Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 18 Special : AF Pov



Farid Point of View


Cinta, sesuatu yang sama sekali tidak pernah bisa membuat aku tertarik dan berpikir untuk ingin merasakan itu.


Sekali, pernah.


Cinta pertama yang aku rasa hanyalah cinta monyet, cinta dua remaja labil.


Hingga, kemudian gadis pertama yang mengenalkan aku dengan cinta, pergi demi karier. Memilih pindah dan sekolah di luar negeri.


Semenjak itu, aku sama sekali tidak mau tau dengan cinta yang hanya kata tanpa makna berarti.


Tapi, siapa yang menyangka?


Akira, gadis berisik, paling berisik dan suka bergosip itu membuat aku berdebar, meski aku sedang mengancamnya saat itu.


Intinya, saat aku melihat matanya, aku selalu merasakan sesuatu yang bergetar dalam diriku tepat di jantungku.


Gadis yang menyebalkan, yang dengan beraninya bilang aku mengalami penyimpangan seksual.


Bahkan, saat dia memergoki aku yang berciuman dengan Rayrin, dengan lantangnya dia bilang, ternyata aku bukan gay!


Akira memang lucu, tingkahnya aneh dan kadang membuat aku geli juga emosi.


Awalnya aku malas sekali mengurusi Akira yang katanya menyukai aku.


Tapi, kemudian aku butuh dia untuk statusku, alasanku saat itu memang tak masuk di akal.


Aku seperti lelaki yang kehabisan stok perempuan saja.


Dan, aku berani bersumpah! Sekarang, aku sayang, sangat sayang.


Cinta? Sangat cinta. Aku bersyukur karena aku tak salah memilih.


Dia mencintai aku dengan tulus, menerima aku dengan segala kekuranganku.


Mulutnya, mungkin berkata karena dia suka uangku, tapi aku tau itu tidak sepenuhnya benar.


Hal yang paling membuat aku menyesal adalah, meragukan Akira dan membuatnya kehilangan anak pertama kami.


Jujur aku sangat mengharapkan anak itu lahir, meski memang kehadirannya tidak di rencanakan.


Sakit paling sakit dalam hidupku, adalah ketika Akira pergi menjauhi aku. Padahal saat itu keyakinan akan rasaku baru tumbuh dan rasa ingin menjaganya seumur hidupku baru datang.


Dan sekarang, aku ingin berusaha agar selalu menjaga kepercayaan kami berdua.


Hidup saling percaya.


Walaupun, selalu banyak penghalang.


Lebih-lebih kebodohan ku datang lagi, aku selalu bertingkah bahwa anak kami tumbuh.


Nyatanya tidak.


Aku membuat cintaku, Akira. Tertekan karena aku. Intinya, sekarang, aku ingin selalu membahagiakan dirinya dan menjaga kepercayaan di antara kami.


Meski aku masih suka cemburu dengan lelaki yang bernama Deanno itu.


Aku yakin, lelaki itu lebih banyak tau tentang Akira, aku benci kenyataan itu.


Apalagi bocah ingusan si Rey itu, memang Rey masih sedikit tau diri, tapi tetap saja aku tak bisa membiarkan Akiraku berlama-lama dengannya.


Dan itu yang membuat aku langsung meninggalkan rapatku demi Akira setelah aku mendapat pesan singkat dari supir pribadi istriku.


Protektif? Iya tentu demi menjaga Akiraku tetap aman dalam jangkauan ku. Apalagi semenjak adanya mata-mata di rumah kami.


"Akhirnya, anda benar-benar meninggalkan rapat seenaknya demi Nyonya muda kan?" sindir Sergio.


Dasar sekretaris sialan.


Saat, aku sampai di Home's Food, aku melihat bocah ingusan itu keluar dari sana.


Baguslah!


Aku langsung menciumi seluruh wajah Akira dan kemudian cepat-cepat membawanya pulang.


"Sayang, kamu marah?"


Ia bertanya dengan wajah khawatirnya saat kami baru saja memasuki mobil.


"Mas, tadi kami cuma ngobrol biasa, kamu harus tau, Rey itu suka sama Viara, jangan marah ya, kan cuma kawan? Kamu percaya kan sama aku?" wanita itu terus saja nyerocos tanpa menunggu aku menjawab pertanyaannya.


Gemas!


"Iya sayang, aku percaya." jawabku tulus, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Meski dunia melawan dan mencoba meruntuhkan hubungan kami.


"Yes! Aku udah deg-degan banget kamu bakal marah, kaya yang pas Deanno itu."


Aku mengernyit menatap istriku, "Kapan aku marah?"


"Pas itu, ya kali udah lupa."


"Aku gak marah, aku cuma ngomong, aku gak suka aja kamu mikirin lelaki lain."


"Ngelesss aja."


Aku tersenyum mendengar itu darinya, terlihat tiada beban.


Syukurlah, ternyata bertemu teman-temannya membuat dia melupakan masalah.


***


Aku memperhatikan istriku sekarang yang tengah mengobrol dengan Viara melalui telepon. Sesekali, ia tertawa, mengomel, mengumpat. Dia masih sama dengan Akira cewek berisik yang aku kenal waktu SMA.


Aku dengan jahil memeluknya yang sedang duduk di kursi riasnya. Dari belakang mengecapi bagian kulit lehernya yang kali ini wanginya beda lagi. Kali ini, bunga sakura mungkin? Aku sempat melihat bentuk sabunnya di kamar mandi.


Sesekali ia menggeliat kegelian sambil berbalas kata dengan Viara.


"Gue gak papa kok, Vi. Kuping lo bermasalah kali, gue gak lagi desah ya!" elak Akira lantang, mungkin dia agak kesal aku kerjai.


Aku semakin gencar mengerjainya, menggigit kecil kulit leher dekat telinganya.


"Aww!" ringisnya.


"Nggak, Vi. I am okay, udah dulu ya ada yang harus gue urus." lalu menutup teleponnya menaruhnya di atas meja rias agak kasar.


Akira sekarang itu penurut, jadi harus di manfaatkan biar cepat punya anak kembar. Iya gak?


Semoga, Tuhan masih mau mempercayai kami dengan menitipkan beberapa orang anak. Mungkin, kami, atau mungkin hanya aku, sedang di hukum karena telah membunuh anugerah Tuhan.


Aku benci mengingat itu dan akan selalu aku obati dengan terus berusaha membuat anak dengan Akira.


Mesum? Hanya lelaki tidak normal yang tidak berpikir mesum! Camkan!


"Mas, ngapain sih, gak enak aku tadi Viara curiga gitu, nuduh aku lagi anu sama kamu. Padahal kan-" rengeknya dengan menurunkan volume suaranya saat mengucapkan 'anu'.


"Memang iya, lagi anu!" sambarku dan langsung tertawa tanpa melepaskan pelukanku darinya. Akiraku hanya mendengus sebal dan mengerucutkan bibirnya lucu.


Aku mengangkat tubuhnya ke atas ranjang, memeluknya sambil berbaring. Diam beberapa saat.


"Mas, kita promil yuk!"


Aku diam sejenak, aku agak ragu, aku tidak mau memaksa, dia bilang dia takut hamil.


"Kok diem, gak mau ya?" tanyanya lirih seakan takut jika pertanyaannya salah.


Mau, sayang! Mau banget!


Itu yang ingin aku katakan, tapi,


"Kamu yakin?" akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari mulutku.


"Ish, malah balik tanya! Aku, aku yakin!"


Tuh kan! Agak gagap jawabnya.


"Sayang, aku gak memaksa kamu, kita masih muda, kita bisa nikmatin dulu masa ini berdua. Saling adu desahan tiap malem, asik kayanya." ujarku jahil.


"Aww!" lagi-lagi aku di cubit olehnya.


"Mulutnya!"


"Bener kan sayang? Nanti kalau udah ada makhluk yang kamu bilang dede bayi itu, aku jadi susah minta jatah aku."


"Kok gitu sih?!" ungkapnya tak setuju.


"Udah gak apa-apa, jangan buru-buru, tunggu sampai kamu siap dan berani hamil lagi, nanti ketika kamu hamil lagi, aku janji akan jaga kamu setiap hari, biar bayi kita bisa lahir ke dunia ini, melihat kedua orang tuanya dan tumbuh kembang di bawah asuhan kita." ungkapku yang sialnya dengan mata berkaca-kaca.


Aku memang tidak pernah berpikir dan mengimpikan ingin menjadi seorang ayah di masa depan.


Tapi, opiniku berubah.


Sejak, pertama aku merasakan, rasanya menjadi calon ayah.


Hatiku menghangat, ada perasaan asing yang entah apa dan dari mana.


Rasa ingin melihat sang buah hati lahir.


Semakin mencintai Akira, semakin besar rasaku untuk melihat bukti cinta kami.


Anak kami kelak, bukti cinta kami, buah hati kami.


Namun, ini bukan waktu yang tepat.


Masalah masih belum selesai.


Bukan waktu yang aman untuknya mengandung.


"Tapi aku gak sanggup untuk enggak wujudin keinginan kamu." ucap Akira dengan wajah lugunya yang kini tengah menatap mataku.


Mata cokelat terangnya selalu menenangkan untuk di pandang.


"Dan aku enggak akan sanggup untuk buat kamu tertekan hanya demi aku."


Mampus lah aku, tadi mau manfaatkan Akira yang penurut, sekarang malah jadi sok penegertian begini.


Ya bagaiamana juga, aku tidak akan tega memaksakan tentang anak, bagaimana jika ia hamil dan ia malah stres karena masih trauma dengan kegagalannya saat hamil anak kami dulu?


Yaudah, yang penting selalu di kasih jatah, hehe.


"Huaaa... makasih."


Eh, dia menangis.


Astaga, istriku cengeng sekali.


Untuk, Akira makhluk unik di sampingku.


Wanita hebat di sampingku.


Wanita cantik di sampingku yang akan selamanya namanya akan terukir di hatiku.


I love you, more than you know.


"Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau." aku langsung menyambar bibir manisnya yang selalu menjadi candu untukku.


Ngko sek gaess


aku tak menyingkir seko masalah.


sekali kali gitu buka isi hati mereka eaa kannnn...


kleaan bosen kan sudut pandang author terus, iya gaakkkk??