Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
lima puluh tiga



Yaa aku gak lama, makannya ramein nopelku yang satunya juga yaaa hehe..


Pagi baru saja di mulai, tapi kericuhan juga sudah di mulai Papa Roy yang tahu bahwa anak dan istrinya di bawa pergi oleh anak tertuanya menjadi kesal dan memutuskan untuk datang.


Memaksa masuk meski penjaga melarang, ia bahkan mengancam akan menabrakan mobilnya pada pagar rumah itu jika para penjaga tidak juga membukanya.


Wisnu tidak lepas dari itu semua, dirinya yang baru saja di pesankan oleh tuannya untuk melarang lelaki tua itu masuk langsung melaksanakan tugasnya secara mendadak.


Roy bahkan sudah hampir memukul Wisnu seandainya saja, Farid tidak segera datang.


Papanya itu sangat menyebalkan, Farid ingin berlama-lama dengan istrinya mencari ketenangan tapi malah mengganggu sepagi ini!


"Berhenti, papa!" teriaknya dari ujung tangga terakhir masih dengan sweater hitam dan celana tidurnya.


"Apa yang papa lakukan sepagi ini membuat keributan sepagi ini, kemana segala etika yang papa ajarkan pada kami? Ah ya, semua itu sandiwara!" sarkasnya yang membuat Roy berdiam lama, mungkin tidak tahu mau mengatakan apa. Karena itu fakta, bahwa sikap hangatnya pada Rita di depan anak-anak hanya sandiwara belaka.


"Kalau papa tidak bisa membahagiakan mama, kenapa harus terus menyakiti mama? Aku rasa semua kesalahan mama itu juga karena kesalahan papa sendiri." sinisnya, tanganya terlipat di depan dada seolah sedang menyombongkan dirinya di depan papanya sendiri.


"Farid, bicara apa kamu?! Mana mama dan Farel?" Roy bersiap melangkah lebih jauh lagi masuk ke dalam kediaman Farid.


"Untuk apa?! Memangnya mereka penting untuk papa? Apa pernah papa sedikit saja merasa bahwa mama itu penting untuk papa? Apa pengabdian mama selama ini kurang? Jadi biarkan aku yang membahagiakan mama, Farrel dan Fiora sekaligus, karena papa hanya akan memberikan luka dengan segala masa lalu yang papa bawa!"


"... "


"Aku juga yakin, Fiora tidak akan mau punya ibu seperti kekasihmu itu!"


"Farid, kamu keterlaluan, saya masih orang tua kamu!"


"Dan saya masih anak mama saya!"


"Farid, hentikan! Jangan bertengkar dengan papa kamu sendiri, mama mohon tidak semuanya salah papa!" tiba-tiba saja Rita datang melerai dengan Akira di sebelahnya.


"Anda lihat? Mama saya menghentikan saya ketika saya melawan anda, tapi pernahkah anda menghentikan saya saat saya menyalahkannya? Tidak kan?! Kapan mama saya itu berharga di mata anda?!" bentaknya keras, sedikit-sedikit Farid tahu bahwa hubungan kedua orang tuanya tidak sebaik yang terlihat oleh karena itu ia tumbuh menjadi anak paling pendiam dalam keluarganya.


Rasa penasarannya pun bahkan semakin jelas saat segalanya terkuak sedikit demi sedikit.


"Kapan Anda membelanya sebagai istri anda? Yang ada, anda malah selalu menyudutkan dirinya, tidak sadarkah anda kalau semua perbuatan mama karena kesalahan anda?!" Farid membuang napas kasar, ia masih belum puas menyerang papanya.


Punya anak dengan wanita lain dan membawanya untuk di urus oleh istrinya sendiri, sebenarnya papanya itu punya hati atau tidak?!


"Baiklah, papa minta maaf, jadi biarkan papa bawa mama kamu pulang, ya?" lantas bergerak mendekati Rita. Sedangkan, Farrel yang belum tahu apa-apa hanya bisa mencuri dengar dari balik tembok, ia tak tahu jika masalahnya semakin serius. Menyebalkan!


"Tidak! Lebih baik anda pergi dari sini tidak semudah itu anda mendapatkan maaf dari kami!"


Sebagai isyarat, Akira menatap Farid dan menggeleng tanda bahwa suaminya tidak boleh keterlaluan seperti itu pada papanya.


Tapi Farid langsung memutuskan pandangan mereka dan tetap kekeh agar papanya pergi.


"Farid, papa itu ayah kandungmu, jangan durhaka dengan mengusirnya." Rita masih saia memperingati.


"Aku butuh waktu untuk bisa menerima segalanya, segala kebohongan yang pria tua ini bawa dari masa lalunya!"


"Baik, maafkan papa, papa akan pergi tapi papa tidak akan menyerah untuk meminta maaf pada kalian."


Dan saat suasana kembali tenang, di hari yang cerah ini Akira kembali merengek sesuatu yang tidak mungkin, yaitu menghabiskan waktu bersama Rayrin.


Dirinya sampai lupa kalau ia punya ide cemerlang. Segera, dirinya diam-diam membuka ponsel suaminya dan mencari nomor seseorang.


"Yes, dapat!" teriaknya senang saat mendapatkan nya dan segera menyalinnya.


Lalu segera pula, Akira menghubungi nomor itu. Baru dua deringan dan


"Lagi telepon siapa?" tanya Farid yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja. Sontak, itu membuat Akira kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya.


"Anu, lagi telepon." jawabnya berusaha agar tidak gugup.


"Itu lho, Viara mau tahu perkembangan usaha aku aja, sudah lama banget enggak aku pantau." kilah Akira segera saat ide muncul di kepalanya, Farid hanya ber -oh- ria saja.


"Ya sudah, aku minta tolong carikan kausku yang warna putih."


"Masih di cuci lah, sayang. Kan kemarin habis kamu pakai, gimana sih?!" sahut Akira rada nyolot.


"Bukan yang itu, yang satunya lagi lho, yang polos terus agak tipis itu."


"Ngapain kamu mau pakai kaus tipis, mau godain seluruh pelayan cewek di rumah ini?!"


Oh My God, sepertinya mood monster istrinya kembali.


"Nggak sayang, hari ini panas sekali aku merasa tidak nyaman." jawabnya dengan sangat sabar, takut salah. Nanti, Akira lebih parah meledakkan hormon sensitifnya.


Akhirnya, dengan langkah cepat Akira masuk ke dalam walk in closet dengan mulut yang masih mengoceh.


"Rumah besar, AC dimana-mana masa masih ngeluh kepanasan, heran. Bilang aja mau tebar pesona." cerocos Akira tanpa henti yang membuat Farid di belakangnya menepuk keningnya merasa tak habis pikir.


Karena gemas Farid kerjai saja istrinya, saat Akira sedang fokus mencari kaus itu, "Nih, disini aja gak tahu, nyarinya gimana sih!" protesnya bertepatan dengan Farid yang memeluk dirinya dari belakang.


"Kamu juga kenapa pakai baju tanpa lengan begini? Mau tebar pesona sama aku, hm?" ujarnya seduktif sembari mulai menciumi bahu terbuka Akira, karena hanya ada tali tipis yang tergantung pada bahu mulus itu.


Cara menggoda Akira memang paling ampuh untuk melumpuhkan mode cerewet dalam mulut Akira. Lihat saja, sekarang Akira hanya bisa diam tidak bisa berkutik.


"Emm, ya sama aku juga panas. Emm.. udara hari ini panas banget. " memang benar matahari di luar sangatlah terik. Bahkan udara masih terasa panasnya.


"Kamu tuh beli AC baru sana, masa aku masih aja kepanasan." celetuk Akira sedikit mendorong Farid ke belakang menetralisir rasa gugupnya. Sebenarnya, sudah berkali-kali mereka melalui hal romantis bersama, tapi tetap saja ia merasa gugup.


"Emh, yaudah deh panas aku mau minum es susu aja. Eh iya, kamu belum beliin aku susu hamil rasa stroberi, mas!" rengeknya tiba-tiba.


"Hah? Kapan kamu mintanya?" Farid melepaskan pelukannya, sambil terheran-heran.


"Ih udah lama, anak kamu sampai ngeces di dalam perut aku ini!" Farid berjengit dan melotot aneh, yang benar saja istrinya ini.


"Ngada-ngada kamu." lalu mulai memakai ksusnya.


"Bener mas, produksi air liur ku meningkat karena selalu bayangin minum susu hamil rasa stroberi, tapi nggak kamu kasih juga, padahal suami aku kaya raya." sindirnya, karena Farid selalu lupa membelikannya hal satu itu dan tanpa Akira sadari jiwa sombong suaminya tersentil mendengarnya.


"Lama-lama aku bisa ngeces-ngeces, mas!" lanjutnya merajuk lagi menarik-narik ujung kaus suaminya.


"Iya-iya nanti aku belikan."


jawabnya sambil matanya mencari-cari ponselnya yang entah tadi di letakan dimana. Untuk mengubungi Wisnu agar menyuruh seseorang. Bisa hancur harga dirinya, kalau hanya sebatas susu hamil rasa stroberi saja ia seolah tidak mau membelikan. Uangnya banyak, tentu saja!


"Kok nanti, sekarang dong! Pokoknya harus kamu yang beliin jangan pelayan."


Farid mengacak rambutnya asal. Istrinya ini benar-benar.


"Ih kamu kok kaya kesel gitu, gak mau ya? Pelit!" sungut Akira, ia sudah memasang wajah cemberutnya.


"Nggak gitu sayang, iya ini aku mau berangkat yaa." mengusak puncak kepala istrinya lalu beralih pada perut buncit itu, "Tunggu papa pulang ya sayang." pamitnya pada sang calon anak, mereka berdua istrinya dan calon anaknya adalah satu-satunya obat saat dirinya merasa kelelahan dan merasa khawatir berlebihan karena suatu hal.


Kecerewetan istrinya mampu mengusir rasa khawatir yang hadir sebab masalah pekerjaan atau bahkan masalah seperti yang ada sekarang. Dan calon anaknya selalu membuat dirinya semangat setiap saat, membuatnya ingat bahwa ada yang harus ia jaga, yang harus ia lindungi dan bahagiakan kemudian.


Rayrin gimana ya?


Ada yang penasaran gak?


Yok sajennya tambahin, mampir ke My Lazy Rich Man tinggalkan jejak juga oke.


Aku mau tidur dulu bye.