
Vote dong guys...!
Akira mencoba menghubungi Dean sejak tadi tapi nihil, nomornya selalu tidak aktif. Apa iya, sahabatnya menghindarinya, atau Dean sudah ganti nomor dan Akira tidak tau sebab selama ini terlalu sibuk dengan dunianya sendiri?
Sejak tadi ia hanya mondar-mandir tidak jelas di depan televisi tanpa perduli mengganggu pandangan Rey yang sedang bersantai di sofa di depannya.
Sesekali, ia menggigit jemarinya dengan tampak gelisah menatap layar ponselnya.
Akira berpikir keras bagaimana bisa menghubungi lelaki itu kembali, bukan apa-apa hanya saja, sebagai teman yang selalu berbagi tidak pantas jika kemudian ia menelantarkan temannya, mentang-mentang sudah mendapatkan lelaki yang ia mau, ya walaupun lelaki itu, yakni Farid, sekarang menyebalkan.
Bukan salah Farid sepenuhnya, Akira sadar itu, karena jika ia melupakan hasratnya untuk memiliki Farid, ia tidak akan masuk ke dalam kehidupan lelaki itu yang memang bukan ranahnya, bukan kawasannya, ia terlalu biasa untuk lelaki luar biasa, ia terlalu sabar untuk lelaki yang bahkan hampir tak pernah peka akan perasaannya.
Lihat sekarang? Apa hanya segini perjuangan lelaki itu setelah mengatakan cinta?
Cinta dari mulut Farid? Hanya negosiasi agar ia kembali dan tidak mencoreng nama baiknya sebagai pebisnis ternama dengan kabur dari rumah suaminya, begitu pikirnya.
Akira pernah terlalu bodoh karena cintanya pada Farid, tapi sekarang tidak lagi. Dan Akira butuh Dean untuk memberinya solusi, karena bersama Dean ia selalu mendapat solusi tanpa harus di salahkan atau di pojokkan.
Namun, sialnya ia tidak tau kemana harus mencari lelaki itu. Ke rumahnya? Atau ke tempat kerjanya? Tidak mungkin! Dean saja bekerja di perusahaan suaminya, yang ada dia bisa bertemu Farid. Sebelum bertemu Farid, ia harus mendapat pencerahan dulu dari pendengar setianya itu, Dean.
"Ra, kenapa gelisah?" tanya Rey yang sedari tadi mengamati Akira yang mondar-mandir di depan televisi.
Akira menengok cepat ke arah Rey, "Itu, aku bingung cari teman aku." jawabnya.
"Teman kamu? Kenapa bingung mereka semua tinggal satu wilayah dengan alamat kamu kan?" tebak Rey memastikan.
Akira mengangguk, "Tapi, yang ini beda, aku butuh dia dan dia kamu gak kenal sama dia."
"Santai, jangan panik ntar kamu ga bisa mikir." usul Rey.
"Mau antar aku nggak?"
"Kemana aja aku pasti mau antar kamu." jawabanya dengan seringai menggoda yang membuat Akira berdecak malas.
"Serius Rey!"
"Iya aku serius, mau kemana?" tanya Rey sambil terkekeh geli.
"Earthecnology."
Dan disinilah Akira sekarang, di depan gedung pusat Earthecnology, yang langsung mendapat sambutan dari para penjaga kantor.
Akira hanya tersenyum tipis menanggapi dan segera menuju ke bagaian resepsionis.
"Mbak, ruangan pegawai atas nama Dean dimana ya?" tanyanya to the point.
"Maaf, Nona Akira istri Presdir?" bukannya menjawab, resepsionis dengan name-tag Alina Rahayu itu malah bertanya, membuat Akira mendengus malas dan mengangguk dengan cepat.
"Buruan deh mbak di jawab."
"Maaf, Nona pegawai dengan nama tersebut sudah tidak ada, menurut keterangan beliau mengundurkan diri sejak berberapa minggu yang lalu." terang wanita itu, Akira langsung memegang kepalanya yang cukup nyeri mengingat dia sangat terburu-buru dalam mencari.
Sang resepsionis hanya menatap aneh, kenapa istri pemilik perusahaan malah bertanya hal tidak penting seperti ini padanya, jika ia saja memiliki kuasa di kantor ini.
Akira melangkah keluar dari sana dan menuju pinggir jalan untuk mencari kendaraan umum, Rey sudah ia suruh pulang, ia tidak enak terus merepotkan lelaki baik itu.
Baru ia berdiri di pinggir jalan ia merasa tangannya di tarik oleh seseorang.
"Farid?!"
Pilihan untuk datang kesini memang salah, pikir Akira kemudian.
Tentu, Farid tidak akan tinggal diam melihat Akira yang tiba-tiba saja ada di kantornya, ia baru memasuki area gedung saat melihat wanitanya itu melangkah keluar gerbang.
Dan langsung menyuruh supirnya berhenti saat itu juga bahkan sebelum sampai di tempat parkir.
Akira kewalahan mengikuti langkah kaki Farid yang panjang dan cepat sembari menarik pergelangan tangannya, membawanya masuk ke dalam mobil dan ya kalian tau lah.
Tentu saja ia membawa pulang istrinya itu.
Farid menarik Akira masuk ke dalam rumah, namun Akira dengan kasar menghempas tangan Farid, tanpa babibu Farid langsung membopong tubuh Akira sampai masuk ke dalam kamarnya.
Akira mendengus tak suka saat Farid sudah menurunkan tubuhnya.
"Apaan sih kamu!" teriaknya dengan napas tersengal karena kelelahan membrontak di dalam gendongan Farid.
"Kamu yang apa-apaan, kabur dari rumah dan jangkauan suami." balas Farid sengit, ia sudah tidak mampu berkata lembut jika ia tau istrinya malah pulang dengan lelaki lain.
"Kamu lupa kita--"
Farid meraih kertas yang berada di nakas sebelah tempat tidurnya dan
Sreet
Dengan mudahnya Farid merobek kertas yang berisi gugatan cerai di depan wajah Akira. Akira melotot tak percaya.
"Farid kamu!"
"Kita gak akan pernah bercerai, enggak akan! Jika dengan cara baik-baik aku tidak bisa menahanmu maka aku akan memaksamu lagi." gertak Farid yang tidak bisa mengendalikan rasa kecewanya yang lama ia pendam.
"Kamu memang jahat Far, kekanakan tau gak?!" bentak Akira.
"Kekanakan kamu bilang?" Farid mendekatkan wajahnya pada Akira menatapnya lekat-lekat, lalu mundur perlahan, "Kamu yang kekanakan, Ki. Kalau kamu mau mendengar penjelasanku, membahasnya bersamaku dengan tetap di sisiku, masalah ini pasti selesai dengan tanpa drama."
Farid berkata dengan penuh rasa berharap Akira mau mengerti apa maunya dan kembali tenang tanpa kabur-kaburan.
"Kita dua orang dewasa, kamu harus tau itu." tekan Farid sembari mencengkram kedua bahu Akira yang hanya tertutup outer rajut berwarna biru muda.
Akira melengos, menghindari pandangan Farid. Ia merasa ini belum saatnya untuk berbicara dengan sungguh-sungguh.
"Far, aku masih butuh waktu untuk benar-benar membicarakan ini."
Farid berdecak dan tersenyum miring, "Waktu? Jika kamu sadar, aku selalu memberi kamu waktu yang malah kamu gunakan untuk pendekatan dengan bocah ingusan itu." tudingnya pada Akira.
Akira langsung kembali manatap Farid, matanya melotot dengan berkaca-kaca,
"Ini dia Far, kamu selalu menuduh aku sembarangan, karena kamu gak pernah percaya sama aku, padahal aku sudah setia sama kamu sejak aku masih remaja."
Akira mundur dari jangkauan Farid membuat cengkeraman lelaki itu terlepas dari bahunya.
"Memang itu yang terjadi, aku mengawasi kamu!"
"Terserah! Untuk apa juga aku jelasin." katanya lalu berbalik menuju pintu keluar.
"Mau kemana kamu?" Farid menarik lengan Akira sampai wanita itu berbalik menghadapnya.
"Pergi dari hadapan kamu." balas Akira datar.
Farid menarik napas dalam-dalam, ia harus mengendalikan perasaan marahnya jika ingin Akira kembali.
"Sayang, aku mohon beri akun kesempatan untuk membuat kamu percaya bahwa aku pantas untuk selalu kamu cintai dan aku bukan sekedar masa lalumu." katanya lembut, berharap dengan itu Akira akan melunak.
"Jangan bilang kamu gak cinta, sedangkan saat kamu pergi tertulis jelas di surat itu,bahwa kamu mencintai aku."
Siapapun tolong bawa Akira tenggelam ke rawa-rawa, ia malu sekali mengingat bagaimana isi suratnya itu yang sangat tidak sesuai dengan tindakannya sekarang.
Hayoo vote ntar kalo vote sama like komennya banyak aku up lagi hari ini.