
Sorry, part ini gak ada yang menarik hanya kisah manis Akira dan Farid setelah berdamai...
Akira memberontak mendorong Farid dengan sekuat tenaga, ia berdiri melihat Farid yang terjengkang di atas kasur lalu meledeknya dengan menjulurkan lidahnya, "Wlee." ledeknya dan berlari keluar kamar secepat kilat menghindari Farid yang dengan semangat mengejarnya.
Tawanya semakin kencang seiring dengan Farid yang semakin mendekat.
"Kena!" seru Farid saat tangannya berhasil menangkap wanitanya, saat sampai di ruang tengah, ia mengangkatnya lalu membawanya ke sofa dan di dudukanlah Akira di atas pangkuannya, sembari kembali menggelitik perut rata Akira.
"Udah, ya ampun geli.. " teriak Akira kegelian, namun Farid malah semakin jahil menggelitik Akira sampai di rasanya cukup, ia menatap Akira lekat, yang kini wajahnya basah oleh peluh.
Napas keduanya tersengal, kegiatan yang cukup melelahkan dan menyenangkan, pikir Farid.
"Aku tidak tau kalau kamu seseksi ini saat berkeringat." ucap Farid lalu mengecup pipi kanan Akira.
"Pembual!" tuding Akira lalu berusaha beranjak dari pangkuan suaminya.
Baru selangkah, tangannya di tarik hingga tubuhnya jatuh ke pangkuan lelaki itu.
"Makan malam! Aku laper!" ketus Akira saat dirinya menyadari pandangan aneh Farid yang tertuju padanya.
"Tapi aku mau makan yang lain." jawab Farid dengan nada manja.
Wah, sepertinya otaknya sudah gesrek sampai bisa manja begini ngomongnya,bisik Akira dalam hati.
"Apa? Nanti aku buatin." jawab Akira cepat berharap setelah itu ia bisa lepas dari jeratan Farid yang suka sekali membuat jantungnya berdebar tak karuan serta memunculkan pikiran yang iya-iya dengan Farid.
"Kamu." bisik Farid sembari menghembuskan napas ringan ke leher Akira yang langsung membuat Akira berjengit dan memejamkan matanya menikmati deru napas yang menyapu permukaan kulitnya.
Dan kini Akira kesal bukan main, tentu pada dirinya sendiri, ia mengaduk mie nya sambil cemberut, karena Farid ia jadi bangun dini hari demi mengisi perutnya yang kosong demi mengisi malam Farid dengan dirinya.
Ia kesal rasanya, kalau di pikir-pikir ia wanita lemah, sangat lemah, baru begitu saja langsung jatuh di pelukan Farid. Apapun yang Farid lakukan pada dirinya seakan menjadi suatu hal yang tidak bisa ia tolak.
Ia selalu kalah telak dalam permainan takdir cintanya bersama Farid. Ini tidak adil!
Ngomong-ngomong, Akira menemukan mie instan di rumah ini. Ia menyembunyikan mie instan di tempat teraman menurutnya, dapur, lagi pula Farid tidak akan pernah lama-lama di dapur.
"Woaaaah.. kenyang!" serunya saat selesai menyantap mie instan merk se*aap favoritnya. Mendadak pikirannya melayang ke arah Rayrin.
"Btw, apa kabar si nenek ya, adeehh semua karna dia, ribet idup gue." gerutunya sengit, ia memutuskan untuk kembali tidur karena waktu menunjukkan masih pukul 02.02 dini hari.
Matahari mulai menampakan eksistensinya terhadap dunia, sedangkan Akira masih betah bergelung di dalam selimut tebalnya. Ia mengerucutkan bibirnya sambil tetap memejamkan matanya, kala sinar mentari dengan lancangnya mengenai matanya.
Dengan kasar ia tarik selimut menutupi wajahnya, " Hey, Nyonya, sudah waktunya bangun." sapa sebuah suara kesukaannya, suara siapa lagi, tentu suara Farid.
Ah sialan, ternyata suami jahatnya yang membuka tirai hingga membuat sinar matahari mengusiknya.
Akira tidak menjawab ia hanya berdehem, lalu kembali tidur, dengan akal jahilnya Farid menarik selimut Akira yang ia kira dalam keadaan tanpa busana. Tapi ternyata istrinya berpakaian lengkap dengan setelan piyama bergambar lebah.
Nampaknya semalam ia terlalu lelah untuk menyadari kepergian Akira untuk makan. Tidurnya pasti seperti beruang hibernasi sampai tidak merasakan pergerakan Akira sama sekali saat wanita itu bangkit untuk memakai pakaian.
"Jangan ganggu dong, aku capek super capek dan gara-gara kamu." gumam Akira dengan mata yang masih terpejam dan suara serak khas bangun tidur.
Farid menyeringai jahil mendengar sahutan Akira, "Tapi kamu suka kan, mau aku ulang?" tanya Farid jahil.
Akira dengan cepat membuka mata nya dan duduk dengan tegaknya.
"Farid jangan ngomong kotor pagi-pagi!!" teriaknya dengan suara menggelegar.
Farid yakin burung-burung yang sedang berkicau riang langsung terbang berhamburan mendengar teriakan maut Akira.
"Aku cuma nanya, gak ngomong kotor sama sekali." jawabnya sok polos.
"Terserah!"
"Wow, kamu ngambek?" godanya sembari menoel-noel hidung Akira.
Akira yang masih cemberut mendadak ingin bertanya sesuatu, "Mas Farid!" panggil nya dengan raut serius sekali.
"Apa sayang." jawab Farid sembari memainkan rambut Akira dan memandangi wajah manis tanpa polesan makeup itu.
"Kita nggak salah langkah?" Kening Farid berkerut tanda tak mengerti, "Ah enggak, maksudnya aku nggak salah langkah?"
"Salah langkah?"
"Ya.. aku gak salah baikan sama kamu? Inget, ada mama, Rayrin, dan.. "
"Hentikan, Akira. Aku tidak suka membahas hal berbau negatif seperti itu." sanggah Farid yang seperti malas membahas hal yang akan membuat keduanya beradu mulut.
"Tapi--"
"Aku cuma mau kamu yang berharga terus bersamaku dengan penuh cinta dan kebahagiaan, aku tidak mau tau dengan yang lainnya, tidak bisakah kita bahagia tanpa harus mengurusi orang-orang yang berusaha memisahkan kita?"
Sungguh, kalimat panjang yang membuat Akira terharu bukan main. Ia benar-benar merasa cinta sudah ia dapat dari lelakinya. Bahkan, tatapan Farid kini membuat Akira merasa tenang.
Akira menghamburkan dirinya ke pelukan Farid, "Ya Tuhan, suamiku kok bisa puitis banget, manis deh." serunya lalu memainkan kedua telinga Farid yang menurutnya sangat imut.
"Huft, aku sudah berikan ganjaran yang pantas untuk Rayrin sialan itu."
"Ih ngomongnya, jangan gitu." Farid tersenyum miring, menatap jahil Akira.
"Yang dulu suka memaki-maki Rayrin dengan umpatan kasar siapa ya.. ?" tanya Farid pura-pura tidak tahu.
Akira menepuk dada suaminya dan beranjak dari ranjang dengan wajah kesal, "Awas aja kalo sampe minta jatah." omelnya sebelum menutup pintu kamar mandi, sedangkan Farid melongo tak percaya dengan ancaman istrinya barusan.