
Akira Point of View
Namanya cinta itu buta kata orang. Tapi, sumpah aku gak cinta buta sama sekali ke Farid. Aku itu hanya ingin mencintai satu lelaki seumur hidup setelah dulu aku main-main sama mantan, hehe.
Mantan aku banyak waktu SMP, ada tujuh hehe. Tapi semuanya gak ada yang buat aku minat mencintai.
Eh, ada satu yang paling aku gak suka dan paling buat aku sakit, ya.. itu si Valen, tau kan?
Nah, setelah itu aku gak mau main-main lagi.
Apalagi setelah ketemu Farid yang ajak aku nikah. Sumpah! Aku rasa nya enggak mau yang lain selain dia.
Meskipun, ada perceraian nanti saat itu aku mikir, gak mungkin aku bisa menikahi lelaki lain lagi setelahnya. Aku benci, benci ketika dia lebih memperhatikan mantannya.
Ketika dia yang tegas mendadak labil hanya karena mantannya. Aku benci!
Tau kan? Aku cewek bar-bar. Aku bisa ngamuk waktu itu, yang namanya Rayrin cukup mempengaruhi suami aku.
Ketika dia sayang aku, hanya karena keadaan aku yang hamil, tanpa sengaja. Aku kecewa.
Ketika dia tuduh aku hamil dengan lelaki lain, jantungku nyeri.
Ketika, akhirnya aku kehilangan buah hati aku yang aku pikir akan jadi pengganti lelaki itu kalau-kalau kami kemudian bercerai. Aku marah dan kecewa.
Tapi rasa cinta aku, ke dia enggak pernah luntur sedikitpun.
Meski rasanya aku ingin pergi jauh dari dia sekalipun, gak akan pernah aku hilangkan rasa cinta yang sudah melekat jauh sekali merasuk ke dalam hati dan jiwaku.
Ya, secinta itu aku sama dia.
Lelaki yang tanpa sengaja buat aku mentas dari rawa-rawa kesakitan bernama Valen.
Dia itu suami aku sekarang, Farid Ahmad Danuarta.
Namanya sederhana, tapi kelakuannya enggak sederhana.
Aku gak tau demi cinta kami berdua sekarang, banyak sekali takdir menyebalkan yang menjadi penghalang.
Contohnya, mama, gak hamil, takut hamil. Eh, takut hamil masalahnya cuma ada di aku hehe.
Aku bersyukur, kalau dulu cuma aku yang cinta dia, sekarang dia juga cinta aku dan mau berjuang untuk kebahagiaan kami.
Seperti sekarang, suamiku itu sibuk mencari cara bagaimana bisa memastikan bahwa kakak bukan anak papa tanpa menimbulkan keributan antar kedua keluarga.
Aku bahagia, ada cintaku yang berbalas dan ikut berjuang. Aku bangga mempunyai dia sebagai suami aku.
Bahkan meski harusnya, ia juga terguncang, tapi dia tetap tenang dan selalu menenangkan aku.
"Kak, lo bahagia ya sekarang!" itu Rey, dia udah lama gak muncul, barusan dia muncul waktu aku lagi kirim resep baru buat di cicip bareng Viara ke Home's Food.
Aku hanya tersenyum manis menjawab kalimat Rey. Ya, dia tau sekarang aku bahagia, dia gak tau masih banyak penghalang menyebalkan untuk rumah tangga kami.
"Kamu sekarang panggil aku lo-gue, gak sopan jadian."
"Gue udah gak bucin sama lo, pengen santai aja kaya kawan, bentar lagi kan kawan lo jadi pacar gue."
"Hah? Kawan yang mana?"
"Noh, di samping lo!" tunjuk Rey menggunakan dagu, ke arah Via, yang baru mau duduk di sebelah aku dan cewek itu langung melotot ke arah Rey.
"Heh! Bocah, gak usah halu, males banget pacaran sama bocah." lengos Viara.
"Oh.. jadi selama aku gak disini ada yang bersemi nih." godaku sambil sok menganggukkan kepala mengerti.
Aku tebak deh, Rey langganan disini terus keseringan liat si Viara ceking jadi dia baper, haha.
Hiburan banget liat Viara sama Rey, yang satu suka, satunya ngelak terus.
"Vivi, aku serius suka sama kamu, masa di tolak terus, udah sama Akira gagal masa sama kamu gagal." keluh lelaki itu yang entah mengapa membuat aku tak tahan dan tawaku meledak seketika.
"Sialan, Vivi! Anjingnya sehun dong!" makiku bersamaan dengan tawaku yang langsung meledak-ledak.
Dengan mata yang agak sipit karena ketawa, bisa aku lihat Viara cemberut!
Viara gak suka bau-bau korea.
Dari dulu, kami selalu bareng setiap kumpul aku, Tina, sama Zia pasti jejeritan ngomongin boyband asal negeri gingseng itu.
"Eh, tayi ya lo bocil! Lo samain gue sama anjing?!"
Waduh gila. Viara ngamuk sama Rey gara-gara aku.
Tapi seru juga sih.
"Lho, kok jadi gini sih! Vivi itu panggilan khusus buat kamu."
"Ya gak Vivi juga setan! Itu nama anjing peliharaan." Viara bahkan sampai berdiri saking kesalnya.
"Duh, Vi. Yaelah, lo emosian banget sih." kataku yang jadi enggak enak, pasti Rey sakit hati nih di maki sama mbak-mbak yang dia suka.
Dih, gak tau deh, kenapa Rey itu sukanya sama yang lebih tua. Aneh, harusnya mah sama yang lebih muda, yang cantik, imut-imut.
Bukannya, Viara gak cantik. Cantik kok dia fansnya banyak, tapi kurang berisi aja.
"Tiap hari dia gangguin gue kerja, godain gue terus, setiap hari kesini," keluhnya menatap aku, "Lo gak capek nguber-nguber mbak-mbak, ha?Bocil?" lanjutnya meremehkan pada Rey.
Kelihatan sekali, Rey mulai kehabisan kesabaran. Ya, Rey bukan bocil kaya apa kata Viara. Cuma beda dikit kok umurnya.
"Aku bukan anak kecil kaya yang kamu bilang ya, lihat aja nanti, aku buktikan, aku bisa milikkin kamu!" ucap Rey penuh tekad dan meninggalkan kami berdua.
"Maafin Viara ya Rey." ucapku sebelum ia benar-benar pergi, yang hanya di jawab deheman kecil darinya.
"Udah dong, Via. Lo mah di deketin cowok kece malah ngamuk, kaya tuh si Rey, enak idup lo nikah sama dia." rayuku agar dia mau bercanda sedikit gak ngamuk mode on terus.
"Hush! Males tau gue trauma sama mantan! Umur dewasa tapi kekanakan kan? Gimana sama yang lebih muda, Aki!"
Viara ngegas ngomong nya, cemberut lagi, serem.
"Buset lo ya, manggilnya, gue bukan aki-aki, Viak!" kata aku neriakin nama dia.
"Ya biasa aja kali, Ra. Bener juga kata Rey, lo sekarang udah bahagia pake banget ya sama monster itu, kalian kaya Beauty and the Beast tau gak, si cantik sama Monster. "
"Ngacauuu!" teriakku sambil menutup telinga, kebetulan kondisi lagi sepi gak ada orang makan, ya kecuali si Rey tadi yang gagal makan, haha.
Aku tersenyum kecut setelahnya, bahagia? Iya sih! Tapi ada aja yang buat kacau.
Pas lagi asik mikir mau ngomong apa lagi, aku rasa ada tangan yang rangkul aku yang saat ini masih di posisi duduk, eh Farid mendadak datang, jemput?
Aneh dia memang, orang aku di antar supir tapi kok di jemput.
Sama aja ngacau nya kaya Viara.
Aku liat Viara lagi melongo takjub kaya lagi nonton drama Korea pas liat Farid samperin aku terus peluk bentar cium kening, cium pipi, eh kamprett...
Cium bibir pas ada Viara! Panas pipi aku, mas! Malu!
Refleks, aku dorong badan dia dong.
"Yuk, pulang." katanya lembut.
"Kok jemput aku kan sama supir."
"Aku gak mau bocah ingusan itu deket-deket kamu." katanya dingin, Farid tau dong aku ketemu Rey!
Aku lirik Viara masih liatin aku sama Farid kaya yang takjub gitu.
"Lho, Viara aku belum dengerin pendapat dia mas.." rengek ku.
"Nanti lewat telepon bisa kok."
Viara bersuara dengan nada canggung.
Oke lah, nurut aja dulu. batin Akira.
Serius ini mantep banget cuma 30 menit gue ketik ambil waktu luang pas lagi kerja, gila sih haha.
Semoga kalian menikmati 🥰🤗
walaupun gada romantisnya tau ga si rasanya kaya di uber pocong nulisnya!