Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 30



Yang terjadi di rumah Sergio, tidak seperti yang Farid pikirkan. Astaga, malam itu juga wajahnya memanas dan memerah mendengar kata-kata Farid yang seolah menuduhnya sedang iya-iya dengan sepupunya.


Padahal mah... Zia itu cuma membantu Sergio, jadi karena Sergio punya banyak pekerjaan yang belum selesai akibat Tuannya yang murung terus di perusahaan, Zia yang kasihan padanya menawarkan diri untuk membantu, berakhirlah gadis itu semalaman berada di rumahnya, kebetulan saat Farid menelepon ponselnya sedang di gunakan untuk transfer data ke laptop, sontak Zia mendengkus kesal saat itu juga.


"Kalian pacaran gak bilang-bilang ya?!" tapi karena hal biasa itu dirinya di sidang oleh Nyonya nya.


"Akira jangan marahin pacar aku!" rajuk gadis berambut sebahu yang agak bergelombang.


"Ssstt.. cerewet! Anggap aku sahabat gak sih, masak pacaran dari lama gak mau ngaku padahal aku udah tanya-tanya, pokoknya ya Ji, aku marah!" selama Akira menyidang pasangan itu, Farid hanya bisa menggaruk telinganya yang tak gatal sembari jarinya terus menari di atas keyboard.


Jujur, rasanya ia ingin mengusir mereka dari ruangannya karena sangat berisik, tapi ya bagaimana lagi, daripada Akira marah, tak dapat jatah, adik bayinya tidak jadi-jadi nanti.


"Ji? Zia, Akira pake Z bukan J!"


"Kodok makan tomat!" ujar Akira acuh.


"Hah?" Gio terperangah karena tak mengerti apa maksud Akira.


"Bodo amat, tau gak?! Kodok makan tomat sama dengan bodo amat!" teriak Akira mendekatkan wajahnya pada Zia dan Gio yang ia suruh duduk di sofa sedangkan ia berdiri.


"Ngaku gak sejak kapan?! Mas, kalau sekretaris mu gak mau jawab, awas aja." ujarnya nyaring yang membuat fokus lelaki itu hilang dan langsung menatap tajam sekretarisnya.


"Aku marah ya Zi, sama kamu. Diem!" sambarnya saat Zia akan membuka mulut.


"Ya sejak, anda berbaikan dengan Tuan, kami juga jadian saat itu juga."


"Hah? Selama itu? Kenapa sih, Zia kamu gak mau berbagi sama aku, kamu gak anggap aku?Iya?! Padahal ya, aku ikutan senang loh kalau kalian jadian." cerocos nya.


Baru saja, Zia mau menjawab, "Diam! Ziaaa gue masih marah sama elo!"


Tadi nanya, mau di jawab enggak boleh, kesambet apaan sih Akira, batin Zia.


"Sayang, aku-kamu bukan lo-gue." peringat Farid dari kursi kebesarannya.


Sedangkan, yang di peringati mendengus kasar.


"Kau, Sergio. Memang bagus pacaran diam-diam? Tidak gentle, aku ini atasanmu dan kakak sepupu kekasihmu, bisa-bisanya, jangan-jangan orang tua Zia tidak tau ya? ckckck." cibir Farid yang langsung mendapat reaksi tak bersahabat dari Zia.


"Jangan sok ngaku sepupu deh, biasanya juga lo gak anggep gue sepupu." cibir Zia.


"Malas, punya sepupu barbar dan songong seperti kamu." kata Farid datar.


"Wah, benar-benar lo yang songong, ngatain gue barbar orang istri lo sama barbar nya sama gue, lebih parah malah."


Yang di maksud berbalik menatap suaminya manja, meminta pembelaan.


"Akira sudah aku didik, dia gak akan barbar kalau gak sama kalian."


yang di bela tersenyum cerah.


"Heh, sekretarisnya suami aku! Kamu apain Zia kemarin malam? Kalian abis enggak-enggak ya, ngaku!"


"Tidak, kami tidak melakukan hal seperti itu kami hany--"


"Bohong! Kata suami aku, kalian semalaman berdua loh, jangan bohong deh.. "


"Masa iya?" tanya Akira dengan sok polosnya.


"Tanya suami elo, kenapa kasih Gio pekerjaan banyak banget, dah lah gue harus balik kerja nih, jam makan siang abis sebentar lagi, mana belum makan siang lagi!" gerutu gadis itu kesal sambil menyeret keluar kekasihnya dari ruangan Farid.


"Aku masih marah sama kamu, Zia.. !" teriaknya sebelum pintu benar-benar tertutup.


***


"Sayang, kak Fio kapan pulangnya sih?" tanya Farid pada Akira yang sibuk dengan ponselnya.


"Ya mana aku tau, mas terserah kak Fio lah mau di sini sampai kapan aku bebasin." jawabnya cuek, matanya terus tertuju pada layar ponselnya yang menampilkan drama korea kesukaannya.


"Lama banget, ganggu."


kata Farid yang membuat Akira langsung menjeda drama koreanya dan menatap suaminya yang sedang berbaring menghadapnya.


"Ih sama kakak sendiri kok gitu, baru juga dua hari di sini masa mau di usir, gak kasian sama kak Fio yang lagi gak akur sama mama." cerca Akira.


"Pertama, Farell, kedua Fiora, duh sayang, mesra-mesraan kita jadi terbatas kalau mereka di rumah." keluhnya uring-uringan.


"Kamu mah baru juga mereka, gimana kalau nanti punya anak, di gangguin anak sendiri lho. Setiap hari dan gak mungkin kamu usir."


"Iya juga ya, astaga aku kangen banget sama kamu." meraih ponsel pintar Akira dan menaruhnya asal ke atas nakas, lalu memeluk wanita itu erat-erat menenggelamkan wajahnya pada leher Akira yang tak begitu jenjang.


"Lho, mas aku masih mau nonton, kok kamu nakal sih sama aku!" protesnya tak terima.


"Sstt... diam, aku rindu kamu, sudah lama lho."


Farid menghirup aroma Akira dalam-dalam, ia selalu suka aroma yang menguar dari dalam diri Akira.


"Apa?" tanya Akira pura-pura tak mengerti, eh sebenarnya ya Akira kurang mengerti juga.


"Pura-pura polos, padahal udah gak polos, apa mau aku telanjangi biar polos?" ucap lelaki itu agak mengancam.


"Kamu mesum, ih jauh-jauh aku ngeri sendiri jadian." ujarnya berniat meledek.


"Kamu tega, sejak ada Farell aku selalu puasa lho, kapan aku buka puasanya?"


wajah Farid kini sudah kusut, cemberut, "Yaa.. suami aku ngambek ceritanya.. " goda Akira.


"Terserah apa kata kamu, kita harus berhasil dalam proyek membuat anak, jangan lagi pedulikan mama." bukannya merubah ekspresi jadi sedih karena mengingatkan dirinya akan kata mama, Akira malah terkikik geli.


"Apaan sih mas, proyek membuat anak, ngacau banget haha.. " justru saat mulut Akira terbuka itu di jadikan kesempatan oleh Farid untuk menjelajahi bibir dan seisi mulut wanita itu.


Di saat ia rasa, Akira mulai kehabisan napas, ia pindah menjajah leher harum, istrinya.


Sejenak, ia menghentikan aktifitasnya menatap Akira dengan penuh gairah tapi tidak menutupi kasih sayang yang terpancar di matanya untuk wanitanya itu.


"Terserah, apa kata dunia. Aku tetap mencintai kamu apapun keadaanmu." lalu dengan menggebu ia kembali menguasai diri Akira, yang hanya akan terus menjadi miliknya, hanya miliknya seorang.


Aku lagi pengen adegan mereka berdua, udah beberapa part ini, kok partnya serius terus gak ada romantis romantisnya gituh, semoga ada yang menikmati bagian ini, makasih teruntuk yang setia menunggu aku up.