Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Extra Part 5



Akira menganga tak percaya, Farid membawanya ke tempat kenangan mereka villa di desa terpencil yang dulu mereka tempati walaupun cuma sebentar dan mereka belum pernah lagi datang kemari padahal Akira sangat menyukainya.


Beberapa masalah yang timbul dan kebahagiaan yang datang membuatnya lupa tempat kesukaannya itu.


"Mas!" Akira memanggil Farid dengan wajah bahagianya.


Lelaki itu mendekati Akira dan menyentuh pipinya lalu mengelus lembut, "Aku tepati ucapanku dulu, kita akan kemari lagi bersama anak kita bahkan dengan adik-adiknya."


ujarnya membuat Akira tersenyum cerah.


"Ma ini dimana?" tiba-tiba Kaisar terbangun dan keluar dari mobil sendiri dengan wajah ngantuk nya.


Farid langsung menggendong bocah lima tahun itu, anak-anak mereka tertidur semua saat dalam perjalanan, "Aku bawa Kai masuk duluan, kamu gendong Sam nanti Yura aku yang gendong."


Akira mengangguk menuruti perkataan suaminya.


Akira pergi ke halaman belakang, setelah membawa anak-anak masuk ternyata mereka melanjutkan tidur mungkin kelelahan sejak pagi terus berada di perjalanan.


Ia menengadah ke atas melihat langit jingga, ia jadi ingat dulu disini ia pernah berdua dengan Farid saat sedang mengandung anak pertamanya.


Andai anak itu hadir di dunia, pasti sekarang ikut bersama mereka.


Akira tersenyum perih mengingat kenangan itu.


"Hey sedang apa, hm?" tanya Farid yang tiba-tiba saja sekarang sudah ada di belakangnya, memeluknya dari belakang.


Sesekali lelaki itu menciumi pelipis Akira menghirup bau wangi bunga dari rambut wanita itu.


"Mas inget gak? Dulu kita kesini bertiga." celetuk Akira.


Dahi Farid mengernyit mendengar kata bertiga.


"Kok bertiga bukannya berdua?"


Akira memberengut, ia berbalik menghadap sang suami dan memukul bahu pria itu.


"Kamu lupa ya sama anak kita?!"


"Lho, nggak dong sayang itu semuanya kan di ajak." jawab Farid yang membuat wajah ibu tiga anak itu makin kesal.


"Tega banget lupain dia, padahal dia anak pertama kita yang berjasa buat hubungan kita makin dekat saat itu." ujar Akira lirih.


Farid menarik pinggang Akira dan memeluknya erat, "Astaga, maaf sayang. Aku lupa waktu kita kemari kamu sedang hamil dia."


"Oh iya, waktu itu kamu makan rujak disini, padahal mangga nya asam sekali." ujar Farid mengenang saat itu.


"Kamu di suruh cobain gak mau." sahut Akira.


"Nggak, asam!"


"Coba dia lahir di dunia, pasti sekarang dia ada disini sama kita." Akira mulai berandai andai sedangkan hati Farid mulai di rambati perasaan bersalah.


"Maaf."


"No! Itu juga salah aku, aku ceroboh, kamu gak sengaja kok, kita aja yang gak bisa jaga dia, mungkin karena itu dia gak mau ada di antara kita." jelas Akira yang mulai tidak enak karena ia dapat merasakan nada penyesalan dalam kata yang di ucapkan suaminya.


Akira semakin nyaman dalam pelukan itu, di posisinya ia dapat mendengar detakan jantung Farid.


Kadang, ia berpikir bagaimana jika jantung ini berhenti berdetak, apa dirinya masih bisa hidup?


Jika bisa , ia ingin lebih dulu meninggalkan dunia ini, sebab ia tidak bisa hidup tanpa cintanya, suaminya, Farid.


"Mas, jangan tinggalkan aku ya?" ujarnya tiba-tiba.


"Kenapa tiba-tiba bilang seperti itu?" Farid mengendurkan pelukannya ingin menatap wajah Akira kini, bisa-bisanya istrinya berkata begitu.


"Takut aja."


"Jangan mikir yang enggak-enggak,aku janji akan selalu ada buat kamu dan anak-anak kita."


Akira menatap lekat pada sang suami, "Janji?"


"Aku janji, aku gak akan tinggalkan kamu kecuali aku mati." mendengar kata terkahir itu Akira langsung terkejut, ia mengecup bibir suaminya untuk membuat pria itu berhenti bicara.


"Ssstt... jangan ngomong soal itu!" pintanya, padahal baru saja ia memikirkan akan hal itu.


"Rasanya aku ingin terus hidup sama kamu, Ki. Aku enggak tahu bagaimana aku tanpa kamu." ungkap Farid, Akira jadi menangis haru dibuatnya.


"Mas, aku sayang kamu, sangat!" ungkapnya menghamburkan dirinya ke dalam pelukan suaminya.


"Aku juga, selamanya." balas Farid, yang di hadiahi ciuman lembut dari istrinya.


Ia membalasnya tak kalah lembut, sampai semuanya berakhir karena suara Sam yang memanggil mamanya.


"Mama mama!"


"Mas, anak-anak!" lalu berlari masuk, meninggalkan sang suami.


Farid membuang napasnya pasrah dan mengacak rambutnya asal, suka duka jadi ayah makin terasa tiap harinya.


Mau mesra-mesraan dengan istri jadi sulit, tapi mereka juga adalah pengobat lelahnya setiap pulang kerja.


Gimana Part ini?


Komen donggg


Pendek ya?


Soalnya author juga habis update di novel sebelah


Jangan lupa baca juga novel Istri Pengganti yaaa


Terimakasih yang sudah dukung author selama iniii yang selalu setia like dan komentar dan setia menunggu author update...


Banyak cinta buat kalian dari author


hehehe