
Di dalam kamarnya, Akira menangis bukan karena sedih, tapi bingung. Ia bingung sebab semuanya sangat rumit, otak kecilnya tak mampu menangkap semuanya dengan jelas.
Yang ia tangkap,
Rayrin katanya gila, depresi.
Mama mertuanya melakukan sesuatu yang membuatnya tidak hamil entah apa itu.
Deanno benar-benar partner Rayrin seperti yang laki-laki itu katakan beberapa minggu yang lalu.
Terkahir, pelayan yang paling dekat dengannya ternyata mencurigakan!
Semuanya, rumit tapi berkaitan.
Memang apa hubungannya Deanno dan Rayrin, apa?! Kenapa bisa mereka bekerja sama? Motif lelaki itu apa?
"Udah, udah pasti cewek gila itu cuma mengada-ngada iya, itu pasti!" ia bangkit dari posisinya dan mengusap kasar air matanya untuk mencari suaminya yang tadi ia tinggalkan begitu saja.
Baru kakinya mau menuruni tangga, sudah ada drama baru di rumah mereka.
Matanya terus menelisik kejadian di bawah sana, dimana Indah si pelayan di seret oleh kepala pelayan mereka, mendorongnya tepat di bawah kaki sang suami yang duduk dengan angkuh.
"Mas! Kamu apain, Indah?!" teriaknya dari atas sana berlari menuruni tangga, hingga sampai di sebelah suaminya.
"Aku cuma menghukum dia, itu saja!" tukasnya dingin, tanpa memperdulikan Akira yang sudah mencengkram lengannya.
"Memang dia salah apa, kamu percaya sama Rayrin, dia kan gila kata mama, Mas!"
"Diam, Akira kembali ke kamarmu!" Akira diam dengan terus melayangkan protes, "Masuk kamar, Akira!" bentaknya.
"Kasih tau dulu, memang dia salah apa?" tanyanya memelas, ia tak peduli dengan bentakan suaminya, ia hanya ingin tau.
"Nyonya muda, ampuni saya, saya tidak pernah bermaksud begitu pada anda, ampuni saya." pinta Indah dengan air mata bercucuran, Wisnu benar-benar mencambuk perempuan itu terbukti dari adanya luka cambukan di tangan dan kakinya.
"Kamu gak salah kenapa minta ampun?" tanya Akira sambil merendah untuk membantunya berdiri, saat itu juga dengan sigap Farid menarik tubuh sang istri dengan kencang.
Dengan rasa kesal ia berdiri dari duduknya, "Jangan ikut campur, Akira, masuk kamar! Apa maksudmu dengan ia tak salah, hah?! Kalau bukan karena dia anak kita sudah ada sejak lama, asal kamu tau itu!" omelnya dengan mengguncang bahu istrinya, agar wanita itu sadar tidak semua hal bisa ia sepelekan meski hanya ucapan Rayrin yang sudah hampir gila.
"Masa kamu percaya sih, mas sama omong kosongnya, itu berarti kamu percaya sama kata dia yang bilang mama kamu dalang dari hal gak masuk akal ini?!"
"Iya! Aku percaya, puas?! Sekarang masuk kamar!" ia tak bisa mempertontonkan kekerasan di depan mata istrinya, Akira harus pergi dari sini.
"Mas, kamu jahat, jangan jadi jahat lagi, aku mohon."
"Mereka yang jahat, sayang. Mengertilah!"
"Mas, itu mama kamu, terus Indah belum tentu bersalah, terus--"
"Terus apa?! Deanno itu juga gak bersalah? Akira, kamu kira selama ini kamu pergi sendiri? Aku tau pengakuan laki-laki itu, aku tau tapi kamu , entah terlalu baik atau bodoh, aku gak ngerti!"
Sejak kejadian, dimana Akira periksa secara sembunyi-sembunyi hingga mendapatkan pil kontrasepsi, diam-diam Farid selalu mendampingi Akira melalui orang yang sengaja ia sewa.
"Tapi, kan mas siapa tau itu bener cuma omong kosong, Mama sama Indah nggak salah." Akira tetap ngeyel sampai membuat Farid emosi sendiri.
"Wisnu, hukum dia!"
"Saya mohon, maafkan saya, saya bisa jelaskan semuanya Nyonya, Tuan. " mohon Indah di bawah kaki Farid.
"Mas, kamu jadi kaya Fir'aun tau gak?!" bentak Akira, melihat kejadian di depan matanya.
"Apa lagi sayang, astaga! Kamu masuk kamar sana! Aku gak salah ambil keputusan dia mengaku sendiri." sahutnya dingin.
Akhirnya setelah perdebatan sengit antara dua suami istri itu, Akira diam setelah mendengar pengakuan Indah secara langsung.
Ia kecewa tapi tidak menangis, ia justru kasihan dengan pelayannya, ia sudah berdiam diri di kamarnya sekarang, malam semakin larut tapi suaminya belum kembali entah apa yang lelaki itu lakukan.
"Kemana sih tuh orang, mana lagi kaya monster lagi, tadi aja aku di usir." gumamnya, sambil berguling di atas tempat tidur, sambil ia berpikir.
"Apa ya yang di masukin Indah ke susu aku, kalau pil kontrasepsi, masa rasa susunya gak berubah, tetep enak, ya walaupun semua susu tetep enak si di dalem mulut aku, susu basi aja enak hehe." ia berspekulasi sendiri dan tertawa sendiri malah lebih gila dari Rayrin.
"Kamu udah gila juga?" celetuk Farid yang baru masuk kamar, "Astaga, mas bikin kaget!"
"Kamu aja yang asik sendiri,ketawa sendiri lagi." sahut Farid sambil melepaskan ikatan dasinya. Akira sebagai istri yang baik langsung bangkit dan membantu melepas dasi.
"Udah makan?Mau makan, apa mau mandi?" serbu Akira, apapun keadaannya ia tetap harus melayani sang suami kan?
"Aku gak nafsu makan, mau mandi saja." sahut Farid datar lalu melangkah masuk ke kamar mandi setelah melepas sepatunya.
Akira menurunkan bahunya lesu, lalu bergegas menyiapkan pakaian untuk suaminya yang sepertinya sedang ngambek, karena Akira ngeyel dari tadi.
"Mas, kamu apain itu tadi Indah? Kamu gak apa-apain kan? Kasian mas, terus tadi kamu dari mana?" tanya Akira saat Farid baru saja menjatuhkan bokongnya pada tempat tidur.
"Banyak tanya!" ujar Farid datar, sembari mencubit hidung Akira sampai memerah.
"Kamu marah ya?"
"Iyalah, lagian kamu itu ngeyel banget, tau? Tidur gih, sudah malam." Farid mulai merebahkan dirinya dengan menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan. Akira dengan sigap langsung memeluk suaminya dari samping.
"Ya maaf, kan biasanya orang jahat suka bohong buat hancurin keluarga, kaya di sinetron yang di ikan terbang itu loh mas."
"Sinetron apa lagi, kamu ngada-ngada banget sih, jadi perempuan." dengan jahil Akira menggigit dada sang suami.
"Akira, apaan sih!"
"Lagian kamu dari tadi marah-marah teruss.. sebenarnya kasian lho mas, Indah. Dia kan cuma di ancam sama mama dan Rayrin, terus kebetulan juga dia butuh uang untuk operasi bapaknya, jangan hukum dia lho."
"Cerewet!" lagi-lagi Farid mencubit hidung Akira hingga memerah, bahkan kali ini pipi Akira turut jadi korban karena di gigit oleh suaminya, Akira balas menggigit dada Farid lagi.
"Sayang, kamu berhenti atau aku terkam?!"
"Mas, memang apa yang di campur Indah ke dalam susu aku?" tanya Akira mengalihkan pembicaraan, ia sedang tidak mau jadi mangsa suaminya.
"Indah gak tau, dia cuma di suruh, dan beberapa minggu ini katanya dia berhenti lakukan itu, katanya dia kasihan sama kamu, kamu terlalu baik, padahal mah bawel!" seloroh Farid yang membuat Akira menepuk dadanya kencang.
"Masih mau tau lagi atau di terkam?"
"Ish, mau tau lah, buruan cerita!"sambil kembali mengeratkan pelukannya pada sang suami. Dada bidang, Farid adalah tempat kesukaannya, mana bisa ia bosan bersandar di sana.
"Katanya, pacarnya Rayrin datengin dia dan ganti semua itu pakai vitamin, aneh kan? Kayanya tuh cowok habis di tipu sama Rayrin, pas tau kalau Rayrin yang jahat, baru deh!" ucap Farid menganalisa.
"Kamu gak mau marah sama mama aku?" Akira hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kenapa?"
"Dia mama kamu, masa aku mau marah - marah si, mas tau gak? Kamu itu anak lelaki mama yang paling tua, mama juga butuh kamu, apalagi papa gak perhatian sama mama."
"... "
"Mama kasian lho, mas. Pikir pakai hati juga, coba."
"Sayang, hati itu cuma bisa untuk merasa, yang bisa untuk berpikir itu otak!"
"Ih, maksudnya tuh.. udahlah gak usah di pikir terlalu serius." Akira menyerah dan mulai memejamkan mata. Ia memutuskan untuk bersikap biasa saja, bukan sok kuat atau sok tegar, tapi masalahnya disini pembuat masalah adalah ibu dari suaminya apalagi mama sudah minta maaf sebelumnya,ia tak sampai hati, ia juga malas berpikir teramat serius seperti sebelumnya, itu hanya akan membuatnya semakin terguncang. Cukup berpikir dengan logika dan bersikap tenang, karena terlalu membawa rasa akan mengguncang emosinya.
Aku upp lagi lhoo, bukannya Akira gak sakit hati, pasti sakit hati tapi coba di posisinya masa dia mau terus benci dan menjudge ibu dari orang yang dia cinta?
Jangan judge Akira sebelum paham posisinya yaa wkwk
Jangan judge aku juga yaaa aku tau aku hanya penulis amatir, tapi aku baperan jadi jangan di bully 😁