Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
lima puluh enam



Farid tetaplah Farid, jiwa otoriter nya masih belum habis terkikis oleh cinta. Sekarang, Farid benar-benar membuktikan ucapannya.


Akira benar-benar harus di rumah sampai melahirkan. Ini menyebalkan!


Sudah satu minggu ini Akira hanya di rumah berbincang dengan mama dan Farell atau melakukan kegiatan lainnya seperti memasak dan menanam bunga bersama mama.


Tentu juga saling berbagi masalah seperti sekarang ini, mama meminta pendapat tentang masalahnya dan papa.


"Kalau mama masih ingin pernikahan kalian bertahan, maka mama harus lapang dada dan memaafkan papa, papa juga tidak sepenuhnya salah, itu karena tante Akira." ujarnya seraya menunduk, ia cukup malu dengan kelakuan tantenya di masa lalu.


"Yang mama pikirkan itu Fiora. Bagaimana kalau kakak ipar kamu itu tahu semua nya, dia putri kesayanganku tapi ternyata dia bukan putriku." setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


"Meski begitu mama akan tetap sayang kakak kan, Ma?" terka Akira.


"Bagaimana mama bisa tidak sayang? Fiora tidak tau apa-apa kan?" Akira mengangguk menanggapi curhatan mamanya.


"Ya sudah, maafkan mama ya selalu buat kamu tertekan, bahkan saat kamu lagi hamil besar begini, mama malah memberi beban masalah mama ke kamu." sesalnya seraya mengusap kasar pipinya yang banjir air mata yang tak lepas dari perhatian Farell yang mengintip mereka dari jendela kamarnya yang memang menghadap ke taman belakang tempat mama dan Akira bercerita.


Tangannya mengepal tanda bahwa ia di selimuti emosi, "Dulu mama, sekarang papa, dua-duanya saling menyakiti." gumamnya menatap lurus ke depan.


***


Waktu sudah masuk waktu malam dan suaminya belum pulang padahal ia sangat ingin makan es krim di samping Farid.


"Makan es krim duluan saja, Akira. Suami kamu sepertinya pulang larut malam." saran mama seraya meletakan teleponnya, karena sudah beberapa kali ia menghubungi putranya namun tidak di jawab.


"Yah.. mama Akira maunya di samping Farid, terus es krim nya beli di mekdi, aku udah gak mau yang di kulkas." sungut nya, yang kini sudah berani manja dengan mertuanya, bahkan sekarang ia menyadarkan kepalanya di bahu sang mama mertua.


"Cih, manja!" sewot Farell yang baru saja keluar dari kamarnya dan ikut duduk di sofa ruang tengah, menyambar remote dan mengganti channel televisi.


"Bodo amat!" sewot Akira tak mau kalah.


"Rel, kok di ganti, mama lagi seru nih nontonnya." protes mama tak suka.


"Astaga mama, nggak jaman kali nonton sinetron lagi."


"Kamu itu yang gak pantas nonton kartun lagi." seru mama kesal saat televisinya berganti menanyangkan upin-ipin bahkan SpongeBob.


Tanpa mereka sadari Farid dan Fiora tersenyum manis memperhatikan kedekatan ketiganya.


Farid melangkah perlahan lalu tanpa Akira ketahui tangan kekarnya memeluk lehernya dari belakang.


"Astaga! Mas, kaget." rengeknya manja.


"Lebay lo kak!" seru Farell namun masih fokus pada tayangannya. Akira cemberut dan semakin merengek manja pada suaminya.


"Mas adik kamu." lantas Farell mendapatkan tatapan tajam dari kakak lelakinya.


"Farell gak sopan!" teriak mama namun bocah remaja itu pura-pura tuli sepertinya.


"Mama!" panggil Fiora lirih karena sekarang bibirnya bergetar saat memanggilnya mama.


Rita menoleh ke belakang karena ia masih belum menyadari kehadiran putrinya.


"Fio, kamu kesini? Lho, kenapa nangis? Ada yang jahat sama kamu, sayang?" namun bukannya menjawab Fiora justru memeluk erat Rita yang masih duduk di sofa.


Membuat semua perhatian ke arahnya dan mamanya.


"Fio udah tau ma, mama gak benci Fio kan?" tanyanya terbata, karena menangis sesenggukan. Mama terdiam sejenak, bingung harus mengatakan apa pada anaknya.


"Sayang... " dan hanya gumaman beserta sentuhan lembut yang bisa wanita tua itu berikan pada gadis yang selama ini ia tau adalah putrinya.


Farid dan Akira saling menatap haru, Farell hanya bisa menunduk tak mampu memandang kenyataan bahwa Fiora bukan kakak kandungnya.


Bayangan saat ia meledek Fiora bukan anak mama karena Fiora sama sekali tidak mirip mama, begitu saja membayangi otaknya.


Ternyata benar, Fiora bukan anak mamanya.


Rita menangkup wajah anak gadisnya, ia paham pasti Farid sudah ceritakan semuanya, memang lebih baik begini daripada berlama-lama di sembunyikan.


Dengan penuh kasih, Rita mengelus lembut rambut Fiora yang berantakan.


"Sayang, jangan begitu sayang. Fio tetap putri kecil mama sama papa, jangan benci sama papa ya sayang. Karena beliau kamu ada dan bisa sama mama, ya sayang ya?" namun Fiora masih menggeleng tak terima.


"Fio anak mama, cuma anak mama, Fio bukan anaknya mereka! Mama sayang sama aku kan?" harap nya menatap Rita dengan penuh harapan.


"Iya mama sayang sama kamu, putri mama tersayang. Tapi sayang, papa itu papa kamu dan ibu Marisa itu ibu yang melahirkan kamu." jelas Rita lembut berharap agar putrinya mengerti.


"Tapi, mama... "


pandangan mama beralih pada semua anaknya, "Dengar ya, untuk kalian semuanya anak mama, mama minta maaf pernah berbuat jahat pada menantu mama, kalian mau maafkan mama?"


"Ma, kenapa di bahas lagi, kami semua sudah maafkan mama, iya kan mas?" sahut Akira di susul anggukan suaminya, Farell dan Fiora.


"Jadi nanti, kalau papa minta maaf, di maafkan ya? Papa tetap papa kalian beliau yang menjaga kalian sejak kecil, kalau mama bisa memaafkan papa setelah apa yang dirinya perbuat bertahun-tahun, kenapa kalian tidak?"


"Enggak, mama. Yang papa lakukan itu sangat tidak menghargai mama sebagai istrinya."


tukas Farid tegas.


"Farid, setiap orang bisa melakukan kesalahan, jadi maafkan papa kamu ya, agar kita semua bisa bahagia sama-sama, ya?"


"Tapi ma, aku.. "


"Fiora.. agar kita bisa bahagia semuanya lupakan masalah itu ya? Fiora tetap anak mama." seraya menggenggam jemari putrinya erat.


"Terserah mama, lah!" decak Farell tak suka berlalu pergi menuju kamarnya.


***


Ini sudah malam, waktu menunjukkan pukul sepuluh dan Akira masih setia membuka matanya sembari memainkan jari jemarinya di dada sang suami.


"Kamu bisa berhenti tidak? Atau aku akan ... " Farid menggeram tertahan saat merasakan sentuhan lembut tangan Akira di dadanya.


Ia harus tahan karena ia tahu, maksud Akira ini merayu nya agar memaafkan Rayrin dan memperbolehkannya main dengan Rayrin.


"Mas, kamu tadi dengar gak apa kata mama! Kalau setiap orang--"


"Nggak!" ketus Farid dengan wajah merah padam menahan gejolak yang timbul akibat bibir nakal istrinya yang sudah naik ke lehernya.


"Berhenti sayang, kamu menguji aku ya?" desis Farid seduktif mengungkung Akira dengan tubuhnya.


"Aah enggak! Mas, aku mau es krim mekdi!" teriak Akira sebelum Farid menyerangnya.


Farid tersenyum kecut, tadi menggoda giliran baru mau di serang langsung ciut, istrinya ini, benar-benar.


"Aku sudah belikan banyak es krim, apa habis?"


Akira menggeleng.


"Aku pengennya es krim yang belinya di mekdi ah sama kentang goreng pasti enak." Akira menyapu bibirnya dengan lidah membayangkan betapa nikmatnya kentang goreng dan es krim mekdi.


"Kenapa kamu ngidamnya terus-terusan sih?" ujar Farid dengan nada menyindir sebab istrinya ini sudah mau melahirkan masih saja mau yang macam-macam.


"Mas kamu kok gitu sih!"


"Ini maunya kamu atau anak kita?"


"Dua-duanya!" sewot Akira yang sudah kesal.


"Iya-iya, Nyonya. Asal jangan makan nasi padang di kota Padang aja deh." gurau Farid yang mendapat cubitan maut dari Akira.


Menuju akhir yang benar-benar akhir. wkwkwk.