
Akhirnya dengan berbagai macam bujukan dan rengekan Akira mendapat izin untuk pergi bersama teman - temannya. Sebenarnya, Farid melarang sebab kemarin Akira sudah ia biarkan berada di Home's Food untuk waktu yang lama, tapi apa sih yang tidak untuk anaknya? Ya, Akira jelas mengatakan itu kemauan si bayi.
Seperti biasa saat mereka suka berkumpul dulu, mereka berada dirumah Tina untuk makan apapun dan membicarakan apapun, apalagi ini jelas kesempatan langka.
"Akhirnya, kumpul juga astaga susah banget dapet izin dari Farid buat bawa lo keluar Ra!" ucap Zia lega, yang diiringi anggukan dari Viara juga Risa.
"Nah, betul sejak nikah susah nah ini lo hamil makin susah, kerjaan direstoran semua gue yang handle jadian" sahut Viara membenarkan.
"Ya ntar lo juga bakal rasain kok Vi, kalau menikah terus hamil, pasti perhatian lebih ke anak dan suami dong" ucap Risa bijak.
Akira mengangguk setuju mendengar penuturan Risa.
"Nah, like gue sama omongan lo Sa, apalagi gara - gara Rayrin lampir yang sengaja bikin gue jatuh, jadi kandungan gue sempet lemah"
"Hah! Kok bisa sih, gile jahat banget!" pekik Tina nyaring.
"Tau tuh dia nih cuma mantan aja suka banget gangguin suami gue, mau ngerebut lagi ishh" gerutu Akira.
"Serang aja Ra, jangan mau kalah sama wanita lain!" ucap Zia memprovokasi.
"Santai aja, gue juga gak diem aja kok kalau diserang, kecuali kalau emang yang diperjuangin udah bener - bener gak bisa diperjuangin lagi, tau sendiri lah berapa lama sepak terjang gue mencintai Farid" ucap Akira dengan nada memelas yang dilebih - lebihkan.
"Nada suara lo Ra, alay ih udah jadi istri jangan alay ngapa sih, lagi ngomong serius juga" protes Zia, yang dibarengi dengan kekehan teman yang lain.
"Ini mbak seblaknya lama bener dah gak dateng - dateng?" tanya Akira tak sabar, sebab sudah lama ia memesan masakan khas yang banyak diminati oleh berbagai kalangan karna rasa segar dan pedasnya yang menggoda lidah.
"Tau tuh lama bener, udah satu jam guys ini" sahut Tina menimpali.
Saat sedang asyik bercengkrama dengan para sahabatnya tiba - tiba ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk, tapi Akira abaikan karna ia tidak suka memainkan ponsel saat sedang berkumpul dengan mereka semua, karna waktu bersama sahabatnya begitu berharga.
Tak lama ponselnya kembali bergetar, akhirnya ia memutuskan membuka pesan yang entah dari siapa, tapi setelah menilik isi pesannya ia yakin bahwa Rayrin pengirimnya.
Ternyata isi pesannya adalah sebuah foto yang menunjukan suaminya sedang makan siang disebuah restoran.
Hey Akira! Lihat, aku sedang menemani suamimu tercinta makan siang, terimakasih sudah memberikan aku kesempatan berduaan dengan suamimu. Ups, maksudku kekasihku.
Akira tersenyum miring membaca pesan dari Rayrin, hatinya mencelos, tapi ia berusaha untuk tetap bersikap biasa saja, ia bisa memikirkan ini nanti saja setelah ia tidak lagi bersama para sahabat-sahabatnya.
Sementara ditempat lain...
"Sudah selesai? Cepat bicara aku tidak punya banyak waktu, hanya untuk menunggumu ke toilet dan makan siang denganmu" ketus Farid pada Rayrin yang mengajaknya bertemu.
"Farid, kamu jangan ketus gitu sama aku, aku minta maaf, aku kan gak tau kalau cewek gak jelas itu hamil" ucap Rayrin dengan nada yang dibuat - buat.
"Maksudmu cewek gak jelas?"
"Ah maaf, maksudnya istri kamu Akira, aku harap kita bisa berhubungan baik lagi, please" mohon Rayrin dengan wajah sok memelasnya.
"Ray, aku sudah memutuskan untuk memulai segalanya bersama Akira, bersama ibu dari anakku, aku sudah melupakan kamu sejak aku menikahinya!"
"Bohong! Itu bohong kamu gak cinta sama dia kan, buktinya waktu aku kembali kamu juga terima aku, sebelum Akira hamil kamu masih baik sama aku, kamu jahat cuma didepan Akira sama sekertaris kamu itu, aku tau kamu pura - pura kamu cinta sama aku kan?!" cerocos Rayrin.
"Tidak Ray, tidak begitu lebih baik sekarang kamu lupakan aku, aku permisi!"
Gak! Gak bisa begini, aku harus kembali dapatkan Farid agar karirku semakin bagus dan hidupku akan terus terjamin,setidaknya jika aku tidak lagi jadi model aku bisa menikmati kekayaannya!
"Farid, tunggu! Please maafin aku!" ucap Rayrin sembari memeluk Farid yang sudah melangkah pergi dari belakang.
Sontak, Farid berbalik dan mendorong Rayrin agar melepas pelukannya, namun Rayrin malah mengeratkan pelukannya sehingga mereka terlihat berpelukan.
"Rayrin lepas" ucap Farid namun tidak dihiraukan oleh Rayrin.
"Ray, aku bilang lepas ya lepas!" bentak Farid membuat Rayrin kaget dan menatap Farid takut dan tak kuasa menahan Farid yang melangkah pergi.
"Okey, tidak masalah aku sudah mendapatkan sesuatu untuk menghancurkan Akira perlahan, aku pastikan kamu kembali ke pelukanku Farid sayang" ucap Rayrin dengan seringai jahat.
.
.
.
.
Akira kembali ke rumahnya dengan wajah lesu dan kesal mengingat pesan Rayrin yang entah bagaimana mendapatkan nomor ponselnya.
"Yeah! Lebih baik sekarang menyegarkan tubuh dan pikiran dengan berendam air dingin!" ucapnya lalu memasukan dirinya ke dalam bak mandi untuk berendam dengan aroma mawar yang menyegarkan.
Tapi, gimana kalau emang bener, aku juga sakit tau hal itu, apa aku tanya Gio ya? Tapi, Gio udah jelas gak akan kasih tau dia kan setia sama Farid.
Lama ia berpikir dengan banyak praduga positif juga negatif, ia segera mengentaskan dirinya dari rendaman air mawar karna dirasa ia sudah cukup lama berendam.
Setelah mengenakan dress rumahannya ia menuju dapur untuk melihat bahan masakan, ia akan memasak untuk makan malam hari ini, ia harus mencari kesempatan baik untuk bertanya pada Farid.
Saat kakinya menapaki tangga, deru suara mobil terdengar membuat ia melangkah ke depan untuk membuka pintu, ia yakin itu adalah Farid yang sudah kembali pulang.
Memang sejak Akira mengandung, Farid sering pulang disore hari.
Benar saja, saat pintu terbuka ia melihat suaminya berjalan ke arahnya, seketika ia tersenyum menyambut kepulangan sang suami.
"Sudah pulang?" tanya Akira tersenyum lembut sembari mengambil alih tas kerja suaminya.
"Sudah, tidak banyak pekerjaan hari ini" sahut Farid sambil membalas senyum Akira.
"Bagaimana, senang main sama teman - teman kamu?" tanya Farid sambil melangkah beriringan bersama Akira menuju kamar mereka.
"Iya seneng banget, udah lama gak kumpul begitu, terimakasih udah kasih izin" ucap Akira yang dibalas anggukan dari suaminya.
.
.
.
.
Akira menunggu Farid menyelesaikan tegukan terakhirnya setelah menyelesaikan makan malamnya.
Ia harus membuat suasana hati pria itu baik, agar bisa bertanya tanpa perlu takut Farid akan mengamuk, walau Farid sudah mulai perhatian dan bilang akan melupakan Rayrin untuk memulai segalanya bersamanya, tapi ia tetap takut jika Farid meledak, ingatkan Akira bahwa Farid belum mengatakan cinta padanya.
"Ini tumben mau masak lagi, biasanya kamu malas" tanya Farid sembari meletakan gelasnya diatas meja.
"Hehe pengen aja udah lama gak masak" jawab Akira meringis menunjukan deretan giginya yang putih.
"Mas, tadi makan siang dimana?" tanya Akira langsung.
"Nah, akhirnya kamu sopan manggil aku lagi, mau apa kamu? Pasti ada maunya?"
"Eh! Enggak kok, bukan begitu aku kan cuma nanya mas" elak Akira gelagapan.
"Terus apa lagi kalau bukan begitu?"
"Itu, aku cuma mau nanya tadi makan siang dimana?"
"Ya di kantor lah Ra, Gio yang belikan, kenapa? Mau buatkan aku makan siang selanjutnya?"
"Eh, emm i - iyaa" gagap Akira, ia kecewa mendengar jawaban Farid, apa suaminya itu berbohong? Jelas tadi suaminya ada disebuah meja restauran dengan makanan dihadapannya, kenapa ia malah mengaku makan siang dikantor?
"Ya sudah besok buatkan bekal saja, aku bawa dari rumah supaya kamu gak perlu antar, biar gak capek" sahut Farid tersenyum.
Akira hanya tersenyum kikuk menanggapi ucapan sang suami, ia senang Farid mau membawa bekal yang ia siapkan, itu salah satu keinginannya, tapi baru saja apa suaminya membohonginya?
"Emm sama siapa makannya?"
Farid tersenyum gemas dengan mendengar pertanyaan Akira yang layaknya seorang istri yang pencemburu.
"Sendirian lah, kan aku makan diruangan aku sayang" sahut Farid.
Ini suami aku yang bohong apa Rayrin yang mengada - ada sih, tapi tadi jelas difoto itu Farid lagi di sebuah restaurant bukan ruangan kantornya, apa dia bohong, apa mungkin dia diam - diam masih berhubungan sama Rayrin ?
Ada rasa nyeri di dadanya saat memikirkan hal itu, mungkinkah Farid masih bersama Rayrin tanpa sepengetahuannya?
Slow ya guys
Cerita ini pasti akan berjalan tentu dengan segala ketentuan yang telah author rencanakan
Terimakasih yang sudah setia menunggu karya saya, semoga tetap setia dan selalu vote, like and comment untuk mendukung karya saya😊🌻