
Tak ada nyanyian merdu dari pasukan burung, tak ada pula sinar mentari yang dengan cerahnya menyinari bumi.
Awan gelap masih menguasai bumi, angin dingin masih berhembus, rintik hujan masih berjatuhan, efek hujan kemarin masih tersisa hingga pagi ini.
Akira dengan manisnya masih menutup matanya yang enggan terbuka karna rungunya mendengar rintik hujan berjatuhan.
Lanjut tidur ah, enak nih batinnya.
Ia masih belum menyadari keadaan,ia masih terlalu terlena oleh suasana pagi ini.
Hingga saat dimana ia merasa sangat dingin dan menaikan selimutnya, ia merasa ada yang aneh.
Aku pakai baju apa si kemarin kok gak ada lengannya pikir Akira, hingga sampailah dimana ia mengingat kejadian siang menjelang sore kemarin yang membuatnya tertidur nyenyak sampai pagi, kalau diingat ia bahkan tidak makan malam.
Dengan perasaan gelisah yang mulai merambat didada, Akira membuka matanya memeriksa keadaannya.
Ya, ternyata kemarin bukan mimpi, ia benar - benar melakukan itu dengan Farid, harusnya ia senang, tapi tidak. Jantungnya terasa nyeri dadanya terasa sesak mengingat bagaimana pria itu melakukannya tanpa cinta meski hanya setitik.
Akira semakin sadar,bahwa manusia hanya bisa bermimpi dan berencana tapi tetap takdir yang berbicara.
Keinginan hatinya bercinta dengan orang yang mencintainya pupus,karna Farid tak pernah dan tak mungkin mencintainya.
Dengan segala rasa sakit ia berusaha beranjak dari tempat tidur, ia tak perduli lagi dengan cuaca dingin yang sangat enak jika di bawa tidur lagi. Saat ini ia hanya ingin menangis. Rasanya nyeri saat Akira melangkahkan kakinya tapi itu tidak ada apa - apanya jika dibandingkan dengan rasa kecewa dihatinya kini.
Akira menyalakan shower dan menjatuhkan dirinya dibawah guyuran air, menangis sejadi-jadinya.
Kenapa harus begini caranya sih, itu bukan yang aku ingin! Aku menyukainya aku memimpikannya, tapi bukan berarti aku harus menikahinya dengan cara seperti itu, aku menginginkan menjadi istrinya selamanya, aku ingin jadi istri yang baik untuk suamiku tapi kenapa begini cara yang Tuhan takdirkan !
Semakin sesak dadanya menahan jeritan tangis yang menjadi, semakin deras air matanya, semakin ingin ia berteriak jika saja ia tak ingat jika nanti Farid akan mendengarnya.
-----------
Akira keluar setelah dirasa cukup puas meluapkan kekecewaannya dengan air mata, lalu berusaha ikhlas, toh biar bagaimana juga pria itu suami sahnya.
Ia menatap seorang pria yang masih tertidur nyenyak mungkin pria itu lelah,sehingga enggan membuka matanya.
Namun, sejenak kemudian ia terhenyak menatap jam dinding, pukul 07.15 ini sudah terlalu terlambat ia harus segera membangunkan suaminya, juga ia harus bergegas untuk kerja Akira terlalu larut dalam rasa kecewa hingga lupa segalanya.
Akhirnya ia menghampiri Farid yang tengah terpejam dalam tidurnya dan menepuk pelan bahu tegap pria itu.
" Mas, bangun udah siang" namun belum ada sahutan, Akira memutuskan untuk sedikit menggoncang tubuh suaminya, semoga itu tak membuatnya bangun dengan keadaan marah.
"Farid! Ini sudah siang" ucapnya dengan suara sedikit meninggi,membuat kedua mata lelaki itu perlahan mengerjap hingga akhirnya terbuka.
"Bangun, sudah siang kau harus kerja kan" ucap Akira ketus.
Logikanya melarangnya untuk bersikap dingin, namun hatinya yang tersakiti dan kecewa membuatnya ingin bersikap egois dan menunjukan rasa kecewa dengan sikap dingin terhadap suaminya.
Setelah memastikan pria itu bangun dan memulai membersihkan dirinya, Akira keluar dari kamarnya menuju dapur dengan langkah pelan, ia sungguh masih merasa sakit saat berjalan kemarin itu pertama kali untuknya, tapi suaminya bahkan tidak memberi jeda untuknya dan terus menerjang dirinya hingga malam tiba.
Pikirannya yang mengingat betapa ganas pria itu sampai tak mendengar rintihannya yang meminta untuk berhenti membuat ia berdebar tak karuan, ada rasa malu saat mengingatnya, tapi sesal juga ikut menghinggapi.
" Selamat pagi, Nona ada yang bisa saya bantu, apa anda sakit?" tanya Wisnu.
" Tidak, aku baik" jawab Akira sekenanya.
Dan melanjutkan langkahnya menuju dapur, tapi ia berhenti ketika melihat semua sarapan sudah siap.
"Bi Indah!" panggilnya.
" Iya nona, ada apa?"
" Sudah selesai semua ini?" tanyanya dengan menunjuk arah meja makan.
" Sudah nona ,saya pikir anda tidak datang memasak karna anda tidak juga datang"
" Emm, ya sudah tidak apa bawakan susu segar ya Bi, yang tidak berasa" pinta Akira lembut.
Akira duduk dikursi dengan hati - hati sungguh bagian bawahnya terasa nyeri bahkan saat ia menggerakan kakinya sedikit.
Tampak Farid mendatangi meja makan dengan segera ia menaruh beberapa sendok nasi ke dalam piringnya untuk kemudian ia letakkan dihadapan pria itu.
" Nona, ini susunya" ucap Indah sembari meletakan susu dimeja dan kembali ke dapur.
Akira segera memakan dua lembar roti tawar dan meminum susunya sampai tandas, ia sengaja tak mau memakan nasi hari ini agar ia bisa cepat meninggalkan Farid yang ada didekatnya.
Lalu, tanpa ragu ia melangkah pergi dengan langkah terseok, padahal ia sudah berusaha untuk melanhkah biasa saja,tapi itu terlalu sulit.
"Mau kemana kau?" tanya Farid menghentikan langkahnya.
"Aku mau kerja" sahutnya datar.
"Makan sarapanmu" ucap Farid tak kalah datar.
"Sudah" balasnya dingin, lalu melanjutkan langkahnya.
"Kau mau membantah?!" kali ini Farid sedikit meninggikan nada suaranya.
Akira terdiam sejenak,lalu kembali melangkah.
"Berhenti disitu Nyonya Danuarta!" lantang Farid.
Membuat Akira bergidik ngeri, juga terkejut mendengar panggilan barunya dari mulut sang suami.
" Nona, saya mohon turuti Tuan untuk mencegah keributan dipagi hari ini" mohon Wisnu yang mulai membaca tanda adanya keributan jika Nona-nya tak segera mendengar dan melakukan apa kata Tuan-nya.
Akhirnya Akira melangkah ke meja makan lagi dengan susah payah.
"Jangan pergi sebelum aku selesai makan!"
sarkas pria itu.
" Iya" sahut Akira dingin dan datar tanpa senyum tanpa canda yang biasa ia lakukan.
" Kau akan aku antar" ucap Farid setelah menyelesaikan makannya.
" Tapi aku-"
"Tidak ada penolakan!" potong Farid tajam dengan tatapan mata penuh ancaman.
Pria itu mulai melangkah menjauhi meja makan diikuti dengan Akira yang kesulitan melangkah.
" Kenapa dengan jalanmu?" tanya Farid sarkas.
" Ti- tidak apa - apa" cicit Akira pelan.
"Tunjukan kakimu,mana yang sakit?"
"Kakiku tidak sakit"
Apa monster ini tak paham jika aku sakit karna dia,apa dia tidak tahu menahu akan hal ini? batin Akira.
" Lalu?"
Ugh bagaimana menyampaikannya agar dia mengerti tanpa didengar orang,tapi untuk apa juga dia mengerti aku pasti bisa atasi sendiri.
"Karna aku?"
"Tidak! Bu-bukan maksudnya karna kau harus segera pergi,jadi aku jadi sulit berjalan mengikuti langkah mu yang panjang" kilah Akira.
"Tidak masuk akal! Kau pikir alasanmu bisa diterima?Bahkan biasanya kau suka berlari,jalanmu cepat, langkahmu lebar aku tau aku bukan menikahi gadis lemah lembut yang lelet saat berjalan, katakan!"
"Aku tidak bo-"
" Kau berbohong!" tuduh Farid memotong kalimatnya.
"Aku hanya, merasa sedikit sakit karna kemarin" jawab Akira jujur dengan kepala menunduk karna ia semakin takut dengan suaminya yang mulai meninggikan suaranya. Itulah Akira sangat takut dibentak dan melemah jika jika suara meniggi padanya.
"Kau tidak perlu bekerja kalau begitu" putus Farid.
"Hah! Tapi-"
"Wisnu, panggil dokter Adilla kemari!" tukasnya.
"Baik Tuan"
"Farid! Itu tidak perlu aku hanya-"
Akira menghentikan ucapannya karna mendapat tatapan tajam dari Farid.
"Gio,aku akan datang terlambat istriku sakit" ucapnya pada Gio melalui telpon.
Setelah ia menutup telponnya, ia menarik Akira dalam genggamannya menuju kamar mereka.
"Aw, pelan-pelan ini menyakitiku" pekik Akira meringis.
Farid, menghela nafas kasar, sebelum akhirnya membawa Akira dalam gendongannya. Akira hanya menunduk dalam gendongan pria itu tanpa menaikan pandangannya.
------------
" Tuan muda dokter Adilla sudah datang" ucap Wisnu dari luar pintu.
"Masuk!"
Tampaklah dokter Adilla yang tersenyum manis menunjukan dua lekukan dikedua belah pipinya memberikan kesan manis saat ia tersenyum.
"Apa kau sakit?" tanya dokter Adilla santai, karna mereka berteman sejak kecil jadi Adilla tak mau bersikap formal pada Farid.
"Kau buta ya? Dia yang sakit bukan aku" tunjuk Farid pada Akira yang tengah berbaring.
"Biasa saja dong,cantik sekali istrimu bagaimana dia bisa mau menikahi gumpalan es kutub seperti kau" gurau dokter Adilla.
"Diamlah, dan cepat periksa kakinya!"
Adilla melakukan apa yang Farid katakan.
"Kakinya tak ada masalah"
"Periksa yang benar! dia bahkan tak mampu berjalan dengan benar"
Akira jadi tak enak mendengar kekesalan suaminya terhadap dokter Adilla.
"Hey, aku sudah memeriksanya kakinya baik,jika kakinya baik kenapa kau bisa sulit berjalan ?" selidik dokter Adilla pada Akira.
"Dokter sebenarnya itu.." Akira berucap lirih dan melirik ke arah area sensitifnya.
"Ah aku mengerti,buka coba aku lihat" pinta dokter Adilla.
"Kau ini memeriksa atau bagaimana kenapa menyuruhnya membuka rok seperti itu!" protes Farid tak terima.
"Diamlah,aku lebih tau apa yang harus ku lakukan"
Farid menghela nafas kesal mendengar penuturan dokter pribadinya.
"Aku malu dok"
"Demi pemeriksaan sayang"
Farid memalingkan wajahnya ke jendela saat Akira mulai membukanya.
"Astaga sebenarnya apa yang suamimu lakukan sampai membuatmu jadi sulit berjalan, ya sudah aku akan oleskan salep agar tidak bengkak, jika masih nyeri kau bisa oleskan lagi aku tinggalkan salepnya disini" tutur dokter Adilla lalu menaruh salepnya di nakas.
" Apa yang terjadi padanya?"
"Kalian baru pertama melakukan 'itu' ya?"
tanya dokter Adilla yang tak dapat jawaban dari Akira maupun Farid karna terlalu malu menjawab.
" Kau jangan begitu padanya Farid, itu menyakitinya dilihat dari kondisinya kau melakukannya lebih dari sekali padahal itu yang pertama untuk Akira, apa aku benar?" tebak dokter Adilla.
Membuat Farid menoleh dan menatap bingung dokter Adilla.
"Dokter itu.." Akira bingung mau menjawab apa.
"Itu terserahku dia istriku" tukas Farid dengan suara tak terima.
" Tak masalah Akira, suamimu memang gila yasudah aku pamit dulu kalau begitu" pamitnya pada Akira.
"Kau bilang apa? Kau mau aku kirim ke Afrika?!" ancam Farid.
"Oho..tidak perlu Farid aku betah disini saja,aku pamit ya lain kali kendalikan dirimu kau tega sekali pada gadis semanis dia" ucap dokter Adilla lalu langsung kabur dari ruangan itu.
Tersisalah mereka berdua yang sangat canggung mengingat ucapan dokter Adilla tentang alasan sebenarnya Akira jadi sulit berjalan, Farid jadi mengingat bahwa kemarin ia menerkam Akira tanpa ampun karna emosi hingga tak sanggup mengendalikan dirinya.
Farid merasa menyesal karna terlalu memaksa Akira kemarin. Namun, egonya tidak mengizinkan dirinya meminta maaf.
Toh, dia istrinya miliknya. Begitulah suara hati Farid berbicara.
" Istirahatlah,jangan pergi bekerja "
"Tapi aku ha-"
"Jangan membantah,atau saat ini juga aku akan menbuatmu tidak bisa berjalan sama sekali." ancam Farid.
" Iya baik" jawab Akira pasrah.
"Jika butuh sesuatu suruh pelayan dirumah ini,aku pergi" ucap Farid lalu meninggalkan Akira sendiri di kamar mereka.
Ya Tuhan, bahkan setelah tahu itu dia tidak meminta maaf, dia bahkan seakan biasa saja,seperti tak terjadi apapun, kenapa dia bisa sebiasa dan setenang itu setelah apa yang terjadi kemarin
Heyy readers gimana bagus? ini
adalah part 17dengan 1700 kata
harus spesial karna 17 angka favorite author tapi entah dehππ