
Hari demi hari berlalu, keadaan semakin hangat, kasih sayang semakin tercurah, di bumbui dengan sedikit pertengkaran kecil ala pasangan baru.
Farid yang dulunya jarang meneguk nikmatnya manisnya memadu cinta kini mulai sering mendapatkannya, segalanya terasa indah dan menyenangkan.
Akira memiliki apa yang ia impikan, Farid memiliki Akira yang mencintainya tanpa lelah.
Kini mereka berada di rumah Akira yang awalnya tersembunyi itu.
Katanya,Akira ingin menikmati pemandangan disana berdua bersama Farid.
Sedangkan bagi Farid itu sama dengan bulan madu.
Mereka kini sedang asyik menikmati suasana sore di teras samping yang menghadap lautan.
Tangan mereka berpegangan pada pagar pembatas.
"Apa kamu enggak bosan?" kalimat pertanyaan yang terlontar dari Farid. Matanya menatap lurus pada birunya lautan, tangannya merangkul pundak Akira.
Angin berhembus menerbangkan anak rambut Akira. Mata dengan bola mata cokelat muda itu mulai mendongak menatap pria yang di kasihinya.
"Bosan kenapa?"
"Tujuh ah mungkin delapan tahun mencintaiku tanpa aku balas." Farid memperjelas maksud akan pertanyaannya.
"Aku enggak tau jelas, intinya, aku merasakan bahwa, mencintaimu itu menyenangkan, tanpa membuatku bosan, aku cinta, aku cinta, aku cinta, aku mencintaimu." ucapnya mengulang kata cinta lebih dari tiga kali. Bibirnya menipis tanda senyumnya mulai terpatri.
"Apa semenyenangkan itu mencintaiku?"
Farid terus menyambung pertanyaan demi pertanyaan.
"Tentu saja! Kamu tau? Aku merasa aku bodoh karna mencintaimu sedalam itu, bahkan sampai sekarang aku enggak pernah bisa marah lama-lama sama kamu." ucapnya dengan wajah kesal.
"Haha.. kamu lupa ya yang kabur berminggu-minggu itu siapa?" suasana romantis itu seketika buyar karena satu pertanyaan Farid.
Tangan Akira tergerak mencubit kedua telinga Farid yang membuatnya gemas.
"Awh.. sayang kamu ganas!" pekiknya sambil mengelus kedua telinganya yang memerah akibat perbuatan Akira.
"Siapa yang lebih ganas aku atau kamu, kamu tau itu!" sinis Akira melirik kesal suaminya.
"Kan biar cepet jadi anaknya." jawab Farid dengan tampang sok polos seolah tanpa dosa.
Akira hanya diam termenung mendengar apa yang baru terlontar dari mulut suaminya.
"Kenapa diem aja?" tanya Farid seraya menaruh dagunya di atas kepala Akira sesekali ia menunduk menghirup wangi surai hitam milik istrinya.
Karena Akira masih diam tak menjawab, Farid dengan jahil menurunkan kepalanya ke ceruk leher Akira dan menghisap kulit leher istrinya lalu menggigit kecil disana.
"Aww!"
Bukan Akira, tapi itu Farid yang mengaduh, karena hidungnya di tarik Akira dengan posisi kepalanya masih bersandar di bahu Akira.
"Kamu sekarang suka main kekerasan ya?"
"Salah sendiri nakal!"
Akira mencebik kesal, lalu membalikan tubuhnya menghadap Farid memeluk lelaki terkasihnya erat-erat, menikmati aroma maskulin suaminya yang tak pernah membuatnya bosan.
"Tadi galak sekarang jadi manja gini?"
tangan lelaki itu bergerak mengusak rambut hitam Akira.
"Kamu wangi aku suka, jangan ganti parfum ya?" kepalanya mendongak menatap Farid.
"Ada-ada saja, tapi aroma kamu berubah nggak seperti kemarin-kemarin." celetuk Farid dengan penuh tanya.
"Aku ganti parfum, aroma nya lebih suka yang sekarang dari yang sebelumnya, bau mawar aku suka." sahutnya masih betah berlama-lama di pelukan Farid.
"Pantas aja beda."
"Kamu enggak suka ya? Yah padahal harganya mahal loh 60ml lima juta, sia-sia dong kalau kamu gak suka." ucapnya mendongak melihat Farid dengan wajah lesu.
"Waah.. jadi kamu sekarang mulai pakai barang mahal ya, beli pakai uang siapa?" tanya Farid dengan seringai meledek.
"Uang yang kamu kasih lah masa uang tetangga!" sahutnya melepas pelukannya dengan Farid.
"Ngapa sih takut bangkrut? Katanya aku suruh pakai uang kamu sebanyak-banyaknya, malah dulu sebulan suruh abis seratus juta."
"Tapi dulu gak mau, kenapa sih? Gengsi ya?" Farid menaik turunkan alisnya dan memasang wajah jenakanya.
"Ah bodo amat, terserah apa kata kamu deh!"
Akira ngambek pemirsa, tangannya menyilang di bawah dada dengan wajah cemberut membelakangi suaminya.
Yah, marah.
Farid langsung kembali memeluk sang istri dari belakang. Ia berpikir akan sedikit menggombali istrinya agar tidak marah lagi.
"Sayang, liat lautan itu luas ya?"
"Apaan sih gak nyambung!" ketus Akira sebab memang Farid benar-benar tidak jelas tujuan pembahasannya.
"Warnanya biru pasti dalam." sambung Farid seraya mengecupi pipi istrinya yang menggembung karena kesal.
"Apa hubungannya sama pembahasan kita ih!"
"Dan cintaku ke kamu sedalam lautan juga seluas samudera."
"Alaaah belajar gombal mas? Justru cintaku ke kamu gak bisa di samain sama samudera, sama dalamnya lautan, sama langit, sama bumi!"
"Lalu?"
Akira menggerakan sebelah tangannya ke belakangan hingga sampai pada rahang tegas suaminya, menyentuh lembut disana, lalu mengusapnya pelan penuh kasih.
"Huft kamu mah pinter cari uang doang. Cintaku ke kamu itu tak terhingga, tak terhitung jumlahnya, tak terukur dalam dan luasnya, paham?!" tukasnya lembut lalu berubah tegas di kata terakhir.
"Bisa di beli?" tanya Farid pura-pura mengetes kadar keseriusan Akira dalam mengungkapkan rasa.
"Bisa." jawab Akira cuek.
"Kenapa malah bisa di beli?" tanya Farid aneh, katanya tidak terhingga dan tidak bisa di bandingkan dengan apapun, kenapa malah bisa dibeli, batin Farid.
Huft, Farid memang bodoh dalam cinta dan gombal menggombal, pandai nya cari uang doang!
Tangan Akira bergerak melingkar di leher suaminya,seiring dengan tubuhnya yang berbalik menghadap Farid.
"Iyalah, kamu yang beli, uang kamu kan banyak, jadi sekarang aku mau nikmatin uang kamu sebagai harga yang harus dibayarkan, setelah aku memberikan seluruh hati, jiwa dan ragaku." dengan senyum miring menghiasi bibir nya membuat sebelah lesung pipinya terlihat.
Kakinya berjinjit lalu dengan perlahan tapi pasti bibirnya mendarat tepat di bibir Farid.
Mengecupnys tiga kali dan ********** sekali, lalu melepaskannya dan berbalik mencoba kabur.
Tapi, tangan Farid lebih cepat bergerak mencekal pergelangan tangannya.
"Nakal kamu ya."
Farid menciumi leher Akira dari belakang, sedangkan tangannya bergerak menggelitik perut wanita itu.
Akira berteriak kegelian tapi Farid terus menggelitikinya.
"Ampun, mas geli!" teriaknya kegelian.
Farid dengan gemas mengangkat tubuh Akira, kaki Akira refleks melekuk, lalu dengan lancarnya Farid bergerak memutar sembari membawa Akira dalam gendongan depannya, dengan posisi Akira menghadap ke depan.
Akira terengah-engah, ia lelah tertawa karena gelitikan suaminya.
Secara alami, kening mereka saling menempel dengan mata saling menatap bahagia.
Sesekali mereka tertawa kecil.
"Aku beruntung punya kamu." ucap Farid mengecup kening Akira.
"Aku juga, beruntung punya suami super kaya, seperti kamu." Farid tertawa mendengar jawaban sang istri, ia tau itu hanya gurauan belaka.
Ia langsung menghamburkan diri memeluk Akira.Sesekali mereka menyatukan bibir. Mereka berpelukan dengan debur ombak dan lukisan senja di langit menjadi saksi.
END.
Part kemarin, aku rubah sedikit.