
Weyy aku update loo...
ada yang nungguin gak yaa...?
Eh sekarang sistem NT udah di perbarui gaesss... cara vote nya udah beda sama yang kemaren²
Ya... aku cuma mau ngomong, jangan lupa vote karya ini yaaa.. biar gak malu-maluin gada yang vote gara² udah ganti cara votenya pake semacam kupon atau tiket gitu gak sih? Haha goblock banget gue gak paham-paham.
Eh sebelum ganti cara juga jarang yang vote ding wkwkwk, aku sabar aku gapapa 🤣
Happy Reading...
Dirumah, Akira cuma mondar-mandirmondar-mandir di depan pintu masuk, menunggu suaminya pulang, jujur sih.
Ya jujur, perasaannya tidak pernah tenang kalau berhubungan dengan seseorang yang di sebut mama, maksudnya tuh ya mama mertuanya.
Otaknya cuma berpikir, apa saja sih yang mama dan suaminya itu bicarakan, apa akan berakhir manis atau semuanya akan tetap asam dan pahit, hambar, alah tak jelas!
"Woy, kak! Mondar-mandir sambil ngelamun, kesambet ntar lo!" tegur Farell yang baru saja masuk rumah, ia baru kembali dari sekolah.
'Ih, nyebelin banget, awalnya baik, lama-lama nyebelin, gak sopan, sopannya pas ada Farid doang.' gerutu Akira dalam hati, ya tentu dalam hati, ia tak mau berperang juga dengan adik suaminya, ya masa nanti, seluruh keluarga suaminya tak ada yang akur dengannya satu pun?
"Kepo lo, bocah." balas Akira ketus, mendengus kasar, lalu mau melesat masuk ke kamarnya.
"Weh kak, laper nih belom makan siang."
"Ya makan aja sendiri sana, di dapur banyak makanan, Rell, gue pusing!" sarkas Akira, ia tidak bohong karena malas berurusan dengan Farell kok, nyatanya sekarang kepalanya memang rada pusing, kebanyakan pikiran mungkin?
"Mikirin mama kak? Memang mama jahat banget ya sama elo?"
Akira diam sebentar, masa sih Farell sepeka itu?
"Jangan banyak mikir, otak lo itu gak secerdas gue dan kakak gue, ntar rusak lagi."
Akira melotot takjub dengan ucapan adik iparnya, bar-bar banget?!
"Tuan muda, jangan bicara tidak sopan dengan yang lebih tua, Tuan mungkin akan tidak suka." tegur Wisnu yang entah sejak kapan ada di sana bersama mereka.
"Tck!" Farell berdecak malas dan memutar bola matanya jengah, ia bisa meniru kakaknya, kecuali ya sikap kaku teramat kaku, seperti terlalu teratur bahkan dalam hal bicara pun.
Farell, itu tipe anak yang hanya mau mengatakan apapun yang membuatnya nyaman.
"Biar aja, nanti biar saya yang bicara dengan Farid, lagian saya nyaman ngomong dengan cara Farell." kata Akira lembut, lalu menyuruh Farell mengikutinya ke ruang makan.
"Gue gak tau apa masalah kalian dulu, tapi sekarang gue tau sedikit demi sedikit, pantes aja kakak gak pernah bawa lo ke rumah sejak kalian menikah, sebagai saudara ipar kita kaya orang baru kenal, padahal kalian nikah udah hampir dua taunan." jelas Farell sembari menaruh nasi ke dalam piring dan memilih lauk pauk, Akira hanya duduk dengan susu stroberi di tangannya, mengamati adik iparnya yang membuat piring itu layaknya gunung.
"Lo laper apa doyan?" tanya Akira mengalihkan pembicaraan, ia takut dari jabaran kalimat Farell barusan akan menimbulkan pertanyaan sensitif yang akan sulit ia jawab nantinya.
"Gue laper banget, di sekolah gak sempet makan, banyak tugas banget, jadi mager mau ke kantin."
"Rajin juga ya lo, gue kira badboy, yang pacarnya dimana-mana."
"Nih yang gue suka dari elo, kak! Lo gak baperan, gak banyak omong kaya siapa tadi tuh yang di depan?"
"Wisnu?"
"Ya itulah pokoknya, lo pinter berperan di setiap keadaan, sama kakak lo manja, sama gue lo sama barbar nya, salut dah gue punya kakak ipar kek bunglon."
"Lo muji apa ngeledek sih?!"
"Dua-duanya!" cengir Farell.
"Lo belom jawab kali, cewek lo banyak dong di sekolah?" tanya Akira serius, soalnya tampang Farell itu keliatan badboy dari bahasanya saja sudah bad.
"Gue emang kaya yang lo kira, cuma gue gak punya mantan, cewek-cewek aja tuh yang keganjenan sama gue." sahutnya sembari menyugar rambutnya ke belakang dengan tangan kiri, lalu beralih memakan paha ayam gorengnya lagi.
"Lo gak benci sama gue, dek?" tanya Akira saat Farell sedang mengunyah suapan terakhirnya. Lelaki itu segera menelan dan meminum air lalu menatap kakak iparnya intens.
"Kenapa?"
"Kan secara garis besar, udah bisa lo lihat, mama papa mau cerai gara-gara siapa?" tadi Akira berusaha mengalihkan, tapi ia juga penasaran loh bagaimana cara pandang Farell terhadap dirinya saat tau garis besar masalahnya.
Aneh memang, kalau gak aneh, gak labil, bukan Akira itu cuma jelmaan.
"Iya sih tadinya gitu, tapi berhubung kakak sayang lo, gue gak bakal benci lo, apa yang di sukai kakak, gue pasti suka, karena gue yakin pilihan kakak gue gak pernah keliru." tukas Farell dengan amat yakin, Akira hanya menyunggingkan senyum miring mendengar penjelasan anak lelaki itu.
Sepertinya, Farell sangat mengidolakan kakaknya, sekeren itukah Farid di mata adiknya?
Kali ini, cuma ada satu pertanyaannya pada Tuhan, kenapa mamanya berubah menjadi wanita egois? Mamanya bahkan tak mau mengalahkan sakit hati di masa lalu demi keutuhan keluarganya. Kenapa semua terasa sulit dan rumit?
"Ma, Farid cinta sama Akira apa enggak bisa mama mengalah demi kebahagiaan anak mama, anak kesayangan mama, aku, ma. Aku gak akan bisa tanpa dia, dia ibarat udara yang aku butuhkan setiap aku bernapas."
Farid kini bahkan sudah bersimpuh di kaki mamanya, dengan keadaan hampir menangis,suaranya nyaris seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.
Ia menggenggam tangan wanita itu penuh harap.
"Mama, tolong terima istri Farid, dia satu-satunya yang Farid mau, kalau mama menerima, papa pasti akan memaafkan mama, kalian gak akan cerai, Farell gak akan kabur, kak Fiora juga gak akan sedih, kita semua bisa bahagia sama-sama."
"Enggak, Farid! Mama gak bisa lupain rasanya sakit saat suami mama mencintai wanita lain, enggak! Dan asal kamu tau, mama gak akan pernah biarin istri kamu hamil anak kamu,mama gak akan pernah terima dia, gak akan!"
Mama berkata, menyentak genggaman anaknya, bahkan tanpa menatap wajah anaknya sendiri, yang kini menatap tak percaya pada mamanya.
"Dengar! Mama sayang sama kamu, kamu harus pisah sama dia atau kamu memang senang lihat mama menderita, kamu gak sayang mama? Mama malas Farid! Mama jijik kalau sampai darah Marina bercampur dengan darah kamu dan jadi cucu mama, jijik!"
Ngilu, tentu saja hatinya, ngilu, ia berusaha untuk menghilangkan sikap dingin dan tegasnya demi bisa meluluhkan mamanya, agar tak ada perselisihan di antara mereka, namun nihil, usahanya gagal. Mamanya malah mengucapkan hal yang sangat membuatnya merasa terhina.
"Papa kamu bahkan mau menggugat cerai mama, Farid! Andai perempuan itu tidak muncul, keluarga kita akan tetap tenang, Farell gak akan pernah takut dengan rumahnya sendiri. Kamu akan tetap jadi kebanggaan mama. Harusnya kamu tau, letak masalahnya ada pada istri kamu, harusnya kamu membela mama, mama disini korbannya, Farid!"
Ia saja terhina, bagaimana dengan istrinya kalau mendengar itu? Farid menatap mamanya tak percaya, ia mundur dari posisinya.
"Ma! Mama yang salah dengan menyuruh Farell mengetahui apa yang ia sendiri belum mampu mengerti, mama yang membuat Farell takut sama mama, bukan Akira!"
"Tapi, penyebab dari semuanya adalah perempuan itu! Kalau kamu memang sayang sama mama, tunjukkan dengan pisah dari Akira dan lihat semua pasti akan baik-baik saja." mama menatap tajam ke arah Farid, seakan tak mau kalah dengan pendapatnya.
"Mama egois!" dan itu kata terakhir sampai Farid dengan yakin melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.
Farid rasanya ingin membenturkan kepalanya pada tembok, namun ia hanya bisa memukul setir mobilnya dengan kasar, lalu kembali melajukkan mobilnya kembali setelah dirasa ia terlalu lama berhenti untuk merenungi segalanya.
Ia sampai saat langit sudah gelap, dalam hatinya berkata pasti istrinya itu sudah lama menunggu dengan harap cemas.
Benar saja, baru ia menapakkan kaki di dalam rumah Akira sudah menghampiri dirinya.
"Mas, kok baru pulang? Apa hasilnya?"
Ya memang Akira yang menyuruh Farid agar bicara layaknya seorang anak, bukan seorang suami yang sedang melindungi istrinya.
Karena menurutnya, itulah yang semakin membuat kebencian mama mertuanya semakin menggebu, karena anaknya lebih memilih dirinya.
Dengan diam, Farid berlalu ke kamarnya dengan setia Akira mengikutinya, tanpa mereka sadari, Farell sama harap cemasnya. Mengintip mereka dari celah pintu.
Sesampainya, di dalam kamar, Farid masih diam membelakangi Akira, saat Akira menyentuh bahu kokoh lelaki itu, saat itu pula bahunya yang kokoh bergetar hebat.
Suara isakan samar terdengar, lalu semakin jelas, semakin pilu, ia tau suaminya menangis, itu artinya semuanya tidak baik-baik saja.
Akira langsung memeluk suaminya dari belakang, mendekapnya erat seolah dari pelukannya ia berkata,
jangan sedih, masih ada aku, semua akan baik-baik saja.
"Mama, egois, Ki. Sangat egois." ucap Farid tergugu karena ia sedang menangis, Akira hanya bisa menggenggam jemari suaminya.
Suaminya yang kini terlihat lemah, ya Sekuat-kuatnya Farid, setegas-tegasnya lelaki itu bahkan berani melawan pendapat ibunya sendiri, ia tetaplah seorang anak yang menyayangi mamanya.
"Kenapa, mama lebih mementingkan sakit hatinya di masa lalu, daripada keutuhan keluarganya?Kenapa sih, Ki?!"
Akira membalikkan badan suaminya agar menghadapnya, lalu mendorong lelaki itu duduk pada pinggiran ranjang.
Ia mengecup bibir suaminya, sedikit lama.
"Menangislah, kamu udah lama menahan semua ini kan? Kamu tetap anaknya mama yang sayang sama mama, iya kan?"
Farid hanya menangguk dalam pelukan istrinya.
Karena tanpa Farid menjelaskan, Akira tau semua tidak baik-baik saja.
Apa ia salah meminta suaminya berbicara layaknya seorang anak?
Karena sekarang, Farid yang ia kenal sebagai pribadi yang dingin, kuat dan tegas, menjadi serapuh ini.
Ia yakin, Farid pun dilema, ia pasti sayang mamanya, ia juga tak bisa membayangkan rasa sakit yang mamanya tanggung.
Tapi, di sisi lain ada dirinya yang butuh untuk lelaki itu lindungi, dirinya yang diinginkan oleh Farid, dirinya yang menjadi prioritas Farid saat ini.
Emm.. ya sorry kalo rada gimana gitu, soalnya masa lalu kadang bisa menghambat masa depan, yaa kaya masa lalu para orng tua itu lah.. mamanya farid tuh terlalu tersakiti gitu looo ceritanya