Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 29



"Ma, mama udah gak mau lagi bantu aku?"


"Bukan enggak mau, tapi papanya Farid sudah tau apa yang kita lakukan ke perempuan itu diam-diam, papa gugat cerai mama kalau kita gak berhenti."


"Mama masih takut? Tenang ma, Kris itu cerdas, handal, rahim Akira gak akan rusak atau mandul, ya cuma kaya kontrasepsi biasa. Nah,kalau mereka udah pisah yaudah, selesai. "


"Kamu gak merasa ini gila? Mama lama-lama merasa seperti psikopat, Ray."


"Daripada, tuh cewek hamil? Mama mau punya cucu dari cewek kaya Akira, mau?" ujar perempuan itu menakut-nakuti.


"Ya enggak lah, ya kamu jangan lewat mama lagi, suruh siapa itu pacar boneka kamu yang urus!" sentak mama.


"Oke, berarti kita terusin dong ya, kasian tuh pacar aku susah lho ma, buat sesuatu yang gak akan ketauan kalau itu di campur."


"Terusin aja, tapi jangan ke mama lagi. Tapi ini bakalan berhasil kan?" tanya mama ragu.


"Ya pasti dong ma, Farid kan lagi pengen banget punya anak, ya masa dia mau hidup sama perempuan yang gak bisa kasih dia anak?"


Kira-kira itu yang terdengar di telinga Fiora antara percakapan mamanya dan mantan kekasih adiknya dulu.


'Menyesal aku membela mama sampai bersikap sinis ke Akira' batinnya, ia menggeram tertahan di balik tembok tempat ia mengintip keduanya, baru saja ia mau bertemu mamanya untuk mendapat penjelasan lebih jelas lagi, tapi tak perlu banyak bicara, ia sudah mendengar rencana busuk mereka.


'Kenapa mama bisa sejahat itu sih? Padahal perempuan itu udah gak ganggu mama lagi, udah mati!'


Dengan emosi ia membuka kasar pintu kamar mama, "Jadi mamaku sejahat ini? Aku kira Farid bicara kebohongan, ternyata.. pantas ma kalau papa mau menceraikan mama!" ucapnya langsung telat saat pintu itu terbuka.


"Fio, kamu sejak kapan di sini?!" mama terlihat sangat kaget terlihat dari wajahnya yang kini pucat pasi.


"Ah, apa anda masih pantas di panggil mama? Dengan teganya anda merencanakan hal sekeji ini, padahal anda sendiri seorang ibu." cibir nya yang tentu itu membuat mama merasa sakit hati, semua anaknya kini membencinya.


"Fio, dengar mama, maafin mama, mama cuma_"


"Mama jahat, egois!" dengan mata yang berkaca-kaca Fiora meninggalkan rumah, merasakan kecewa teramat besar.


"Fio, dengar mama!"


"Fio mau ikut papa aja, Fio setuju papa sama mama cerai, Fio bisa juga ikut Farid, aku kecewa sama mama, mama jahat." teriaknya sambil terus berjalan meninggalkan rumah besar itu.


"Ma.. "


"Pulang, Rayrin!"


Rayrin menyentuh pundak perempuan tua yang masih setia berdiri di ambang pintu padahal tubuh Fiora tak nampak lagi di matanya.


"Pulang! Saya butuh waktu sendiri."


***


"Mama gak masuk akal! Cuma karena dia gak mau cucu dari Akira?! Gila! Apa salahnya sih, toh tetep anak Farid!" teriak perempuan itu di dalam mobilnya.


Fiora tau tentang mama yang tidak mau punya anak dari Akira karena Akira anak pacar masa lalu papanya, tapi untuk hal seperti yang ia dengar barusan? Sungguh di luar nalarnya, ia bahkan seperti mimpi, mendengar rencana jahat seperti itu, mereka seperti penjahat handal.


Ponselnya berdering menampilkan nama "Mama", ia langsung berpaling menghadap jalanan saat tau mama yang menelepon.


Berkali-kali, ponselnya terus berdering, hingga berganti dengan getaran pendek.


Pesan singkat dari mama.


Mama


Mama mohon jangan bilang sama adikmu, dia pasti akan benci mama, mama mohon Fio, putri mama.


Cih, kenapa mamanya jadi seperti ini sih.


Dulu mamanya adalah sosok yang ia idolakan, wanita modis dari kalangan atas, namun berhati baik, seorang ibu yang lembut dan sangat menyayangi anak-anaknya.


Di matanya, meski mamanya itu dari keluarga konglomerat tapi perempuan itu tidak sombong, tidak juga licik seperti ini, tidak!


Mama, adalah contoh orang tua yang baik, di saat papa sibuk dengan pekerjaan mama selalu ada untuk mereka, mama mengurus mereka bertiga dengan tangannya sendiri, tanpa bantuan baby sitter.


"Mama.. " lirih nya lalu menangis sejadinya, menumpahkan segala rasa kecewa akan perbuatan sang ibu.


Akira pikir, suaminya pulang lebih awal, saat sedang menyiapkan makan siang terdengar samar suara deru kendaraan. Tanpa pikir panjang ia segera berlari ke depan untuk membuka pintu.


Namun, bukan Farid, nampak kakak iparnya dengan tangan yang terangkat untuk meraih bel.


"Kak, Fio?" sebutnya dengan nada khawatir karena mata Fiora terlihat sangat bengkak dan memerah. Fiora memaksakan senyumnya, "Aku boleh masuk?" celetuk Fiora membuat segala pertanyaan di hatinya tertahan saat itu juga.


Tentang apa Fiora menangis, apa sebabnya?


"Boleh, masuk kak, kebetulan aku baru masak makan siang, ayo makan sekalian!" ajaknya.


Apa yang salah sama Akira? Dia baik, mama terlalu tertutup dendam.


Fiora mengikuti Akira menuju ruang makan, "Kamu sangat suka mawar?" tanya Fiora basa-basi, karena ruang makan itu menghadap ke halaman samping yang beberapa bulan lalu ia penuhi dengan berbagai macam mawar.


"Kenapa nggak minta belikan, barang dari brand ternama aja?" tanyanya sambil berjalan maju sampai ke teras samping, sedangkan Akira sedang menata piring dan menu di atas meja.


"Nggak suka yang kaya begitu kak, menurutku sih gak perlu brand ternama yang penting nyaman buat aku pakai."


Fiora tersenyum lirih, mendengar jawaban Akira. Oke, baru kemarin ia berbicara kaku dengan Akira dan sekarang ia mengajaknya mengobrol, dan perempuan itu menjawabnya dengan santai dan antusias, tanpa banyak tanya, kenapa mendadak begini, mendadak begitu.


"Tapi, masa Farid mau beli barang murah buat istrinya, gak mungkin." katanya sambil berbalik menuju meja makan berada.


"Iya gak mungkin, jadi dia pernah suruh Wisnu yang belanjain buat aku, kalau aku yang belanja sembarangan katanya." keluh Akira dengan bibir mengerucut, mengingat kejadian itu.


"Oiya, Wisnu!" tak berselang lama Wisnu mendekat pada mereka berdua.


"Iya, nyonya ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.


"Emm, kamu suruh Mang Ujang bawa makan siang Farid ya, ada kak Fio, aku gak bisa antar." jelasnya sambil menyodorkan kotak bekal pada Wisnu.


"Oh, kalau kamu mau antar makan siang, antar lah, yang penting aku di izinkan istirahat disini. "


"Loh, ya nggak sopan dong ada kakak, aku malah minggat."


"Yaudah, terserah kamu."


Cewek barbar? Akira sangat sopan begitu.


***


Farid kembali saat matahari hampir tenggelam, Akira tak menyambut ia sibuk bersenda gurau dengan Fiora di taman barunya yang penuh mawar yang tumbuh dengan subur.


Bersamaan dengan itu, Farell menyusul masuk, "Heh, kamu baru pulang jam segini?"


"Tugas tambahan kakak, Farell nggak aneh-aneh kali." jawab remaja itu lesu, sepertinya ia lelah.


Mereka memasuki rumah bersama, tapi tak menemukan Akira.


"Kakak ipar mana?" tanya Farell pada Wisnu yang kebetulan lewat membawa gunting tanaman.


"Nyonya, di taman bersama Nona Fiora, katanya mereka mau memetik mawar." ujar Wisnu lalu segera pergi dari hadapan Farell.


Setelah, acara memetik mawarnya selesai ia meminta Fiora untuk menyusun mawar pada vas bunga yang akan di taruh di kamar Fiora, ya, Fiora izin menginap di rumahnya selama beberapa hari. Bertengkar dengan mama, katanya. Tentu, tanpa memberi tau secara detail pada Akira.


Akira segera menghampiri suaminya, yang kini tengah mengerang rambutnya yang basah.


"Mas! Pulang kok gak bilang-bilang?"


"Kamu kali yang terlalu sibuk."


"Ya maaf, lagi petik mawar buat kakak kamu, kak Fio mau bobo sini." ucapnya memeluk sang suami dari belakang.


"Aku kira dia udah pulang. Kenapa kakak sama adikku jadi gangguin kita sih?!" berbalik menghadap Akira.


"Hush! Kok gitu ngomongnya!" sambil menggeplak mulut suaminya pelan kok, dosa nanti keras-keras.


"Kamu tau gak, rasanya makanan kamu susah di telan!"


"Kenapa? Nggak enak ya?" tanyanya dengan wajah kecewa.


"Iya gak enak banget, soalnya kamunya nggak ada, rasanya jadi enggak nikmat."


"Bisa banget ngibulin aku." kekeh Akira mengeratkan pelukan mereka.


"Kenapa kak Fio mendadak mau tidur disini?" mengusap lembut pipi istrinya sambil menciumi puncak kepala Akira.


"Kangen.. " gumamnya di sela kecupan nya.


"Satu kasus sama Farell, kayaknya sih." lalu mendongak ke atas menatap suaminya, "Baru berapa jam udah kangen, gimana kalau berhari-hari?"


Farid mendengus kasar, masalah yang sama, mamanya pasti membuat Fiora takut sama seperti membuat Farell takut, nanti saja ia bicara dengan perempuan itu. Sekarang, ia sedang ingin menikmati waktu dengan Akira.


Lelah, memikirkan mama yang membuat hatinya ngilu.


"Makannya, kamu jangan jauh dari aku, gak usah liburan bareng temen kamu, toh sekarang Zia udah punya Gio, terus kata kamu tuh Viara udah sama bocah ingusan itu, kamu sama aku aja terus."


"Hilihhh, itu mah mau kamu aja, kok kamu bilang gitu, jadi beneran kan Zia sama Gio? Soalnya, Zia tu gak mau ngaku, si kucrut itu.." cibir nya pada Zia.


"Iya, masak semalem aku telepon, Gio aku denger suara Zia, gini siapa sih, ganggu banget. Ngapain coba mereka?!" Farid bertanya dengan antusias, membuat Akira tertawa sampai mendongakkan kepala ke belakang, namun masih dengan tubuhnya di pelukan Farid.


"Suamiku, sekarang suka ghibah! Semangat banget lagi ceritainnya.Haha... " tawanya meledak, entah apa yang lucu, hanya Akira yang tau.


Hati Farid menghangat, melihat tawa Akira, semalam ia melihat istrinya itu menangis dan melihat tawa Akira menjadi kesenangan sendiri baginya.


Andai, mereka selalu bisa tertawa seperti ini tanpa harus berubah sedih karena berbagai macam masalah.


Andai...