Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Marahan



UDAH LAH GUE GAK MAU BANYAK PERMINTAAN YANG PENTING GUE SELESAIIN INI NOVEL BIAR TENAGA, WAKTU, DAN PIKIRAN GUE NGGAK TERBUANG SIA-SIA.


Keringat bercucuran membuat rambutnya sedikit basah, napasnya terengah karena tubuhnya semakin gerah, ditambah cairan kental yang mendesak keluar dari dalam hidungnya, karena ia terlalu semangat menyantap makanannya hari ini.


Apalagi setelah sekian lama Akira bersantap sambal jengkol kesukaannya di Home's Food dan uniknya ia berperan sebagai pelanggan yang harus di layani. Memesan apapun yang ia mau, dari sambal jengkol, es cendol dengan campuran tape ketan, sambal ikan laut, ayam pedas sambel ijo, soto ayam, mie rebus, semua ia pesan yang pedas-pedas dan hangat pokoknya hari ini Akira pengennya makan pedas dan berkuah, cocok sekali dengan cuaca hari ini yang sedang mendung gerimis dan berangin.


Ia nikmati saja lah sudah lama sekali ia menginginkan semua itu, kalau ketahuan Farid pasti akan di ejek lambung sapi, atau makanan yang pedas akan di tarik dari hadapannya, akan sangat menyebalkan.


Disisi lain Farid yang sedang sibuk di kantornya menerima hasil penyelidikan tentang apa tujuan Akira ke kantornya kalau bukan untuk menemuinya, sebenarnya sudah sejak lama Sergio mendapat hasil penyelidikan namun ia tak mau membuat Farid marah pada Akira sedangkan mereka baru saja berbaikan. Baik kan Gio?


Kalau bukan Farid yang menanyakan sampai meragukan kinerjanya mungkin ia akan tutup mulut selamanya.


Wajah Farid berubah masam, secara tak kasat mata mungkin dari hidung dan telinganya sudah mengeluarkan asap amarah.


"Kamu menyembunyikannya dari saya Gio?!"


"Maaf, Tuan saya tidak bermaksud, saya hanya--"


"Apapun alasannya, aku tak suka kau menyembunyikan apapun dariku!"


tunjuknya pada Gio yang kini menundukkan kepala di hadapan Tuannya.


"Sejak kapan?" Sergio mendongak penuh tanya, "Sejak kapan kau tau bahwa istriku kemari bukan untukku melainkan untuk mencari Dean sialan itu!" hardik Farid dengan suara menahan gejolak emosi yang membuncah.


"Sejak sebelum anda memerintahkan saya untuk menyelidikinya." jawab Gion semakin menunduk.


"Kau... kau adalah orang yang selalu aku percaya kenapa menyembunyikan ini?"


"Tuan saya pikir ini bukan masalah besar, nona hanya ingin menemui temannya saja dan saya tidak mau kabar ini mengganggu hubungan kalian." cerocoe Gio dengan cepat takut Farid akan memotong penjelasannya.


"Begitukah?" Sergio mengangguk sebagai jawaban, "Tetap saja aku tidak suka caramu itu, itu membuat aku merasa ada banyak hal yang masih kau sembunyikan di belakangku." tuduhnya.


"Saya yakin tidak ada Tuan."


Farid masih kesal terlihat dengan caranya memandang Gio, namun Gion tetaplah Gio pria kepercayaan Tuan Muda keluarga Danuarta.


"Tuan, saya punya ide!" cetusnya, yang langsung membuat Farid mengernyit penasaran.


"Apa?"


"Jika berhasil Anda harus mempercayai saya dan tidak boleh menghukum saya hanya karna masalah Dean, janji?" tawar Sergio.


Farid mengangguk tak sabar sebagai jawabannya.


****


Wah senangnya Akira sudah kenyang bertemu teman-teman, namun senang tak selalu senang baru saja ia pulang eh suaminya sudah pulang kalau pulang cepat pasti ada sesuatu ia mencium aroma tak enak dari raut wajah Farid.


"Far, udah pulang?" tanyanya pada Farid yang tengah membaca koran di ruang tamu.


Farid melirik Akira sebentar dan berlalu dari hadapan Akira begitu saja.


Akira melongo takjub, "Woaa istri nanya nggak di jawab." cibirnya tak suka.


"Mas, mau makan apa untuk makan malam?"


"Terserah!" jawab Farid datar sembari berlalu pergi meninggalkan Akira yang melongo tak percaya.


"Loh kok gitu" sahutnya sembari memandang punggung Farid yang meninggalkan dirinya.


Akira pikir ini hanya sementara, tapi...


"Kok nyingkir?" tanya Akira saat ia memeluk lelaki itu sebelum tidur.


"Gerah."


batin Akira menjerit tak percaya.


Mungkinkah setelah ini ada film baru titisan AADC menjadi AADF, Ada Apa Dengan Farid?


Hebatnya, aksi Farid yang sudah Akira pastikan namanya adalah aksi ngambek, berlangsung hingga sore berganti malam, malam berganti pagi dan seterusnya.


Hampir dua hari Farid ngambek entah kenapa, Akira tak tau. Sudah Akira ajak bicara ajak bercanda, apalagi ya tentu tidak di ajak bercinta, Akira bukan wanita mesum meski suka sekali mengulang 'kiss scene' di setiap drama Korea.


Walaupun ia tau mengajak lelaki itu bercinta pasti membuatnya mau bicara, astaga Akira mulai mesum, gara-gara author nih.


Akira berinisiatif untuk mengirimi pesan singkat seolah mereka tidak sedang marahan.


Ia ingin bersikap manis seperti yang Farid suka.


To : Hubby


Far, lagi apa?


"Ah kaku banget kaya anak alay hapus." ucap Akira sambil berdecak tak suka ia menghapus pesan yang telah ia ketik tadi.


To : Hubby


Far, kapan pulang? Mau aku bawain makan siang?


Lalu, Akira mengklik tanda send.


1,2,3,4,5 tidak di balas.


To : Hubby


Bales dong!


Mas Farid!


Farid !


Suamiku, kamu marah?


Temenin aku jalan-jalan yukk


Akira terus membombardir Farid dengan pesan-pesannya yang hanya di baca saja olehnya. Makin tidak jelas isinya seiring dengan hatinya yang mulai kesal karena pesan yang tak terbalas.


Akira yang tau bahwa pesannya dibaca tapi tidak dibalas langsung mengeluarkan tanduknya, alias emosi, marah.


Ia mengklik ikon untuk melakukan pesan suara, "Mas, bales, aelah cuma di baca doang, yaudah aku sama Rey aja!" ancamnya melalui pesan suara.


Farid langsung mendengus sebal setelah mendengar pesan suara dari Akira.


"Sabar, Tuan saya yakin Nona hanya mengancam, itu tidak mungkin."


"Sergio kalau sampai ide bodoh mu gagal aku potong upahmu seratus persen!"


"*****, sama aja kerja paksa dong gue, gak di gaji. " ucap Gio tentu saja dalam batinnya.


Sedangkan Akira uring-uringan karena ia mencium bau bahwa ancamannya tidak berpengaruh.


"Ih awas ya kemaren-kemaren mah dia mohon-mohon sekarang aku di sia-sia aku tinggal lagi baru tau rasa!" geram Akira sembari berguling-guling di atas kasur, ia mendongak bertumpu pada bantal.


"Aaa.. tapi aku sayang, aku suka, aku cinta, ganteng lagi,banyak duit lagi, sayang banget kalo ntar ilang beneran." celotehnya sambil merengek sesekali menenggelamkan wajahnya pada bantal.


Maafkan author yang membuat Akira mesum.


Serius author bacanya malu sendiri.