
Belum sempat menjawab, mereka di kagetkan dengan suara yang berasal dari dua lelaki yang melerai keributan yang mereka buat.
Papa Danu dan Farid.
Danu sudah memprediksi hal semacam ini saat istrinya mengatakan akan pergi ke rumah puteranya.
Dan Farid tentu dengan kabar dari Wisnu.
Wisnu bahkan tetap kena semprot, sebab membiarkan mamanya masuk saat dirinya tidak di rumah.
"Mama, hentikan semua ini, pulang!" titah Papa dengan menarik tangan istrinya.
"Pa! Mama masih gak sudi anak kita hidup sama perempuan murahan dan gak jelas seperti ini." ucap mama melawan.
"Ma! Pulang atau aku tidak akan menrimamu kembali ke rumahku!" ancam papa yang langsung membuat mama bungkam.
Farid langsung menarik Akira ke belakang tubuhnya.
"Mama benar-benar keterlaluan, aku kecewa sangat amat kecewa." ungkapnya dengan raut wajahnya yang tak mampu di artikan.
"Farid, mama hanya-"
"Ma, aku sudah pernah bilang, sekali lagi mama bertindak nekat aku tidak akan mau jadi anak mama lagi!" ucapnya dingin tanpa menatap mamanya.
"Apa sakit?" tanya Farid sambil mengelus rahang Akira. Sekarang, mereka sudah ada di kamar mereka.
"Nggak kok mas, harusnya aku yang nanya apa kamu sakit?" tanya Akira dengan penuh perasaan.
"Aku sehat sayang, kamu kan yang habis di serang mamaku." jawabnya dengan lembut.
Akira tersenyum lirih, tangannya menyentuh dada kiri Farid dimana letak jantung manusia berada.
"Apa disini berdenyut nyeri?" tanya Akira yang mulai tak tahan menahan air matanya. Ia sepertinya mengerti bagaimana posisi seorang lelaki yang berada di antara istri dan ibunya.
Farid tak menjawab, ia hanya tersenyum lirih dan mengelus kepala istrinya dengan lembut.
"Mas, apa kamu baik-baik aja terus berdebat sama mama karena keberadaan aku?" tanyanya, tangannya menyentuh tangan Farid yang bergerak mengelus kepalanya hingga berhenti bergerak.
"Sayang, aku baik, aku akan melindungi kamu dengan cinta yang besar bahkan lebih besar dari cintamu padaku."
"Mas, ngardus ih!" tangannya memukul lengan Farid pelan.
"Mas, jujur deh gimana perasaan kamu?"
"Aku cinta sama kamu." jawab Farid asal.
"Ihh bukan itu maksudnya." protesnya karena tidak mendapat jawaban yang sesuai.
"Mas, katanya cinta sama aku, katanya aku istri kamu tapi gak mau terbuka sama aku!"
"Semalem kan udah buka-bukaan, sekarang mau lagi? Boleh aja." jawabnya menggoda.
"Aku kecewa tentu saja, sudah jangan di bahas kamu makan ya, udah waktunya makan siang."
"Aku mana bisa makan saat kamu dalam suasana hati nggak enak, tentu aku juga merasa gak enak hati."
Farid tersenyum bahagia mendengar jawaban Akira, berdosalah Farid yang telah mengabaikan istri sebaik Akira.
Air matanya menitik jatuh membasahi pipi yang biasanya selalu terpampang tegas bersama dengan rahang kerasnya.
Kejadian langka yang bagai tak mungkin terjadi pada seorang Farid Ahmad Danuarta.
"Mama itu wanita yang aku sayang karena telah membesarkan dan melahirkan aku, tapi kamu juga wanita yang telah mengandung anakku dan juga aku cintai, yah meski karena kebodohanku aku membuatnya pergi."
Farid menjeda kalimatnya, ia mengambil napas dan menghembuskannya dengan kasar, sebisa mungkin ia tidak boleh terisak.
"Mendengarnya bicara dengan tegas untuk membunuh calon bayiku sendiri, itu jelas sangat memukul hatiku dan sekarang bukannya berhenti, dia malah semakin menyakiti istriku."
"Mas, aku tau di balik sikap dingin dan tegas mu kamu pasti punya perasaan yang hangat, walau kamu marah sama mama, pasti kamu masih sayang mama, jangan pernah bilang kalau kamu gak mau anggap mama sebagai mama kamu lagi cuma karena aku ya?"
"Tapi mama bukan sekedar salah biasa, tapi beliau seperti orang jahat, mana ada nenek yang ingin membunuh cucu sendiri?"
"Mas, tetap saja kan-"
"Iya udah, aku gak benci mama, bawel." potongnya menyudahi perdebatan, mencubit pipi istrinya gemas.
Farid tersenyum lembut, menatap Akira lalu mengecup puncak kepala wanita itu.
"Kamu memang yang terbaik, tidak salah aku memperjuangkanmu dan salah aku pernah menyia-nyiakan dirimu."
Akira jadi tersenyum malu mendengar kalimat yang Farid lontarkan.
"Mas, gara-gara kemarin kamu jadi manis banget?"
"Apa ini? Gara-gara aku habisi semalaman kamu jadi gak marah lagi?" balasnya bertanya menimbulkan rona merah di pipi Akira.
"Diem!" sentaknya membuang wajahnya agar tak terlihat oleh Farid.
Di tengah itu semua Akira masih merasakan keganjilan mengingat-ingat kalimat yang di lontarkan mertuanya.
Apa mama kenal ibuku?
"Aku bahagia memiliki kamu yang mampu menerima aku lagi dan mengingatkan aku padahal mama sangat menyakitimu." celetuk Farid membuyarkan kebingungan Akira.
"Aku hanya gak mau jadi pengaruh buruk buat kamu dan membuat kamu benci sama ibu kamu sendiri." tangannya bergerak mengelus rahang kokoh suaminya.
"Hahh... aku bersyukur punya kamu, mulai sekarang aku janji akan membuat kamu selalu bahagia di sampingku." ucapnya mengelus punggung tangan Akira, lalu mengecupnya sedikit lama.
Update kilat ya, isinya dikit banget karena sebenernya ini isi lanjutan yang kemaren rencananya, tapi capee ngetiknya terus juga biar ada adegan yg bikin pinisirin gitu loo
Vote yaaa ojo lali gaess