Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Disappointment



Rayrin dengan tidak sopannya menerobos masuk ke dalam ruang rawat Akira, pandangan matanya memanas melihat pemandangan yang memperlihatkan kerinduan Farid pada Akira yang tak kunjung sadar.


"Apa yang kau lakukan disini?!" pekik Farid tak suka.


"Far, tolong aku, aku kehilangan pekerjaanku aku mohon bantu aku." rengeknya tak tahu malu.


"Tck, ternyata Gio bisa di andalkan, baguslah kau pantas mendapatkannya."


"Far, jangan bilang semua ini ulahmu?" tanya Rayrin dengan ekspresi tak percaya.


"Kalau iya kenapa? Dasar wanita licik, jika bukan karena kelicikanmu itu semua tidak akan terjadi!" geramnya menatap nyalang Rayrin.


"Far, kamu bicara apa, lagian kamu juga cinta aku kan, makannya kamu selalu percaya aku, Far, sadar gak sadar kenyataannya kamu selalu membela aku dibanding membela istri kamu sendiri, sekarang kamu bisa sama aku lagi dan tinggalin dia, karena apa? Akira udah gak punya anaknya lagi untuk mengikat kamu." cerocos Rayrin dengan percaya diri.


Farid menatap Rayrin tajam, ia tak suka dengan kalimat yang dilontarkan wanita di hadapannya ini, ia tak suka mendengar kenyataan jika dengan bodohnya ia membela besi tua dan mengabaikan sebuah berlian.


"Sialan kau Rayrin, tutup mulutmu dan pergi dari hadapanku atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih buruk!" ancamnya.


"Far, kamu..." Rayrin menatap Farid tak percaya, kemana Farid yang bisa ia manfaatkan dulu? Kemana Farid yang lemah ketika berhadapan dengannya?


"Pergi sekarang juga!" titahnya menahan amarah, ia sadar saat ini dimana, Farid tak mau mengganggu istrinya yang terbaring tak berdaya.


"Beraninya kau bermain-main denganku, Rayrin!"


.


.


.


.


Sepuluh hari terlewati dan akhirnya Akira menunjukan tanda dirinya akan sadar.


Dan tepat di hari ke sebelas Akira benar-benar sadar dari komanya.


"Syukurlah, Akira akhirnya kamu sadar juga sayang." ucap Farid bahagia tepat saat wanita itu membuka matanya.


Hal yang sangat membahagiakan tapi juga menakutkan bagi Farid, bagaimana jika wanita itu bertanya tentang kandungannya apa yang akan ia katakan pada istrinya.


Dan benar, Akira langsung bertanya bagaimana keadaan bayinya, ia terheran karena merasakan perutnya yang tidak sebuncit dulu.


"Mas, gimana kandungan aku?" tanya Akira dengan suara lemah.


"Jangan banyak bicara dulu, kata dokter." ucap Farid mengalihkan pembicaraan.


Sehari, dua hari Farid masih bisa mengalihkan pertanyaan Akira tapi tidak untuk hari ini.


Akira meraung-raung karna ia tidak mendapatkan jawaban atas keanehan yang ia rasakan, perutnya yang sedikit membuncit tidak terasa lagi.


"Akira, kamu baru bangun dari koma, jangan memaksakan diri." jelas Farid.


"Siapa yang maksain diri? Aku cuma nanya keadaan babynya, soalnya kemaren aku jatuh dari tangga dan rasanya sakit banget, aku takut babynya kenapa-kenapa, tapi kamu gak mau jawab satu hal itu aja?!" pekiknya kesal dengan tangisan membuatnya terdengar sedang meraung.


Farid memejamkan matanya sejenak dan menghela napas pelan.


"Mas, ngomong dong jangan-jangan babynya... mas kasih tau aku!" paksanya.


"Maafkan aku sayang, kamu keguguran, maafkan aku.." lirih Farid, dan itu sukses membuat Akira terdiam cukup lama.


Tapi, setelah apa yang ia dengar rasanya ia ingin menjauh dari pria itu, untuk pertama kalinya selama ia mengenal Farid, ia ingin pria itu jauh dari pandangannya juga dari sisinya.


Ia kecewa, sangat kecewa, pahit sangat terasa, jika bukan karena Farid anaknya tidak akan gugur.


"Ki, aku minta maaf.." ucap Farid menyentuh tangan Akira, namun dengan kuat wanita itu menepisnya.


"Pergi." satu kata yang di ucapkan Akira dan sukses membuat Farid berdebar ketakutan.


"Ki, kamu, apa yang kamu-"


"Pergi dari sini, pergi dari hadapanku, juga kehidupanku." ucap Akira datar tanpa menatap Farid.


"Ki, aku gak akan meninggalkan kamu sendiri, itu-"


"Itu yang seharusnya kamu lakukan sejak dulu, tinggalkan aku dan pergilah dengan wanita mu!" sarkas Akira.


"Ki, kamu bicara apa sih?"


"Puas kamu, sudah membuatnya terbunuh?"


"Ki, aku juga sedih dia juga anak aku"


"Anak kamu?! Dia anak aku, hanya anak aku sejak kamu meragukannya, sejak kamu mengatakan dia anak lelaki lain." pekiknya.


"Ki, tahan emosi kamu, waktu itu aku-"


"Waktu itu kamu juga gak bisa tahan emosi kamu, gak mau dengar penjelasan aku dan malah mengatai aku,menolak aku sampai buat aku kehilangan anak aku, kamu jahat! Aku kecewa sama kamu!" raung Akira menangis sejadi-jadinya.


"Mas, aku kurang apa? Aku selalu percaya sama kamu, aku selalu mencintai kamu setulus hati aku, aku selalu menahan rasa sakit aku melihat kamu lebih membela wanita lain dari pada aku, aku selalu ikhlas memaafkan perbuatan kamu, tapi.. Sekarang aku benar-benar mau pergi aja dari kamu, aku gak mau lagi bertahan seperti orang bodoh!" cerocosnya dengan genangan air di pelupuk mata yang terus berjatuhan membasahi pipinya.


Tidak, kali ini ia tidak mau jadi wanita bodoh yang terus bertahan dengan alasan cinta, cintanya sebagai seorang ibu bisa di pertanyakan nanti.


"Akira, jangan sembarangan bicara!" sergah Farid, "Kamu tenang dulu, kita bicara lagi nanti setelah kamu keluar dari rumah sakit."


"Nggak! Aku mau kita berpisah titik!"


"Akira.."


"Sudah cukup perjuangan aku selama ini, Far! Bahkan kemarin aku masih tersenyum melihat kamu yang sudah menghina aku dan anakku, tapi setelah aku tau karena kamu anakku terbunuh, aku gak bisa lagi." ucap Akira lagi, yang berhasil membuat hati Farid bagaikan tertusuk belati.


Jadi, apa begini yang dirasakan wanita itu saat ia menyakiti Akira dulu? Apakah wanita itu juga merasakan sesak seperti yang dadanya rasakan sekarang?


"Dulu, saat Rayrin menunjukkan bukti perselingkuhan kalian juga cinta kalian, aku masih bisa menahan dan mencoba percaya, tapi sekarang enggak lagi, aku mohon jangan muncul di hadapan aku." ucap Akira lagi, sepertinya cukup banyak hal yang ingin Akira ungkapkan.


"Aku akan tetap di sisi kamu, seperti kamu tetap di sisi aku." sahut Farid keras kepala.


"Farid pergi, atau aku yang pergi!" ancam Akira dengan tangan yang bersiap melepas selang infus yang menempel di punggung tangannya.


Baiklah, Farid mengalah ia keluar dari ruang perawatan Akira. Mungkin, Akira masih terlalu shock, ia akan berbicara pada Akira lagi besok. Pikir Farid.


**Aku sempat bilang, kalau karya ini masuk ranking jumlah vote setiap minggu, aku bakal update sehari tiga kali dan hari ini aku up dua episode sekaligus, dua dulu ya, udah malem.


Nah, buruan vote lagi dong, biar setiap minggunya dapet ranking!! hehe maksa banget authornya.


Iyalah, biar aku semangat lanjut cerita ini, soalnya ada cerita lain juga yang aku harus lanjutin , kalau ini responnya gak bagus jelas aku pindah fokus ke cerita aku yg lain, dan berdampak aku jarang update dong wkwk**.