
"Ra, yakin ini yang terbaik untuk kalian? Gue rasa masalah kalian masih bisa di selesaikan baik-baik, gak perlu membesar sampai kabur ke sini segala." cecar Viara yang sejak tadi mengoceh.
"Vi, ini akan bisa di selesaikan baik-baik, seandainya dia cinta sama gue, seandainya dia percaya sama gue, seandainya dia gak menghina anaknya sendiri dan membuatnya gugur, gue diem saat dia hina, tapi pas tau anak gue keguguran, gue gak bisa terima, semua masalah karena dia seakan nusuk jantung gue!" ucapnya dengan mata yang masih memandang lautan lepas dari atas balkon kamarnya.
Ya sekarang, Akira juga Viara berada di rumah rahasia yang diam-diam Akira bangun, walau dengan hasil jerih payahnya tapi ia takut kakanya mengoceh karena ia suka menghamburkan uang, jadi dia diam-diam membangun, rumah berlantai dua berdinding kaca, berada di atas tebing di pinggir lautan yang tidak di buka untuk wisata dan berada di wilayah yang cukup jauh dari perkotaan.
Bahkan sinyal disini buruk, harus menggunakan sim card dengan isi ulang kuota internet cukup mahal untuk dapat mengakses sinyal.
Yang di buat oleh perusahaan sebesar milik Farid yang koneksinya hampir ada di seluruh penjuru negara ini.
Sim card dengan harga isi ulang kuota 1GB dua puluh ribu gak akan dapat sinyal di daerah jauh dari kota seperti ini.
Tidak terlalu besar bangunan rumah itu, karenanya juga ia sudah menghabiskan banyak uang.
Alasan cabangnya hanya sedikit, bukan karena ia suka gosip seperti apa kata Farid.
Tapi, karena ia mencuri untung dari usahanya sendiri untuk rumah impiannya.
Teringat, Farid membuat dadanya terasa ngilu, baru kemarin dan sekarang ia sudah rindu pada pria itu.
"Saran gue lo balik ke Farid aja deh."
Akira menengok ke samping menatap Viara tajam.
"Waktu itu lo suruh gue ninggalin dia, sekarang kenapa kebalik?" sarkas Akira.
"Masalahnya, ini gak cukup besar untuk jadi alasan lo pisah sama dia."
"Cukup Vi, cukup! Dia bunuh anak gue!" sergah Akira dengan nada tinggi.
"Tapi lo masih ngarep sama dia, kalau enggak ngapain lo tinggalin surat buat dia?!" balas Viara tak kalah sengit.
Akira diam.
"Nggak bisa jawab kan lo, jangan munafik Ra, lo masih ngarep sama dia dan lo gak bisa tutupi hal itu dari gue! Yakin lo bakal bahagia dengan cerai sama Farid, yakin lo gak akan nyesel?" tanya Viara penuh penekanan.
Akira menggeleng lemah,
"Udah lah, gue juga udah suruh Zia urus surat cerai, gak usah di bahas, gue kesini buat nenangin diri, bukan untuk buat hati gue makin abu-abu." sahut Akira, lalu meninggalkan Viara yang menatap kepergian Akira dengan tatapan iba sekaligus tatapan yang menyiratkan bahwa ia tak habis pikir dengan keputusan Akira.
Farid terbangun dengan kepalanya yang terasa berat karena menangis semalaman.
Ia tersenyum kecut mengingat bahwa untuk pertama kalinya ia menangis semalaman karena seorang wanita.
Dengan celana bahan warna hitam juga kemeja hitam, ia telah siap mencari keberadaan istrinya lagi.
Ia harus menemui sepupunya lagi, Zia pasti tau, karena di surat itu tertulis Akira menitipkan surat cerainya pada Zia.
"Mau apa lagi sih, Akira gak di rumah gue." ketus Zia yang masih kesal karena mendadak Farid menyeretnya keluar dari ruang kerjanya.
"Akira nitip surat cerai?" tanyanya dengan nada penasaran.
"Iya, tapi masih belum jadi itu surat cerai baru kemarin dia nyuruh gue, ngapa sih udah gak sabar mau cerai, sialan emang lo!" sarkasnya menatap Farid dengan tak suka.
"Nggak usah drama, langsung aja. Dimana Akira?" tanya Farid lugas.
"Gue nggak tau!" singkat Zia tak kalah lugas.
"Lo tanya apa ngeyel sih!" ucapnya kesal dengan raut wajah galaknya yang mulai terlihat.
"Please, bantu gue kasih tau dimana Akira."
"Meskipun gue tau, gue gak bakalan kasih tau, lebih baik gue diem, daripada serahin sahabat gue ke kandang setan!" ketus Zia lalu dengan kasar ia beranjak dari kursi kafe yang ia duduki dan meninggalkan Farid yang nampak putus asa.
Ia merogoh saku celananya dan menghubungi Gio,
"Bagaimana?"
"..."
"Cari dengan cara apapun! Jangan permalukan statusku sebagai pimpinan perusahaan teknologi cari jejaknya secepat mungkin."
"..."
"Jika bukan Akira, maka Viara, lacak ponsel gadis itu!" tukasnya dengan seringai puas.
Jika bukan dari ponsel Akira, maka dari ponsel gadis yang bernama Viara, yang ia yakini ikut pergi dengan Akira.
***
Akira duduk di ayunan kayu yang ada di halaman belakang rumahnya.
Menatap laut lepas yang indah, biru lautan berpadu dengan birunya langit juga suara deburan ombak yang menenangkan jiwa.
Lagi apa kamu, Far. Apa mungkin kamu mencari aku?
Maaf, aku harus lupain kamu yang mungkin sulit untuk terlupakan.
Aku juga mau tau setelah ini kamu cari aku, atau lanjut dengan Rayrin.
gumamnya dalam hati dengan senyum tipis menghiasi wajah manisnya.
Aku cinta kamu, bahkan luas dan dalamnya lautan ini, gak sebanding dengan perasaan aku ke kamu.
Semoga, kamu bisa memikirkan betapa gak enaknya posisi aku selama ini.
Aku kecewa sama kamu, sangat.
Tapi, aku masih cinta kamu...
Bagi aku, kamu tak terlupakan.
Tak terasa air mata Akira luruh membasahi pipinya.
Crazy up nih semoga kalian sukaa 😆Hayoo mana vote,like dan komennya
Jangan sampe ketinggalan yaa...
Oh iya baca karya author yang lain juga dong
Unexpected Love dan This Relationship
Thanks a lot, readers