
Akira tertegun dengan mata yang sibuk mencari kebenaran dalam diri Farid. Sedangkan pria itu semakin mengeratkan genggaman tangan kirinya pada Akira dengan tangan kanannya menyentuh bahu Akira dan kembali membisikan kata, "Aku cinta kamu, entah sejak kapan, tapi aku enggak suka liat kamu jauh dari aku apalagi melihat kamu dengan orang lain."
Lembut. Sangat lembut kalimat yang Farid lontarkan, Akira hampir saja luluh jika otaknya tidak segera sadar.
Ia segera menghempas genggaman Farid untuk yang kedua kalinya dan mundur agar tangan pria itu tidak berada di bahunya lagi.
"Farid, aku udah gak sebodoh itu." geramnya menahan genangan air mata yang akan jatuh hanya dengan satu kedipan mata saja.
"Sayang, aku mohon beri aku kesempatan sekali saja."
"Terlalu banyak kesempatan, tapi gak pernah kamu gunakan." sarkas Akira menatap tajam.
"Aku mohon sekali saja ya.."
"Big No!" tolak Akira, Farid kembali mendekat tapi langkahnya terhenti saat mendengar ketukan pintu juga seruan dari luar.
"Permisi, mbak Akira."
Ah, Akira hampir melupakan mereka, ibu-ibu yang mau berkunjung ke rumahnya. Dengan cepat ia melangkah menjauhi Farid dengan tatapan nyalang lalu menuju pintu yang terbuka akibat perbuatan tidak sopan Farid.
Nampak, Mak Atik, Bu RT, Bu Wira, dan ibu-ibu lainnya kira-kira jumlahnya ada tujuh orang.
"Loh, ibu-ibu sudah datang, mari masuk bu udah saya buatkan camilan loh." ucapnya dengan tangan yang mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Oalah mbak..kok ya repot-repot gitu." kata Bu RT dengan nada tidak enak.
"Ya gapapa to bu, kan menjamu tamu itu wajib, malah gak enak kalau ibu-ibu kemari tapi gak saya sajikan apapun."
"Bagus sekali mbak rumahnya, tapi kami yang sudah lanjut usia ini agak pegel naik undakan untuk sampai ke halaman rumah." kata Bu Wira si ratu gosip yang entah memuji atau mencibir.
"Ya kalau gak ada undakan naik ke rumah gimana bu.." kata Mak Atik dengan nada aneh.
Akira kembali ke dapur dan masih menemukan sosok Farid yang kini duduk di sebuah kursi yang memang ia sediakan untuk duduk sembari memotong sayur mayur.
"Far, kamu pulang aku ada tamu."
"Sayang, kamu usir aku?"
"Kalau iya kenapa?" tantang Akira dengan dagu yang terangkat.
Ia tersenyum puas, saat Farid melangkah keluar dari ruang dapur. Ia segera melangkah dengan senang menghampiri sekumpulan ibu-ibu yang di undangnya untuk saling berbincang bersamanya.
Namun, ia terkejut saat menghampiri kumpulan ibu-ibu yang tengah berbincang seru dengan suaminya.Ralat, mungkin calon mantan suaminya. Terserah apalah itu.
"Farid? Kenapa masih disini?" tanyanya dengan nampan di tangannya yang berisi toples camilan dan beberapa piring berisi potongan kue bolu pandan dan puding coklat.
"Oalah mbak kok nggak bilang kalau punya suami seganteng Mas Farid to mbak." celetuk Bu Wira takjub.
"Iya, Mak kira kamu itu single, ternyata suaminya ganteng dan keren." kata Mak Atik mengacungkan dua ibu jarinya.
"Pinter cari suami Neng Akira." kata Bu Nanik yang kini mulai membuka suaranya juga.
Akira hanya tersenyum masam menanggapi ia kesal melihat Farid yang tersenyum puas dan bangga.
"Menurut ibu-ibu saya pintar juga cari istri?" tanya Farid dengan senyum penuh arti melirik Akira yang kini sedang dongkol.
"Sip mas! Mbak Akira cantik,manis, juga ramah cocok sekali kalian." puji Bu RT yang membuat Farid tersenyum puas dan Akira semakin memcebik tak suka.
"Sini dong sayang, jangan berdiri aja, duduk sini sebelah aku." kata Farid sok manis, yang membuat ibu-ibu itu menatap takjub dirinya. Karena terlihat seperti suami yang sangat manis dan romantis. Huh, nggak tau aja tuh ibu-ibu betapa nyebelinnya Farid, pikirnya.
Dasar, Farid cari kesempatan ia tau kalau Akira tidak mungkin mengusirnya di hadapan ibu-ibu itu.