farid yang menyiksa Akira.
Kini, mereka bahagia berdua, meski tanpa hadirnya buah hati yang seharusnya telah mereka tunggu detik kelahirannya.
Mereka bahagia.
Tapi jiwa Akira tidak selalu tentram, karena keinginan suaminya.
Farid berkeinginan segera memiliki bayi lagi, tanpa pria itu ketahui jika itu mengusik sudut hati Akira.
Seperti saat ini, Farid memeluk Akira dari belakang, setelah percintaan mereka berakhir, Akira hanya diam dan dengan susah payah menelan liurnya saat suaminya dengan lembutnya berkata,
"Tumbuh sehat di dalam sana anak ayah." sembari mengelus perut Akira yang belum tertutup sehelai benang pun.
Jantungnya bergemuruh hebat, liurnya mendadak sulit di telan.
Napasnya sesak.
Ia menyunggingkan senyum tipis dengan sorot mata yang tak bisa di artikan.
Hatinya serasa tergigit mendengar kata-kata suaminya barusan.
"Ki, kamu mau punya anak berapa?"
Farid kembali bersuara.
Demi Tuhan, Akira bingung mau menjawab apa, sebab ia sendiri bahkan tidak tahu apa selanjutnya ia akan mampu memiliki anak.
Ingatkan?
Akira pernah kehilangan calon anaknya.
"Emm, aku gak tau." jawab Akira sekenanya.
Mencoba menahan sesuatu yang bergejolak dalam dada.
Tangan pria itu tergerak, mempererat pelukannya sembari menaikan selimut yang sempat ia sibak demi menyapa janin yang entah tumbuh atau tidak.
Wajahnya bersembunyi dalam ceruk leher istrinya.
"Masa enggak tau, coba deh kira-kira berapa?"
Farid justru memaksa istrinya menjawab.
Akira bingung sendiri, jika tidak di jawab Farid akan semakin banyak bertanya, kalau di jawab, ia tidak tahu jawaban yang tepat.
"Berapa aja deh, asal sama kamu punya anaknya, bukan sama..." jawabannya di buat sekonyol mungkin, maksudnya agar kemudian Farid menghentikan tanyanya tentang buah hati.
"Sama siapa?!"
Catch!
Farid terpancing.
Akira mengedikan bahunya.
"Denger ya, kamu cuma boleh sama aku, bukan yang lain, Akira milik aku. Awas kalo belok ke yang lain-lain."
"Dih, kamu sensi banget tau gak."
kemudian tawa Akira meledak mendengar tanggapan Farid yang menurutnya kekanakan.
Ya, asal kalian tahu saja, sekarang Farid sudah bucin banget sama Akira loh.
"Udah ah, aku ngantuk,capek gara-gara kamu."
kata Akira menghadap Farid, lalu menjulurkan lidahnya ke arah Farid sebelum berbalik kembali memunggunginya.
"Oh begitu ya? Mau setiap hari aku buat kelelahan ha?" sahut Farid menantang dengan tangan yang menjelajah ujung tangan Akira sampai ke pinggang, lalu menggelitiknya tanpa ampun.
"Eh! Haha.. Farid ah udah dong ngantuk nih!" teriaknya dengan tawa sebagai pelengkap pekikannya malam ini.
Pagi menyapa
Akira mencoba untuk tetap hidup normal dan bahagia bersama Farid.
Meski di bumbui dengan kecemburuan Farid yang berlebihan karena sering kali Akira mencari keberadaan sahabatnya, Deanno.
"Aw, Farid!"
pekik Akira saat mendadak suaminya memeluk dirinya dari belakang saat ia sedang sibuk melamunkan Deanno sembari mengaduk adonan brownies.
"Mikirin apa sih, istri aku? Masa kagetnya kebangetan kaya gitu?"
"Nggak, nggak ada!" Akira mulai lancar menutupi apa yang ia pikirkan dari suaminya, soalnya kalau Farid tahu, pasti cemburu dan berakhir dengan Akira tidak boleh kemana-mana.
"Masa sih? Aku curiga kamu nyembunyiin---"
Akira menyingkirkan adonannya, berbalik menghadap suami tampannya, menatapnya dengan tajam seolah tak terima di curigai.
"Ih apaan sih curiga terus yang perempuan itu aku apa kamu?"
"Terus kamu kenapa kok sekaget itu, kalau emang enggak lagi mikiran sesuatu?"
"Aku tuh cuma kaget biasa, abisnya kamu mendadak peluk kaya monyet."
jawabnya sembari menyentuh rahang tegas suaminya.
"Masa? Tapi kamu kan udah biasa aku pelukin, aku ciumin setiap malem, sampe ke yang enak-enak juga, masa gini aja kaget sih, Ki?"
Mata Farid mengerling jahil dengan alis yang ia naik turunkan.
Bahkan kini bibirnya mulai maju berniat menyapa bibir manis Akira.
Sontak, Akira menarik kedua bibir Farid dengan tangannya sampai berbentuk seperti mulut bebek.
"Ya ampun mas! Ngomongnya ih, ngomongnya, kelakuannya di jaga, ih! Ini di rumah banyak orang ada Wisnu, ada bibi juga yang lainnya!"
Akira nyerocos galak dengan tetap mencubit bibir suaminya yang sekarang mulai nakal.
Ngomong-ngomong sekarang mereka sudah kembali ke rumah utama.
Ia melepas cubitannya pada bibir Farid dan kembali pada adonannya dengan dengusan kasar.
"Galak banget si kamu, nanti kalau bibir aku rusak gak bisa cium kamu lagi loh."
Akira kembali gemas dengan kata-kata Farid yang akhir-akhir ini semakin nyeleneh saja.
Ia berbalik kasar lalu, "Bodo amat biar tau rasa! Kamu sekarang kalau ngomong suka enggak di pikir, kita kan enggak cuma berdua."
Akira mulai berceramah layaknya seorang ibu yang memarahi anaknya.
"Malu dong, kalau sampai mereka denger, emang kamu enggak malu, hah?"
Ya, bagaimana lagi semenjak bucin sama Akira, Farid itu suka mengumbar kemesraan di mana-mana.
"Maklum mereka kita kan masih muda." jawab Farid dengan entengnya.
"Terserah kamu deh, nyebelin, gak ada makan siang, nanti beli aja sana di kantin aku gak mau masakin."
Ancaman dengan salah satu kelemahan Farid, sekarang Farid itu tidak suka makan makanan di kantin kantornya dan lebih suka Akira yang masak dan bawakan.
Sekalian modus sekecup dua kecup untuk penyemangat kerja, pikir Farid.
Bukannya terkejut atau apa karena ancaman Akira, Farid malah terkekeh.
"Kamu kaya ibu yang lagi marahin anaknya deh, kamu udah cocok jadi ibu buat anak-anak kita nanti."
Farid sudah ingin sekali punya anak sepertinya, sampai segalanya di sangkut pautkan dengan hal yang berbau anak.
"Ntar malem gak usah tidur sama aku, kalo kamu ngomongnya masih suka ngaco kaya gitu!" ancam Akira lagi yang sukses membuat Farid menjatuhkan rahangnya.
Ia hanya ingin bermesraan dengan istrinya di pagi hari, tapi kenapa hasilnya jadi begini?
Hello,
Ada yang nungguin,
sok atuh komen di bawah....
**Semoga kembalinya cerita ini membuat kalian senang dan semoga ada yang sedang menunggu-nunggu.
Tapi maaf ya kalau belum memuaskan kan aku membagi imajinasi dengan yang Suami Kualitas Premium.
Makannya baca yang itu juga dong
Biar semangat author berlipat ganda.
KUYY DI LIKE, KOMEN DAN VOTEE....
TERIMAKASIH**....