
Farid mendengar kabar meninggalnya sang ayah mertua langsung pulang ke Indonesia tanpa pikir panjang. Sedangkan, Sergio ia tinggalkan disana untuk mengurus segala hal yang ia tinggal pulang.
Dengan tergesa-gesa ia berjalan melalui halaman rumah yang sudah tidak terlalu ramai akibat ini adalah hari kedua dan waktu sudah cukup sore.
Ia berbincang sebentar dengan Mattheo di luar, ia juga mengucapkan permintaan maaf karena tidak menjenguk ayah mertuanya saat sakit.Kehadirannya tentu mengagetkan mereka yang di ruang tengah kecuali Ariana, karena perempuan manis itu yang telah menghubungi suami adik iparnya.
Ya, sahabat-sahabat Akira enggan kembali, karena keadaan Akira yang sulit di ajak bicara membuat mereka khawatir, bahkan Akira menolak makan dan hanya meminum susu yang di sodorkan oleh Ariana tadi pagi.
"Farid, akhirnya kamu datang juga." sambut Ariana dengan suara lega.
"Aku langsung terbang kesini saat mengetahui kabar ayah." katanya tenang.
"Syukurlah, Akira kayanya sedih banget dia gak mau makan dari pagi dan terus di kamar." katanya dengan harapan kedatangan Farid akan membuat Akira sedikit tenang.
Tanpa pikir panjang, Farid langsung menuju kamar wanitanya yang ia rindukan.
Saat pintu terbuka nampak wajah Akira yang sembab penuh jejak air mata yang mengering sedang bersandar di kepala ranjang dengan sprei merah mudanya.
Perlahan, Farid mendekat ke arah Akira dan duduk di pinggiran ranjang, tangannya terulur untuk mengusap pipi Akira yang kembali basah oleh air mata.
"Farid, semua gara-gara aku." katanya tanpa menatap wajah Farid dan hanya menatap kosong kedepan.
"Siapa bilang?" Farid mengernyit tak mengerti akan dugaan yang Akira katakan.
"Coba aja kalau aku gak kabur dari kamu, kamu gak akan kesini buat cari aku sampe ayah tau aku kabur, aku keguguran,aku koma, aku berantem sama kamu, itu buat ayah kaget." cerocosnya tanpa jeda.
"Aku juga salah, harusnya waktu koma aku kasih kabar ke keluarga kamu jadi ayah gak akan sekaget dan sekecewa itu." kata Farid yang membuat Akira mendongak ke arahnya.
"Iya kan, ini gara-gara kamu, bukan gara-gara aku." tuduhnya pada Farid.
Farid merasa Akira kini mengubah nada bicaranya dengan penuh amarah bukan kesedihan atau penyesalan.
"Ini gara-gara kamu kan, iya kan? Jawab!" teriaknya dengan memukul dada Farid bertubi-tubi, Farid dengan cekatan menahan lengan Akira dan membawanya dalam pelukannya. Alhasil, Akira terisak di dalam pelukan Farid, cukup lama mereka dalam posisi tersebut sampai Farid melepaskannya lebih dulu, ia ingat istrinya ini belum makan apapun.
"Sayang, udah kamu harus ikhlas, ayah pasti gak suka liat kamu begini, kamu makan ya sekarang." kata Farid memulai aksi membujuknya.
"Di saat seperti ini apa pantas aku makan?"
"Hushh, kok gitu ngomongnya, ayo makan dulu, aku bawain ya? Kamu mau makan apa aku cariin." tawarnya dengan harapan itu membuat Akira tergiur.
"Aku gak nafsu!" sahut Akira ketus.
"Ki, ayah udah bahagia, udah gak rasain sakit lagi disana, kalau kamu disini malah kaya gini, ayah pasti kecewa liatnya, makan ya biar gak sakit.."
Farid membujuk Akira dengan penuh kesabaran, ia seperti mendapat kesempatan emas pada saat seperti ini, Akira ternyata tidak seganas saat anaknya gugur.
Farid jelas harus memanfaatkan kesempatan yang ada.
Akira hanya menoleh menatap wajah Farid dengan tatapan penuh pertimbangan seperti berpikir apa dia akan menurut atau tidak.
"Aku janji, apapun yang kamu minta, aku belikan kamu boleh minta seblak, mie instant, atau apapun yang kamu mau yang penting makan ya..."
Napas lega terhembus dari hidung Farid saat anggukan pelan ia dapatkan dari kepala Akira. Ariana,Rey,Zia, Viara, dan Tina yang mengintip melalui celah pintu ikut bernapas lega tapi ada yang membuat mereka terkejut, yaitu kata-kata Akira tadi yang bilang ayah meninggal karenanya, apakah Akira mendengar percakapan mereka? Pikir mereka bersamaan.
"Bener boleh makan apa aja?"
"Iya sayang.."
"Aku mau nasi rendang sama perkedel terus seblak, martabak telur, es krim coklat, sama lemon tea." katanya yang membuat Farid terbelalak kaget.
Tadi bilangnya gak nafsu, kenapa sekarang minta makannya seperti orang kesetanan? Biarlah yang penting Akira mau makan, pikirnya.
"Boleh kok sayang, sebentar aku keluar beli itu semua ya." katanya tersenyum lembut dan pergi mencari keinginan Akira.
Akira melahap semua makanannya di dalam kamarnya seperti orang tidak makan satu minggu saja. Sedangkan, Farid hanya memperhatikan Akira yang duduk bersila di atas lantai sambil makan.
Sebenarnya ia kelaparan cuma rasa sedihnya membuat ia tidak nafsu. Tapi, namanya lapar ya lapar, ia juga sempat berpikir dengan makan bisa mengalihkan perasaan sedihnya.
Dan benar saja ia bisa berhenti menangis ketika makan cuma sesekali air matanya menetes kalau mengingat kesalahannya yang membuat sang ayah sakit dan meninggal.
"Farid, kurang.." rengeknya.
Farid melongo takjub mendengar rengekan yang keluar dari mulut Akira.
"Ki, kamu yakin kamu gak hamil lagi?"
"Apaan sih, hamil gimana maksud kamu?!"
"Abisnya kamu---"
"Yaudah kalau gak boleh!"
"Bukannya gak boleh, yaudah mau apa lagi?" Farid mengalah, mungkin Akira benar kelaparan karna seharian tidak makan.
"Seblaknya lagi kali ini yang super pedes, terus aku mau bakso yang gede isi telor ya?"
pintanya sambil berkacak pinggang masih dengan posisi duduk di atas lantai.
"Oke, kali ini aku suruh anak buah aku aja ya."
Biarlah Akira makan apapun, asalkan melupakan kesedihannya dan yang pasti kemarahan wanita itu terhadapnya.
Akira tertidur setelah makan, wanita itu pasti kekenyangan luar biasa. Farid turun ke bawah mencari air minum ia berpapasan dengan Mattheo dan berakhir mengobrol bersama. Hanya berdua di teras belakang, menikmati hembusan angin malam yang menyapu permukaan kulit.
"Bagaimana keadaan adikku?" tanyanya lalu menyeruput kopi yang telah di siapkan Ariana sebelumnya.
"Sudah lebih baik mas, dia makan banyak tadi."
"Aku tau kamu laki-laki hebat yang berkuasa, tapi aku kurang suka dengan tindakanmu yang seenaknya tidak memberi tau kabar sakitnya adikku." ucapnya dengan suara tegas dan berwibawa.
Mattheo,memang di kenal sebagai sosok yang tegas juga berwibawa.
"Maaf mas, kalau soal itu saya terlalu sedih saat itu melihat Akira koma, sampai saya lupa memberi kabar."
"Lalu gimana dengan perceraian kalian?"
pertanyaan Mattheo terasa mengagetkan bagi Farid.
"Mas, saya gak akan kabulkan gugatan cerai Akira, mas tau dari mana kalau kami mau cerai?"
"Sepupu kamu." jawabnya singkat lalu menoleh ke arah Farid dan melanjutkan bicaranya, "Aku sedikit banyak tau tentang hubungan kalian dari Zia." katanya yang membuat Farid agak terkejut.
"Mas, saya ngaku banyak salah dengan Akira, tapi saya mohon beri saya kesempatan, tetap restui hubungan kami." sahutnya gelagapan.
"Sebagai seorang kakak saya kecewa sama kamu, tapi kalau Akira masih mau sama kamu, saya akan restui, tergantung keputusan Akira, maunya saya sih kalian berpisah." sahut Mattheo enteng seolah perpisahan adiknya adalah sesuatu yang biasa saja dan harus di lakukan.
"Membela wanita lain daripada membela istrinya sendiri itu bukan tindakan yang bisa di benarkan, apa aku salah?" tanyanya dengan tenang tapi terdengar tegas dan sarkastik dalam waktu yang sama.
Farid merasa tersindir saat itu juga. Entah, berapa banyak Zia sudah mengadu pada Mattheo.
Buseett, Akira pas sedih lambungnya jadi ada tiga asal kalian tau wkwk