Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Snatched Away



Farid masih berdiri dengan rahang yang menegang, rasanya ia ingin menghancurkan segala yang ada didekatnya.


Hingga terdengar ketukan pintu.


"Siapa?!" teriak Farid.


"Maaf tuan. Saya Wisnu, dibawah ada Nona Rayrin ingin bertemu" jelas Wisnu dibalik pintu.


Farid mendengus kesal dan membuka pintu dengan kasar, perlahan ia melangkah dengan langkah kasar menuju ruang tamu.


"Far, tangan kamu kenapa?"


ucap Rayrin terkejut berdiri dari duduknya dan mendekati Farid yang masih berdiri.


"Ada perlu apa?" tanya Farid dan menghempas tangan Rayrin yang menyentuh nya.


"Aku hanya ingin bertemu denganmu, bisakah kita makan malam bersama?" pinta Rayrin.


"Tidak, pulanglah" sahutnya dengan nada malas.


"Kenapa? Aku kira kamu sudah memaafkan aku kan, apa karna ada istrimu ya? Biarkan istri liarmu itu dan pergilah bersamaku ya?"


bujuk Rayrin.


"Sudah aku bilang tidak Rayrin" geram Farid menahan marah.


"Yasudah aku obati saja tanganmu ya" pinta Rayrin, merasa tidak ada penolakan dari Farid, Rayrin menarik tangan Farid dan membawanya mendekat lalu meminta kotak obat pada Wisnu dan segera mengurus luka ditangan pria itu dengan lembut.


"Kau tak menolakku, aku tau kamu masih mencintaiku, kau hanya takut dengan istrimu jika kita pergi bersama iya kan" ucap Rayrin tersenyum dengan percaya diri.


"Aku tidak takut dengannya" desis Farid.


"Kalau begitu kau bisa pergi denganku kan? Ayolah" rengek Rayrin.


Farid menghela nafas dan mengangguk menyetujui.


Tanpa mereka sadari Akira memperhatikan mereka dari arah tangga yang menghadap langsung ke ruang tamu, Akira yang tadinya ingin melirik keadaan Farid, setelah mendengar suara kaca pecah dan melihat darah di lantai, membalikan badan dan berlari kembali dengan air mata yang mengalir lagi.


Dengan segera ia menghempaskan tubuhnya diranjang dan menenggelamkan wajahnya.


Ayolah Akira kembali sadarkan dirimu, kau tak bisa dibandingkan dengan Rayrin


batinnya.


Akira menengadahkan wajahnya ke langit - langit ruangan, sampai ia beringsut dan memejamkan matanya agar terlihat sedang tidur saat mendengar suara pintu terbuka yang ia yakini itu Farid.


Akira yakin pria itu hanya akan mengganti pakaiannya dan segera pergi.


Dan terbukti tak berselang lama suara pintu ditutup terdengar ditelinganya, perlahan ia membuka mata.


"Apa aku tadi berlebihan ya, dia kan biasa bersikap kaya gitu, tapi tadi aku lawan dia aku terlalu emosi, gimana kalau nanti ketemu pasti canggung banget" gumam Akira pelan.


Saat sedang asyik berpikir tiba- tiba perutnya berbunyi menandakan bahwa ia lapar. Ia sadar ia sudah tak sakit perut lagi dan segera turun ke ruang makan.


Ia terheran melihat meja makan yang kosong tidak biasanya.


"Nona, mau makan ya? Maaf Nona, tadi Tuan bilang mau makan diluar bibi kira -"


"Gak apa - apa bi Indah biar aku masak sendiri, aku pengen makan mie instan yang pedes ada gak bi?" tanya Akira memotong ucapan Indah.


" Adanya mie telur Nona, Tuan tidak pernah menyuruh kami untuk belanja mie instan apa yang ada dirumah ini sudah diatur Tuan melalui Wisnu" jelas Indah.


"Hmm, kan waktu itu aku pernah beli, kok hilang"


"Itu Tuan suruh kami mengambilnya untuk kami atau akan dibuang"


"Cih, jahat sekali"


Akira mendecih kesal saat seperti ini mie instan atau makanan pinggir jalan yang bisa mengembalikan moodnya, kalau ia keluar ia yakin Wisnu akan melarang karna Farid tidak disini dan dalam keadaan murka terhadapnya.


"Yaudah deh aku mau buat yang lain aja" sambungnya.


"Baiklah, saya bantu No-"


"Gak usah bi, mau buat sendiri bibi balik lagi aja ke kamar bibi" ucap Akira yang dijawab anggukan oleh Indah.


Akira dengan segala rasa sesak yang masih tersisa mulai membuat makanan favoritnya, seblak.


Kuah merah merekah dengan isi mie, bakso,sawi,kerupuk dan beberapa tambahan lain menggoda seleranya.


Liurnya serasa akan menetes jika ia tak segera menyendok kuah itu dan memasukan ke dalam mulutnya.


Setelah mencicip satu sendok ia langsung melahap makanan itu dengan suapan - suapan besar.


"Aahh.. Enaknya" ucapnya setelah menghabiskan makanannya.


Jam menunjukan pukul 22.15, tapi tidak ada tanda - tanda kepulangan Farid.


Akira merasa khawatir dan was - was membayangkan apa yang suaminya lakukan bersama Rayrin sampai belum pulang diwaktu yang mulai merangkak tengah malam.


"Apaan si gak boleh mikir kaya gitu kalau iya juga memang kenapa, mereka kan sepasang kekasih" lirihnya sambil menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri diatas kasur.


Akira memutuskan untuk lari pagi sepertinya udara pagi yang sejuk akan mampu membuat hati dan otaknya tenang. Ia segera mengganti pakaian tidurnya dengan crop hodie warna pink dan celana training hitam, mengenakan sepatu babypinknya dan melangkah keluar.


"Nona, Anda mau kemana sepagi ini?" tanya Wisnu saat ia mulai mendekati pintu.


"Aku mau jalan - jalan menikmati udara pagi, hanya disekitar sini saja" sahutnya.


"Apa anda sudah dapat izin Tuan?"


"Dia tidak ada, jadi aku-"


"Nona, maaf jika saya lancang, tapi mulai hari ini Anda tidak dibebaskan untuk keluar kecuali dengan seizin Tuan" potong Wisnu.


"Apa?! Tapi aku hanya mau olahraga" pekik Akira.


"Dengar, Akira Shafeena Danuarta! Kau kehilangan hak mu, mulai saat ini kau dibawah kendaliku" ucap Farid tiba - tiba.


"Kau! Bukannya kau tak pulang semalam?"


"Itu tidak penting, mau kemana kau sepagi ini Nona muda?!" tanya Farid dengan tatapan membunuh seakan Akira akan kabur darinya.


Tidak salah kan jika ia merasa begitu, Akira baru kemarin mengatakan ingin meninggalkannya.


"Aku hanya mau olahraga pagi" jawab Akira datar tanpa melihat ke arah pria itu.


"Tetap dirumah, kau tidak aku izinkan keluar selama satu minggu"


"Farid, kau!"


"Ingat! Kau milikku dan berada dalam kendaliku jangan membantah, kembali ke kamarmu" ucapnya datar.


"Tidak! Tidak bisa, aku hanya ingin keluar se-"


"Dan menemui pria yang lain lagi" ucap Farid memotong ucapan Akira dan berbalik menjauh.


Kalimatnya menohok sampai ke jantung, mendengar tuduhan pria itu yang menurutnya tak beralasan.


Perlahan tapi pasti, air mata yang menggenang dipelupuk matanya lolos meluncur dipipinya.


Lagi, lagi, dan lagi emosi dalam diri Akira yang labil dan tak mau kalah mendorongnya untuk melawan suaminya, tapi dia masih punya takut dengan ancaman Farid.


Akhirnya ia hanya bisa melepas sepatunya dan melemparnya asal, lalu menyambar vas bunga yang ada dimeja ruang tamu dan membantingnya hingga hancur.


Akira, rasanya selalu ingin menghancurkan barang - barang disekitarnya saat tak mampu melawan. Sedangkan, Wisnu terlihat bingung menghadapi kedua majikannya.


"Nona, Saya mohon jangan hancurkan apapun lagi takutnya Tuan kembali dengan kemarahan yang lebih besar" pinta Wisnu dengan nada cemas.


Akira menengok ke arah Wisnu tajam.


"Tuan-mu yang kaya itu tidak akan bangkrut hanya karna aku memecahkan sebuah vas!" bentak Akira.


"Saya mohon Nona hentikan" cegah Wisnu saat Akira mulai menengok kesana kemari mencari benda yang kiranya bisa menimbulkan suara bising saat dibanting.


Agar, ia bisa menunjukan bahwa ia tidak bisa diinjak seperti ini. Cara yang sangat kekanakan bukan?


"Arghhh... Harusnya aku tak perlu mendengar ancamannya yang bahkan saat itu tidak terasa menakutkan, dia biasa saja Wisnu asal kau tau, kenapa aku bodoh dan mudah diperdaya" teriaknya dengan menghadap Wisnu seakan lelaki itu ikut bersalah.


"Nona, to-"


"Rasanya aku ingin meremas pecahan vas itu karna kesal!" emosi Akira memotong kalimat cegahan yang akan keluar dari mulut Wisnu.


Dan berlalu dari sana, ia bingung jika ia ke kamar ia akan bertemu lelaki itu.


Akhirnya ia lari ke taman diiringi tatapan penasaran dari para maid karna mendengar keributan diwaktu sepagi ini, bahkan ini belum sampai jam 7.


Akira terduduk dibebatuan yang ada di air terjun buatan.


Lagi - lagi hanya menangis yang ia bisa.


Baru saja, aku merasa tak enak, baru saja aku merasa aku terlalu berlebihan padanya, tapi sekarang ia kembali menghancurkan rasa tak enakku karna perbuatanku padanya, harusnya aku tak pernah menyukainya, itu salah semua salah ! Dia bahkan merenggut hakku setelah sebelumnya mengancamku apa hanya karna dia kaya hah!


teriaknya dalam hati.


Ia kembali mengalihkan pandangannya ke kanan dan ke kiri mencari apa yang bisa ia jadikan pelampiasan, jika teriak sungguhan akan menimbulkan keributan.


Akhirnya, ia memukul tembok pembatas yang menjadi pagar antara taman dan jalanan luar.


Sepertinya, pilihan Akira untuk tidak ke kamar pilihan yang tepat, karna sekarang Farid berada dibalkon kamarnya, mengawasi apa yang Akira lakukan dibawah sana.


Jadi berhubung Akira itu kan kekanakan dia mood²an guys labil gitu, biar kekanakan tapi dia tegar itu hebatnya dia 😀


Akira cewe tapi marahnya kaya cowo ya, ya gimana udah karakternya.


Menurut kalian Farid ngerasa salah gak nih ketika liat Akira nangis?


Jangan lupa vote, comment, dan like ya readers


Biar author semangat buat nge update


Happy Reading 😊