
Farid mengalah dengan keadaan, ia tidak mungkin membiarkan istrinya melakukan perjalanan jauh tanpa istirahat, ingatlah Akira sedang mengandung,akhirnya ia mencari penginapan yang cukup jauh dari pantai tempat mereka bersenang-senang, penginapan yang ternyata ada dikaki gunung, dekat dengan pemukiman, hanya saja tidak begitu ramai akan warga sekitar.
Dan itu membuat Akira senang bukan main, bisa menikmati udara sejuk,hawa dingin,dan pemandangan hijau setelah birunya laut, itu cukup membuatnya bahagia ditambah kehadiran pria yang ia cintai.
Mereka menginap disebuah villa kecil berdinding kayu, juga berlantai kayu namun tetap terasa nyaman karena terawat. Tidak mudah menemukan tempat yang nyaman dipedalaman desa seperti ini, menemukan sebuah villa kecil ini saja sudah seperti keajaiban bagi Farid.
Farid menyibak tirai putih transparan yang menutupi jendela dan memperlihatkan cahaya oranye yang meneduhkan hati ketika memandangnya, menunggu istrinya yang tengah membersihkan diri, sialnya Akira sangat lama entah apa yang wanita itu lakukan di dalam sana.
Lima belas menit berlalu, Akira muncul dengan dress rumahan putih bermotif bunga lavender yang mereka dapat dari Gio, yang mereka usik hanya untuk membawakan pakaian ganti.
"Sudah? Kenapa lama sekali?"
"Ah gimana gak lama, kamar mandinya segar banget, bak mandinya aja dari batu biasa, gak ada keramik jadi airnya dingin banget, aku mau dong kalau tinggal disini selamanya!" cerocosnya tanpa jeda yang tidak dihiraukan oleh Farid yang langsung melenggang keluar kamar dan menuju belakang tempat kamar mandi itu berada.
"Ih nyebelin, baru tadi romantis sekarang kumat, jiwa batunya, sekali kaku ya kaku aja!" celotehnya.
Sial bagi Gio, ketika bosnya menyuruhnya mengirim pakaian dalam waktu tiga puluh menit saja, itu jelas tidak mungkin perjalanan menuju tempat itu memakan waktu paling sedikit tiga jam, akhirnya dengan cueknya ia menggunakan jet pribadi milik Farid.
Bodo amatlah pikirnya, siapa suruh meminta pakaian dalam waktu tiga puluh menit ke tempat sejauh itu.
Sergio dengan otak solutifnya menyarankan untuk pulang menggunakan jalur udara agar lebih cepat. Namun, Akira dengan otak jahilnya merengek dan menekan suaminya yang sudah memutuskan untuk bermalam ditempat ini, akhirnya wanita itu menang dengan sedikit memanfaatkan anaknya. Licik memang.
Sekarang giliran wanita itu yang ingin menikmati uniknya bangunan villa yang masih alami dan sederahana, kamar mandi yang ala milik orang desa dengan rambatan bebungaan seperti melati dan juga tanaman lain sebagai atap alami mrmbuat ia sangat betah mandi. Ia melewati pintu dapur lalu membuka pintu belakang, ia menganga takjub melihat sungai yang ada dibelakang villa, jernih dan mengalir perlahan.
Ia menghampiri sungai mengabadikan momen langka dengan kamera ponselnya.
"Sedang apa kamu?" tanya Farid mengagetkannya, hampir saja membuat ponselnya masuk ke sungai kecil itu.
"Astaga mas! Kamu ngagetin" pekiknya dengan mata melotot.
"Lagian kamu kelihatan asik sendiri"
"Ya gimana dong, tempatnya impian aku banget, cuma mungkin aku ingin sedikit renovasi dibeberapa bagian atau menambah beberapa bagian, seandainya villa ini dijual"
"Kamu suka?" tanya Farid , yang dibalas anggukan mantap dari Akira.
"Kalau begitu kamu bisa memilikinya kalau kamu mau, aku akan beli tempat ini dan kita akan mengubahnya sesukamu" ucapnya enteng, yang membuat Akira terkejut bukan main dan berteriak senang.
"Beneran? Aaa mauu terimakasih" pekiknya senang dan langsung memeluk tubuh kekar suaminya yang hanya dibalut kaus putih dan celana training hitam yang menambah ketampanan alami pada pria itu.
Farid mengelus rambut halus Akira sampai dengan kencang kepala itu bergerak karena melepaskan pelukannya dengan perasaan gembira.
"Emm, boleh dong aku tinggal disini beberapa hari lagi aja" pintanya dengan mata berbinar yang memohon.
Farid tampak berpikir dan menimang, "Boleh ya,please baby juga butuh ketenangan loh aku capek disana ketemu Rayrin sama mama kamu" keluhnya tanpa sadar menyebut kedua orang yang sangat ia hindari, merasa tak enak dengan ucapannya, ia menutup mulutnya cepat.
"Ups! Maaf aku gak ada maksud"
"Tidak masalah, kalian memang harus menjauh dari tekanan mereka, baiklah aku juga akan disini bersamamu" sahutnya yang membuat Akira tersenyum bahagia, menampakan kedua lesung pipinya yang menambah kesan manis dalam dirinya.
"Terimakasih, baik banget" ucap Akira gemas lalu mencubit pipi suaminya gemas.
"Wah, kamu berani sekali ya menyakiti pimpinan Earthecnology?"
"Alaah, sombong! Sedikit manis sedikit nyebelin, sedikit baik nanti nyebelin lagi" dengus Akira kesal, yang membuat Farid terkekeh.
Awan mulai menggelap, Farid mengajak Akira kembali ke villa untuk berlindung dari kegelapan yang akan diciptakan alam.
Gelap malam terasa mencekam mengingat tempat dimana mereka berada saat ini.
Akira berniat memasak sesuatu untuk makan malam menggunakan bahan makanan yang ia dapat dari pengurus villa, sedangkan Farid beranjak ke ruang tengah menduduki kursi kayu dan menghubungi sekertarisnya untuk mengurus jual beli villa yang ia tempati bersama sang istri saat ini.
Akira duduk disalah satu kursi saat ia memastikan bahwa Farid akan datang menyusulnya untuk makan malam.
"Enak ya tinggal disini, menurut kamu gimana?" ucap Akira membuka suara setelah mereka menyelesaikan makan malam.
"Biasa saja" jawabnya cuek.
"Kamu gak merasa beda?" desak Akira.
"Nggak"
"Huft, kalau dirumah kan ramai pengurus rumah, kalau disini asri, sepi, damai cuma kita berdua, berasa jadi keluarga kecil yang sederhana kan?" ucap Akira penuh perasaan, tanpa sadar itu membuat Farid terhenyak.
Benar, mereka seperti keluarga kecil yang sederhana, yang hidup didesa, tanpa pengurus rumah, tanpa kebisingan kota juga.
Asri, damai, dan sejuk tanpa bantuan penyejuk ruangan.
"Mau sampai kapan?"
Akira mengernyit tak mengerti akan pertanyaan suaminya.
"Tinggal disini?" sambung Farid, yang membuat Akira mengerti kemudian.
"Sampai aku puas, boleh ya?"
"Aku harus bekerja, sayang" tolak Farid.
"Kerja dari sini bisa kan, ada Gio juga kok yang bisa diandalkan" sergahnya, pokoknya jangan sampai ia pulang cepat.
"Hmm..baiklah" sahut Farid pasrah, Akira tidak akan bisa diajak pulang, kalau belum bosan, itu pasti. Syukurlah, meski jauh dari perkotaan, sinyal disini memadai untuk menjangkau sambungan internet juga listrik, hanya saja jarang penduduk didekat villa ini.
Jarak tetangga dengan tetangga lain cukup jauh sekitar 50-100 meter setiap masing-masing rumah.
"Ayo istirahat, kamu gak capek ya dari tadi banyak tingkah begitu?" Akira mengerucutkan bibirnya sebal mendengar penuturan suaminya.
"Nggak bisa liat aku seneng ya mas?" tanyanya lalu berdiri meninggalkan Farid menuju kamar mereka.
Farid hanya tersenyum tipis menanggapi tingkah kekanakan istrinya, lalu kemudian menyusulnya.
Tanpa ia sadar, dirinya mulai tunduk pada Akira, hatinya menyerah dan dirinya mungkin akan segera menyerah dengan pesona asmara seorang Akira.
Jangan lupa, Akira adalah idaman para pria meski kekanakan, imagenya itu mandiri,tangguh,dan sempurna. Berkarir,tapi tetap pandai dalam hal rumah tangga. Ia sudah terlatih, karna hidup tanpa seorang ibu sejak remaja, tapi justru itu nilai tambah dari seorang Akira.
Belum lagi wajah manis menggemaskan miliknya, senyum indah yang akan membuat pria manapun berdebar kala ia menebar senyumannya melebar.
Entah, pesona apa yang Akira semaikan sehingga mampu membuat gelisah seorang Farid, hanya untuk menentukan hati.
Bodohnya Farid, tidak menyadari kehadiran makhkuk sempurna disekitarnya, hanya karena tanggapan konyol Akira tentang dirinya yang seorang gay. Oh ya ampun!
**Bagaimana menurut kalian?
Ketikan tanggapan kalian dikolom komentar, semoga kalian tidak bosan menyimak karya Author. Thanks a lot, readers
May, always be happy cause it.
Don't forget to, vote!
With love, Cotton Candy Zue🌻😊**