Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 27



Ih sumpah beneran kemaren tuh keyboard nya tuh nyebelin banget ya masa aku ngetik satu yang masuk banyak banget hurufnya, karena udah pegel langsung aku tutup deh.


Heran deh gak laptop gak hape kek monyet banget.


Farid menyipitkan matanya melihat Fiora bersedekap dengan angkuhnya berdiri di tengah ruangan.


"Ada apa?" dan Farid tetaplah Farid, lelaki yang kaku, ya kecuali saat bersama Akira, tentu saja.


Ia bertanya tanpa menghampiri kakaknya, membuat Fiora menjadi merasa tak di anggap.


"Setidaknya, sambut aku, aku kan baru pulang dari London, tapi kamu--"


"Aku lelah, kan bisa bicara nanti, aku butuh membersihkan diri dulu, ayo sayang!" menarik tangan Akira menaiki undakan tangga dan menghilang dari pandangan Fiora.


"Mas kamu capek banget?" tanya Akira yang hanya mendapat anggukan dari suaminya, Akira hanya bisa menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


'Kamu capek badan atau capek hati sih mas? apa dua-duanya? Kok kamu beda banget, kaya biasanya, suamiku yang tangguh itu kemana perginya? '


"Farid!" sembari meletakkan gelasnya di meja makan Fiora mulai menatap adiknya yang sejak tadi sangat kaku dan enggan bicara.


"Hm?"


Fiora mengernyit tak percaya, ia tau adiknya itu dingin dan kaku, tapi dengar? Lelaki itu hanya berdehem saat kakaknya memanggil.


Fiora berusaha meredam, rasa kesalnya, karena masih ada yang lebih penting, bahkan ia memendam pujiannya untuk masakkan adik iparnya, sayur capcay dan ayam goreng yang Akira buat terasa sangat enak di lidahnya.


"Rell, udah makannya? Masuk kamar sana!" titah Fiora.


"Nanti kali, aku masih mau nambah, laper tau gak?!" Fiora melotot tak percaya dengan jawaban Farell, sedangkan Farell masih sibuk menambah nasi ke piringnya dan mengambil mangkuk kecil yang berisi sambal tomat yang Akira buat.


"Parah enak banget, kakak gak mau nambah?Ngga usah malu lagi kak, keenakan kan sebenarnya?" ledek Farell yang membuat Fiora menggeram tertahan.


"Kakak mau apa sih kesini, ada urusan apa?" akhirnya Farid membuka mulut, tanpa memperdulikan adiknya yang meledek kakaknya.


"Tanpa aku kasih tau, harusnya kamu udah paham dong."


Akira hanya bisa jadi penonton melirik suaminya dan kakak iparnya bergantian.


"Mama egois." sahut Farid singkat, hendak meninggalkan ruang makan. Namun, tangannya di genggam oleh Akira, Akira menatap mata suaminya seolah berkata.


Jangan pergi, selesaikan semuanya.


Farid menghela napas berat, ia malas membahas sesuatu yang hanya akan membuat dirinya kecewa berkali-kali.


"Kamu cuma melihat dari sisi kamu, tapi enggak mau lihat dari sisi mama."


Farid menoleh menatap tajam kakaknya, sedangkan Farell sibuk makan, namun telinganya ia pasang baik-baik.


"Dan kamu, Akira--"


"Pergi dari sini kalau cuma mau menghujat istriku." tukasnya datar, namun kilatan emosi di matanya terus menyala.


"Farid! Kamu ini sejak kapan jadi enggak sayang sama mama?! Apa sejak kamu menikah, oh sepertinya sejak kamu bertemu Akira, iya kan?"


"Aku sayang mama, selalu sayang, kamu saja yang enggak tau apapun, apapun yang mama lakukan selama kamu di London, kamu nggak tau kan?!" bentak Farid membuat semua yang ada disana langsung terhenyak, bahkan Farell berhenti makan dan sulit menelan makanan yang terlanjur ada di mulutnya.


Akira menyentuh bahu suaminya, agar lelaki itu tidak terbawa emosi, karena Fiora datang kemari baik-baik dan bicara baik-baik meski cara bicaranya itu terdengar menyebalkan.


"Coba bayangkan, rasanya ketika mama menyuruh kamu menggugurkan calon anak kamu, bayangkan! Bagaimana rasanya saat mama ingin menghancurkan rumah tangga kakak bersama orang yang kakak cintai,coba bayangkan, sebentar saja.. " terdengar ia memelas di akhir kalimatnya.


"Ya mungkin karena istri kamu itu kurang baik menurut mama." kata Fiora gugup, ia masih kaget mendengar suara lantang dari adiknya, namun tetap berusaha membela mama.


Farid tersenyum kecut, memangnya apa yang tidak baik dari istrinya? Apa coba? Baginya, Akira baik, sangat baik.


Farell menggelengkan kepalanya tak setuju dengan pendapat kakak perempuannya.


Tadi ia masih mencuri dengar kok, saat Fiora mengatai Akira main dukun.


Menurutnya, tentu tidaklah, Akira itu baik meskipun kalau bicara padanya Akira suka asal njeplak tapi wanita itu sebenarnya baik, buktinya ia membuatkan Farell bekal padahal Farell baru beberapa hari di rumahnya, Farell jadi merasa seperti anaknya saja.


"Aku sudah mencoba bicara baik-baik dengan mama, aku yakin kakak tau kan? Masih ragu dengan istriku, masih menyalahkan aku yang membangkang sama mama?"


"Aku cuma enggak mau mama papa pisah, Far, itu aja, aku enggak perduli kamu mau sama Akira atau enggak, karena itu pilihan kamu."


"Dia udah enggak perduli perasaan mu ataupun Farell yang gak mau mama di ceraikan papa, yang dia mau itu aku menceraikan istriku, itu, dan selalu itu yang dia mau. Dia tidak mau mengalah barang sekali pun demi kebahagiaan anak-anaknya, mama cuma berpikiran tentang masa lalunya, mama cuma tau dia benci Marina dan Akira itu saja."


Hening.


Tak seorang pun berani menjawab Farid yang seperti sedang di kuasai amarah setelah menahannya sejak kemarin.


"Aku ini lelah, mama selalu berusaha mengusir Akira tanpa perduli apa aku bahagia dengan keputusannya? Parahnya, ia menyuruh aku membunuh calon anak kami,apa kamu tau itu,kak? Rasanya aku ingin tidak menganggap mama itu ibuku, tapi biar bagaimana pun dia ibuku, yang melahirkan aku, menyayangi aku, sepenuh hati dan mengurusku sampai dewasa." setitik air mata mulai jatuh dari pelupuk matanya, meluncur di permukaan pipinya.


"Mas, sabar.. "


ujar Akira sembari menggenggam tangan Farid dan terus mengusapnya penuh kelembutan.


"Maaf, aku nggak tau itu, aku terlalu fokus dengan pekerjaan di London, aku cuma tau setiap mama mengabari aku, mama gak suka dengan wanita pilihan kamu, aku kira Akira seburuk itu, tapi---"


Fiora bingung mau berkata-kata, posisinya tak mengenakan. Ia sudah salah sangka, ia kemari berniat menyadarkan adiknya yang terlalu memilih istri daripada ibunya sendiri.


Tapi ternyata, kenyataannya sungguh di luar pikirannya.


"Akira aku minta maaf, aku pamit aku harus bicara dengan mama."


Dan ternyata Fiora di luar dugaan Akira, ia kira Fiora sama bencinya dengan dirinya, padahal sebenarnya perempuan itu sedang di liputi keraguan dan dilema. Antara mamanya atau kenyataan yang ia lihat dan dengar.


Fiora gak seburuk yang aku kira. batinnya lalu tersenyum ramah pada Fiora yang beranjak meninggalkan ruang makan.


"Aku tetap berharap, mama dan papa tidak bercerai dan aku berharap banyak sama kamu."


kata Fiora lagi sampai perempuan itu benar-benar pergi dari sana.


Farell mendengkus kesal dengan apa yang ada di hadapannya, ia juga pergi dari sana. Meninggalkan Akira dan Farid berdua.


***


"Fio, bilang dia berharap banyak sama aku?" Farid tersenyum seolah mengejek dirinya sendiri. Kini, mereka berdua sudah berbaring di atas tempat tidur dengan Akira memeluk suaminya itu, kepala Farid bersandar di dada Akira, menurutnya ini adalah masa terburuk dimana ia dapat melihat betapa rapuh suaminya.


"Iya, karna kamu yang paling bisa di percaya." Akira sejak tadi terus mengusap lembut rambut lebat suaminya berharap itu memberikan Farid ketenangan.


Harusnya, di sini Akira yang sedih, tapi ternyata Farid lebih tertekan dan lebih butuh dorongan kekuatan darinya.


"Tapi, Ki. Mama egois banget, Ki. Apa salah kamu kalau kamu terlahir dari rahim ibu kamu? Apa salahnya sih, dia lupain masa lalu untuk ketentraman rumah tangganya sendiri?" sejak tadi memang itu yang Farid lakukan, terus bertanya-tanya di pelukan istrinya.


"Mas, kamu itu anak lelaki tertua di keluarga kamu, wajar kalau kak Fio berharap banyak sama kamu, apalagi mama memang sayang banget sama kamu dan kak Fio cuma percaya dengan satu fakta, kalau mama dan papa akan selalu mendengar apa kata kamu." jelas Akira tentu dengan kehati-hatian.


"Tapi mama udah gak perduli lagi sama anaknya, papa itu gak akan ceraikan mama, kalau aja mama berhenti menyiksa perasaan kamu dan berhenti mengusik rumah tangga kita, tapi yang mama lakukan berlawanan."


"Mama pasti luluh, mama kan sayang banget sama kamu."


"Nggak, Ki. Enggak! Dia cuma perduli sama dendamnya."


"Mas, kamu gak boleh ngomong gitu, mungkin mama itu cuma--"


"Ki, hati aku sakit rasanya, saat mama bilang dia jijik sama anak kita yang udah gak ada dan yang akan ada nanti yang di dalam darahnya akan mengalir darah kamu. Apa iya mama masih sayang sama aku? Secara gak langsung mama mengungkapkan kalau dia gak suka aku bahagia." usapan tangannya di kepala suaminya berhenti, jantung Akira berdetak lebih cepat dan rasa nyeri menjalar dari telapak tangannya sampai ke dadanya. Ia ingin menangis mendengar apa yang suaminya ungkapkan, tapi jika ia ikut terpuruk, siapa yang akan menjadi kekuatan?


"Kemarin aku udah turunin apa kata kamu, tapi apa? Mama malah menghina." tambahnya.


Jijik?


Apa se-men-jijikan itu dirinya di mata sang ibu mertua, bahkan anaknya pun membuatnya jijik padahal dalam diri anaknya mengalir darah Farid, padahal anaknya itu juga cucu kandungnya sendiri.


Menyadari keterdiaman Akira, Farid mengubah posisinya, ia memeluk erat istrinya sekarang Akira lah yang bersandar di dadanya, sambil menangis dalam diam.


"Maaf, harusnya aku enggak mengatakan hinaan mama ke kamu." Farid terus mengecup puncak kepala istrinya sebagai permintaan maafnya.


"Farid, kita pergi dari sini yuk, kita pergi dari sini, yang jauh dari sini, di sini gak ada yang suka kita bahagia." ujarnya dengan suara sengau menahan isak tangis.


"Sayang, maaf harusnya.. "


"Harusnya kita pergi dari sini gak usah tinggal disini kita hidup berdua aja di rumah aku, masa tadi Deanno tuh bilang kalau kita berantem, pisah,bahkan aku keguguran gara-gara dia, kalau itu benar, mending kita pergi aja, di sini gak ada yang suka kita bahagia." ujarnya cepat-cepat takut ia susah bicara karena keburu menangis, dan benar saja tangisnya pecah saat itu juga, setelah ia menyelesaikan ucapannya.


Malam itu mereka saling mendekap, saling menguatkan dengan Akira yang tak henti-hentinya menangisi hubungan mereka yang banyak halangan menuju bahagia.


Kemaren keyboard nya sekarang nih tangan gue pegel banget abis angkat jligen aer demi kalean aku up loo, jadi demi aku klean vote dong, oke ya setuju ya? yaaaa!