
Farid, dengan langkah cepat membawa Akira dalam gendongannya, raungannya yang menyebut kata dokter memenuhi koridor rumah sakit, "Dimana dokter rumah sakit ini hah?! Aku bisa tutup tempat ini jika pelayanannya seburuk ini!" teriaknya, sedangkan Akira yang meraung kesakitan sudah tidak terdengar lagi suaranya, wanita itu tak sadarkan diri dengan bibir memucat, gumpalan darah tampak jelas terlihat di kakinya.
Akhirnya dengan raut panik perawat dan dokter hadir menangani Akira.
"Sialan, apa saja yang kalian perbuat kenapa lama sekali!" erangnya frustasi, sebab sudah hampir dua jam Akira di periksa, jika sesuatu terjadi itu karenanya, jika anaknya kenapa-kenapa, ah Farid tidak mampu membayangkan bagaimana perasaannya.
"Keluarga nyonya Akira?" tanya dokter perempuan dengan rambut sebahu berusia sekitar empat puluhan, yang baru saja keluar dari pintu ruang gawat darurat.
"Saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya dan juga anak saya?" tanya Farid bertubi-tubi.
"Mohon maaf, bayinya tidak selamat dan ibunya kritis, seharusnya kejadian fatal seperti ini tidak boleh terjadi mengingat kandungan nyonya pernah mengalami kelemahan kandungan" jelas sang dokter yang membuat Farid diam mematung.
"Apa aku salah dengar, dokter bicara yang jelas!" geramnya.
"Maaf tuan, tapi itu yang terjadi, saya permisi." ucap sang dokter meninggalkan Farid dengan suasana hati yang tidak karuan.
Rasa sesal langsung menerpa jiwanya, harusnya ia tidak bertengkar dengan Akira, harusnya ia bisa bicara baik-baik, harusnya ia tidak menepis tangan Akira, harusnya, harusnya, dan harusnya.
Semua kalimat dengan awal kata harusnya terus terngiang di telinganya.
Ia tidak bisa menyalahkan tenaga medis, karena ia sendiri yang membunuh anaknya, anak yang bahkan baru saja ia ragukan apakah itu benar anaknya atau anak orang lain.
"Tuan apa yang terjadi pada -" celetuk Gio yang baru saja sampai saat mendengar kabar dari Wisnu, namun ucapannya terhenti saat melihat tuannya meneteskan air mata dengan tubuh yang merosot di lantai rumah sakit.
"Aku membunuh anakku sendiri Sergio" lirihnya.
"Tuan apa yang anda katakan?"
"Akira keguguran, bayi yang hanya tinggal empat bulan lagi, aku bisa melihatnya, kini sudah tiada" ucapnya yang seketika membuat tangisnya semakin pecah dan menimbulkan isakkan.
Ia tidak perduli siapa dirinya dan seperti apa dirinya akan di pandang karena menangis di lantai rumah sakit seperti itu.
Farid hanya ingin melepaskan beban hatinya, karena menjadi penyebab utama kematian anaknya.
"Tuan, jangan begini semua ini takdir" ucap Gio berusaha mengajak tuannya agar berdiri dan mendudukan Farid di kursi tunggu rumah sakit.
"Ini tidak akan terjadi jika aku percaya Akira seperti dia mempercayai aku, ini tidak akan terjadi jika saja aku tidak langsung percaya dengan apa yang Rayrin tunjukan" gumamnya.
"Maaf, tuan saya mengatakan ini, tapi benar, Nona Rayrin, sengaja melakukan ini agar anda marah dengan nona Akira, saya sudah menyelidikinya, anda salah paham." terang Sergio yang membuat air mata Farid kembali mengalir karena penyesalan.
Sebenarnya ada suatu hal penting mengenai Akira yang masih ingin Gio katakan, namun melihat kondisi tuannya yang begini, padahal ia baru mengatakan sedikit kebenaran saja membuat ia mengurungkan niatnya.
.
.
.
Sudah dua hari, namun Akira belum menunjukan tanda bahwa ia akan membuka matanya, padahal dokter bilang Akira sudah melewati masa kritisnya, selama Akira terbaring selama itu pula Farid menjaganya, seperti saat ini, dengan erat Farid menggenggam tangan Akira, dengan tatapan sendu, sesekali mengelus kepala sang istri.
"Akira, bangun, maafkan aku" bisiknya sembari mengecup punggung tangan Akira.
Ia benar - benar merasakan kehilangan yang teramat dalam, anak pertamanya yang ia harapkan kehadirannya kini tiada lagi, istri yang selalu menunjukan cinta dan perhatian padanya tidak sadarkan diri, mungkin Tuhan sedang menghukumnya karena pernah menyia-nyiakan istri sebaik Akira.
Baru dua hari, dan Farid sudah merasa sangat kehilangan, entah bagaimana reaksi Akira saat tahu, anaknya tiada, ia mulai membayangkan senyuman manis Akira dan bagaimana itu akan menghilang saat wanita itu sadar nanti, lalu mengetahui kenyataan, bahwa, anak mereka sudah tiada.
Mendadak, suara ketukan pintu menyadarkan lamunan akan kilasan masa lalu yang indah bersama Akira yang sedang ia kenang.
Tampak Zia,Viara, dan Tina berdiri di ambang pintu.
"Maaf, kami mau jenguk Akira" ucap Zia, sedangkan Farid hanya mengisyaratkan lewat mata dan tangannya yang mempersilahkan mereka menjenguk sahabat mereka, sedangkan Farid menunggu diluar.
Setelah kurang lebih sepuluh menit, mereka keluar dan memberanikan diri menanyakan kondisi Akira pada Farid, mumpung Farid tidak dalam kondisi menyeramkan seperti biasanya, ini lebih terkesan lemah.
"Far, kalau boleh tau Akira kenapa bisa begini?" tanya Zia.
"Pendarahan" sahut Farid singkat.
"Kok bisa?!" pekik Viara terkejut.
"Bukan urusan kalian" sahut Farid tak suka.
Zia menyeringai kecil, " Huh, kenapa? Lo gak mau kita tahu? Jangan-jangan Akira kaya gini gara-gara kelakuan lo ?" sinis Zia, membuat kepala Farid terangkat menatap sepupunya tak percaya.
"Astaga, Farid lo itu manusia paling bodoh tau gak?! Siapa sih yang mau mencintai lo selama Akira mencintai lo, siapa yang mau percaya sama lo setelah semua yang terjadi, setelah segala bukti yang ada kecuali Akira? **** lo!" sarkas Zia.
"Maksudnya bukti?" tanya Farid penasaran.
"Bahkan lo gak tau apa-apa, tck suami macam apa sih lo?!"
"Hush, udah Zi jangan ribut di rumah sakit" lerai Tina.
"Biarin, biar dia mikir, selama ini Akira cuma cerita ke gue pahit se pahit-pahitnya hidup sama Farid, cuma dia itu pinter sembunyiin semuanya dari kalian semua!" ucap Zia semakin menjadi-jadi.
"Udah Zia, ayo kita pulang jangan ribut disini" kini Viara yang menghentikan ocehan Zia.
Mereka meninggalkan Farid dalam keadaan penasaran,
"Apa maksudnya Zia tadi? Pasti ada sesuatu yang aku tidak tau!" geramnya menyadari ada sesuatu tentang istrinya yang terlewat dari perhatiannya, ia harus memastikan segalanya setelah ini, sebelumnya Akira harus sadar.
Ia kembali memasuki ruang rawat Akira, menatap wanitanya yang masih enggan membuka matanya.
"Ki, kamu kenapa gak mau buka mata hm? Kamu gak mau liat aku lagi? Apa kamu benci sama aku karena sudah membunuh anak kita?" lirihnya disamping Akira.
Memasuki hari kelima, dan Akira masih belum menunjukan tanda akan sadar, dokter sudah menyatakan Akira koma.
Syok, pendarahan hebat, dan benturan ketika terjatuh yang membuat keadaanya seperti ini.
Farid benar-benar tidak bisa meninggalkan istrinya, ia menunggunya sadar, ia bahkan tidak datang ke kantor dan menyerahkan segala urusan pada Gio.
"Ki, aku mohon bangun, aku kangen kamu, maafin aku, kalau kamu mau bangun aku janji aku akan selalu percaya sama kamu, dan kita jauh-jauh dari Rayrin" lirihnya dengan tangan yang menggenggam jemari Akira.
"Ki, bangun, lebih baik kamu sadar dan hukum aku semau kamu, daripada aku lihat kamu seperti ini.." gumam Farid.
Aduh guys sorry sebenarnya aku sehari sekali update, tapi review nya gak tau kenapa tumben banget lama 😩