
Nah kan bener, aku up pada diem diem bae...
Tapi aku ucapkan terimakasih banyak buat yang udah vote, like, komentar bahkan ngasih aku tip terimakasih sekaliiiii.....
Kalian adalah alasan aku up cepet cepet wkwk
Eh jangan lupa follow aku ya
ig : cottoncandy_zue
Fyi, about visual keknya aku post di ig aja.
Hari ini diam-diam Akira pergi ke dokter obgyn, ia ingin memeriksakan diri.
Apa ia masih subur atau sebaliknya.
Ia mencari klinik berbeda dan dokter yang berbeda pula dengan kehamilan sebelumnya, agar Farid tidak tahu tentunya.
Ia harus memastikan apa dia masih bisa mengandung.
Satu hal yang ia takutkan karena peristiwa itu ia tak mampu memberi suaminya keturunan lagi.
Sebab, sudah beberapa bulan lalu sejak mereka berbaikan, itu sudah lama, tapi ia juga tidak mengandung padahal saat anak tidak mereka harapkan sekali buat langsung jadi.
Dan di sisi lainnya ia takut, Akira takut hamil lagi, bagaimana jika ia keguguran lagi?
Cemas.
Itu yang ia rasakan belakangan ini, mana Farid juga sering bersikap seolah ia akan segera hamil.
Segera, ia memasuki ruangan dokter setelah namanya di panggil.
Dokter, dengan nametag Dr. Amanda itu tersenyum lembut, ya seperti dokter pada umumnya lah.
Beruntung ia tidak dapat dokter yang jutek.
Malas, Akira periksa sama dokter jutek.
"Silahkan duduk, bunda." ramah, dokter itu mempersilahkan, Akira jadi tersengat jantungnya di sebut bunda.
'Mentang-mentang nama rumah sakitnya, Kasih Bunda apa?!'
Akira berucap dalam hati.
"Apa yang bunda keluhkan?"
"Saya mau memeriksakan rahim saya, apa saya masih bisa hamil lagi?
"Jadi bukan memeriksakan adik bayi ya? Baiklah, kita akan lakukan USG untuk mengetahui masalah yang terjadi pada rahim."
Akira mengangguk tanda setuju.
"Tidak ada masalah serius, semua baik." kata dokter tersebut setelah semua pemeriksaan selesai.
"Tapi kenapa saya belum hamil juga dokter?"
"Mungkin masalah ada pada suami anda. Lain kali, suami bisa untuk ikut di periksa."
"Masa sih dok? Orang saya pernah hamil, masa mendadak suami saya bermasalah."
Akira ngeyel, dokter hanya tersenyum maklum.
"Tapi saya memang pernah keguguran dokter, bahkan pendarahan."
"Apa parah?"
"Kalau sampai keguguran tandanya parah dok, saya sempat koma, jatuh dari tangga." jelasnya dengan terperinci.
"Dokter udah bener kan periksanya, rahim saya gak ada masalah serius beneran?"
Akira bertanya seolah ia meragukan dirinya sehat, padahal harusnya lega kan?
"Saya, yakin kalau bunda masih kurang yakin bisa lakukan pemeriksaan ulang."
Dalam hatinya dokter Amanda merasa aneh, harusnya kalau pemeriksaan menunjukkan hasil baik, napas lega dan senyum lega yang terjadi, eh ini malah tidak percaya.
"Sebaiknya, bunda periksa ke rumah sakit yang lebih besar untuk melakukan rontgen lanjutan semisal, HSG dan lainnya ada kemungkinan rahim bunda rusak atau semacam nya kalau kejadiannya separah itu."
"Emm, iya dokter terimakasih, kalau begitu saya permisi." ujarnya dengan bibir bergetar.
Jantung Akira seakan berhenti berdetak mendengar kemungkinan yang di katakan sang dokter.
***
Akira hanya memainkan makanannya ia masih memikirkan perkiraan dokter tadi.
Ah, menyesal dia periksa di klinik, harusnya ia periksa di rumah sakit besar agar hasilnya akurat dan tidak membuat takut begini.
'Jangan-jangan alatnya rusak lagi, atau dokternya enggak profesional.'
menggerutu dalam hati dengan tangan yang terus mengaduk makan siangnya. Ralat, mungkin makan sore, karena pemeriksaannya tadi sangat memakan waktu.
Padahal, yang ia pesan adalah makanan kesukaannya, mie ayam pake bakso.
Tapi, hati dan pikirannya seakan tidak mengizinkan mulutnya makan.
Walaupun, Akira masih enggan hamil lagi, tapi wanita mana yang mau punya rahim rusak?
Akhirnya, ia membayar makanannya lalu mementeng tas jinjingnya keluar dari warung makan.
Ia ingin pulang, ia ingin tiduran sambil menenangkan diri.
Hatinya, sungguh sangat amat tidak tenang.
Alih-alih langsung memeriksakan diri, Akira malah takut periksa, ia takut dengan hasilnya.
Segala perasangka berkecamuk dalam pikirannya.
Akhirnya, ia hanya bisa menangis dan membuat bantalnya basah karena air mata.
Kalau di pikirkan lagi, ia tidak akan seperti ini jika tidak menyangkal penjelasan dokter.
Akira kan masih muda, masa dengan mudahnya tidak bisa hamil setelah keguguran?
'Mungkin memang belum waktunya saja, iya pasti iya, belum waktunya.'
Ia berusaha membuat persepsi positif untuk dirinya sendiri.
Akira mengambil sesuatu dari laci nakas tempat tidurnya, sesuatu yang ia sembunyikan dari Farid.
Ia menatap, pil kontrasepsi yang pernah ia beli satu minggu lalu karena takut hamil.
Tapi, mengingat ini sudah berbulan-bulan dan ia belum hamil juga tanpa kontrasepsi.
Pasti ada masalah, lalu Akira tidak jadi deh meminumnya.
"Sayang!"
Hei, ini masih pukul lima sore.
Dengan, gelagapan ia berusaha menyimpan kembali pil kontrasepsi yang ada dalam genggamannya.
Namun, bukannya tersimpan, benda itu malah terjatuh di lantai.
Tepat saat,
Cklek
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Farid heran saat melihat istrinya berjongkok menggenggam sesuatu di tangannya.
"Aku? Aku, aku ambil barang jatuh."
Matilah, Akira.
Ia tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi Farid saat tahu dirinya memiliki pil pembunuh bayi mereka.
"Sampai enggak tau aku pulang? Akhir-akhir ini kamu aneh."
"Enggak, ngaco kamu."
"Atau memang sejak awal kamu aneh?"
Entah kenapa, ucapan Farid seperti menyindir rahasia yang ia simpan.
"Itu kenapa di sembunyikan?"
"Hah?!"
Akira kaget.
Farid memiringkan kepala memandang benda yang sudah ia bawa ke belakang punggungnya.
"Coba aku liat."
Farid bergerak maju dengan tangan yang terulur untuk mengambil benda itu dari genggaman istrinya.
Sontak, Akira mundur membuat Farid jadi curiga.
"Itu apa sayang, kamu mulai rahasiain sesuatu ya dari aku?" dengan tatapan mengintimidasi, Akira menjadi takut pada suaminya.
Setelah sekian lama, ia tidak merasakan kekejaman Farid.
Dengan tatapan nya saat ini ia sudah merasa seperti di serang nyalinya oleh lelaki itu.
Tahu istrinya melemah, ia langsung merebut benda itu dari Akira.
"Dapat juga, apa sih ini? Sampai kamu sembunyikan, aku kan jadi penasaran." katanya lega lalu mulai memperhatikan benda itu.
Tiba-tiba air mukanya berubah, yang tadinya lega menjadi tegang.
Rahangnya mengeras, "Ini punyamu, Akira?" tanyanya mendesis.
Yang ditanya hanya menunduk takut.
"Jawab sayang, ini punyamu atau bukan?" kali ini Farid menekan kata-katanya.
"I-iya, tapi aku--"
"Kamu pakai pil pencegah kehamilan? Sedangkan setiap hari aku mengharap anak kita tumbuh dalam rahim kamu."
"Mas aku gak pakai itu."
Akira menyangkal, kepanikan tergambar jelas di wajahnya, ia takut Farid akan salah paham.
"Lalu untuk apa kamu memiliki ini kalau bukan untuk di pakai, Akira?"
"Tapi aku belum--"
"Belum? Itu artinya, kamu mau memakainya kemudian hari? Iya?!"
Farid mulai meninggikan nada suaranya di akhir kalimat.
"Kamu gak mau melahirkan anak aku, Akira? Aku kira kamu sudah memaafkan aku, tapi apa kamu masih memendam dendam, denganku?"
Farid menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Enggak, aku enggak dendam. Mas kamu salah paham."
"Aku salah paham? Oke, jelaskan, kenapa kamu membeli benda terkutuk ini dan menyembunyikan itu dariku!" tangannya membanting botol pil itu ke atas lantai hingga semua isinya berserakan.
Oh, betapa hancurnya perasaan Farid saat ini, jika Akira sungguh menggunakannya.
Setiap hari dirinya selalu mengharap anaknya tumbuh, namun setiap hari Akira membunuhnya dengan pil itu.
Walau kenyataannya, Akira belum melakukannya, baru akan melakukanya.
"Mas aku gak minum itu." lirihnya dengan air mata yang mulai mengaliri pipinya.
"Kamu enggak percaya sama aku lagi." dirinya mulai terisak.
Sial!
Farid lemah jika sudah seperti ini.
Jangan sampai kesalahannya yang dulu tidak mempercayai istrinya terulang kembali.
Farid menatap pil yang berserakan dalam jumlah banyak. Farid berjalan mendekati Akira.
"Kamu benar gak minum itu?"
tangannya terulur untuk mengangkat dagu Akira nya agar mau menatap wajahnya.
Kepalanya menggeleng dalam tangkupan tangan suaminya.
"Lalu, untuk apa kamu beli itu?"
Bukannya menjawab, Akira malah menangis meraung-raung. Ia bingung mau menjawab apa, kalau ia jawab biar tidak hamil, Farid akan marah.
'Gimana ini?'
'Sabar Far. Atau aku bisa saja melakukan kesalahan yang sama lagi nanti.' Farid mencoba menahan emosi dan rasa kecewanya akan kemungkinan-kemungkinan kenapa Akira membeli obat semacam itu.
Akira bodoh, polos, peak atau lugu.
Author aja kaga paham.
Nikmati, alurnya, mau Akira bawa kemana.
Pokoknya author masih mau buat Akira bego kaya gini.
Tersiksa sama persepsi sendiri hueheheeh.
Oyaa, petik satu itu berarti pada lagi ngomong dalem hati yaaa