
Akira kini lebih bebas, tidak ada kekangan apapun, tapi kalau mengancam Farid masih suka melakukan.
Akira jadi heran sendiri, istri sendiri masih sering di ancam padahal sudah normal kan?
So, karena dia tidak terkekang ia bebas bertemu dengan teman-temannya.
Ia juga sedang tidak mengandung, ia bebas bekerja.
Belakangan, hidupnya mulai mudah.
Namun, ada beberapa hal yang mengganjal.
Ucapan mama Farid yang menggantung mengundang curiga.
Deanno yang menghilang dan Risa yang menjauh.
Awalnya, Akira dan yang lain mengira bahwa Risa menjauh karena pekerjaan yang di bebankan perusahaan.
Sebab, setiap di ajak bertemu Risa selalu bilang sibuk, Akira dan kawan-kawan tentu tak berpikir aneh.
Namun, jika sudah berkali-kali mana mungkin tidak?
Hingga tercetuslah sebuah perasangka.
"Risa kaya menjauh gitu nggak sih?" Viara bersuara sambil mengaduk milkshake cokelatnya.
"Aku pikir iya, soalnya Farid bilang perusahaan gak mungkin selalu membuat karyawan sibuk setiap hari, itu kejam."
"Bukannya suami kamu emang kejam?" sindir Zia yang sampai saat ini masih saja kesal dengan sepupu sendiri.
Akira memajukan bibirnya tak setuju, dengan cemberut memakan kentang gorengnya kasar.
"Enggak ya, sembarangan!"
"Di antara kita Akira yang paling dramatis idupnya." Zia mencibir.
"Ih! Dasar ya jomblo sirik aja!" Akira melemparkan kentang goreng ke arah Zia.
Viara hanya ikut tertawa menyimak interaksi kedua sahabatnya.
"Nggak di cariin Farid kamu sampai kesini?" tanya Tina yang baru muncul dari dapur rumahnya dengan membawa nampan berisi camilan.
Kemudian, ia mulai duduk menghadap televisi bersebelahan dengan Viara.
"Nggak, kan deket rumah aseli aku." jawab Akira santai masih dengan tangan yang bergerak memasukan kentang goreng ke dalam mulutnya.
"Kamu kira rumah kalian bukan rumah asli kamu? Kan kalian udah nikah ngacau nih anak!"
"Ih Zia dari tadi resek deh, sirik banget lo sama gue!"
"Hush! Balik ke topik utama." sergah Viara merentangkan tangannya di antara Akira dan Zia yang duduk berhadapan di atas lantai ruang tengah milik Tina.
"Apaan sih? Risa?" Tina bertanya-tanya.
Mereka bertiga mengangguk sebagai jawaban untuk Tina.
"Kita salah apaan ya, kok dia sampe hati gak mau sama kita lagi?"
"Ra, setiap orang itu bakalan berubah." kata Viara.
"Tapi, Risa masih jadi manusia gak jadi power rangers!" Akira menyentak.
"Anak setan!" Zia melempar Akira dengan kacang telur yang wadahnya ada dalam dekapan gadis kurus itu.
"Pasti ada sesuatu." Tina berujar serius,
"Kalian ada berantem atau salah paham sama dia, mungkin?" matanya menelisik bergantian menatap ketiga temannya.
"Nggak tuh!" sewot ketiganya bersamaan.
"Mungkin aja dia bosen sama kita, udah lah males bahasnya!" pasrah Akira dengan sewot.
"Sebenarnya ada satu rahasia."
Dengan serius, Viara berujar.
"Apa-apa?" tanya mereka bersamaan, mereka bertiga langsung penasaran dengan kalimat yang Viara lontarkan.
***
Akira termenung di depan layar laptopnya yang menampilkan grafik peningkatan ekonomi Home's Food beserta anak-anaknya.
Harusnya, ia bekerja sekarang tapi pikirannya melayang ke arah pembicaraan dirinya dan teman-teman tentang Risa.
Viara bilang, Risa pernah menyukai Deanno yang merupakan sahabat dekatnya.
Mungkin, Risa kesal padanya.
"Ih apaan, orang sekarang Dean aja enggak tau dimana, udah gak mau temenan sama gue kali." gemas Akira lalu menutup laptopnya dan menaruhnya di nakas sebelah tempat tidur.
Ia membuka ikatan pada tirai putih yang memang sengaja ia pasang di sekitar ranjang, sehingga tirai itu menutupi sekeliling ranjang, kata Akira agar terhindar dari nyamuk.
Farid sampai heran sendiri mana ada nyamuk di rumah mereka. Bilang saja, supaya seperti di film-film bollywood, ingat kan Akira suka bollywood?
Kembali, pada Akira.
Jadi maksudnya semua itu karena Akira gitu?
Farid sampai di rumah pukul tujuh malam, ia menuju kamarnya dan menemukan ranjang sudah tertutup tirai yang sengaja di pasang oleh istri keras kepalanya itu.
Ia menyibak tirai, ia pikir Akira tidur sebab tidak menyambut kepulangannya, ternyata istrinya tengah terbaring miring dengan muka dongkol.
"Sayang, udah mau tidur?"
Akira mendongak ke sumber suara, Farid yang berdiri di bibir ranjang dengan posisi tangan menyibak kain putih itu.
"Loh, kamu udah pulang kok aku enggak tau?!"
"Nah kan, lagi mikir apa? Pasti sedang banyak berpikir." tebak Farid, lelaki itu kemudian duduk di pinggiran ranjang, ia mengelus puncak kepala istrinya lembut.
"Risa."
cicit Akira.
"Kenapa?"
"Dia sibuk kerja di perusahaan kamu ya?"
"Aneh kamu, orang Risa udah resign dua minggu yang lalu, juga."
"Ih masa? Kok aku enggak tau, kamu enggak kasih tau aku juga?"
"Kamu kan sahabatnya pasti lebih tau, seharusnya."
Akira diam, ia langsung berpikir, seminggu lalu yang artinya Risa sudah keluar dari perusahaan, ia mengajak gadis itu bertemu, tapi Risa mengaku sibuk karena bekerja di Earthecnology yang semakin sukses.
Berarti, Risa bohong.
Apa iya Risa cemburu padanya?
Tapi sejak awal gadis itu tau, Dean sahabatnya saja, tidak lebih.
Jika ia suka, Akira pasti dengan senang hati akan mendekatkan mereka tapi...
"Tuh kan, diam lagi, pasti ada sesuatu." tuduh Farid.
"Apaan ih enggak kok."
Akira mengelak dan menjauhkan diri dari Farid.
"Bohong, jangan suka bohong sama suami, dosa loh, Ki."
Farid bergerak seakan mau mengungkung Akira di bawahnya.
Akira langsung waspada kemudian beringsut mundur.
"Ih kamu mulai deh lebay, sana mandi bau tau." tangannya bergerak mendorong lengan kekar milik suaminya.
Farid langsung mengendus aroma tubuhnya.
"Aku gak bau, aku kan selalu wangi, makannya kamu suka kan ngendus-ngendus aku pas lagi pelukan?"
"Ih pede banget! Mandi sana bau!"
desaknya pada Farid, sebenarnya Farid enggak bau kok, tapi Akira tidak mau saja Farid tau masalahnya soalnya ada nama Dean yang disitu seperti bahan rebutan dirinya dan Risa.
Belum lagi ia mencium gelagat mesum dari suaminya.
Asal kalian tahu saja, Farid sedang semangat-semangatnya mewujudkan Farid junior hadir di tengah-tengah mereka dengan membuat dirinya dan Akira bekerja keras setiap malam.
"Aku wangi, hidung kamu bermasalah ya? Atau kemungkinan terbaik kamu hamil? Waktu kamu hamil dulu kamu juga aneh.
Ada anak kita lagi di sini?!" tunjuk Farid seru pada perut datar Akira, lalu mendekatkan wajahnya pada perut datar istrinya itu.
Akira mengulum bibir menahan nyeri di dada.
Anak lagi...
Hueee kenapa responnya jelek banget?
aku kira banyak yang nunggu musim keduanya
Ternyata.... ZONK!!!
Duh gak ada yang vote, like dan komentar aku jadi insecure, gak pede lanjut lagi.
Tapi sebelumnya aku say big thanks buat kalean kkarena jika bukan karena klian yang setia baca CRC:Cinta Masa Lalu.
Karya ini pasti udah aku tenggelamkan.
Yaudah intinya jangan lupa
VOTE VOTE VOTE!!!
LIKE KOMEN!
Thankyou.
Salam manis dari cotton candy yang pasti manis. 🍬🍭😘