Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 9



"Kau memang kaki tangan yang terbaik, terus awasi." wanita itu langsung menutup teleponnya dan tertawa penuh kemenangan.


"Farid dan Akira bertengkar karena Akira memikirkan lelaki lain? Menarik sekali." ia tersenyum licik.


Tangannya menggenggam ramuan obat yang telah di racik khusus oleh kekasihnya. Ralat.


Bonekanya.


"Selama aku memiliki ini, jangan harap ada tangisan bayi di rumah kalian. Karena hanya aku, Rayrin, yang berhak melahirkan penerus keluarga Danurata."


matanya berkilat kelicikan yang mengerikan, bahkan Rayrin mirip dengan psikopat sekarang.


Mama Farid, tidak bisa ia andalkan, tentu ia harus mengandalkan lelaki yang terus menerus mengejarnya selama ia di Milan.


Kris. Apoteker handal di Milan, yang jatuh hati pada Rayrin dan sekarang sedang di peralat olehnya.


Kris yang hanya tau jika Rayrin ingin membalas dendam tentu menuruti semua mau wanita itu.


Rayrin mengaku padanya, bahwa wanita bernama Akira telah membuatnya kehilangan pekerjaan, menghancurkan karier modeling nya, bahkan dengan keji ingin menghabisinya.


Kris, yang telah tertipu oleh Rayrin tentu menurut saat wanitanya memintanya meracik ramuan obat untuk balas dendamnya.


***


Pagi ini Akira menghampiri suaminya ke ruang kerja, ia merasa bersalah, mungkin memang tidak seharusnya membicarakan lelaki lain pada suaminya yang agak posesif.


Ia memasuki ruang kerja yang syukurnya tidak terkunci, ia membawa secangkir kopi susu untuk suaminya.


Tampak, wajah tampan itu tengah terlelap di atas kursi kerja.


'Pasti tidak nyaman tidur di kursi begitu.' batinnya perihatin.


Ia menaruh nampan di meja dan bergerak mendekati suaminya, mengelus lembut rambut lelaki itu, lalu berpindah ke rahang tegasnya, mengelus berulang menggunakan ibu jarinya.


Perlahan mata itu terbuka, "Sayang, ayo bangun, kalau masih ngantuk pindah ke kamar ya?" ujarnya lembut.


"Jam berapa sekarang?" tanya Farid dengan suara serak khas bangun tidur.


"Jam tujuh, maaf karna aku kamu jadi tidur disini, pasti gak nyaman. Kamu masih marah sama aku?"


Farid menarik tangan Akira yang mengelus pipinya lalu menciumi telapak tangannya dan membawa wanita itu duduk di pangkuannya.


"Jangan membicarakan laki-laki lain saat sedang dengan aku."


"Maaf, aku cuma gelisah."


"Aku cemburu kamu gelisah karena laki-laki lain."


Akira mendongak, menatap suaminya penuh sesal.


"Maafin aku."


Melihat suaminya tidak merespon ia jadi bingung, "Mas, aku minta maaf jangan diem aja, jawab!" rengeknya sembari meremas kemeja navy suaminya yang sejak semalam belum berganti.


Bukannya menjawab, Farid malah diam menatap Akira saja.


Akhirnya, dengan kesal ia mengecup bibir suaminya, ia rasa ia harus menyadarkan suaminya yang melamun sebelum kesurupan.


"Mas, jawab!"


"Iya aku maafkan, asal--"


Akira sudah mencium bau tak aman, syarat Farid tak akan jauh dari membuat anak.


Entah mengapa, lelaki itu sangat terobsesi untuk memiliki anak, mungkin ia ingin mendapatkan pengganti baby boy nya yang tidak jadi lahir ke dunia karena ulah nya.


"Asal apa?! Aku lagi halangan gak bisa yang kaya begituan, jangan lupa." katanya melotot tajam.


'Baru beberapa menit yang lalu, dia manis sekali, minta maaf sekarang?'


batin Farid.


Farid membuang napasnya kasar, "Lama sekali."


"Sabar, mungkin empat hari lagi selesai." sahutnya santai.


"Hah? Itu sangat lama, kapan bayi-bayi kita akan jadi, kalau begitu caranya?!"


Akira menepuk bahu suaminya,


"Mas, kamu yang di pikir itu aja."


Tanpa bicara banyak, Farid menyerang bibir istrinya yang sejak tadi melambai ingin minta di cium.


Akira memberengut saat ciuman mereka terlepas. Segera, ia menjauhi suaminya,


"Kamu bau dari semalem belom mandi, seenaknya cium-cium!"


"Hah? Aku masih harum, sayang." elaknya dan menciumi aromanya sendiri yang ternyata, memang sudah berbau tak sedap.


Ya masa kerja dua belas jam lalu tidak mandi, mau terus harum. Kalau semalam mungkin masih harum.


"Udah mandi dulu, terus sarapan, nanti kopi susunya aku panasin lagi, pasti udah dingin sekarang gara-gara kamu." cerocosnya khas ibu rumah tangga.


"Iya sayaang." Farid hanya menjawab malas, ocehan istrinya.


***


Setelah suaminya pergi bekerja, Akira bersiap-siap menuju rumah sakit.


Ia semakin tak tenang, suaminya selalu mengharapkan dirinya segera hamil tapi ia tak juga hamil.


Ia ingat, percakapan dirinya dan Farid sebelum lelaki itu berangkat bekerja,


"Baik-baik di perut bunda, anak ayah."


Ia ingat, kata-kata Farid sebelum bekerja,


"Baik-baik di perut bunda, anak ayah."


"Farid, aku belum hamil!"


"Masa sih? Dulu sekali buat langsung jadi masa sekarang gak jadi juga? Kayanya aku harus sering-sering buat deh sama kamu." jawab Farid sok berpikir keras dengan menggaruk dagunya yang tak gatal.


Sedangkan, Gio hanya menggeleng maklum, bosnya mulai berotak miring sejak berbaikan dengan istrinya dan setiap bersama istrinya.


Entah kemana otak cerdasnya.


Kali ini, Akira memilih rumah sakit bukan klinik. Ini harus ia lakukan, ia harus melawan rasa takutnya yang takut mendengar hasil pemeriksaan dokter nanti.


Ia memasuki rumah sakit, menemui dokter dan mulai menjalankan berbagai pemeriksaan setelah beberapa saat yang lalu sedikit berkonsultasi sebentar.


Setelah berbagai pemeriksaan rahim, akhirnya ini saatnya.


"Jadi bagaimana dokter?"


"Sama seperti hasil pemeriksaan yang tadi anda ceritakan, rahim dalam kondisi baik, anda subur, anda masih muda tentu saja kesempatan untuk mengandung sangat besar. Hanya saja mungkin anda terlalu sering menggunakan alat kontrasepsi."


"Tapi dokter, sudah lama saya berhubungan dengan suami saya tanpa alat kontrasepsi apapun dan kenapa saya tidak hamil jika memang saya subur dan rahim saya sehat?"


"Apa ibu yakin tidak menggunakan kontrasepsi?"


"Saya yakin dokter."


"Tapi pemeriksaan menunjukkan kemungkinan ibu menggunakan kontrasepsi."


Dokter itu menatap Akira seolah meyakinkan akan hasil pemeriksaannya.


"Tapi dokter, saya tidak menggunakan kontrasepsi apapun."


"Coba di ingat kembali, mungkin saja anda lupa."


"Saya yakin seratus persen, bagaimana mungkin dokter mengatakan saya menggunakan pencegah kehamilan sedangkan saya tidak pernah sekalipun menggunakan itu sejak saya keguguran, bahkan selama hampir dua tahun kami menikah saya tidak gunakan semacam itu, apa dokter yakin saya tidak punya penyakit lain?"


Akira bertanya dengan sangat hati-hati, ia juga tidak berharap ia mengidap penyakit.


Namun, seingatnya ia tidak pernah memakai sesuatu yang mampu mencegah kehamilannya, jadi mana mungkin?


"Saya hanya menyampaikan analisa saya, mungkin memang ibu belum di beri kepercayaan oleh yang kuasa, jika memang begitu. Dan, sungguh tidak ada penyakit apapun yang membuat ibu sulit hamil."


Meski ia merasa aneh, tapi ia bisa bernapas lega, ia masih bisa memberi keturunan pada suaminya, ia tidak mandul, rahimnya tidak cacat seperti yang ia terka selama ini.


Tidak sedih tidak juga gembira.


Meski ia di nyatakan normal, tapi tetap saja suaminya yang sangat mengharapkan seorang anak selalu mengganggu pikirannya.


Apalagi jiwanya belum siap untuk kembali mengandung.


Mungkin yang kuasa hanya sedang mendukung dirinya yang belum siap mengandung lagi.


***


Akira mendadak rindu pada bayi yang pernah ia kandung, ia mengeluarkan barang yang pernah ia beli.


Menaruhnya di atas ranjang dan ia duduk di lantai sembari memandangi barang- barang itu, lalu perlahan menyentuhnya dan menciuminya.


Baju bermotif lebah.


Dulu ia selalu membayangkan betapa lucunya anaknya nanti ketika mengenakan pakaian itu.


Lalu sepatu bayi, kaos kaki bayi, semua yang pernah ia beli untuk calon anaknya.


Tanpa bisa di cegah air matanya meluncur keluar.


Meski, anaknya belum sempat memakai semua ini, tapi ia sangat berharap dulu.


Ia selalu membayangkan betapa lucu anaknya ketika mengenakan semuanya.


"Anak bunda." ucapnya sembari terisak, lalu perlahan ia menyentuh perutnya,


"Bunda harap kamu hadir lagi di perut bunda, tapi bunda belum siap, bunda takut kamu pergi lagi."


Ia menangis hingga lelah dan tertidur dengan tubuh yang masih duduk di lantai dan kepala di atas ranjang dengan tangan yang masih mengenggam baju bayi.


Farid pulang, ya ia pulang meski masih sore, tentu karena pesan istrinya yang tak mau ia pulang telat dengan sekuat tenaga ia berusaha menyelesaikan segala pekerjaannya hari ini, hingga akhirnya selesai tepat pukul lima sore.


Dan ia sampai rumah pukul enam. Ia tidak mendapat sambutan istrinya melainkan Wisnu, ia segera menuju dapur, namun hanya ada pelayan disana.


"Wisnu, istriku di mana?"


"Setelah pulang, Nyonya tidak keluar dari kamar sampai sekarang, Tuan."


Dengan buru-buru ia menuju kamarnya untuk menjumpai istrinya yang tumben sekali tidak terlihat di dapur atau menyambutnya pulang dengan celemek yang menempel di tubuh indahnya.


Apa iya istrinya masih melamunkan Deanno lagi seperti kemarin?


Perasangkanya salah.


Istrinya sedang meringkuk di lantai dengan tangan yang menggenggam baju bayi dan pandangannya tak melewatkan mata Akira yang membengkak, belum lagi jejak air mata yang mengalir di pipinya.


Hatinya seketika merasa sakit melihat itu,


"Kamu sedang mengingat anak kita rupanya?"


tangannya menyingkirkan rambut Akira yang menempel di pipi karena tercampur air mata.


Perlahan ia menarik baju bayi itu agar lepas dari tangan istrinya dan mengangkat tubuh itu agar berbaring di atas ranjang.


Tangannya menyentuh lembut rambut istrinya, menatap wajah yang seperti habis terkena banjir air mata.


"Maaf,jika bukan karena kebodohan aku, pasti sekarang anak kita sedang melewati masa tumbuh kembangnya bersama kita."


Tak terasa, Farid meneteskan air matanya.


Perih, ia merasa perih dan sesak di dalam dadanya mengingat apa yang pernah ia perbuat.


Hey aku up dua kali


Aku akan selalu rajin up yang penting mah di like di komen di vote


di follow juga wkwk


SEMOGA PART INI MEMBUAT KALIAN SENANG 😄😃😁