Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Akira's Decision



Setelah kepergian Farid, Akira menangis menyesali apa yang terjadi, ia bahkan lebih marah pada dirinya dari pada dengan Farid, seandainya saja ia tidak mengejar pria itu, seandainya saja dia memahami kondisi dan lebih berhati-hati, tidak perlu mencegah Farid, pasti saat ini semua akan baik-baik saja.


Akira menghapus sisa air matanya saat dokter dan suster datang untuk memeriksa.


"Bagaimana nyonya, apa yang anda rasakan?" tanya sang dokter wanita tersebut, sembari memeriksa Akira dengan peralatan kedokterannya.


"Aku merasa lebih baik dokter, kapan aku bisa pulang?"


"Ketika anda sudah benar-benar pulih, sekarang adalah masa pemulihan anda setelah sadar dari koma," jelas dokter dengan senyum ramah, "Dan makan yang teratur ya Nyonya, agar lebih cepat pulih, jangan terlalu banyak pikiran dulu." lanjutnya.


"Dok, saya mau tanya,"


"Ya nyonya tanyakan saja."


"Apa benar saya keguguran?" tanya Akira dengan tatapan penuh harap, ia masih berharap bahwa yang Farid katakan tadi hanyalah mimpi. Dokter dengan nametag bertuliskan Dr. Anna Amanda itu menghela napas perlahan dan tersenyum ramah pada Akira.


"Iya itu benar, maafkan saya mengatakan ini tapi kandungan anda tidak bisa di pertahankan lagi,"


"Tapi kenapa?" tanya Akira kecewa.


"Nyonya, melihat riwayat pemeriksaan anda, bukankah kandungan anda lemah, jadi benturan sedikit saja akan mempengaruhi si bayi, dan yang terjadi anda terjatuh dan mengalami pendarahan hebat," jelas dokter memberi pengertian pada Akira, yang terlihat masih muda dan seperti mengharapkan anak pertamanya membuat ia tak enak menjelaskan kenyataan.


"Tapi, waktu itu saya periksa disini juga dokter, dan kandungan saya udah kuat lagi, anak saya kuat!" protes Akira.


"Maaf, ini takdir Nyonya, kita tidak bisa memutuskan takdir dari yang di atas,"


Akira terdiam mendengar kata-kata sang dokter, " Saya permisi dulu, semoga anda cepat pulih.." ucap sang dokter dengan senyum ramah lalu meninggalkan Akira sendiri yang masih seakan tak terima dengan apa yang telah terjadi.


"Bahkan, dia belum lihat dunia ini, tapi... Kenapa secepat itu, aku ingin merasakan genggaman jemari kecilnya di tanganku, apa aku tidak boleh merasakannya? Aku ingin menggendongnya dan menidurkannya di pangkuanku, tapi.."


Akira terisak, dengan air mata yang terus mengalir deras.


"Walaupun kehadirannya tak pernah aku duga, tapi aku mengharapkan kelahirannya"


ucap Akira pada dirinya sendiri, sampai ia tertidur karena lelah menangis.


.


.


.


Besoknya, Farid mendatangi ruangan Akira ia kira istrinya itu sudah reda dari emosi dan rasa terkejutnya karena kehilangan calon anak mereka.


Tapi, ia salah, Akira tetap ketus dan bersikap sarkastik terhadap Farid.


"Akira, sayang jangan begini kita bisa memilikinya lagi kamu bisa mengandung lagi nanti, sudah ya marahnya.." bujuk Farid.


"Farid, kamu dengar gak kemarin? Aku mau cerai, cerai Far!" geram Akira menatap nyalang ke arah Farid.


"Ki, kamu masih emosi-"


"Enggak! Aku sudah pikirkan ini, kita memang tidak berjodoh, jodohmu ya wanita itu!" sinisnya.


"Akira! Jaga bicara kamu, aku tidak akan menceraikan kamu, ingat milik siapa kamu, jangan buat aku kehabisan kesabarkan!" bentak Farid yang mulai terpancing emosi.


"Kamu gak punya perasaan, Farid!" isak Akira.


"Ki, maaf aku terpancing emosi, aku mohon ini hanya masalah anak, kita bisa memilikinya lagi." ucapnya mendekati istrinya dan menyentuh surai rambut Akira.


Tapi, dengan kencang Akira menepis tangan itu.


"Hanya kamu bilang? Itu akan jadi masalah biasa kalau dia gugur bukan karena ayahnya sendiri, itu akan jadi biasa saja jika sebelum membunuhnya kamu tidak menuduh dia bukan anak kandung kamu." sarkas Akira, yang jelas langsung mengenai ulu hati Farid.


"Memang kamu mau jadi suami wanita murahan?"


Farid memejamkan matanya pelan, dan berbalik meninggalkan Akira, membelah jalanan kota dengan kecepatan penuh.


"Arrghhh... Kenapa bisa seburuk ini!" teriaknya mencengkram kemudi.


Farid pikir semua masalah yang terjadi tidak sebesar itu sampai membuat Akira minta berpisah, ia tidak meniduri Rayrin, tidak berselingkuh, atau menikah di belakangnya.


Hanya dengan ia tidak percaya dengan Akira sampai mengatai istri dan anaknya sendiri lalu membuat anaknya gugur, dan Akira minta berpisah.


Farid kira, istrinya akan memaafkannya, selama ini walaupun Akira marah dan mengucap kalimat mau pisah, besoknya ia baik-baik saja setelah dibujuk.


Apa separah itu sampai berakibat Akira tidak mau memaafkannya, kemana gadis ceria yang mudah dibujuk, kemana Akira yang pemaaf, kemana Akira yang selalu ikhlas menerima kenyataan, kemana Akira yang tangguh dan kuat? Apa wanita itu kini telah rapuh karna terlalu bosan menjadi tangguh?


Akira dengan kasar melepas infus yang tertancap di tangannya, ia sudah memutuskan hal ini, ia akan meninggalkan Farid, jika pria itu tidak mau melepaskannya maka ia harus kabur, dan sekarang waktu yang tepat, dengan tekad yang kuat ia kabur dari Farid, ia harus pergi.


Ia butuh waktu untuk merasakan hatinya dan memikirkan segalanya, apa mencintai Farid selama ini adalah kebenaran, atau kesalahan yang membuat hidupnya tidak jelas.


Pertama, ia ke Home's Food, menemui Viara,


"Via, bantu aku kabur dari Farid!" ucap Akira tiba-tiba tanpa basa-basi sama sekali, membuat sahabatnya itu terkejut.


"Ra, lo mau gue mati di tangan suami lo yang kejam itu?" sentak Viara tak percaya,


"Lagian lo masih pucet kaya gini, lo udah sembuh beneran emangnya?"


"Via, gue mohon.." lirih Akira yang mulai menangis.


"Ra, bukannya lo cinta mati sama Farid ya?"


"Via, sekeras-kerasnya batu kalau terus di tetesi air akan berlubang juga, pokoknya gue mau ninggalin dia kalau dia gak mau ceraiin gue!"


"Tapi kita mau kemana, kemana pun kita pergi Farid pasti bisa nemuin kita, dia berkuasa Ra, jangan lupain itu!"


"Tempatnya udah gue pikirin, yang penting sekarang bantu gue, tarik dana dari rekening pribadi gue sebanyak mungkin" titah Akira.


Viara mengangguk mengerti dan mulai menyiapkan kepergian mereka tanpa di sadari oleh Farid yang masih frustasi di buatnya.


Tetap like, komen dan vote ya readers


Terimakasih atas dukungannya😊🌻.