Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 10



Perlahan mata Akira terbuka merasakan sentuhan dan pergerakan seseorang di sekitarnya.


"Kamu, udah pulang?" tanyanya dengan mata yang melihat ke arah jam dinding.


"Memang pekerjaan udah beres semua?"


"Sudah sayang, demi kamu." Farid menatap lembut istrinya yang masih terkantuk-kantuk.


"Aku ganggu? Yasudah tidur lagi aja."


bukannya tidur, Akira malah menahan Farid dalam pelukannya dengan posisi lelaki itu masih duduk di pinggir ranjang.


"Gak mau." tolaknya sembari menggelengkan kepalanya di hadapan perut suaminya yang masih terbungkus kemeja hitamnya.


"Kamu kenapa, ada masalah?"


Akira menatap bingung, karena mendadak Farid menanyakan hal itu.


Ia menggelengkan kepala lagi sebagai jawaban, "Terus, kenapa nangis?"


"Aku gak nangis."


"Bohong."


Farid menundukkan kepalanya mengecup kedua mata Akira yang sembab.


"Maaf, harusnya itu semua tidak terjadi. Aku bukan suami yang baik." lanjutnya dengan suara rendah dan mata berkilat rasa penyesalan yang dalam.


Dari bawah Akira menyentuh lembut pipi suaminya, "Lupain, kamu terbaik untuk aku. Aku cinta kamu." Akira menarik napasnya menahan tangis haru kala mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Aku bersyukur punya kamu, yang selalu menerima dan memaafkan aku." mereka saling bersitatap.


"Kamu cinta aku?"


"Aku cinta kamu melebihi apapun di dunia ini, bahkan aku akan berikan seluruh cinta di dunia ini untuk kamu. Cuma kamu."


Akira mengusap air matanya kasar dan terkekeh geli, "Udah pinter gombal ya?"


"Aku serius." ucap lelaki itu seakan tak terima.


"Meski aku punya kekurangan yang akan mengecewakan kamu?" pandangan Akira berubah jadi lebih serius dari yang tadi.


"Apapun kekurangan mu aku akan terima."


"Meski itu mengecewakan dan menghancurkan harapan kamu?"


Farid menggenggam tangan yang sejak tadi berada di sekitar pipinya.


"Apa sih sayang, kok ngomong nya gitu."


"Jawab!"


"Apa yang kamu sembunyikan dari aku?" serang Farid langsung, Akira aneh, bahkan Gio mengatakan Akira pergi tanpa sopir utusannya beberapa kali.


Akira pergi diam-diam, tanpa izin padanya.


"Kamu curiga sama aku?" Akira merengek dengan mata berkaca-kaca.


"Bukan gitu sayang, tapi --"


"Apa yang kamu curigain dari aku sih?!


"Aku tanya kamu sekarang, kemana kamu tanpa orang-orangku?"


Akira menelan ludahnya susah-susah.


Apa secepat itu dirinya akan mengaku periksa diam-diam.


Sebenarnya, Akira juga ingin berbagi pada suaminya, tapi ia ragu, ia takut suaminya kecewa berat padanya.


"Kamu jangan marah tapi."


"Tergantung apa yang kamu sembunyikan dari aku, aku yakin ada sesuatu yang membuat kamu jadi seperti ini, karena mendadak kamu mengingat tentang anak kita yang tiada."


"Aku cuma menyesal, karena belum sempat melahirkan dia, itu saja."


"Ya sudah, sekarang katakan istriku yang penurut."


"Janji, jangan marah?"


Akira masih ragu sebenarnya, tapi rahasianya sudah tercium. Ia menatap lekat mata suaminya itu.


"Apa dulu masalahnya?"


"Yaudah aku gak mau ngomong!"


Akira melepaskan pelukannya dan membelakangi Farid.


Astaga, susah sekali membujuk Akira.


Padahal wanita itu yang akan mengecewakan suaminya karena pengakuannya nanti.


Kenapa dia sendiri yang marah?


"Sayangku... "


Farid menyentuh bahu yang terlihat rapuh itu, dan membuat tubuh itu kembali menghadapnya.


"Kamu mandi aja sana!" usir Akira menepis tangan suaminya.


"Oke aku janji aku gak akan marah." Farid mengalah, ia tidak bisa pergi mandi dan meninggalkan rasa penasaran yang terpupuk dalam hatinya.


"Janji? Kalau kamu ingkar, aku pulang ke rumah kakak!" ancam wanita itu angkuh.


Farid tak mengerti jalan pikiran istrinya.


"Aku ke rumah sakit." akunya tanpa menatap suaminya, bola matanya berlarian kesana kemari.


"Memeriksa rahimku."


"Kenapa hal semacam itu kamu sembunyikan, sayang?" tanya Farid lembut.


"Karena aku takut ada yang salah dengan aku!" Akira dengan kasar duduk dan menatap nanar ke arah Farid.


"Berapa lama kita berhubungan dan aku gak hamil juga?!" Akira membentak suaminya, hal yang selalu ia hindari.


"Itu baru beberapa waktu setelah kamu keguguran, aku pikir itu bukan masalah besar." sahut Farid tenang.


"Itu masalah buat aku, Mas. Kamu selalu berharap aku hamil, sedangkan aku gak hamil juga, terlebih aku takut hamil!"


"Apa? Kamu takut hamil? Maksudnya bagaimana?"


Ekspresi, Akira melunak, tapi kepalanya pening memikirkan alasan apa yang akan ia kemukakan. Akira kelepasan barusan!


Akira terus menggelengkan kepalanya, "Bukan.Bukan maksud aku, itu--"


"Akira, katakan, kenapa kamu takut hamil? Apa itu sebabnya kamu simpan pil pencegah kehamilan?"


"Y-ya." jawabnya dengan susah payah.


Farid memejamkan matanya meresapi semua pengakuan Akira barusan.


Istrinya takut mandul, periksa diam-diam agar tidak mengecewakan dirinya.


Istrinya takut hamil tapi selama ini ia selalu mengharapkan anak dari wanita itu secara terang-terangan.


Akira benar-benar mau menjaga perasaannya.


Melihat suaminya diam saja, Akira jadi panik.


"Mas maafin aku, mas kamu jangan tinggalin aku, kamu janji kan gak akan marah kalau aku ngaku, mas!" rengeknya bertubi-tubi.


"Nggak sayang, kita bisa berusaha lagi, apa kata dokter? Lagi pula kamu masih takut untuk hamil lagi kan?"


"Mas aku minta maaf." sesal Akira menundukkan kepalanya menjatuhkan air mata yang sejak tadi mendesak untuk keluar.


"Aku yang seharusnya minta maaf, semua yang terjadi sama kamu itu salah aku."


Seketika, Akira mendongak menatap suaminya pedih berkali-kali ia menggelengkan kepalanya berharap suaminya mengerti bahwa itu bukan salah suaminya.


Farid mendekap Akira ke pelukannya, sejenak menikmatinya hingga terasa tenang, ia melepaskan Akira dan menatap lembut istrinya.


"Jadi apa kata dokter?" senyumnya terpatri lembut untuk Akira.


"Aku baik, aku subur gak ada masalah."


"Kalau begitu, kenapa harus takut?"


"Kamu sangat berharap aku--"


"Maaf, tidak lagi. Kita jalani saja dulu. Sampai kamu siap untuk hamil lagi." Farid menghentikan Akira dengan kecupan bibir nya sebelum Akira melanjutkan kata-kata yang membuatnya merasa bersalah.


Tentu!


Ia salah!


Dirinya selalu berlaku seolah anaknya hidup di perut istrinya, padahal istrinya selalu gelisah setelahnya.


Ia tidak bisa membayangkan betapa gelisah hati istrinya saat ia takut hamil tapi dirinya selalu mengharapkan anak dan ternyata Akira pun tak kunjung mengandung.


'Pantas, kamu selalu diam setiap aku berlaku begitu, aku selalu menyakiti kamu.' batin Farid.


"Tuhkan harusnya aku gak cerita sama kamu, aku cuma buat kamu kecewa dan hancurin kebahagiaan kita."


"Sayang, seperti kamu yang selalu menerima kekurangan aku, seperti kamu yang selalu memaafkan semua kesalahan aku, aku juga akan selalu menerima kamu apapun keadaan kamu. Aku juga adalah penyebab dari semua yang terjadi sekarang."


Segera, Akira membekap mulut suaminya dengan telapak tangannya.


"Huss.. jangan gitu, semua gata-gara Rayrin, bukan kamu."


Farid tersenyum dan memeluk erat wanita miliknya.


"Aku beruntung punya kamu."


"Lebih beruntung aku punya suami yang banyak uangnya." seloroh Akira yang membuat Farid jadi gemas.


Lelaki itu melonggarkan pelukannya dan mendekatkan dirinya pada pipi Akira.


"Aww!"


Akira berteriak, setelah dengan gemasnya suaminya menggigit pipinya.


"Jahat!" tuduh Akira cemberut.


"Katanya tadi beruntung?"


"Iya karena banyak uangnya, tapi nakal, jahat!"


"Kamu ini ya, mau aku hukum?" tanpa menunggu Akira menyahut tangannya dengan jahil menggelitik seluruh tubuh Akira hingga wanita itu kelonjotan di atas kasur hingga semuanya berantakan.


Nyatanya, Farid tidak selamanya kejam, pengalaman mengajarkannya untuk tidak gegabah sebelum mengetahuinya secara jelas.


Au ah gaje banget episode ini.


mumet author guyssss