Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
empat puluh sembilan



"Apa kamu masih mencintai Farid?" tanya Kris dengan tangannya yang memainkan jemari lentik milik Rayrin yang kini tengah berada dalam dekapannya.


"Jangan bicarakan itu, aku tidak suka." wajah Rayrin terlihat muram kini.


"Aku hanya mau tahu saja, lebih besar mana, cintamu untukku atau... "


"Aku saja tidak tahu pernah mencintai Farid atau tidak!" sentak Rayrin.


Kening, Kris mengernyit bingung.


"Dulu, seingatku Farid yang begitu menempel padaku." lanjut Rayrin menjelaskan.


"Aku tidak percaya!"


yang membuat Rayrin melotot seketika.


"Asal kamu tahu ya, dulu Farid itu tidak suka bersosialisasi, lalu mama bilang, jadilah teman yang baik untuk Farid, maka aku akan membuat semua orang senang. Jadi dulu aku dekati dia dan dia sepertinya nyaman, dia tidak banyak bicara, tapi saat aku pergi, dia marah." ungkap Rayrin.


"Kenapa kamu pergi, kalian kan sepasang kekasih?" tanya Kris yang mendadak jadi penasaran.


"Aku tidak suka, jadi aku pergi."


"Tidak suka?" ulang Kris dan Rayrin mengangguk membenarkan.


"Saat Farid kesal, mama akan memarahi aku,memang apa salahku?!" tanyanya berapi-api.


Kris mengusap rambut lembut bergelombang milik Rayrin berharap itu bisa menenangkan.


"Lalu apa yang kamu rasakan saat bertemu aku?" tanya Kris iseng, yang di balas senyum jahil Rayrin.


"Risih!" celetuknya.


"Hah!"


"Bau tahu!" ejek Rayrin karena reaksi Kris yang berlebihan.


"Kamu selalu mengikuti aku, aku jadi risih!" sambung Rayrin yang membuat Kris jadi muram.


"Harusnya kamu bersyukur di ikuti pria setampan aku." gerutunya kesal.


Rayrin hanya terkekeh geli, lalu memeluk perut berotot Kris yang tertutup oleh kaus hitamnya.


"Lalu kenapa kamu kembali dan mengusik rumah tangga Farid, bilangnya tidak suka." nada bicara Kris sudah mirip seperti ibu-ibu yang suka saling sindir.


"Hihi.. itu di suruh tante Rita." Rayrin meringis seolah tak berdosa.


"Mendadak juga aku pengen jadi istrinya Farid lumayan buat backup jadi model biar semakin terkenal. Tapi dia malah hancurkan semua, kejadian yang terjadi pada Akira, bukan untuk merebut Farid, tapi untuk balas dendam pada lelaki itu." lanjut nya ketus.


"Licik!" ketus Kris sembari mendorong dahi Rayrin menggunakan telunjuknya.


"Daripada di marahi mama terus, katanya anak tidak berguna. Huh!" Rayrin kesal dengan napas menggebu menahan emosi, ia kesal jika ingat mamanya selalu mengatakan bodoh padanya, saat Rayrin tidak berhasil sekali saja.


"Tenang, sekarang ada aku, tidak jadi model tidak apa, calon pemimpin rumah sakit terbesar di Indonesia bahkan juga di Jepang ini mampu menghidupi kamu." ujar Kris sombong, ya meski rumah sakit di Jepang baru merintis.


Sedangkan, Rayrin malah tertawa geli mendengar kesombongan Kris. Yang menurutnya sangat tidak cocok.


Biarlah mereka berbahagia sejenak, sebelum badai kembali menerpa. Hargai waktu yang tersisa untuk berbahagia, karena kita tidak tahu, apakah di waktu selanjutnya kita masih bisa sebahagia sekarang.


***


"Marina!" bentak Rita saat netranya menangkap sosok yang ia kenal dan sudah meninggal ada di depannya dan ada di dalam kediaman anak dan menantunya.


Niat hati ingin mengunjungi Akira dan membawanya untuk mencari pernak-pernik bayi, ia malah di hadapkan dengan sesuatu yang mengejutkan.


"Marina? Bukan, mama. Ini... " Akira menggantungkan kalimatnya ia ragu untuk memberi tahu. Karena sejak awal Marissa sudah menyuruhnya berjanji.


"Marina kamu masih hidup?!" lantang Rita masih dengan wajah terkejutnya. Sedangkan, hatinya langsung kalang kabut, bagaimana jika nanti cinta kembali bersemi di antara Marina dan suaminya?


"Kamu benar, Marina?!" Rita terus berspekulasi tanpa memperdulikan kedua tangan menantunya yang mengibas tangan, tanda bahwa dugaannya salah.


Namun, apa dayanya jika Akira dengan kalimat andalan, "Ini maunya bayi aku, tante." maka Marisa tidak mungkin menolak mau cucunya kan?


Marisa hanya bisa diam, ia sangat gugup. Ia harus bilang apa?


"Bukan ma, itu bukan ibu aku." jelas Akira, lalu tanpa mereka sadari Marisa langsung melesat kabur saat fokus Rita ada pada Akira yang sedang meyakinkan bahwa ia bukan Marina.


"Akira! Mama tidak akan lupa wajahnya, kalau wajahnya saja masih tersimpan rapi dalam lemari papa mertuamu!" sentak Rita sebelum akhirnya ia sadar, Marisa sudah tidak ada.


"Ma! Ibu aku kembar!" akhirnya, akhirnya Akira mengatakannya.


"Itu bukan ibu Akira, itu tante, Marisa. Akira juga enggak tahu, karena ketika lihat foto tante, ya Akira kiranya itu foto ibu. Tante juga di luar negeri." jelas Akira yang membuat ketegangan di wajah Rita berganti jadi raut kebingungan.


Akira mengelus perutnya sesekali, menenangkan sang bayi kalau-kalau ikut tegang mendengar neneknya yang sangat panik.


"Aw! Ma, perutku sakit!" pekik Akira berpura-pura, itu untuk mengalihkan perhatian mama mertuanya.


Rita sudah mulai perduli, dia bahkan mulai menghangat sikapnya pada Akira sejak ia merasakan tendangan calon cucunya di perut Akira.


"Lho, kenapa, kok bisa?!" kini raut wajah Rita jadi panik.


"Mama hubungi Farid ya, kita ke rumah sakit!"


"E- jangan ma, dia cuma menendang, tapi rasanya agak sakit."


"Huh! Dasar, kamu ini membuat panik saja, bayi menendang itu biasa." ketus Rita, yah masih ada ketus-ketusnya.


"Maafin, ma. Kan ini kehamilan pertama aku." Akira meringis tanpa dosa.


"Pertama apanya, kamu lupa sebelumnya pernah hamil?!"


"Hehe.. iya lupa. Tapi kan enggak sampai sebesar ini." ucapnya dengan wajah sendu, membuat Rita jadi melunak karna merasa bersalah pernah menyuruh Farid membunuh bayi itu dan berkonspirasi untuk keguguran nya Akira.


"Dasar kamu ini! Awas jangan banyak tingkah, kandungan kamu sudah besar, kamu harus hati-hati." nasihat Rita meski dengan nada mengomel-ngomel, tapi Akira senang, ia bisa merasakan ada perhatian di dalamnya.


***


Kediaman keluarga Adijaya.


"Papa tidak setuju kamu menikahi perempuan ini!" ujar Bramantyo, sang kepala keluarga sembari menunjuk ke arah Rayrin yang tengah tertunduk di samping Kris.


"Pa, dia sedang mengandung cucu kita." ujar Sekar, istrinya memelas, melirik ke arah perut Rayrin yang membesar.


"Perempuan ini tidak baik untuk anak kita. Kris, kamu itu anak lelaki satu-satunya, Kris Anggara Adijaya, penerus Bramantyo Adijaya. Paham kamu?! Kamu itu harapan orang tua, tapi yang kamu lakukan sangat semena-mena!"


"Maaf, Pa."


"Maaf?! Dengan susah payah saya sebagai papa kamu, membujuk kamu untuk sekolah kedokteran, tapi kamu memilih farmasi, papa biarkan, asal kamu jangan ambil manajemen. Tapi ternyata akhirnya, kamu malah punya saham di suatu perusahaan besar. Dan pemicunya itu dia!" tentu Bram tahu, betapa orang tua Rayrin sangat terobsesi pada keluarga pebisnis untuk di jadikan besan.


"Bukan, Pa!" tegas Kris.


"Kamu memilih ke Milan, tanpa mau belajar tentang menjalankan rumah sakit, demi dia, saya tahu itu, Kris!" bentak Bram lagi, ia sudah cukup menahan emosinya.


"Sekarang, karena dia kamu jadi lelaki tidak bermoral! Kamu terlalu sering bergaul pada wanita tidak bermoral seperti dia." ujarnya sinis, pula melirik tajam pada Rayrin yang menahan lajunya air mata.


Selalu. Ia selalu di katai wanita tidak bermoral, pelacur, murahan, padahal hanya Kris yang pernah menyentuhnya. Rayrin bahkan mencuci mulutnya saat ketika ia mencium Farid. Bukan karena jijik pada Farid, tapi pada dirinya sendiri yang seperti j*lang.


"Cukup, papa Rayrin bukan perempuan seperti itu, bahkan dia masih suci saat aku menyentuhnya."


"Jadi maksudmu, kamu yang bajingan?!" matanya beralih pada Rayrin, lalu mendekat pada Rayrin, "Saya tidak mau tahu tentang anak itu, Kris sudah kami jodohkan dengan wanita yang bukan perusak rumah tangga orang!" sindiran itu lantas membuat Rayrin mendongak terkejut menatap Bram yang sedang memandangnya sengit.


"Pa, dia cucu kita, anak Kris! Jangan jadi kejam begitu." bujuk Sekar.


Bram membuang napas kasar, "Maka,lahirkan! Lalu, berikan pada kami dan kamu Rayrin. Menjauh dari Kris, tinggal sekitar dua bulan lagi kan? Kalian tidak perlu menikah. Anak itu akan mendapatkan ibu yang pantas, dan itu bukan kamu."


Dan lagi, Rayrin kembali di buang.


bentar lagi benar benar tamat yaaa