
"Kamu cantik, dan setiap malam sama waktu bangun tidur kecantikan kamu itu bertambah, cantiknya alami." puji Farid saat mereka baru selesai dengan kegiatan mereka.
"Bibir merah kamu ini selalu menggoda entah itu malam atau pagi, hidung kamu, kulit kamu, semuanya indah, senyum kamu, apalagi, aku ternyata dapat banyak bonus setelah menikahi kamu."
Sedangkan, Akira yang masih tak bertenaga hanya tersenyum tipis dengan mata yang sudah hampir tertutup, mendengar pujian suaminya yang sedikit... ya begitulah, ia mencubit perut suaminya.
"Aww, sayang sakit, aku bicara kenyataan, istri aku cantik tak tertolong."
sedangkan Akira berhenti mencubit Farid dan mulai memejamkan matanya.
"Jangan tidur dulu, kamu cantik banget kalau lagi begini." mendaratkan kecupan di kening sang istri lalu menyingkirkan rambut-rambut yang basah menempel di sekitar wajah Akira.
"Aku capek, mas... " rengeknya manja sambil mendusel ke dada suaminya.
"Capek tapi godain aku, hm?"
"Ish, kamu aja yang mesum, udah dong ini udah mau pagi, capek, ngantuukkk." sambil memanjangkan kata terakhir.
"Iya-iya, terimakasih sayang. Aku cinta kamu, apapun yang terjadi tetap di sisiku dan percayalah padaku."
Masalah tidak selalu di iringi kesedihan, sebab kebahagiaan juga mengikuti, bagaimana tidak jika suaminya seperti Farid.
Lelaki dingin, cuek, namun sangat sayang istri, sesulit apapun masalahnya, lelaki itu selalu memberi kata-kata romantis sebelum tidur, "Aku nggak salah, nunggu adik kamu bertahun-tahun." ujar Akira dengan senyum mengembang seperti remaja yang baru merasakan jatuh cinta.
"Sesempurna itu dia buat kamu?" tanya Fiora, yang langsung di balas anggukan mantap oleh Akira.
Oh iya, sekarang dirinya dan Fiora akrab, dalam beberapa hari saja mereka sudah akrab. Saling berbagi hal-hal kecil. Fiora yang hidup dengan gaya yang modis berbagi tips fashion pada Akira, gaya Akira yang lembut bisa di buat Fiora menjadi lebih berwibawa ala istri petinggi perusahaan.
Sedangkan, menurut Akira, Fiora yang terlalu serius ia ajak untuk berpenampilan manis dan ceria. Saling berbelanja bersama dan kadang memasak bersama, atau nongkrong di kafe.
Tapi, sekarang Akira mengajak Fiora yang biasa hidup sehat untuk makan junk food.
"Kamu tahan dengan Farid yang sangat cuek dan dingin? Ah.. dia juga tidak punya ekspresi, aku rasa."
Akira mengernyit tidak setuju, sambil menggelengkan kepalanya dengan mulut yang masih penuh dengan gigitan burger.
"Kata siapa dia cuek terus dingin? Suami aku perhatian banget, romantis lagi, hangat dan lucu." sahut Akira senyum-senyum sembari mengunyah makanannya dengan kaki yang ia goyang-goyangkan seperti anak kecil. Pikirannya, melayang pada kejadian tadi malam di mana suaminya merayu dan memujinya.
"Kamu gak salah, nilai?"
"Nggak dong, kan setiap harinya aku sama dia." jawabnya antusias.
"Tau gak sih, kak. Dia itu cuma ada satu di dunia, kayanya gak ada deh yang lebih baik dari dia, setiap hari aku merasa jatuh cinta berkali-kali sama orang yang sama."
"Oh ya? Adikku se mempesona itu kah? Lagian,Farid memang cuma satu kok, gak ada kembarannya seingat aku." canda Fiora, dengan ekspresi pura-pura mengingat.
"Iya, baik banget, sayang sama aku, sama kalian juga kok, tenang aja, hehe.. emm tau gak sih, dia sekarang bucin sama aku, harusnya kan dia marah sama aku, secara aku anak dari perempuan yang buat mamanya sedih, tapi dia malah lebih bela aku. Keren kan?" lalu menyeruput lemon tea nya.
"Eww, kalian bucin! Tapi, Farid bener kok, mama terlalu berlebihan dan aku rasa dia gak salah bela kamu, karena mama keterlaluan dia bahkan... " mendadak Fiora menggantungkan kalimatnya, hampir saja ia membocorkan rahasia itu, se kecewa apapun Fiora pada mama, ia tidak akan tega membuat mamanya semakin di benci oleh anak-anaknya kalau sampai hal ini bocor.
"Kenapa kak?"
"Emmm, gak, lupakan!"
"Iya dong, aku istrinya, kalau dia masih kaku aja sikapnya, siap-siap gak ada jatah dari aku." ujarnya santai.
Akira menyadari wajah kakak iparnya itu memerah mendengar celotehannya barusan.
"Aku nggak mau juga masakin dia, biar dia makan masakan pembantu aja." sambungnya untuk menutupi kalimatnya yang seperti nampak mengganggu Fiora.
"Mbak!" melambai ke arah pelayan, tak lama pelayan perempuan berseragam itu menghampiri Akira, "Milkshake stroberi, chicken spicy sama kentang goreng, terus burger satu lagi." pesannya pada pelayan.
"Heh, Akira! Ntar aku kena omel suami kamu, kalau dia tau kamu pergi sama aku."
"Ya jangan sampai dia tau lah kalau kita makan junk food. Aku ini lagi kepengen banget makan kaya gini."
Fiora hanya bisa menepuk jidatnya, Akira itu asyik sih, partner yang seru, tapi karena suami Akira itu Si Farid yang dingin dan kaku, Fiora kan jadi was-was.
"Ra, kamu nggak ada rencana ambil hati mama?" tanya Fiora tiba-tiba.
"Maksudnya?"
"Ya kaya buat mama terkesan biar mama tuh enggak terus ganggu hubungan kalian." jelas Fiora, Akira nampak berpikir sejenak.
"Aku gak pernah kepikiran sampai ke situ sih, soalnya aku takut sama mama, baru aja aku nongol dia udah marah-marah, cari-cari kesalahan aku juga."
"Berat juga sih." Fiora menopang dagunya dengan punggung tangannya.
"Ah, aku ada ide!" celetuk Fiora girang, lalu mengisyaratkan Akira agar mendekat dengan jarinya, segera ia membisikkan sesuatu ke telinga Akira.
***
"Ya ampun, Farell! Lo mau ancurin rumah gue ya, hah?!" teriak Akira saat ia dan Fiora baru saja masuk rumah dan menapaki lantai ruang tengah, Farell dengan santainya berbaring di atas karpet sambil memainkan play station, dengan sampah bekas camilan berserakan di mana-mana.
Farell menggaruk telinganya yang tak gatal, "Berisik amat sih lo, kak."
"Ish, Farell sama yang lebih tua kok lo-gue sih, gak sopan!" cecar Fiora tak kalah nyaring.
"Santai ngapa sih kak, kak Akira juga oke kok, lagian ya buat kak Akira istrinya kakak aku, gak usah lebay, banyak pelayan yang bisa bersihin semua ini." ujarnya dengan pandangan masih mengarah pada televisi.
Akira melongo takjub sambil melihat ke arah Fiora seperti sedang protes akan kelakuan adik wanita itu.
"Tetap aja Farell, ini bukan rumah mama papa, kamu gak bisa seenaknya, nggak sopan!" kata Fiora sambil mendekati anak itu dan menjewer telinganya.
"Aduh, kak apaan sih!" protes Farell sambil bergerak-gerak melepaskan tangan Fiora yang menjewernya, sedangkan Akira tertawa mengejek pada Farell.
"Rasain lo, wleee." Farell mendengus kasar mendengar ejekan Akira.
"Farell, Fiora, pulang!" tiba-tiba sebuah suara menginterupsi kegiatan keduanya.
"Papa, mama?!" ucap mereka bertiga bersamaan.
Hmmmm dah dulu ya.
Semangat bacanya walopun semakin hari semakin gaje kaya yang nulis.