
"Aah aku masih mau disini, kamu aja yang pulang" rengek Akira manja.
"Pulang dulu, aku sudah suruh Gio menyiapkan transportasi kita, nanti bisa kembali kesini ketika babynya sudah lahir" ujar Farid memberi pengertian, karena ia sudah harus segera kembali, satu minggu adalah waktu yang lama untuk meninggalkan pekerjaannya yang harus langsung ia tangani.
"Laama banget dong, yaudah kamu aja lah yang pulang" rengeknya lagi.
"Nanti, kamu sendiri disini, gak takut kalau malam ada hantu?"
Akira bergidik ngeri mendengar penuturan Farid, ia jadi ingat ada hantu yang bisa menyerupai wujud suami seorang wanita, jangan sampai ada Farid palsu yang menghampirinya nanti. Hiii...
Farid menyunggingkan senyum melihat reaksi lucu Akira yang sedang memeluk tubuhnya sembari memperhatikan sekeliling penuh curiga.
"Lagian tempat ini harus direnovasi juga kan, sudah jangan keras kepala Ki" ucap Farid yang sudah mulai hilang kesabaran, untungnya Akira mengangguk lemah sebagai jawaban yang membuat hatinya lega.
"Mas, kamu itu sekaya apa sih sampe punya begituan?" tanya Akira saat mereka telah sampai dirumah dan bersantai dibalkon yang tengah menghadap taman, ralat bukan mereka tapi hanya Akira saja, sebab Farid tampak sibuk dengan laptopnya dengan kacamata yang bertengger dihidung mancungnya, ah itu membuat ketampanan seorang Farid bertambah.
"Hmm"
"Tck! Kok cuma hmm aja si" ketus Akira, membuat Farid mengalah dan meletakan laptopnya dimeja kecil, lalu melihat ke arah istrinya yang akhir-akhir ini semakin labil sikapnya.
"Aku lagi urus kerjaan Ki," sahutnya penuh pengertian, "Mau tau sekaya apa aku? Aku menghasilkan triliunan rupiah setiap tahun dari perusahaanku sendiri, dan dari beberapa properti Danuarta Group yang aku urus, sudah?" ujarnya menjawab rasa penasaran istrinya.
"Belum" celetuk Akira sambil memberengut.
"Apa lagi?"
"Kenapa kamu kok bisa kaya?"
"Aku cerdas, juga cerdik dan tidak suka menggosip sepertimu!"
"Ihh, kok gitu!" pekiknya nyaring.
"Stop! Berisik, kalau kamu gak doyan gosip pasti kafemu sudah lebih banyak" ujar Farid yang terselip kandungan ceramah itu, membuat Akira memutar bola matanya malas sambil mencebik.
"Menyepelekan suami sendiri, kamu bisa dosa tau!" hardik Farid yang membuat Akira tersenyum yang dibuat-buat.
"Lagian mas, kan gosip sendiri kerja sendiri, kalau ngumpul gak ngobrol kan gak seru"
"Kamu itu gak sekedar ngobrol, tapi sambil ngomongin orang, jangan kira aku gak ngerti deh ya" sela Farid penuh keyakinan.
"Emang apa si tips cepat kaya? Sampe kaya parah gitu?"
"Kamu tidak perlu tau, aku saja yang kaya apa gak cukup? Tugasmu hanya menggunakan uangku saja" ujarnya sembari mengambil laptop dan menaruhnya dipangkuannya kembali.
"Kalau habis gimana?"
"Nggak akan!"
"Percaya diri banget" remeh Akira.
"Ya iyalah orang kamu pake uang aku cuma buat jajan di minimarket, makan junkfood, sama belanja pokok, gak ada kamu beli barang branded" cerocos Farid sebal karena istrinya mulai banyak bertanya.
"Ya terus mau beli apa lagi, orang semua udah kamu beliin lengkap! Eh, kok kamu tau aku beli apa aja?"
"Apa sih yang aku gak tau, udah ah aku mau lanjut kerja, sejak kapan sih kamu kepo banget kaya gitu"
"Hmm, yaudah mau aku buatin kopi?"
"Boleh"
"Oke, tunggu sebentar"
ucapnya lalu melenggang pergi.
"Enak, setiap hari saja kamu buatkan aku kopi" komentarnya saat mencoba kopi yang Akira buatkan tadi.
"Emang setiap hari kali, memangnya siapa yang layani kamu selama ini?"
"Loh, masa iya? Aku kira Astuti atau Indah"
"Enak aja, aku terus ya!" sahutnya lalu melengos meninggalkan Farid dengan kesal, ia memilih bersandar diranjang dan memainkan ponselnya, mengunggah foto saat ia masih didesa nan asri itu di akun sosial medianya.
Terdengar dering notifikasi pesan masuk dari aplikasi chattingnya, ternyata dari grup chatnya bersama para sahabatnya.
Viara Aldieanastari
Widihh, bu boss liburan ternyata gengs
Atheenara Tianah
Wuiih yang bener guys, dih gak ngajak😳
Akira Shafeena
Next time, ikut aja asik tau
Zeeana Allaura
Akira Shafeena
Etdah...sama sepupu sendiri takut kau yaa
Zeeana Allaura
Nyeremin sih, mukanya gak santuy
Atheenara Tianah
Hahahahaa ..kampret ngakak slurr
Viara Aldieanastari
Bisa aja kang cilok
Akira Shafeena
Awas ya kalean, dasar iler komodo!
gitu juga ganteng tau gak,kaya lagi😜
Lareesa Ayudyana
Ku akui gak ada yang bisa mengalahkan keberuntunganmu Akira kupret!
Akira termenung membaca pesan terkahir dari Risa yang tiba-tiba nyeletuk. Ah, benarkah dirinya beruntung? Ia mengalihkan pandangannya ke arah suaminya yang kini mengikutinya masuk ke dalam kamar menduduki sofa dan sedang berkutat dengan laptopnya.
Ia tersenyum miring, suaminya memang dingin dan menyeramkan, tapi justru itu yang menjadi pesona utamanya. Tampan, mapan dan sesuai impian dirinya memang beruntung, tapi mengingat kebelakang sepertinya ia kurang beruntung, karna tidak ada yang sempurna didunia ini kan, sempurna hanya milik Tuhan saja. Saat ia mendapatkan cintanya, banyak gangguan.
Akira tersenyum jahil, lalu kembali mengetikan pesan.
Akira Shafeena
Mending kalian nikah deh biar berasa ada yang jagain, jomblo kaya kalean naas banget nasibnya
Viara Aldieanastari
Heh, enak aja sembarangan kalau ngomong nih bocah
Atheenara Tianah
Enak aja, jomblo happy gue tuh!
Zeeana Allaura
Cariin laki dong tega liat sahabat jomblo!
Sontak Akira tertawa geli melihat pesan terakhir sahabtnya, Zia yang gengsian kenapa jadi minta laki, sebuntu itukah dia?
"Kenapa ketawa?" celetuk Farid penasaran, sebab istrinya terkikik geli memandang ponsel.
"Ini loh mas, sepupu kamu haha" ucapnya tidak berlanjut karena tertawa, Farid mengerutkan dahinya heran, " Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Zia, minta calon laki dia aduduh kok geli ya bacanya" kikiknya geli, entah kenapa menurutnya itu lucu, biasanya Zia itu pemilih dan jual mahal.
"Zia kan kaku tuh, jodohin aja sama Gio" celetuk Farid asal.
"Wah, mas aku gak meragukan kecerdasanmu, kayaknya Gio emang tipe Zia banget, yakin!" lalu tergelak kencang sampai tidak terkendali.
"Sudah ketawanya, nanti ngompol kamu!"
"Yeuu..enak aja kalau ngomong" ketusnya,
"Mas, istirahat dong dari tadi kerja terus sih"
"Banyak yang harus diurus, kamu istirahat saja sendiri dulu" ucapnya lembut, Akira yang tak ingin membantah langsung membaringkan dirinya membelakangi arah pandang Farid, dan memulai tidur siangnya.
Waktu berganti, setelah mentari kini rembulan yang menguasai, dengan semilir angin dikegelapan malam yang hanya diterangi pendar rembulan, menemani Akira yang melamun diteras samping rumahnya. Sedangkan, Farid sibuk diruang kerjanya, sepertinya pria itu sibuk karena menuruti egonya sejak kemarin, yang tidak ingin kembali ke rumah.
Akira sibuk berpikir, tidakkah saat ini dia terlalu menelan mentah-mentah atas apa yang suaminya berikan, tanpa berpikir, tanpa pertimbangan, seakan mereka memang pasangan yang saling mencintai sejak dulu.
Bersenda gurau tanpa rasa canggung lagi, bercengkrama santai tanpa nada dingin dan datar lagi, ia tersenyum tipis mengingat kenangan manisnya bersama pria yang ia cintai.
Tapi, bagaimana jika itu hanya pengaruh dari kehamilan? Apa Farid akan mengira Akira terlalu berharap banyak? Masih tersisa di benaknya satu pertanyaan, apakah benar ia satu-satunya istri dan ibu dari anak-anak suaminya kelak? Sebenarnya ia ingin membentengi diri agar tidak terlalu larut dalam perhatian yang suaminya berikan.
Tapi, hatinya yang lemah yang telah dipenuhi oleh nama Farid sejak lama, benar - benar mendambakan kasih dari pria itu.
Membosankan ya?
Sorry, author masih ingin menikmati keseharian Akira dan Farid.