
Hellooowww ada yang nungguin?
Aku lagi gak mood dari kemaren mau ngetik punya nopel baru jadi pennya bacaaaa terosss hahaha pamerrr wkwkw
______
Akira merasa tidak bisa tidur setelah ia memastikan Farid tidur dengan benar, ia ke dapur untuk mengambil minum.
Ia berbalik keluar dapur tapi alangkah kagetnya ia melihat sosok yang tiba-tiba ada di depannya.
Ia melotot terkejut sambil memegangi dadanya yang berdentum tak karuan isinya.
"Astaga, Rell! Kamu ini bikin aku kaget tau gak malem-malem mendadak nongol kaya setan!" omel Akira dengan suara berbisik karena hari sudah sangat malam, bahkan rumah terasa sepi hampir semua lampu telah mati.
"Ya maaf, aku mau tanya boleh?" tanya Farell dengan ekspresi yang tak nyolot seperti biasanya.
"Yaudah nanya tinggal nanya, tumben gak lo-gue, pasti karena ada maunya kan?" tebak Akira yang sudah berpikir negatif tentang Farell.
"Tadi kakak dari rumah mama ya? Terus kakak bilang apa sama kak Akira?"
Eh buset, sopan bener ini anak kalo ada maunya batin Akira sambil sedikit menggelengkan kepala.
"Kok diem sih, kak? Aku berhak tau, aku juga bagian keluarga ini, tauk?!" yah Farell mulai nyolot.
"Nggak ada, kakak kamu belum cerita." jawab Akira jujur karena memang benar Farid belum cerita dengan jelas, ia hanya mengatakan sedikit clue-nya, setelah itu menangis di pelukan Akira sampai tertidur.
"Sumpah, aku nggak bohong!" ucap Akira saat di rasanya Farell menaruh rasa curiga melalui tatapannya.
"Kayanya, dia lagi gak enak hati, dia belum cerita apapun sama aku, yaudah kamu tidur ini udah malem besok sekolah!" titah Akira meninggalkan Farell yang masih berdiri di depan lemari pendingin.
Akira menyentuh lembut surai hitam suaminya yang sedikit bergelombang, menatapnya sayang. Baru kali ini dirinya melihat sisi lemah suaminya, yang menangis selama itu dalam dekapannya, bahkan Akira sampai berganti pakaian karena yang ia pakai tadi basah akibat ulah dari air mata Farid.
Ia mengecup lembut kening Farid yang berkerut dalam tidurnya itu dengan penuh kasih, lalu mendekap tubuh tegap yang biasa mendekap tubuhnya itu ke dalam pelukannya.
"Mimpi indah, aku sayang kamu. Aku masih ada di sini, aku, yang akan selalu ada buat kamu dalam keadaan apapun. love you before and after. Sebelum ini aku cinta kamu dan setelah ini aku tetap cinta kamu."
****
"Sayang, sarapan yuk!" ajak Akira pada suaminya yang masih terlelap. Ia sentuh lembut rambut hitam kecoklatan itu.
Farid bergerak tapi kemudian diam seolah tidak merasakan dan mendengarkan apapun.
Dengan jahil Akira menyentuh hidung lelaki itu dengan hidungnya gemas.
"Mas.. suami aku udah pagi ayo bangun." bisiknya lembut, saat ia mau menyingkir dari wajah Farid dengan tanpa di duga lelaki itu menahan kepalanya dan berakhir dengan Farid mengecupi bibir itu berkali-kali.
"Masih pagi udah godain aku, hm?"
Akira menatap suaminya pura-pura kesal.
Berdiri, ia menarik kedua tangan suaminya untuk bangkit.
"Mandi ayok, terus sarapan, sebelum sekretaris titisan kamu itu dateng jemput kamu."
Dengan malas Farid bergegas melaksanakan aktifitasnya seperti biasa.
Akira pun belum mau membahas masalah semalam, masih ada rasa tak enak, takut suaminya akan sedih atau malah marah nanti?
"Kak, sering banget si ada perkedel kentang?" tanya Farell heran, sebab dari sejak dirinya menginap di rumah kakaknya sudah tiga kali ia melihat perkedel kentang di meja makan.
"Akira suka sekali makan itu, jelas selalu ada itu di meja makan hampir setiap hari." jelas Farid dengan wajah biasa seolah tak pernah ada kejadian semalam, padahal Farell sudah melirik curiga pada mata kakaknya yang agak bengkak.
Farell itu tidak bodoh. Ingat ya! Farell itu cerdas, walaupun masih kalah cerdas dengan Farid setidaknya ia itu juga cerdik, masa tidak peka dengan apa yang terjadi dengan kakaknya?
Masa sih? kakak nangis? karena mama? apa segitu beratnya berhadapan dengan mama?
"Kamu betah disini, Rell?"
"Kak aku duluan takut telat." ujar Farell lalu meraih ranselnya.
"Rell, gak mau aku buatin bekal?" tanya Akira.
"Ih apaan sih kak, aku bukan anak TK ya, malu tau, awas aja ya kalau masukin bekal diem-diem ke tas aku lagi."
soalnya, kemarin ia eh bukan Farell, tapi temannya, yang menemukan kotak bekal di dalam tasnya, ia di ledek habis-habisan, katanya, badboy di sekolah bawa bekal, malu lah.
Akira bukan tersinggung di ancam oleh Farell, ia malah tertawa.
"Fans berat kamu tuh, sama-sama suka main anceman, haha."
Farid hanya tersenyum tipis, paginya sungguh tidak bersemangat.
"Semangat dong suami aku cari uang yang banyak buat aku, yaa.. " ucap Akira yang menangkap gelagat suaminya yang berbeda dari biasanya.
"Jangan lemes lesu gitu dong, aku aja semangat nih, emuah!" mengecup mesra pipi suaminya dengan senyum merekah, niatnya tak jauh-jauh dari menghibur suaminya yang nampak tidak bersemangat.
Farid hanya tersenyum lembut dan balik mengecup pipi istrinya, lalu pamit berangkat bekerja.
Akira hanya bisa menatap keberangkatan suaminya yang nampak berbeda dari biasanya, tak ada aura tegas seorang pemimpin, ataupun yang lainnya. Aura lelaki itu benar-benar redup.
Sebesar itu efek ucapan mama ke kamu kali ini, mas? Ya iya sih bagaimana pun beliau tetap orang tua kandung kamu, pasti sesuatu yang tak mendapatkan restu ibu itu menyulitkan dan aku yakin, lagi dan lagi pasti aku yang tak pernah di restui yang kalian bahas.
***
"Mas! Lo yakin gue harus nemuin Akira?" sekali lagi lelaki itu bertanya pada Kris yang sejatinya lebih pusing.
Kris saja pusing, bagaimana caranya ia menebus kesalahannya tanpa di ketahui oleh sang korban apa kesalahannya.
Takdir memang buruk, kedua saudara sepupu di permainkan oleh wanita yang sama.
"Gimana caranya lo mau minta maaf, kalo elo aja gak berani ketemu dia? Dari kemarin gue omongin, iya-iya doang, gak di laksanain!"
Deanno menyesap kopi hitamnya, lalu beralih menatap ke depan, dimana banyak bunga mawar yang memang Mayra tanam di halaman samping. Ah, dia jadi ingat, Akira itu suka bunga, apalagi bunga mawar.
Tangannya jadi gatal untuk menelepon perempuan itu dan menyuruhnya kesini untuk melihat mawar dan mungkin memetiknya kalau Mayra mengizinkan tentunya.
"Gue takut, mas! Gue takut sama tanggapan dia, apa abis ini gue langsung ke Bandung aja lagi ya, apa sekalian ke Papua, kurang jauh gue kaburnya."
"Pengecut!" ejek Kris, padahal dalam hatinya ia mengejek dirinya sendiri yang lebih pengecut.
Masih bersembunyi dari kesalahan dan mau menebus dengan bersembunyi pula.
Sial sekali, orang yang ia ajak kompromi susahnya bukan main!
"Lo jujur sekarang, atau seumur hidup lo selalu merasa bersalah sampe mati!"
"Eh gila, serem amat! Yaudah ntar gue usaha deh buat ketemu Akira."
"Jangan ngomong doang, nyet! Dari kemarin lo ngomongnya gitu terus, nunggu apa sih?! Nunggu kucing betelor?Hah?!"
"Ya sabar kali, banyak yang harus di siapin!"
"Banyak kecot lo!"
Ya ya sekasar itu bahasa Dean sama Kris kan beda sama Farid yang selalyuuu di ajarin tata krama sama mama ritaaaa... kesayangan mama gitu loh
Farell aja yang geblek bisa nganclong jadi badboy yang tengil wkwk.
Aku haus vote guys
beri aku vote wkwk