
Akira baru saja bangun, sekarang pukul sembilan pagi dan dirinya baru saja bangun.
Ia menengok ke sebelahnya, kosong.
Farid pasti sudah berangkat, mungkin lelaki itu tidak tega membangunkan Akira yang tertidur pulas.
Dengan muka bantalnya ia berjalan turun ke bawah niatnya mau minum, tapi masih di tengah anak tangga, matanya menangkap sesosok bocah lelaki dengan seragam sekolah di rumahnya?
Akira tidak bodoh untuk tidak mengenali bocah itu, meskipun jarang bertemu tapi ia paham dengan adik iparnya sendiri.
Bocah itu dengan angkuhnya duduk dengan kaki kanan di taruh di atas kaki kirinya, tangannya bersedekap dan matanya mengarah pada layar televisi.
Ia berjalan mendekat, "Kak ini pukul sembilan dan kakak baru bangun?!" sinis Farell.
'Tck, kembarannya Farid nih, bedanya Farid cinta aku jadi gak nyebelin banget.' batinnya mencela kelakuan iparnya.
"Iya." jawabnya singkat, sebenarnya Akira ingin sekali menjawab, salahin aja tuh kakak kamu yang di kasih ikan minta daging, yang di tambahin satu sendok malah minta tujuh sendok.
Entah kenapa, Akira ini kesal sekali melihat tingkah Farell, mirip Farid waktu masih SMA dulu, sombong bin angkuh.
Akira langsung nyelonong ke dapur, ia haus sekali, tapi...
"Eh, kak mau kemana aku itu nungguin kakak dari tadi!"
"Mau minum haus, kamu mau minum juga?"
"Enggak, tapi gak papa kalau maksa."
jawab bocah itu masih dengan gaya angkuhnya. Ish, benar-benar mirip Farid, cuma Farell rada tengil sih.
Akira kembali membawa satu gelas jus mangga di tangannya.
Farell melirik kakak iparnya yang hanya memakai dress rumahan, ia agak kaget, pipinya jadi panas.
Farell bukan anak polos yang tidak tahu tanda apa yang melekat pada leher kakak iparnya itu, ingat ya, umur Farell enam belas, sekitar dua puluh lima hari lagi ia akan berumur tujuh belas tahun, Farell tidak sebodoh itu untuk tidak memahaminya.
"Pantes jam segini baru bangun,kak Farid pasti ganas banget." gumam bocah itu yang bagi Akira terdengar seperti dengungan nyamuk.
"Ngomong apa kamu barusan?"
sambil meletakkan jus di atas meja.
"Gak, gak ada!" elak Farell.
"Kamu enggak sekolah? Kamu bolos?" tanya Akira sambil mengambil posisi duduk di single sofa di sebelah Farell mendudukan dirinya, posisinya agak miring ke arah Farell.
"Iya, aku punya urusan penting sama kakak." masih dengan mode angkuh dan sombongnya, kalau bukan adik ipar sudah Akira abaikan ini bocah.
"Kakak kamu kerja dia ada di kantornya, kamu kesana aja, kenapa kesini?"
"Urusannya sama kakak juga, mending suruh suami kakak pulang deh, bilang ada Farell mau ngomong penting!" tegas bocah itu menekankan kata penting.
'Lah dia nyuruh-nyuruh gue, etdah bocah'
"Pasti dia enggak mau kalau enggak penting."
"Aelah, kak lo cuma telepon aja kaga mau, gue mau penting ini, bilang soal mama!"
'Sumpah, Farell tengil beneran!
Aku jadi gedek sendiri, apalagi barusan tuh bocah pakai bahasa loe-gue. Kurang asem banget.'
Dengan malas, Akira mengambil ponselnya, menghubungi Farid, tapi malah Sergio yang menjawab.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Farid mana?"
Tak butuh waktu lama suara sudah berganti menjadi suara yang paling Akira sukai.
"Ya, sayang?"
"Ada Farell, mau ketemu kamu."
Biar bagaimana pun, Farell itu adik kesayangan seorang Farid, tentu Farid mau saja menemui anak itu. Namun, pekerjaan menumpuk.
"Aku masih banyak kerjaan enggak bisa, kalau mau suruh dia kesini aja, tunggu sampai waktu jam makan siang."
Akira melirik Farell yang asik meminum jus mangga nya sambil menonton acara televisi.
'Bener-bener tuh bocah, gak pernah kesini, giliran kesini kaya di rumah sendiri.' tentu Akira hanya mencibir dalam hati.
"Katanya dia mau ngomong soal mama, Far. Coba sebentar aja pulang, nanti balik lagi atau gimana. Mukanya serius banget,kayanya ini serius, soal mama lagian juga." bujuk Akira, ya Akira juga penasaran loh, Farell mau ngomong apaan.
Farid nampak berpikir di seberang sana, adiknya itu sudah jarang menemuinya dan sekarang Farell mau menemuinya dan ingin bicara, tentang mamanya?
"Oke, tunggu."
Telepon tertutup.
"Kamu bolos sekolah? Enggak bagus tau."
"Yaelah, cuma sekali gak bakal buat gue gak naik kelas, apalagi gue pinter."
"Bocah sombongnya kaya kakaknya, baru tadi sopan sikap aslinya langsung muncul." cibir Akira pelan sekali.
"Barusan ngomong apa kak? Farell gak denger. "
"Nggak, gak ada!" ketus Akira.
Tak lama kemudian muncul sosok yang di tunggu-tunggu.
Farid sambil berjalan sudah mengoceh, "Rell, kamu bolos? Ini jam berapa? Harusnya kamu sekolah." lalu duduk di sebelah Akira.
"Ada yang lebih penting dari sekolah, kak." jawab Farell dengan gaya cueknya.
"Astaga, Farell, kakak masih kerja tadi, banyak yang harus di kerjain."
"Ya kakak alihkan ke Gio sementara."
"Yaudah beres kan, kok masih ngomel sih."
Diam. Sumpah. Mulut Farell, pinter nyerang lawan bicaranya, maklum Farell dari kecil itu mengidolakan kakak lelakinya sampai sekarang dan ia mau seperti Farid bahkan lebih dari Farid.
Menurutnya, gaya Farid itu keren, semua segan dengan lelaki itu dan selalu jadi kebanggaan mama papa.
"Kak, Farell mau ngomong serius, soal mama." Farell mulai memelankan nada suaranya dan seperti ada kesedihan dalam sorot matanya.
"Mama, kenapa?"
"Emang bener ya? Mama yang buat kakak ipar keguguran dan kalian gak jadi punya adik bayi?"
Akira kaget. Sumpah!
Farell itu baginya cuma bocah ingusan yang gak seharusnya tau masalah orang dewasa, apalagi serumit dan se sensitif ini.
"Rell, kamu--"
"Farell denger tadi malem, mama sama papa berantem, papa bilang mama jahat terus menerus mau bunuh calon anak kalian, terus mama bilang, papa selingkuh dan punya anak lain selain kita sama kak Fio, terus papa bilang kalau mama gak berhenti, papa mau carai dari mama, kak, Farell gak mau mama papa pisah."
Akira dan Farid, serasa bisu, anak remaja seusia Farell itu masih labil, masih sensitif, masih rentan kalau di hadapkan dengan masalah orang dewasa yang serumit ini.
Tentu, itu bisa mengganggu aktivitas belajarnya. Lihat saja kan? Barusan dia membolos.
"Farell, itu biar jadi urusan kakak sama mama papa, Farell sama kak Fio, jangan ikutan." kata Farid mencoba untuk tidak membahas hal itu, ya walaupun dalam hatinya ia masih tak percaya, papa mau menceraikan mamanya.
"Kak, pokoknya Farell gak mau papa mama cerai, Farell gak mau jadi anak broken home."
"Farell, itu biar jadi urusan kami orang dewasa, tugas kamu cuma belajar." tekan Farid.
"Kak, kakak gak ngerti ya, Farell gak mau mama papa pisah, pokoknya usahain mereka jangan cerai! Farell gak mau pulang ke rumah selama mama papa masih ribut, Farell sakit telinga dengernya!" nada suaranya meninggi.
Sakit hati juga, kak.
"Kenapa Farell kesini? Karena sebab pertengkaran mereka itu kakak, terutama kakak ipar." pandangan Farell mengarah pada Akira, membuat wanita itu jadi tak enak. Secara tidak langsung, anak itu menuduh Akira sebagai biang masalahnya.
"Tapi nanti mereka cari kamu, Rell."
sekian lama bungkam, akhirnya Akira buka mulut.
"Gak akan! Mereka cuma mementingkan perdebatan mereka, malahan nih ya, mama suruh aku dengerin pertengkaran mereka."
jawab Farell sengit.
Farid sedikit terkejut mendengar pengakuan adiknya, apa mamanya itu sudah tak punya kewarasan atau bagaimana, menyuruh anaknya mendengar pertengkaran dirinya dan suaminya.
Biasanya orang tua akan menutup masalah dari sang anak, lah ini?!
"Mama ini kenapa sih?!" desis Farid yang mulai merasa emosi, Akira menggenggam jemari Farid berharap hal itu akan meredam emosi lelaki itu.
"Yaudah, Farell masuk kamar, istirahat, semuanya biar kami yang urus. Oya, minta tunjukin kamarnya sama Wisnu." ucap Akira lembut pada bocah yang ia yakini sedang kecewa berat, menurutnya, Farell bukan hanya mau bicara, tapi anak itu terpukul sampai mau kabur dari rumahnya sendiri.
Mungkin takut mendengar orang tuanya bertengkar.
Farell menurut, ia mengikuti Wisnu yang langsung siap siaga mendengar perintah majikannya.
Sebelum, anak itu benar - benar menaiki tangga, "Oiya, kakak ipar lain kali minta nego sama kakak, biar lehernya enggak separah itu." lalu berlari ke lantai atas mendahului Wisnu.
Akira kebingungan meraba-raba lehernya, "Leher aku kenapa memangnya?"
Farid yang sedang memijat pelipisnya, menengok ke arah Akira yang kebingungan, ia tersenyum licik.
"Banyak tanda dari aku."
"Hah?! Astaga, mas malu, itu tadi adik kamu lagi ledekin aku dong?! Aduh itu bocah ya di saat serius kaya gini masih aja sempet jahil kaya gitu, awas aja selama di sini gak aku kasih makan!" cerocos Akira yang membuat Farid merasa lucu sendiri.
Adiknya itu aslinya, resek, jahil, tengil.
Semua sifat jahil menyatu dalam dirinya dan baginya Farell itu tidak pernah bisa serius.
Tapi, sejak usia tiga belas tahun anak itu meniru dirinya jadi sosok dingin dan angkuh, sombongnya juga sama. Tapi, jahil dan tengil masih tetap melekat sempurna.
"Kamu belum mandi?" tanya Farid mendekatkan diri ke leher Akira.
"Aku baru bangun dan langsung nemuin duplikat kamu disini, tengil, sombong lagi, ish!"
"Gapapa, masih cantik banget, kamu memang paling cantik kalau bangun tidur, jadi pengen lagi." tangannya sudah tak bisa diam mencari bagian-bagian favoritnya.
"Pengen apa?!" tanya Akira waspada, dirinya mulai susah bernapas karena Farid yang duduk di sebelahnya sangat dekat pada dirinya, ya bayangkan, Akira duduk di single sofa, ya walaupun sofanya lumayan lebar sih, tapi seharusnya Farid cari tempat sendiri, bukannya malah mendesak duduk di sampingnya.
"Buat duplikat aku yang asli yuk!"
"Hush! Ini masih ada masalah serius, malah kamu mesum sih, ini mama papa mau cerai loh sayang." jarinya mendorong kepala Farid yang sudah mendusel di lehernya.
"Lagian, kamu harus balik kerja katanya tadi banyak kerjaan."
Akira memisahkan diri dari suaminya sebelum lelaki itu menjadi-jadi.
"Kan ada Gio, yang."
"Ish, jijay panggil yang, sekalian sayang emang gak bisa ya?" Akira bergidik ngeri dengan panggilan suaminya.
Farid menundukkan kepalanya lesu, ia menarik Akira yang memisahkan diri, berdiri di depannya.
Lelaki itu memeluk Akira dan menempatkan kepalanya di perut wanita itu.
"Jadi, kapan hidup kita tentram, damai dan bahagia?" tanya lelaki itu yang membuat Akira tertegun.
Bahagia sudah, tapi ketentraman dan kedamaian belum mereka dapatkan. Badai masih siap sedia menerjang. Jika akar tak kuat mereka bisa tumbang kapan saja.
Ada yang nungguin aku update?