Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 28



Ternyata benar kan dugaan Farid di benaknya, kalau Akira tahu, ya akan jadi separah ini.


Akira terus menangis mengajaknya pindah, entah itu ke rumahnya atau ke villa yang ia hadiahkan pada Akira dulu.


Tapi, Farid tidak bisa kantor utamanya ada di sini, ia harus jadi pemimpin yang profesional di perusahaan. Ia tidak bisa seolah menggampangkan urusan perusahan hanya karena urusan pribadi.


Lebih dari itu, istrinya bilang Deanno mengaku menjadi sebab mereka berpisah. Ia jadi was-was pada pria itu, mungkin Akira masih tidak percaya, tapi dirinya percaya!


Ia menatap wajah yang masih tampak tak tenang meski sudah terlelap, mengusap pipinya yang masih basah akan air mata.


Lalu, mengecup pipi itu penuh kasih dan pergi keluar meninggalkan sosok rapuh itu.


Ia memilih masuk ke ruang kerjanya dan menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Sergio." panggilnya pada orang di seberang sana.


Terdengar suara serak lelaki itu menjawab dan...


Siapa sih kak, ganggu banget! suara kesal seorang gadis yang ia yakini itu sepupunya.


Sialan! Tengah malam begini apa yang mereka lakukan berdua?!


Kenapa, ada yang bisa saya bantu Tuan?


"Ada yang harus kamu selidiki, nanti aku kirim pesan saja, lebih baik sekarang kembalikan anak tikus itu pulang, kau nakal sekali!"


Anak tikus?


"Pulangkan sepupuku dengan benar! Kau cari mati ya, kalau pamanku tau kau merusak anak gadisnya mau jadi apa kau? Ha?!"


sentaknya kasar, lalu menutup panggilannya.


Niat hati mau berbicara serius, malah ia di kejutkan dengan fakta menggelikan bahwa kemungkinan mereka sedang...


Ah sudahlah biar itu jadi urusan dia orang itu.


"Kalau Akira tau, dia akan senang atau malah menjambak rambut Gio karena sudah mengurung sahabatnya di tengah malam?" gumamnya lalu terkekeh geli, sambil mengetikkan pesan pada Sergio.


***


Rupanya, cuaca cukup cerah hari ini sinar mentari bahkan cukup kuat menerobos tirai putih yang menutupi jendela kaca kamar sepasang suami-istri.


Kalau, kemarin Akira yang membangunkan Farid dengan cara yang romantis, sekarang gantian Farid yang membangunkan istrinya dengan cara yang, "Kamu mesum banget!" sentak Akira dengan suara serak khas bangun tidur.


"Apa? Biasa aja gak mesum kok." elak Farid dengan tenang, lalu kembali menciumi seluruh bagian wajah Akira.


"Apanya yang gak mesum?!" ketus Akira sambil bergerak duduk menghadap kaca riasnya.


"Tuh, liatin tuh! Kelakuan kamu, nanti aku di ledekin Farell lagi loh!"


Farid malah senyum-senyum, lalu tertawa geli mendengar penuturan istrinya. Syukurlah, Akira sudah lupa tentang semalam, sepertinya. Lihat saja dia langsung cerewet pagi-pagi.


Akira mendengus kasar menuju kamar mandi, terpaksa ia harus memakai pakaian dengan leher tertutup hari ini.


"Mandi sendiri sana!" teriak Akira seraya terus menjauh dari suaminya.


Kini mereka sudah siap untuk sarapan, tapi nampaknya Akira tidak, mulutnya terus mengoceh, "Farell, itu kancing atas kamu di kancingin, gak rapih tau!"


"Biar keren kak."


"Nggak rapih, Farell kancingin sekarang!" omelnya sembari menyiapkan menu sarapan pagi itu, tangannya sibuk menuangkan nasi ke piringnya, Farell dan Farid tapi mulutnya terus mengoceh.


"Kakak cerewet tau gak?!"


"Mas, adik kamu itu di kasih tau ngeyel! Itu jangan makan ikan aja, makan sayurnya juga Farell." sambil duduk di samping Farid dan berhadapan dengan Farell, yang sedang memilih lauknya.


Mungkin, para pelayan yang ada di sekitar mereka tangannya sudah gatal ingin menutup telinga mereka, saking berisiknya Akira.


"Farell, nurut atau kakak iparmu gak akan diam, nanti pas dia udah gak ada, buka aja lagi kancing atasmu."


"Mas, kok ngajarin nya gak rapih gitu sih!" protesnya pada sang suami.


"Biasa sayang, anak muda kamu kan tau aku waktu masih muda, keren kan? Farell juga mau jadi keren."


"Beda dong, kamu rapih waktu SMA, makannya keren." kata Akira sambil mengambil tumis kangkung dan menaruhnya di piring suaminya.


"Udah dong, kita sarapan dulu, diem dulu ini atau aku cium di depan Farell?!" seketika Akira melotot tajam.


"Ih, kakak disini ada anak di bawah umur tauk!" bentak Farell.


Oke, Farell ini kesal karena kecerewetan kakak iparnya tapi tidak masalah ini lebih baik dari pada suasana semalam.


Sepertinya, kakak iparnya itu mudah berkamuflase, mudah melupakan masalah barang sejenak.


Farid jadi gemas sendiri, ia berasa seperti Akira sudah memiliki Farell sebagai anaknya sendiri. Sungguh, istrinya itu seperti sudah sangat pantas menjadi seorang ibu, tapi sayang takdir begitu kejam mempermainkan mereka.


Akira menatap kepergian Farell dan Farid dari depan pintu, "Belajar yang benar, jangan tebar pesona terus,banyak gaya!" pesannya pada Farell sambil melambaikan tangannya sebelum anak remaja itu meninggalkan halaman rumah dengan motor sport nya.


Setelah, Farell dan Farid benar-benar menghilang dari halaman rumah. Nyeri di dadanya kembali. Ia mencengkram dadanya yang terasa nyeri karena masih ingat dengan penuturan suaminya tadi malam.


Aku enggak boleh buat Farid terbebani karena aku, akun harusnya bisa lebih kuat dari ini, gak perlu takut sama mama, ada Farid, ada Farell, ada papa, masih banyak yang dukung aku dan lindungi aku. Sabar, Akira yang kuat.


Matanya, menengadah ke atas berusaha agar air mata itu tak jatuh. Terlalu banyak kejutan, sahabat baiknya yang mengaku salah dengan kesalahan yang amat besar dan fakta bahwa dirinya sangat menjijikkan di mata mertuanya.


Akira bahkan bukan anak haram atau anak seorang wanita malam, tapi mama mertuanya seolah menganggapnya seperti itu.


Hari ini ia mencoba untuk tampil biasa saja di depan mereka, hatinya harus kuat, harus tegar, setegar karang, karena kalau ia sedih Farid akan khawatir, Farell akan bingung, dirinya juga akan tersiksa sendiri.


Ia jadi tidak enak semalam terus merengek untuk pindah, dengan Farid yang terus menjelaskan bahwa lelaki itu tak bisa pindah seenaknya, karena kantor utamanya ada di Bahkan, suaminya itu menjelaskan sampai lelah sendiri, berkali-kali. Sumpah! Akira tidak enak, ia serasa jadi istri manja yang egois, yang sedikit-sedikit merengek pada suaminya, padahal Farid pun sama sedihnya seperti dirinya.


Ia menyesal dengan dirinya semalam yang tak mendengar suaminya, membuat lelaki itu harus berulang-ulang menjelaskan dan berulang-ulang juga ia terus merengek.


Ya maap kalo gak ada yang wow di part ini soalnya ini ntuh cuma lanjutin part kemarin jadi pendek ya, iya pendek yaudah lah.


jangan lupa like sama vote yaaa.