
Rupanya, watak Valen yang sangat santai membuatnya tidak ambil hati kata-kata Farid, ia malah mengajak lelaki bermata elang itu untuk membicarakan tentang Akira. Haha, dasar Valen.
Sepeninggal, Azza yang harus sedia mengurus kafe yang belum punya banyak karyawan, pembicaraan mereka terus saja berlanjut padahal Farid sudah mulai malas dan ingin segera pergi menemukan wanitanya.
"Jadi gimana menikah dengan Akira, dulu dia anaknya kekanakan banget, pemarah juga cerewet, aku jadi gak betah."
ungkap Valen, Farid mengangkat kedua alisnya hingga saling bertaut menanggapi ungkapan teman dekatnya saat SMA yang kini tidak sebegitu dekat lagi.
"Aku rasa itu sisi manisnya Akira, galak tapi kekanakan." balasnya dengan niat membuat lelaki di hadapannya menyesal merendahkan sikap istrinya.
Valen dengan cepat menggeleng setelah ucapan Farid selesai.
"Aku risih." katanya dengan cebikan di sudut bibirnya.
Farid mendengus pelan dan tersenyum miring, "Jelas begitu, kamu berhubungan dengan Akira remaja yang emosinya tidak stabil, tapi aku berhubungan dengan Akira dewasa yang manis dengan sikap kekanakan nya, dia istri yang sempurna, baik, penurut, dan tentu mengurus aku, suaminya, dengan sangat baik." ungkap Farid dengan menekan kata suami dan sangat baik.
Farid beranjak dari duduknya, "Aku masih banyak urusan, permisi." pamitnya.
Dan begitulah obrolan pendek antara dua lelaki yang pernah memiliki wanita yang sama.
*****
Disisi lain di waktu yang sama, Akira bersama Leo menikmati pagi yang hangat dengan bermain di pinggir pantai sembari berlarian kesana kemari.
"Yah, lele tante capek kejar kamu, pulang yuk"
keluhnya dengan kedua tangan yang bertumpu di kedua lututnya dengan napas yang terengah-engah.
"Nanti, aku masih mau disini." tolak bocah balita yang sebentar lagi tidak balita itu.
"Nanti tante beliin es krim deh." tawarnya dengan raut berbinar merasa itu adalah ide cemerlang.
"No, tante disini gak ada supermarket."
Leo, yang pintar dia tau rupanya.
"Memang nggak ada, tapi banyak kok es krim di warung disana!" tunjuk nya ke arah jalan menuju warung Mak Atik.
"Ngga mau tan, aku aduin ayah nih."
Anak itu sudah mulai bersiap berteriak dengan membuka mulut lebar-lebar.
"Iya deh Iya, tapi besok lagi kalau tante capek, ntar sakit ga bisa nemenin Lele main." bujuknya berharap akan berhasil.
"Oke deh, tapi tante jangan panggil aku Lele aku kan bukan ikan lele tante, liat aku putih bersih dan gemuk gak seperti ikan lele yang hitam dan kecil." cerocosnya dengan pipi menggembung, membuat Akira menjadi terkekeh gemas mencubit pipi gembul keponakannya.
"Iya deh, anak pintar." mengusap kepala Leo lembut lalu mengangkatnya ke gendongannya.
Saat, sampai di rumah ia di kejutkan dengan kehadiran Rey.
"Aneh kamu, aku udah disini masih di tanya." kekeh Rey sambil bersandar di daun pintu.
"Ngapain kesini?"
"Udah mulai nyaman ya?" Akira mengernyit bingung, "Ngomongnya mulai santai banget sama aku." ungkapnya yang menghancurkan kebingungan Akira.
"Dih, pede banget kamu." cibir Akira lalu mempersilahkan lelaki itu masuk.
"Yuk masuk, Leo sama mama dulu ya." menurunkan Leo dari gendongannya, dengan cepat anak itu berlari menjauh.
Akira mempersilahkan Rey duduk di sofa ruang tamunya yang bernuansa soft blue dengan cat putih dan jendela kaca yang membuat suasana ruang tamu menjadi terang di terpa hangatnya mentari di jam antara pagi dan siang. Sekitar pukul 10 tepat.
"Kak, "
"Panggil nama aja lah, rasanya aneh ada cowok kaya kamu panggil cewek, kak." kata Akira dengan gurauan sedikit.
Rey tersenyum manis, "Oke, Rara boleh aku tanya sesuatu?"
Akira terkekeh pelan dan bergumam, "Rara?" sebelum akhirnya Akira mengangguk, "Boleh, silahkan."
"Kamu, serius mau berpisah?"
Akira menengok terkejut dengan ekspresi seperti tegang dan tercengang, ia sulit menjawab jika di tanya tentang hal itu, karena jauh di dalam hatinya ia mencintai lelaki yang akan ia tinggalkan.
"Maaf, aku lancang." sela Rey merasa tak enak melihat ekspresi Akira yang berubah setelah mendengar pertanyaannya.
"Aku enggak tau, Rey." kata Akira membuat Rey menatapnya aneh,
Akira tersenyum miris, "Aku enggak tau, aku merasa aku orang paling bodoh di dunia ini karena mencintai dia sedalam itu, aku cuma ingin membuang kebodohanku dengan berpisah darinya." jelas Akira dengan tatapan nanar mengarah pada Rey.
Rey, salah tingkah menerima tatapan yang membuat jantungnya berdenyut nyeri.
Rey kira ia sudah tepat melupakan Akira dan bertemu dengan wanita itu disaat yang mungkin sangat bahagia, karena wanita itu akan segera memiliki buah hatinya bersama lelaki yang di impikannya.
Namun, baru ia melihat kesempurnaan hidup Akira, ia di hadapkan kenyataan bahwa wanita pujaannya di timpa kesedihan. Rasanya, ia ingin merangkul Akira dalam pelukannya.
"Ra, kamu masih sayang sama suami kamu?" tanya Rey hati-hati. Tapi, Akira hanya diam.
"Yaudah gak perlu di jawab. Aku yang akan selalu temenin kamu dan kembalikan senyuman manis kamu." ujar Rey serius, tetapi ternyata Akira tidak berpikir demikian.
Akira secara tiba-tiba tertawa mendengar penuturan Rey, "Apaan sih kamu."
"Nah, gini kan cantik. Tadi, jelek kaya Bebek mewek-mewek gitu." seloroh Rey.
"Bener-bener kamu, jail banget." balas Akira pura-pura kesal.
Farid, menggeram meremas ponsel dalam genggamannya, apalagi ini? Lelaki muda itu selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan, "Sialan, Reynaldi!" teriaknya menggeram.