
Jujur ya aku terperangkap dalam kisah Rayrin dan Kris!
Bulan berganti bulan, kandungan Akira memasuki usia ke tujuh bulan ini, menjadi kesenangan tersendiri untuknya, terlebih ada sosok tante Marisa yang ternyata sangat mirip dengan ibunya, Marina.
Kedatangan, Marisa setelah puluhan tahun adalah atas permintaan Mattheo, untuk mengetahui masa lalu yang sebenarnya, namun secara diam-diam, keluarga Farid tidak ada yang tau kecuali Farid sendiri.
Yang terpenting, Akira tau, Farid tau, dan Mattheo mendapatkan penjelasan.
Intinya, Mattheo bukan anak Marina dan Roy.
Awalnya, Akira berpikir ibunya belum meninggal karena melihat wajah Marisa yang hampir serupa andai saja ia tak ingat bahwa warna bola mata Marisa cokelat gelap, berbeda dengan Marina yang berwarna cokelat terang seperti warna matanya.
Perbedaan antara Marina dan Marisa hanya ada pada warna mata dan letak lesung pipi saja. Marisa menurutnya lebih manis di banding ibunya, meski hanya ada sebelah lesung pipi saja.
"Tante, bagaimana rasanya tinggal di negeri orang dalam waktu lama dan sendirian?"
saat ini Akira sedang bersantai dengan Marisa di halaman belakang rumah Mattheo yang di hiasi banyak tanaman anggrek dan terdapat pula kolam ikan kecil yang Leo minta buatkan.
Tangannya mengelus lembut perutnya yang membuncit sambil menatap tantenya menunggu jawaban, "Tenang."
"Nggak rindu keluarga?"
"Rindu itu pasti, tante pernah pulang waktu kakek kamu meninggal, saat itu kamu masih dalam kandungan ibumu." jawab wanita itu dengan lembut, di mata Akira, Marisa ini sangat lembut dan baik hati, tutur katanya juga sangat lembut, ia tidak pernah berteriak selama berada disini.
"Ibu cuma pernah bilang, Akira punya tante, tapi tante jauh, ibu juga gak pernah kasih tunjuk foto tante. Kenapa?" Marisa menghela napas, saat mendengar penuturan keponakannya, "Tidak semua pertanyaan ada jawabannya." begitu tanggapan Marisa.
Padahal masih banyak pertanyaan dalam benak Akira, tentang tantenya yang seakan menutup diri dari dunia. Tentang, alasan Marisa yang tidak menikah hingga detik ini, tentang kenapa wanita itu menyembunyikan hadirnya dari sekitar. Ia ingat betul, kakaknya bilang padanya untuk tidak memberi tahu siapapun kecuali Farid tentang Marisa, karena Marisa mau kembali kesini hanya dengan satu syarat, kehadirannya harus menjadi rahasia.
"Emmm.. tante kandungan aku udah masuk bulan ke tujuh, aku mau belanja keperluan baby, tante temani yuk!" ajaknya mengusir kecanggungan yang tadi sempat menerpa.
***
Dan disini mereka, baby shop.
Mata Akira berbinar menatap sepasang kaus kaki bayi berwarna kuning.
"Manisnya... " gumamnya takjub dan tanpa ragu memasukannya dalam keranjang belanjaan.
"Jangan kalap, beli seperlunya." peringat Marisa dengan pakaian tertutupnya, bahkan wanita tua yang tetap terlihat cantik ini memakai masker yang melengkapi dress denim sepanjang lututnya dengan rambut yang sengaja di gerai seakan untuk menutupi wajahnya.
"Lucu - lucu tante! Andai aja ibu masih ada, pasti asyik belanja sama ibu dan tante." ujarnya berandai-andai yang di tanggapi senyum getir dari Marisa.
"Ah coba kesana sayang! Lihat sepertinya selimut bayi itu sangat manis." tunjuk Marisa ke arah dimana selimut bayi itu berada, dari kejauhan saja Marisa sudah bisa menebak motif lucunya.
"Bayi kamu cewek atau cowok?" tanya Marisa sambil memilah warna antara biru dan merah muda.
"Nggak tau tante, aku sama Farid sengaja gak cari tau, biar kejutan, hehe.. yang penting waktu cek kandungan, dokter bilang adik bayinya sehat." celoteh Akira.
"Ya sudah, tante ambil keduanya saja, tante belikan ini khusus untuk cucu tante." ujar Marisa bersemangat.
"Ibu mertua kamu masih cuek? Tidak tahu diri sekali." sinis Marisa.
Bagaimana, Marisa tidak kesal, semua sudah jelas bahwa keponakannya tidak ada yang jadi anak selingkuhan, bahkan Akira tidak mempermasalahkan tentang kejahatan gilanya, tapi masih saja begitu.
"Ya gitu deh, tapi mama baik kok, kadang ke rumah bagiin tips kehamilan, setidaknya mama sudah mau menerima bayi kami." jelasnya sembari memilah motif baju bayi.
Tangannya berhenti memilah kala ia melihat wanita yang tak asing, wanita yang lama menghilang entah bagaimana, tapi jelas karena wanita itu bersalah pada dirinya.
"Rayrin!" panggilnya pada wanita itu yang langsung terkejut dari kegiatan pilih memilih baju bayinya juga.
"Rayrin tunggu!" dengan susah payah ia mencekal pergelangan tangan wanita itu yang hampir kabur.
"Lepas!" berontak Rayrin.
"Kamu, hamil?" tanyanya sembari melirik ke arah perut Rayrin.
"Bukan urusan kamu!" dengan kasar ia menepis tangan Akira dengan tangan sebelahnya yang tidak Akira cengkram. Akira sedikit terdorong karena nya, Marisa dengan sigap langsung
"Rayrin, tunggu! kamu hamil anak siapa, kamu sudah menikah?"
"Bukan urusan kamu, Akira!" tekan Rayrin lalu beringsut pergi. Meninggalkan sejuta pertanyaan dalam benak Akira, sebelum perempuan itu pergi jauh Akira langsung mengejarnya.
"Rayrin, kasih tau aku!" tanyanya saat berhasil mengejar dan menghadang Rayrin, dua wanita hamil besar yang sama-sama tak mampu berlari cepat itu kini berhadapan.
"Kamu itu terlalu kepo!"
Akira merasa lucu mendengar jawaban Rayrin.
Benar juga, kenapa dia jadi kepo begini.
Tapi pertanyaan, seperti, siapa ayah anak itu, dengan siapa Rayrin hamil, menikah dengan siapa Rayrin, tak bisa di biarkan tanpa jawaban.
"Kamu cegat aku untuk apa? Mau laporkan aku? Tunggu, setelah anak ini lahir, bisa?" nada bicara Rayrin sangat tenang, tidak ada kemarahan berapi-api seperti dulu atau kepanikan seperti tadi.
"Nggak, aku cuma mau tau itu kamu hamil sama siapa?"
"yang pasti bukan dengan suami kamu!" Rayrin terkekeh geli. Akira memberengut merasa di ledek dan Marisa hanya menelan kebingungan dalam jarak dua meter dari keduanya.
"Minggir! Kalau mau mengadu pada suamimu, nanti bisa? Setelah anak ini lahir." ucapnya seraya mendorong pelan bahu Akira.
"Aku takkan menghilang, aku janji, tapi beri aku waktu untuk melahirkannya." ucapnya dengan tatapan meminta. Akira hanya bisa mengerjap antara bingung dan kasihan.
"Walaupun secara tidak langsung kamulah penyebab anak pertama kami lenyap, tapi... " Akira menggantung kalimat nya yang sukses membuat Rayrin yang tadinya meninggalkan dirinya berhenti dan berbalik.
"Demi anakmu, mungkin ini bisa di bicarakan baik-baik." Rayrin hanya tersenyum kecut dan benar-benar pergi dari sana.
***
Tokyo, Jepang.
Kris tanpa Rayrin, tidak mungkin dan selalu tidak akan pernah mungkin!
Hanya akan ada sepi, ya, secinta itu dirinya pada wanita pujaannya itu. Tidak di pungkiri, ia kecewa, rasa cinta yang ia beri di balas tipuan.
Pergi ke Jepang, berniat melupakan Rayrin, namun rasa yang ia simpan bertahun-tahun tak akan pudar semudah itu.
"Apa kabar gadisku yang galak?" ia terkekeh pelan menatap foto di layar ponselnya, otaknya mengingat bagaimana ia sering mendapat penolakan saat mendekati Rayrin dulu.
"Kak! Kenapa kakak selalu ikutin aku?!" sentak seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang saat itu tengah meniti karir di Milan dan bersekolah pula disana, di universitas yang sama dengannya. Seorang model pemula yang diam-diam mengambil pendidikan keperawatan.
Ia ingat, selalu saja Rayrin dengan jutek menolak kehadirannya yang bagai penguntit.
Sampai akhirnya mereka menjadi teman.
Ia tahu, kenapa gadis itu sekolah diam-diam, karena orang tuanya tak suka ia menjadi perawat, sedangkan Rayrin punya cita-cita tersebut. Rayrin adalah gadis dengan banyak impian, menjadi perawat adalah salah satunya, mendesain busana adalah kegemarannya, menjadi perhatian banyak orang dengan berjalan di atas catwalk adalah kebanggaannya.
Pernah, Kris bertanya, apa yang akan gadis itu lakukan dengan banyak cita-cita begitu?
Jawaban Rayrin adalah 'tidak ada'. Karena ia akan berakhir pada pilihan orang tuanya. Saat itu juga rasa ingin membahagiakan Rayrin menjadi begitu besar.
Ia ingat betapa marahnya Rayrin saat itu, ia menemukan apartemen gadis itu hancur karena ulahnya yang megamuk habis-habisan karena orang tuanya tau tentang dia yang diam-diam sekolah keperawatan.
Ia mengamuk karena lagi-lagi orang tuanya melarang keras.
Tak pernah, Kris melihat sisi rapuh Rayrin.
Selalu ada Rayrin yang galak, jutek, pemarah.
Hingga mendadak sosok manja itu hadir dan membuatnya terlena, seakan Kris telah memiliki seluruh hidup Rayrin, apalagi dengan Rayrin yang rela menyerahkan hal berharga miliknya.
Ada rasa sesal, namun ia tak ingin menyesal.
Ada rasa ingin kembali, namun rasa kecewa datang menghadang.