Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Affection



Akira merasakan dirinya sangat ingin memasak saat ini juga, ia ingin memaksa suaminya memakan masakannya, ia harus segera menyelesaikannya sebelum pria itu pulang, atau ia akan di marahi habis - habisan karna sudah berani beraktivitas disaat kandungannya lemah. Tapi bagaimana lagi ia sangat ingin memasak sampai rasanya akan menangis jika tidak melakukannya.


Ia sedang memasak semur ayam pedas dan sedang menunggunya matang, sembari memotong cabai hijau yang akan ia gunakan untuk memasak tumis cumi.


"Nona, istirahat saja biar saya dan Indah yang memasak makan malam" bujuk Astuti karna sedari tadi majikannya kekeh untuk memasak sedangakan Tuan - nya sudah melarangnya dan mewanti - wanti mereka semua agar jangan membiarkan Akira melakukan apapun.


"Biar aku saja, aku, ah bukan bayiku sangat ingin ibunya memasak" begitulah jawaban Akira yang membuat para maid bungkam.


Mereka seakan mengerti bahwa keinginan ibu hamil tidak bisa ditolak.


Bahkan, Wisnu juga bungkam karna Akira yang menangis saat ia melarang majikannya untuk menanam bunga ditaman tadi pagi.


"Akira!" panggil Farid saat baru memasuki kamarnya. Namun, tak ada sahutan dari gadis yang dipanggilnya.


Ia menuruni tangga dan bertemu Wisnu.


"Dimana istriku" tanya Farid membuat wajah kepala pelayan itu takut.


"Itu, Tuan, Nona sedang memasak" ucapnya gugup.


"Memasak? Aku kan sudah bilang padamu, untuk, ah sudahlah!" ucapnya gusar dan menyusul istrinya yang katanya sedang memasak.


"Akira, apa yang kau lakukan" sontak Akira tersentak kaget dan membuat pisaunya meleset mengenai jari telunjuknya.


"Aku ingin memasak" jawab Akira dengan menundukan kepalanya tanpa memperdulikan tangannya yang baru saja tersayat pisau.


"Aku kan sudah bilang jangan lakukan hal yang membuatmu lelah" balas Farid gusar.


"Ini kan maunya si baby, bukan aku!" pekik Akira.


"Yasudah, kali ini saja aku akan biarkan" ucapnya pasrah, saat mendengar bahwa itu keinginan si bayi, sungguh keinginan Akira sejak mengandung tak bisa ditolak, bisa - bisa gadis itu akan menangis.


Sejak kejadian malam itu Akira dan Farid memutuskan untuk hidup selayaknya suami istri yang sesungguhnya, yang menanti kehadiran buah hati mereka dengan bahagia.


"Akira tanganmu!" pekik Farid melihat darah mengucur dari telunjuk istrinya.


"Ah ini, biasa aja kali Mas" sahutnya terkekeh.


"Hah kamu ini aneh, setiap kenapa - kenapa tidak ada suaranya, kau membuatku sulit mengetahui keadaan mu yang sedang celaka" celoteh Farid.


Ya, Akira memang suka begitu, saat dirinya tertusuk duri mawar ditaman, ia diam saja tidak ada suara rintihan, saat terpantuk meja hingga jempol kakinya membengkak, ia juga diam saja, sekarang jarinya teriris, boro - boro memekik sakit ia malah diam saja dan menjawab ucapan - ucapan Farid tanpa menyadari bahwa jarinya terluka.


Akira hanya diam dan tersenyum memperhatikan Farid yang mengobati jarinya, suaminya itu yang semakin hari semakin menunjukan kasih sayangnya padanya dan juga bayi mereka, ternyata kekhwatirannya waktu itu sungguh tidak beralasan. Ia dapat melihat betapa protektifnya Farid padanya. Walaupun pria itu belum mengatakan cinta pada Akira, tapi ia tak perduli, perlakuan Farid seperti sekarang ini saja sudah membuat dirinya bahagia.


"Sampai kapan aku dirumah terus, aku pengen keluar tau" ucap Akira.


Farid mendongak menatap wajah istrinya.


"Nanti, saat kandunganmu sudah kembali kuat, mengertilah" sahut Farid pelan.


Akira hanya mengangguk menanggapi.


"Boleh aku minta sesuatu?"


"Katakan, jangan menahannya"


"Aku mau, kamu lanjutkan masakanku dan menyuapiku makan" jawab Akira antusias.


"Hah? Apa tidak ada permintaan lain?"


" Kamu gak mau?"


Yang Akira balas dengan tatapan maut dan berkaca - kaca. Melihat itu Farid menyerah. Ia harus banyak mengalah pada wanita hamil.


"Baiklah, akan aku lakukan"


Akira sudah duduk dihadapan suaminya bersiap untuk menikmati suapan pertama dari sang suami.


Ia mengunyah makanan itu dengan antusias saat satu suapan berhasil masuk mulutnya.


"Enak banget, kamu pinter masak"


"Serius enak?" tanya Farid heran dan dibalas anggukan mantap dari Akira.


Farid yang penasaran dengan rasa masakan pertamanya mencoba satu suap, tapi ia justru ingin segera memuntahkan tumis cumi yang luar biasa asin. Segera ia mengangkat piringnya dan berniat membuangnya.


"Loh, makanan aku mau dibawa kemana aku kan masih makan malem belom kenyang!" protes Akira.


"Jangan makan ini, tidak sehat dan tidak enak!" tegas Farid.


" Ih jangan itu enak banget tau, aku masih mau makan, aku nangis nih kalau dibuang" ancam Akira.


Kadang Farid berpikir apa bayinya balas dendam padanya sehingga sekarang ia sering mengancamnya melalui mulut ibunya.


Apa bayi yang belum terbentuk sempurna itu tahu kalau ayahnya dulu suka mengancam ibunya?


.


.


.


.


Sedangkan disisi lain Rayrin kelimpungan mengetahui Farid sungguh menolaknya sudah satu bulan ia berusaha menenangkan hati pria itu kembali tapi apa yang ia dapat?


Ancaman bahwa pria itu akan menghancurkan karir modelingnya.


"Sialan, gadis liar itu dan anaknya aku harus membuang mereka dari hidup Farid!" teriaknya kesal dan menggusur barang - barang yang ada dimeja riasnya hingga terjatuh semua.


Rayrin langsung mengambil ponselnya dan mendial nomor mama Farid.


"Halo, Ma?"


Kenapa, Ray? Ada sesuatu?


"Ma, bisakah kita bicara? Aku akan menemui mama dirumah"


Baiklah, mama tunggu


Lalu telepon ditutup dengan seringai licik dari Rayrin. " Lihat saja nanti gadis liar" gumam Rayrin penuh arti.


Hmm kira - kira Rayrin mau ngapain nih guys


Coba tebak!


Terus dukung author ya guys


terimakasih😊🌻