
Satu minggu setelah kejadian di mana Rita meminta maaf, Akira juga berusaha dekat dengan sang mama mertua, ia sering mengunjungi Rita meski responnya masih sangat kaku dan dingin, tapi ada Fiora yang selalu memberi solusi.
Dan akan ia lakukan hari ini, Fiora bilang sang mama sangat jago masak makanan khas Bandung bernama seblak dan sangat menggemari nya, perempuan itu ingat bahwa mamanya ingin memiliki menantu yang bisa mengalahkan rasa seblaknya yang jadi idola keluarga.
"Ayo,ma kita lihat menantu pertama rumah ini, dia mau masak sesuatu untuk kita." celetuk Fiora sembari menyeret pergelangan mamanya menuju Akira yang sudah siap di dapur.
Akira ikhlas, Akira senang, Akira bahagia meski respon sang mama mertua masih kaku dan dingin, baginya mungkin mama butuh adaptasi.
Jika, Farid mulai bertanya yang macam-macam ia hanya menjawab, "Itu mama kamu, jangan mikir sembarangan!" yang langsung membungkam mulut Farid.
"Memang kamu bisa masak itu dengan rasa tetap enak meski tidak di beri campuran bubuk -bubuk aneh yang seperti di jual sekarang?" tanya Rita agak meremehkan melirik ke arah bumbu yang sedang di tumis.
"Bisa dong, ma. Ini favorit Akira, tapi Farid suka gak izinin makan ini."
"Kamu buatnya pakai bubuk-bubuk cabai itu kali ya?" selidik mama.
"Ih enggak ma, aku pernah cobain kok, lebih enak dari masakan mama!" seru Fiora, padahal Fiora belum pernah mencoba. Rita melirik ke arah anak perempuannya, yang selalu saja membela menantunya.
Rita masih belum sepenuhnya menerima Akira, ia cukup luluh sebenarnya karena setelah kejadian itu satu minggu penuh wanita itu sering mengunjungi rumahnya yang sepi dan membuatnya ramai karena kelakuannya bersama sang anak perempuan.
Berbelanja, memasak, bahkan membelikan dirinya hadiah, pernah Akira lakukan.
Diluar, Rayrin dengan percaya dirinya memasuki rumah tanpa permisi, penjaga rumah juga sudah hafal dengan perempuan itu.
Ia mencari keberadaan Rita dan mendapati wanita tua itu di dapur bersama, "Akira!" desisnya, tangannya mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Mama, apa kabar?" ujarnya dengan senang menghampiri Rita tanpa ragu meski mendapat lirikan tak menyenangkan dari Fiora.
"Rayrin? Ngapain lo di sini pulang sana, ganggu tau!" usir Akira.
"Ma, liat tuh cewek gak jelas itu ngapain sih ada di sini, harusnya dia yang pergi iya kan?"
"Ngomong apaan nih cewek, Akira itu menantu keluarga ini, kamu siapa?! Murahan, tidak tau diri!" hardik Fiora.
Rayrin menatap protes pada Rita yang sejak tadi diam saja, Rita tentu bimbang, ia masih berhubungan dengan Rayrin, tapi demi anaknya ia sudah berjanji untuk berhenti.
"Pulang sana! Jangan jadi perempuan yang nggak tau malu! Masih aja deketin mama buat dapetin Farid, kaya cewek enggak laku aja." tukas Fiora di barengi dengan seringai kemenangan dari Akira yang membuat perempuan itu makin geram.
"Mama aku sama adik ipar aku udah baikan, jadi mama gak akan dukung kamu lagi, ngerti?!" sambung Fiora, lagi dan lagi Rayrin menatap Rita yang berdiri bersama Fiora sedangkan Akira masih sibuk dengan masakannya, sesekali menengok ke arah keributan berlangsung. Tatapan, Rayrin seolah menyiratkan bahwa ia butuh penjelasan.
"Pulang, Rayrin pulang... denger kata kakak ipar aku nggak sih?" sahut Akira sambil mengaduk kuah seblaknya. Nadanya pelan, tapi sarat akan sindiran.
"Mama?" Rayrin terus menatap Rita yang terus saja diam.
"Pulanglah." akhirnya kata itu yang keluar dari mulut wanita tua itu.
"Jangan pernah kemari lagi." sambung Rita lagi, yang membuat Rayrin tercengang.
"Apa ini?! Mama jangan bercanda!"
"Saya tidak bercanda, saya sudah menerima anak itu jadi menantu saya." tukasnya yang di barengi dengan seringai licik dari Fiora dan Akira yang tersenyum lebar.
"Aku nggak terima!" sentak Rayrin yang membuat semuanya kaget.
"Jangan jadi perempuan yang tidak tau malu!" hardik Fiora lagi.
"Hey! Aku sudah cukup diam ya kamu hina sejak tadi, tapi aku nggak terima, kalau aku gak tau malu, lalu mama kamu apa?!" bentaknya sambil menunjuk Rita dan mata yang menantang ke arah Fiora.
"Kenapa kamu jadi hina saya?!" bentak Rita tak terima.
"Mama jangan mau enaknya sendiri dong, inget ya mama juga terlibat dan--"
"Mama sudah minta maaf sama gue, mending lo jauhin keluarga kami! Atau gue siram kuah seblak nih?" Akira ikut dalam keributan sengit itu setelah memastikan kompornya mati.
"Lebih dari itu dasar cewek gak sopan, asal kamu tau ya, mama mertua kamu ini yang menyebabkan kamu keguguran dan--"
"Dan aku pisah sama Farid? Tau gue tau, gak usah di ulang dan gue udah maafin!"
"Dengerkan kata-kata cewek ini? Gak ada sopan santunnya, pakai lo-gue!" hardik Rayrin.
"Kalau sama siluman macem lo, sah-sah aja menurut gue."
"Aku gak akan pernah biarkan kamu bahagia semudah itu, jadi kamu harus tau satu hal ini, mama gak akan terima kamu semudah itu, itu pasti." melirik Rita yang mulai gugup, bahkan tangannya gemetar.
"Makannya, dia --"
"Rayrin jangan bicara omong kosong!" sentak mama Rita. Cukup, suaminya saja anak-anaknya jangan, eh tapi Fiora sudah tau, setidaknya dua anak lelakinya jangan sampai tau atau segalanya akan buruk. Pusing... ! teriaknya dalam hati.
"Ma, mama udah hianati aku, aku nggak terima!" teriaknya.
Akira menghela napas berat, baru ia bahagia, baru juga seminggu, sudah ada saja keributan.
"Kenapa si kamu selalu nggak terima sama kebahagiaan aku?" Akira mendekatu Rayrin dan menatap nanar pada perempuan itu.
"Aku bakal biarin kamu bahagia, andai kamu balikin Farid ke aku!"
Matanya menyipit, tangannya menunjuk dan mendorong dada Rayrin dengan telunjuknya, "Kamu pikir suami aku barang?! Selamanya dia cuma milik aku, suami aku! Dia pilih aku karena dia tau mana yang cinta tulus ke dia, mana yang cuma cinta sama harta dan kekuasannya saja." katanya pelan namun sarat akan kemarahan.
"Mungkin sebelumnya, mama akan bela kamu tapi sekarang enggak!" mendorong Rayrin hingga perempuan itu hampir terjatuh ke belakang.
"Akira, beraninya kamu setelah kamu mendengar ini, kamu gak akan bangga lagi mendapat dukungan tante Rita lagi." bahkan kini Rayrin sudah mengganti panggilannya pada Rita.
"Pergi dari sini, gak ada yang suka dengan kehadiran kamu! Kamu bilang Akira nggak sopan, kamu lebih nggak sopan karena masuk rumah orang tanpa permisi!" bentak Fiora, ia juga khawatir akan rahasia yang terungkapkan, ia tak mau keutuhan keluarganya kembali runtuh.
"Kamu juga takut ya, kalau aku akan beberkan ini pada menantu kesayangan keluarga ini? Nanti, pasti Farid akan marah pada tante dan mungkin pada kamu yang ikut menyembunyikan?" melirik licik pada Fiora.
"Menjijikan, kurang ajar!" desis Rita, ia baru melihat sisi iblis Rayrin.
"Tante kenapa gitu sih, kita masuk penjara sama-sama, bagaimana?" tawarnya dengan nada meremehkan.
"Rayrin hentikan drama ini dan jangan muncul di antara keluarga kami lagi!" usir Akira yang sedang manahan emosinya.
Terdengar suara kendaraan dari luar, yang membuat Akira langsung merasa aman, pelindungnya datang, suaminya.
Tepat saat suara Farid menggema di dalam rumah itu, Rayrin dan Rita nampak tegang, berbeda dengan Fiora dan Akira yang nampak senang, bahkan kini Akira keluar dari dapur dan menghampiri suaminya yang masih ada di ruang tengah.
"Farid?!" ia langsung mendekap tubuh tegap itu seketika air matanya meluncur.
"Hey, kenapa?Apa mama jahat?" ia menggeleng dalam pelukan Farid.
"Ada setan di rumah ini?" tanyanya heran.
"Bukan, itu loh mantan kamu, usir dia ya usir, ayo usir dia, dia itu bikin kita semua nggak nyaman dari tadi." katanya sambil menarik lengan kekar itu menuju dapur.
Netra, lelaki itu langsung menangkap ketiga sosok wanita yang nampak sedang bersitegang. Fiora yang langsung menatapnya lega, Rayrin yang berbalik dengan wajah tegangnya telah berganti seringai licik dan mamanya yang nampak berkeringat dingin.
'Sepertinya, ini akan seru.' batin Rayrin.
"Wah pas banget semua ngumpul disini, cuma kurang anak bungsu tante aja nih." celetuk Rayrin yang membuat Farid langsung menatap tajam pada perempuan itu.
"Untuk apa kamu disini?! Pergi!" usir Farid.
"Uh.. istri kamu manja ya suka ngadu sama suami." ledek Rayrin yang membuat Farid meradang saat itu juga.
"Kamu mau tau satu rahasia? Mama kamu--"
"Tutup mulut kamu wanita ja*lang!" bentak Rita yang semakin tegang.
"Eits.. rahasia jangan terlalu lama di sembunyikan tante." sambil berbalik melihat pada Rita yang kini di belakangnya, kemudiaan ia berputar di tengah antara Rita, Fiora dan Akira Farid, meneliti keempatnya satu persatu.
"Dengar semuanya! Mama Rita yang kalian banggakan sekarang adalah orang yang menyebabkan Akira tidak bisa hamil!" teriak Rayrin dengan nyaringnya di ikuti tawa yang memekakan telinga, ia seperti orang gila saja.
"Omong kosong apa ini?!" bentak Farid menatap Rayrin dan mamanya bergantian.
"Bukan omong kosong sayang.. kenyataan! Tante nggak mau punya cucu yang terlahir dari rahim Akira, kamu tau itu kan?" katanya sambil memanjakan wajahnya di depan Farid.
"Farid, dia bohong jangan dengarkan dia, dia itu orang gila, Rayrin sudah gila." dengan tergagap-gagap Rita berbicara pada anaknya.
"Loh, yang gila aku atau tante? Yang mencetuskan ide itu tante, yang mendukung baru aku dan yang melakukan juga tante, tanya saja dengan pembantu kalian, " ia nampak berpikir, menggaruk dagunya yang tak gatal, "Siapa ya namanya, emm.. oh iya, Indah.." desahnya tepat saat ia ingat nama tangan kanannya dan Rita.
Akira langsung terkejut, otaknya berputar ke setiap kejadian agak aneh yang pernah ia lihat.
"Bohong! Dia gila, dia cuma mengada-ada!" hardik Rita.
"Aku gila? Tapi tante suka bekerja sama dengan orang gila."
raut wajahnya jadi sangat mengerikan, Rayrin nampak seperti orang gangguan jiwa sungguhan.
Akira langsung menggenggam erat tangan suaminya, tangannya sudah basah oleh keringat.
"Kalian masih tidak percaya? Tanya pada pembantu kalian itu, emm ya, Akira sahabatmu itu, dia juga ikut andil lho." sontak Akira langsung menatap Rayrin.
"Stop menuduh orang-orang terdekat aku!"
"Lho! Aku gak nuduh sembarangan, mereka itu dengan senang hati jadi partnerku dan dengan senang hati aku bantu rencana tante, ya tante?" sambil melirik mama Rita yang semakin tegang.
"Mas, kita pulang! Sebelum aku siram dia pakai kuah seblak!" langsung manarik tangan Farid dengan kencang ia menjauh dan keluar dari rumah itu.
Sedangkan, Rayrin saling bersitatap dengan Fiora dan Rita.
"Kamu gila!" hardik Rita.
"Baru tau, tante? Itu juga karena anak tante lho."
"Itu karena diri kamu yang gak bisa tau diri!" ejek Fiora lalu dengan kasar ia menyeret perempuan itu keluar.
'Terserah lah, intinya meski aku ikutan hancur, toh mereka semua juga hancur, keutuhan yang baru jadi langsung runtuh.' ia menatap rumah itu dengan senyum licik, Rayrin memang telah terganggu jiwanya.
***
Napas, Akira tersengal-sengal sejak tadi ia menahan diri untuk tidak menangis padahal jika di keluarkan sudah pasti ia menangis sesenggukan. Ia segera mengunci diri di dalam kamar, berbeda dengan Farid yang langsung menuju rumah belakang untuk mencari keberadaan semua pelayannya, bahkan Wisnu pun tak ada untuk menyambut dirinya seperti biasa, sore di rumah besar itu sunyi.
Sampai ia melihat aksi Wisnu yang tengah menghakimi seorang pelayan perempuan kesayangan istrinya.
"Ampun, Pak. Saya cuma di suruh." kira-kira itu yang terdengar dari dalam bilik kamar pelayan itu yang terbuka dan jadi tontonan seluruh pelayan rumah ini.
Posisi pelayan itu sudah memegangi kaki Wisnu yang sudah siap dengan cambuknya.
"Ada apa ini?!" suara lantang Farid membuat semua yang berkerumun membelah menjadi dua barisan seolah menyambut Tuan mereka.
Wisnu langsung memberi salam pada Farid, "Tuan muda, orang yang menjadi mata-mata di rumah ini adalah pelayan kesayangan Nyonya sendiri, Tuan." lapornya langsung tanpa basa-basi.
"Dia juga terbukti mencampur sesuatu pada semua minuman yang ia berikan pada, Nyonya." mendengar itu Indah langsung meraih kaki Wisnu dan mendongak meminta ampunan.
"Tidak, aku sudah tidak lagi, ampuni saya, Pak, Tuan!" menatap Wisnu dan Farid bergantian.
"Urus dia! Jangan biarkan dia lolos begitu saja!" dengan pasti ia melangkah keluar dari bilik kamar itu, namun,
"Tuan, ampuni saya, saya hanya melakukan perintah, Nyonya besar dan setelah itu tidak lagi sudah tidak saya sudah berhenti dua minggu yang lalu." segera ia berbalik saat pelayan itu menyebutkan Nyonya besar yang berarti mamanya, jadi yang tadi bukan hanya bualan orang gila belaka?
"Jangan asal bicara atau hukumanmu lebih dari cambukan Wisnu!" ia menggeram menahan untuk tidak menendang pelayan yang kini menahan kakinya untuk bersimpuh.
Otak cerdasnya berpikir keras, memangnya apa yang bisa membuat Akira nya tidak hamil, tanpa kontrasepsi langsung. Mama dan Rayrin benar-benar di luar nalar manusia!
Btw, ya nulis yang beneran gud itu butuh waktu mikir dan hayal lho, jadi aku ga bisa up cepet cepet atau banyak langsung, bisanya sekali halu langsung ketik kaya gini sekaligus stengah jam aja selesai kalau emang udah mateng.
Sorry, buat yang kurang srek
Aku buat cerita sesuai alur yang aku susun sejak awal, agak gila emang kok bisa sih begitu, aku sampe search lo apa ada sesuatu yang bikin gak hamil? Ternyata ada walaupun emang gak aku baca secara jelas tapi secara garis besar ada, yaudah aku pake ide gila itu, mungkin di awal kalian bisa liat cerita ini cepet banget langsung sat set gak pake basa basi tapi di akhir ini emang aku pengen nyelow pengen nikmatin aja sih eh ternyata malah kalian jadi gak nikmat bacanya ya hehee
Yang kurang suka boleh komen
Yang suka boleh like dan komen
Yang gak suka jangan judge aku baperan soalnya wkwk.
yang suka banget sok di vote dan ➕ ke ❤
Terimakasih.
Oyaa. boleh jawab?
Kalian nyaman gak si bca cerita yang banyak percakapan nya langsung cap cep
Apa lebih nyaman yang istilahnya kebanyakan pendahuluan baru cakap-cakap?