
Terkadang karna egois kita memaksa sesuatu. Terkadang karna gengsi kita tak mampu mengatakan apa yang kita rasa - Cotton Candy Zue.
Farid mencoba menenangkan diri dengan mencari udara segar, ia memutuskan ke balkon kamarnya yang menghadap langsung dengan taman buatan yang ada dirumahnya.
Ia menghela nafas pelan untuk membuang rasa lelah dengan apa yang terjadi dihidupnya kini.
Aarggh! Kenapa jadi begini aku menikahinya hanya untuk formalitas,dia setuju, tapi sejak Rayrin hadir Akira mulai mengingat perasaannya, kenapa wanita itu kembali saat aku sudah akan melupakannya ! geramnya dalam hati.
Ia mengusap wajahnya kasar dan mendongakan wajahnya ke atas. Namun, tepat saat ia mengembalikan pandangannya, ia melihat sosok yang ia kenal berlari ditaman. Ia mulai ingin tahu apa yang gadis itu lakukan, saat matanya mengawasi apa yang dilakukan gadis itu, emosinya kembali gelisah kembali melanda dirinya.
"Shit! Apa yang dia lakukan sepertinya aku salah memilihnya!" gumam Farid kesal.
Bingung, itu yang Farid rasakan. Sudah lama hatinya beku karna Rayrin, tak satupun wanita membuatnya jatuh hati. Walaupun ia sudah melupakan Rayrin,tapi hatinya seakan mati karna cinta pertamanya menyakiti.
Hingga, seorang gadis dengan percaya dirinya menyatakan cintanya, ia juga tak bereaksi sungguh hatinya mati karna Rayrin.
Namun, karna satu alasan yaitu ibunya, ia melakukan hal bodoh dengan menjerat Akira.
"Bedebah ! Harusnya aku tak perdulikan ucapan Mama, akhirnya dia tak suka Akira dan menghadirkan Rayrin" ucapnya semakin frustasi.
Ketika, wanita itu kembali ia ingat kembali dengan cintanya, tapi disisi lain ada gadis yang beberapa waktu terakhir menarik perhatiannya, yang tak lain adalah istrinya sendiri, lama ia menyangkal. Namun, semakin menyangkal, sosok Akira semakin menghantui hidupnya. Dia sungguh memiliki perbedaan yang sangat jelas dengan para wanita yang biasa mendekatinya.
Sialnya, banyak pria disekelilingnya! Bahkan jauh, sebelum Farid hadir.
Awalnya, ia hanya menyuruh gadis itu tidak dekat dengan pria manapun untuk menjaga citranya sebagai pengusaha muda yang terkenal. Namun, lambat laun ia tak suka miliknya didekati orang lain.
Ughh aku bisa gila karna semua ini! geramnya dalam hati lalu dengan langkah panjang ia masuk kembali ke kamarnya, ia mendudukan dirinya disofa menopang kepalanya dengan kedua tangannya dan perlahan tangannya bergerak menyusuri rambutnya, meremasnya kasar.
"Kau milikku, tidak ada yang boleh mendekatimu tanpa seizinku" lirihnya pelan.
Selepas itu, ia memasukan tangannya ke saku celana dan mengambil ponselnya, segera ia mendial nomor Gio.
"Gio, ubah surat perjanjian itu lagi menjadi, Akira tidak berhak melakukan apapun tanpa seizinku, dia milikku, dan kami tidak akan pernah bercerai" putusnya final.
Akira yang baru membuka pintu kamar secara tak sengaja mendengarnya, ia terkejut bukan main, Farid mengubah-ubah isi perjanjian tanpa persetujuan.
"Diktator! Egois! Tak berperasaan!" desisnya tajam.
Farid yang mendengar makian Akira segera menengok dan mendapati keberadaannya.
Ia tergelak kaget, bukannya tadi gadis itu sedang mengamuk ditaman, apa mungkin dia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tak sadar gadis itu pergi.
"Aku mau berpisah! Segera!" ucapnya penuh penekanan.
Farid mengernyitkan dahinya dan mulai menajamkan pandangannya pada Akira.
"Kau barusan bilang apa? Ulangi kalau berani!"
"Dulu aku tak ingin berpisah, tapi sekarang aku mau berpisah darimu, kau iblis kau main curang brengsek!"
"Aku hanya mewujudkan keinginanmu untuk menikah sekali seumur hidup" sahut Farid tenang.
"Rayrin sudah kembali, tugasku selesai" sahut Akira datar.
"Berhenti mencari masalah denganku,lebih baik kau patuh dan tidak membuat keributan" ucap Farid tak kalah datar.
Akhirnya, Akira diam seribu bahasa ia tak bisa menyahuti ucapan suaminya. Ia menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Farid kembali mengusap wajahnya kasar.
Perasaannya tak menentu, kadang Rayrin membuatnya luluh, tapi ia juga tak ingin wanita itu mengusik hidupnya dengan Akira dan mengetahui bahwa ia masih belum sembuh dari luka yang Rayrin torehkan.
Kini saat ia yakin ia hanya akan mengambil miliknya, Akira. Gadis itu menolaknya, itu terlalu rumit baginya.
Farid memutuskan untuk pergi ke kantor, karna hanya dengan bekerja ia bisa melupakan perasaan sialan yang mengusik ketenangannya.
Sedangkan, Akira mengurung dirinya dikamar mengingat rentetan peristiwa yang menyebabkan semua ini terjadi.
"Aku benci.. benci!" gumamnya lemah sembari meneteskan air mata.
Sejak pria itu meninggalkannya dan mengurung nya dirumah ia terus menggumamkan kata benci dengan air mata yang perlahan terus menetes. Ia bahkan tak menyentuh sarapan yang Wisnu bawa, sungguh ia tak mampu untuk makan sekarang.
Akira semakin uring-uringan mendapati setitik rasa senang, mengingat pria impiannya takkan menceraikannya.
Tanpa ia sadari ia sedikit tersenyum dalam tangisnya.
"Sial ! Kenapa sulit untuk membencinya setelah apa yang ia lakukan,bodoh!"
Akira merutuki dirinya sendiri, karna lagi - lagi ia kalah dengan cintanya yang terlalu kuat untuk pria yang bahkan mencintai orang lain.
"Heh bodoh! Ingat harga diri mending gue kabur sekarang" ucapnya semangat pada dirinya sendiri dan bangkit dengan semangat menggebu membuka pintu kamar dan berlari dari sana, persetan dengan barang - barangnya yang terpenting adalah kabur yang penting dia bawa ponsel dan beberapa uang disaku jeansnya.
Akira mulai dari membuka pintu yang terlihat sepi tanpa Wisnu atau penjaga lain, tentu saja ini sudah tengah hari waktu mereka istirahat makan.
Baru tangannya menyentuh pegangan pintu suara Wisnu sudah mengagetkannya.
"Nona, jangan melakukan hal yang nemancing emosi Tuan" tukasnya berdiri dibelakang tubuh Akira.
Akira, segera menengok dan mencari alasan.
"Em, apa aku hanya-"
"Jangan pikir kami semua tidak tahu Nona, Tuan memerintahkan kami mengawasi Anda 24 jam penuh selama 1 minggu, jadi saya harap Anda tidak berbuat macam -macam"
Akira menggeram dalam hati mendengar penuturan Wisnu, ia memutar bola matanya malas dan kembali ke kamar dengan langkah kesal.
"Aahhh... sebel!" rengeknya, akhirnya ia mengambil piring sarapan yang ada dikamarnya tadi, memakannya secara kasar setelah itu ia menidurkan dirinya.
-------------
Farid terlihat serius dikursi kebesarannya dengan tangannya yang menggenggam ponselnya dengan mimik wajah yang serius.
"Bagaimana? Apa yang ia lakukan?"
"..."
"Shit! Jangan biarkan dia kabur selangkahpun atau kalian tahu akibatnya"
Ancamnya dan memutus sambungan telepon.
Wajahnya mulai menunjukan raut cemas dan kesal sekaligus. Ia merasa tak tenang sekarang mendengar kabar miliknya berencana kabur membuat dadanya berdenyut, orang yang mencintainya justru ingin kabur darinya.
"Gio!" teriaknya yang ditanggapi dengan munculnya Gio diruangannya.
"Perketat penjagaan dirumah, atur semuanya jangan sampai istri nakalku itu kabur" sambungnya.
"Baik Tuan" jawab Gio dan berbalik untuk keluar sebelum suara Farid menghentikannya.
"Tunggu!" cegah Farid membuat Gio membalikan tubuhnya dan menghadap Tuan-nya seperti semula.
"Bagaimana menurutmu?"
"Maksud Tuan?"
"Hah, aku kira kau sangat sempurna dalam pekerjaanmu, maksudku menurutmu kenapa dia mau kabur dariku, bukankah kau bilang dia masih menyukai aku, ah bahkan kemarin dia mengatakannya"
"Maaf jika saya lancang, Anda mungkin terlalu menakutkan dan mengekangnya, terlebih kehadiran Nona Rayrin kembali itu- "
"Tuan, jika anda tidak ingin Nona pergi, buang gengsi Anda dan tunjukan perasaan Anda"
"Aku tidak pernah menyukainya" geram Farid.
"Jangan terlalu menahan diri dan menahan perasaan Anda sendiri Tuan, Nona Rayrin hanya masa lalu"
"Sudahlah kau boleh keluar, kenapa tiba-tiba kau jadi suka ceramah begini" ujar Farid mencibir.
"Walaupun Nona sedikit liar, tapi saya kira dia lebih baik dari Nona Rayrin. Maafkan kelancangan saya Tuan" ujarnya dan berbalik meninggalkan ruangan Farid.
Yang Gio katakan mungkin benar, Akira selalu melakukan segalanya dengan baik walaupun mulutnya mengoceh dan protes .
Tapi, Rayrin rasanya aku ingin mengusirnya tapi hatiku sulit keluhnya dalam hati.
-------------------------
Farid memutuskan kembali ke rumah ketika hari menjelang sore.
Saat sampai dirumahnya, tujuannya hanya satu, menemukan keberadaan istrinya.
Ia segera menuju kamarnya, segera pula ia dapati Akira yang tertidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka, seketika bibirnya terangkat menorehkan senyum pada wajahnya. Ia mendekati ranjang dan duduk disamping Akira, memperhatikan wajah gadisnya, merapikan anak rambut yang berserak diwajah Akira.
"Manis" gumamnya.
Wajahnya menunduk untuk mengecup puncak kepala Akira lembut.
Matanya kembali menyusuri wajah Akira yang terlihat tenang saat tertidur, pandangannya berhenti pada bibir Akira yang sedikit terbuka, seketika ia teringat pada bibir yang dulu pernah ia cium karna kejahilannya, dan ia paksa karna emosinya sehingga membuat sesuatu terjadi.
"Shit! Rasanya aku ingin merasakannya lagi, kau manis Akira dan kau hanya milikku, tidak bisakah kau hidup dengan menyukaiku saja dan jangan mengalihkan perasaanmu pada yang lain?" bisiknya lirih.
"Kau berada didekatku, kau mencintaiku bukan? Tapi kenapa sulit untuk memilikimu seutuhnya, jangan berhenti menyukaiku" sambungnya dengan suara lirih, perlahan tapi pasti bibirnya sampai pada bibir manis Akira mengecupnya perlahan.
Tapi rasa manis yang ia rasakan pada bibir istrinya membuatnya tak ingin melepasnya begitu saja, ia menciumi bibir atas dan bawah Akira dengan lembut dalam waktu yang lama sehingga membuat gadis itu melenguh dalam tidurnya, perlahan matanya terbuka mendapati Farid menciumi bibirnya.
Tangannya terangkat untuk mendorong Farid, tapi Farid menahan tangannya, ciumannya beralih pada leher Akira membuat gadis itu mendesah tertahan.
"Farid, apa yang kau lakukan" tanyanya sembari menggigit bibirnya.
Farid melepaskan bibirnya dari leher Akira ia menatap lekat mata cokelat terang Akira yang jernih dan menenangkan.
"Kau membuatku gila Akira, tidak bisakah kau diam disisiku dan tetap menyukaiku?" ucapnya menggebu dan kembali menyambar bibir Akira, Farid terus ******* bibir istrinya tanpa ampun membuat Akira tak berdaya melawannya.
Farid terus mencecap setiap jengkal tubuh Akira yang kini menjadi candu baginya.
Sungguh, sudah lama ia menahannya, sejak ia pertama kali merasakannya.
Tidak ada emosi dalam diri Farid saat melakukannya tidak ada sentuhan kasar seperti sebelumnya, ia menyalurkan hasrat dsn perasaannya dengan penuh kelembutan.
Akhirnya terjadilah sesuatu, yang bisa kalian bayangkan sendiri karna author tak mampu mengetiknya setiap mau ngetik jantung author rasanya mau copot 😁
Nafas mereka terengah karna kegiatan panjang yang mereka lakukan, Farid menatap mata Akira lekat, menyingkirkan rambut Akira yang menempel diwajahnya dan basah akan peluh yang tercipta karna kegiatan mereka.
Farid mengecup dahi Akira lembut dan tersenyum lembut pada Akira.
Membuat gadis itu sedikit membulatkan matanya, melihat suaminya yang dingin dan arogan tersenyum selembut itu.
"Dengar Akira, jangan pergi dariku" ucapnya pelan penuh kelembutan.
Akira melengos membuang wajahnya ke samping sembari mendorong tubuh suaminya yang ada diatasnya.
"Kau memiliki Rayrin, ia sudah kembali" ucapnya sendu tanpa menatap wajah suaminya.
"Jangan sebut namanya"
"Kenapa? Apa mulutku terlalu kotor untuk menyebutnya?" sinis Akira.
"Bibirmu terlalu manis untuk menyebut namanya, sayang" sahutnya lembut.
"Apa kau sakit? Kau merencanakan sesuatu padaku?" sahut Akira curiga.
Farid terkekeh mendengar penuturan Akira.
"Anggap saja begitu, berpikirlah sesukamu" sahutnya sembari mencubit hidung Akira.
"Apa yang kau lakukan membuat aku-"
"Teruslah bersamaku, jangan mencoba pergi sepertinya" potong Farid.
Saat Akira akan membuka mulutnya dan berbicara Farid kembali mencegahnya.
"Jangan sebut Rayrin lagi"
Akira mengerjap tak percaya sulit untuk dipercaya karna Farid itu sulit untuk dimengerti jalan pikirannya.
"Jangan mengurungku"
"Aku tidak mengurungmu, aku hanya menghukummu"
"Tidak ada bedanya, itu tetap saja kan kau-"
" Jangan membantah sayang, jangan membuat aku kembali marah"
"Emm iya" pasrah Akira.
"Jika selama seminggu kau tidak membangkang, aku akan membiarkanmu kembali bekerja lagi"
Mata Akira berbinar mendengar penuturan Farid yang tak pernah ia duga, ia tersenyum senang membuat binar dimatanya.
"Ingatlah untuk tidak membangkang, jangan bertemu mereka"
"Siapa?"
"Teman - teman pria mu ! Kenapa kau dikelilingi banyak pria hah?!"
Akira mencebikan bibirnya kesal.
"Baru tadi sok manis sekarang jahat lagi,kamu sulit ya berbuat baik" ucapnya kesal dan segera bangkit menuju kamar mandi.
"Kau mau kemana?!"
"Mau kabur! Ya mandilah ini sudah hampir malam!" sahutnya sembari mengeratkan selimut yang melilit tubuhnya.
"Haha, baru tadi ia merasa tersakiti dan bersikap dingin sekarang sudah kembali nakal dan liar seperti biasanya, kenapa kau sepolos itu hm?"
"Diamlah!" sahut Akira lalu berlari ke kamar mandi seperti pinguin.
Farid terkekeh melihat tingkah Akira, baru melakukan sedikit saja dengan perasaannya sudah membuat bahagia, bagaimana jika ia menyerahkan semua hatinya untuk gadisnya.
Ah, mungkin wanitanya.
Masih terasa sulit untuknya membuka hatinya lebar - lebar untuk Akira.
Haduh apa isi hatinya Farid si guys aku juga bingung tau gak!
Yasudahlah jangan lupa vote, like and comment ya semakin banyak semakin baik untuk membuat novel ini semakin cepat up😊