
Menurut kalian story ini monoton gak sih?
Terlalu mainstream gak sih?
Tuliskan pendapat kalian di kolom komentar ya guys, karena pendapat kalian akan sangat membantu perkembangan cerita ini
Terimakasih, happy reading...
Mencintai seseorang memang bukan kesalahan, tapi orang tersebut mampu membuat cinta menjadi kesalahan, contohnya Dean, lelaki yang diam-diam mencintai sahabatnya sendiri. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa gelap mata dan terhasut oleh bisikan iblis semacam Rayrin, kini ia menyesal karena menjadi penyebab kesedihan Akira yang ia sayangi secara tidak langsung.
Dean pergi jauh ke luar kota, ia ingin menghindari pandangan Akira, ia rasanya tak sanggup dan merasa tak pantas mendapat sapa senyum Akira lagi.
Ia pergi juga untuk menjauhi Rayrin yang terus menerus mencoba menghasut nya lagi, wanita iblis itu tidak kapok walaupun Farid sudah menghancurkan kariernya, sedangkan Dean masih beruntung karena ia tidak di hancurkan juga oleh Farid.
Mengingat kuasa lelaki angkuh itu, ia yakin akan banyak derita yang ia dapatkan jika ketahuan Farid.
Dean memilih bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai karyawan biasa. Bukan perusahaan teknologi pula yang ia pilih yang penting ia punya pekerjaan.
Dean menatap sendu foto Akira yang diam-diam ia simpan di galeri ponselnya, tak lama air matanya menetes, ia segera mengusapnya dengan cepat, laki-laki tidak patut menangisi seorang wanita yang notabene nya adalah isteri orang.
"Aku harap kamu bahagia, meski kebahagiaan itu sempat aku goncang." gumamnya pelan sembari mengusap layar ponsel yang menunjukan foto Akira sedang tersenyum ceria.
Zia kesal bukan main hari ini, ia mendengar Akira kembali pulang ke rumah Farid, dan itu tanpa sepengetahuannya, eh saat ia penasaran dan ingin mendatangi sahabatnya, dengan congkaknya Sergio berkacak pinggang di depan gerbang melarangnya masuk ke halaman rumah besar itu.
"Ya ampun Pak, minggir saya ini mau lewat apa mau saya tabrak?" gertaknya sebal.
"Nona, lebih baik jangan mengganggu mereka." kata Sergio dengan amat sangat datar tanpa ekspresi.
Ya ampun ini sekretaris Farid ganteng-ganteng tapi miskin ekspresi, kasian amat, gumam Zia dalam hati.
"Yaelah si Bapak, gue yakin Akira gak akan merasa terganggu kalau emaknya yang dateng!" ucapnya sombong.
Apa? Barusan dia bilang emak? batin Sergio heran.
"Saya bukan Bapak kamu!" ketus Sergio, persetan dengan sopan santun pada sepupu Tuannya, suruh siapa gadis di hadapannya menyebalkan, ia baru sadar tindak tanduk Zia sangat mirip dengan Akira yang serampangan.
"Hiliiih, emang saya perduli saya cuma mau ketemu anak saya!" teriaknya ngotot.
"Anak?"
"Iya, Akira!!" teriaknya makin kesal dan tak sabar dari jendela mobilnya.
Apa ada pengacara senyablak ini? batin Gio bertanya-tanya.
Sedangkan, Akira yang mendengar ribut-ribut karena suara menggelegar Zia, langsung kelaur memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar.
Matanya menyipit melihat Zia dari kejauhan, "Woy! Zia?!!" teriaknya dengan nada bertanya.
Zia langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangannya, turun dari mobilnya.
"Ya ampun, mereka sejenis." gumam Sergio menatap keduanya miris. Zia langsung menoleh dan melotot tajam ke arah Sergio lalu melemparkan kunci mobilnya ke arah Sergio yang dengan sigap menangkapnya meski sedikit kaget.
"Parkirin ya Pak! " titahnya dengan tatapan meledek dan berjalan menghampiri Akira.
"Gadis sialan, untung masih sepupu Tuan, kalau bukan... " Sergio mengumpat kesal.
"Ngapain lo kesini kaga bilang-bilang?"
tanya Akira yang hampir di jawab Zia namun gagal karena kedatangan Farid membuat Akira membuka mulutnya kembali,
"Mas, di tungguin Gio deh kayanya, mau ke kantor?" tanyanya yang melihat Farid berjalan sembari memasang jam tangannya.
"Iya, ada urusan." balasnya singkat.
"Sore-sore begini?"
"Iya mendadak, lagian kerjaan aku banyak yang numpuk karena keterusan mikirin kamu yang nggak pulang-pulang." kayanya mencoba meledek Akira sembari berjalan mendekati Akira lalu menarik tengkuk wanita itu dan mengecup keningnya lembut.
"Tck, nyalahin aku?" tanyanya sebal.
"Haha, nggak kok sayang." tawanya ringan menjawab Akira, "Yaudah aku pamit nanti mungkin pulang jam delapan." pamitnya lalu melambai ke arah Akira.
Zia menarik lengan Akira kasar, "Ra, kok lo selalu gitu sih?" desisnya sebal.
"Gitu gimana?" tanya Akira santai sembari menggiring Zia agar duduk santai di sofa.
"Yaelah, katanya mau cerai tau-tau rujuk, mesra lagi."
"Abisnya dia bilang sesuatu yang bikin gue gak bisa nolak, sebenernya juga gue masih cinta, sekecewa apapun dan semarah apapun gue, gak akan ngalahin cinta gue ke Farid."
"Btw, sejak kapan lo balik, gak ada kabar gitu sih?"
"Belum lama baru tiga hari lalu." jawabnya santai.
"Dan selama tiga hari itu lo gak ada kasih kabar ke gue, emak lo?!" Zia melongo takjub menatap Akira sambil berdecak miris.
Ck, ck, ck.
Zia itu paling tua pembawaanya di antara mereka jadi bisa di bilang sebagai leader atau pemimpin grup sahabat yang mereka buat.
Orangnya pemalu tapi sok gengsi dan jaga Image gitu, galak, terus sok jual mahal.
Pokoknya sikapnya menjunjung tinggi harga diri dan kaya gak mau kalah gitu deh.
Tapi mulut busuk mereka itu sama jenisnya tingkah mereka juga sama, serampangan banget.
Akira merebahkan tubuhnya di atas ranjang, berbincang dengan Zia itu cukup menguras tenaga, ia juga sempat delivery makanan dan makan-makan berdua serta berfoto berdua untuk di unggah ke akun Instagramnya, biar kaya orang, kata Zia.
Dikira mereka bukan orang kali.
Setiap bertemu pasti makan ya begitulah mereka, makan, nongkrong, ngobrol, foto.
Setelah di rasa cukup ia beranjak dari tempat tidur dan beralih ke ruang makan untuk membantu bibi menyiapkan makan malam.
Sudah lama sekali ia tidak melayani Farid seperti ini, bahkan kemarin-kemarin ia masih dalam mode galaknya, baru saat ia kembali melakukan hal 'itu' semalam bersama Farid, jiwa-jiwa istri penurut nya jadi kembali sedikit-sedikit.
Samar-samar ia mendengar deru suara mesin kendaraan, ia segera beralih ke depan padahal belum juga sempat menyiapkan makan malam di atas meja.
Ia menyambut kepulangan Farid, Farid sedikit heran tapi ia senang akhirnya istrinya kembali seperti semula.
Saat Akira sedang meraih jasnya untuk di bawanya Farid berbisik, "Kalau aku tau dengan melakukan itu langsung meluluhkan mu secara totalitas seperti ini, pasti aku lakukan sejak lama."
Mendadak pipinya terasa panas, tangannya terayun menepuk keras dada Farid dengan wajah cemberut.
"Nggak lucu!" sentaknya lalu berjalan menuju kamar mereka.
"Aku kan emang gak lagi lawak, Ki." jawab Farid sambil mengikuti Akira di belakangnya.
"Bodo amatlah, nyebelin." balas Akira dengan nada kesal.
"Ki, tutup mata coba."
"Nggak mau, nanti di kerjain lagi." perasangkanya dengan buruk.
"Enggak, merem sebentar aja, jangan buka mata sebelum aku suruh." pintanya dengan raut memohon.
"Iya udah buruan mau apa?!" kata Akira langsung menutup kedua matanya.
Ia merasakan sesuatu menempel di kulitnya, haduh Farid ngapain sih.
"Buka mata kamu sekarang." titah Farid setelah mengarahkan tubuh istrinya menghadap kaca.
Perlahan, Akira membuka matanya dan menemukan sebuah kalung melingkari lehernya, kalung emas putih dengan bandul tiga buah mutiara menghiasi lehernya.
"Farid, ini bagus banget." tatap nya takub pada cermin yang memantulkan bayangannya.
Farid memeluk Akira dari belakang, "Aku tau kamu suka mutiara." bisiknya di telinga Akira yang membuatnya menegang sekaligus merinding karena bisikan maut Farid.
Farid mengecup pipi kanan Akira singkat, "Suka?"
"Banget!" pekik Akira masih dengan rasa takjub, "Makasih, pasti mahal ya? Makasih banget pokoknya." ungkapnya senang.
"Nggak semahal itu, aku bisa memberi kamu kalung berlian juga."
"Dih sombongnya, sayang aku gak begitu suka berlian." jawabnya sembari mencubit hidung mancung suaminya.
"Wah, kamu nakal ya, mau di hukum rupanya.." kata Farid sedikit mengancam, Akira malah semakin menjadi dengan gemas ia mencubit kedua pipi Farid dan menggerakkan kepala Farid ke kanan dan ke kiri.
"Wah kamu beneran minta di hukum rupanya ya.. " Akira yang menyadari seringai mengerikan dari suaminya langsung berlari dengan Farid yang mengejarnya berkeliling ruangan, sampai akhirnya saat melewati kasur Akira terjatuh di atas kasur dan kakinya langsung di gelitiki oleh Farid sampai ia tertawa kencang tiada henti.
"Aaa... Farid stop, ya ampun geli banget geli..." teriaknya sambil tertawa kegelian.
"Ini hukuman buat istri nakal." katanya semakin menjadi-jadi menggelitik kaki Akira.
VOTE NYA AYOO JANGAN LUPA YA WKWK