
Saking sakitnya, Rayrin yang biasanya menangis dalam diam kini meraung, tubuhnya merosot ke lantai ruang tamu yang dingin, belanjaannya ia biarkan berserak di lantai, suaranya terdengar amat pilu.
"Bahkan papa kamu enggak tau keberadaan kamu, maafin mama, semua gara-gara mama." ucapnya sambil terus mengusap perut buncit nya. Memang ia akan bicara pada siapa, selama ini ia hanya bisa berbagi dengan anaknya yang ada dalam kandungannya, buah cintanya bersama Kris.
Jika dirinya tidak bisa menghargai cinta lelaki itu dan membahagiakan Kris. Setidaknya, ia akan menebusnya dengan merawat satu-satunya peninggalan lelaki itu.
"Mama sayang sama papa kamu, tapi mama terlambat, semua terlambat, maaf karena mama kamu gak punya papa, kamu jadi hinaan tetangga juga karena mama."
'Ya Tuhan, aku harus apa? Aku sendirian, apa karma ini akan terus berlanjut?Tapi aku lelah.' rintihnya dalam hati.
Sedangkan, di luar sana Kris menahan isak tangisnya, ia bodoh, okey! Rayrin memang jahat, tapi gadis itu tetaplah gadis baik-baik, mungkin Rayrin pernah sembarang menciumnya atau duduk di pangkuannya, tapi Rayrin tetaplah gadis polos, yang telah ia cemari. Ia ingat saat dengan lancang ia melakukan lebih dari sekedar ciuman, bagaimana cara Rayrin menolak karena takut, ia ingat sangat ingat!
Harusnya, Kris sadar, saat ia menumpahkan benihnya, pastilah akan tumbuh di dalam rahim gadis itu.
"Bodoh!" gumamnya sembari memukul kepalanya sendiri.
Cukup, ia harus masuk, ia ingin memeluk gadisnya, cintanya, ia merindukan Rayrin, sangat. Amat.
"Sial, di kunci!" ia pikir hanya karena Rayrin tidak mengunci pagar, pintunya mungkin juga tidak terkunci.
Ia memutuskan untuk mengetuk pintu, berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Tidak ada reaksi apapun.
Ia akan memanggil Rayrin, mungkin saja Rayrin mengira ia adalah tetangga yang mencemooh nya jadi Rayrin tak merespon.
Namun, suara getar ponsel di saku celananya menginterupsi kegiatannya.
"Halo." dengan setengah hati ia mengangkat panggilan itu.
"..."
"Ah, iya aku datang, aku sedang di jalan."
"..."
Kris menatap tak rela pada pintu di depannya,
"Aku pasti kembali, buat kamu, juga anak kita." ujarnya lalu berlari meninggalkan rumah itu, ia sudah sangat terlambat.
Rayrin mengusap air matanya kasar, saat mendengar ketukan pintu berulang dari luar.
Sekilas, ia mendengar suara orang.
Rayrin, tidak pernah terima tamu, bukannya sombong, ia hanya tidak suka, terkahir ia menerima tamu, memang baik tamunya, tapi akhirnya menyinggung tentang kehamilannya. Menyebalkan. Satu-satunya yang ia terima hanya Bu Kades dan keluarganya saja, selama ini ia hanya bersosialisasi dengan mereka.
Kadang ia menyesal karena meminta di carikan rumah yang tidak berada di kompleks perumahan mewah. Tapi seperti perkampungan, daerah pinggir kota. Karena disini orang-orang bersosialisasi dan saling bergosip, beda dengan orang yang tinggal di perumahan elite, yang lebih sibuk dengan urusan masing-masing.
Rayrin memutuskan mengintip melalui jendela, "Nggak ada siapa-siapa." ia memeluk dirinya sendiri mengusap kedua tangannya.
"Jadi merinding, apa disini mulai angker ya? Harusnya, kalau ada orang kan, seenggaknya dia masih jalan di halaman, tapi... hiii serem." lalu dengan kencang ia menutup tirai jendelanya dan memunguti belanjaannya, ia perlu memberi makan bayinya, ia dan bayinya sangat lapar.
"Lucu gak sih, apa gara-gara tadi aku nangisnya berisik terus hantu kampung sini keganggu ih aneh-aneh. Gak mungkin!" dan Rayrin masih mengira itu adalah hantu.
***
Akira dan Farid tersenyum ramah menyambut kedatangan Kris.
"Maaf, aku terlambat ada kendala di jalan."
"Tidak masalah, aku memahaminya." jawab Farid maklum.
"Harusnya aku menghukummu saja!" cibir Farid.
"Hey, Tuan presdir, jangan lupa karena aku calon pewaris kerajaan bisnismu akan segera lahir." sambil melirik perut buncit Akira.
Ia jadi ingat, dirinya belum sempat melihat perut Rayrin, apa juga sebesar milik Akira?Berapa usia kandungan gadis itu? Ah menyebalkan, pokoknya habis ini ia harus langsung bertemu Rayrin, titik!
"Iya, terimakasih Tuan, berkat anda juga, saya bisa hamil dengan segera." ujar Akira ikut nimbrung.
"Ah ya, silahkan di nikmati jamuan yang sudah di sediakan." sambungnya ramah.
"Kenapa berkat dia? Kan aku yang membuatnya." sewot Farid, yang mendapat delikan mata Akira, sedangkan Kris hanya terkekeh geli.
***
Sesampainya, di rumah Akira uring-uringan sendiri, ia baru ingat Rayrin juga hamil. Kenapa ia lupa bertanya, siapa tau itu anaknya Kris kan?
"Mas, minta kontak Tuan Kris, dong!" sambil menyodorkan tangannya pada Farid yang baru saja selesai menelepon.
"Untuk apa, gak perlu!"
"Ini penting, mas. penting!" desak nya.
"Panggil, Kris saja. Jangan pakai embel-embel Tuan, memang dia siapa?" remeh Farid.
"Dih, sombong! Kan formalitas, gitu-gitu dia pemegang saham di perusahaan lho, dua puluh persen!" peringat Akira sembari menunjukan dua jarinya.
Farid melengos dan berjalan menuju ranjang, merebahkan dirinya santai.
"Mas ih! Pelit!" sedangkan yang di cerca dengan santainya menarik selimut sampai ke batas dada. Akira bergerak memutar untuk sampai ke sisi tempat tidur bagiannya lalu duduk, "Mas!" panggil nya lagi, saat melihat mata Farid hampir terpejam.
"Aku lelah, sayang." ujar Farid, lalu menarik Akira agar berbaring bersamanya, tangannya menyentuh perut besar Akira.
"Mama kamu ini, sangat repot, tidak tau apa kalau kamu dan papa sangat lelah?" lalu mendesakan kepalanya di ceruk leher sang istri.
Akira menggenggam tangan suaminya yang ada di atas perutnya, "Maaf. Habisnya, aku penasaran, soalnya kemarin aku ketemu Rayrin, dia lagi hamil."
Dan ucapan Akira sukses membuat Farid kaget dan bingung secara bersamaan.
"Rayrin, hamil? Dia gak apa-apakan kamu kan?" Farid mengangkat kepalanya, melongok ke Akira di sebelahnya, yang langsung berganti posisi duduk.
"Nggak! Gimana kalau itu anaknya Kris?! Kasian kan dia." sewot Akira.
"Biarkan lah, salah dia sendiri!" cuek Farid yang kembali masuk ke selimutnya.
"Mas, kamu jahat gitu sih!" menepuk kesal lengan Farid. Farid bereaksi dengan langsung kembali dengan posisi duduk menghadap Akira yang bersandar pada kepala ranjang.
"Dia juga jahat. Mikirin amat sih, dari pada mikirin Rayrin yang belum tentu hamil anaknya Kris, lebih baik jengukin baby." ujarnya dengan seringai nakal yang mengerikan di mata Akira.
"Mas! Tadi kamu sendiri yang bilang capek ya?!" Akira mulai waspada saat Farid sudah mulai mendekati dirinya.
"Kalau buat jenguk anak sendiri kenapa harus capek, hm?" dengan alis yang naik turun.
"Nggak ya, tadi katanya capek."
"Nggak, aku udah nggak capek." elak Farid, dengan bibir yang sudah membungkam mulut Akira.
Dan... ya kalian tahu lah. Bayangkan sendiri kelanjutannya.