
Oya, aku mau ngomong.
Visual soal visual mending kalian follow ig aku aja ya aku sering buat story soalnya di ig.
Kalau di sini dulu pernah di part enam apa tujuh aku lupa terus di hapus buat keperluan kontrak
Yang baca dari awal novel ini keluar pasti udah pernah liat visual Farid,Akira, Sergio, bahkan Zia, Tina, dll.
Yaudah pendek aja aku abis kerja lembur bagai kuda soalnya 😌
Lain Akira, lain dengan Farid.
Akira galau karena setelah mendapatkan cinta, tapi kehilangan teman.
Farid, pusing memikirkan bagaimana secepatnya memulangkan papanya yang masih ada urusan di luar negeri.
Di tambah lagi satu masalah tentang laporan dari Wisnu, yang mendapat kabar dari salah satu pelayannya yang mencurigai pelayan lainnya.
Wisnu bilang, kemungkinan ada mata-mata di rumah ini.
"Kapan papa pulang dari Singapura?" ia bertanya pada Sergio yang ia tugaskan untuk mengatur pertemuan keduanya.
Tangannya memijit pelipisnya berharap mengurangi rasa pening akibat masalah yang selalu mamanya tumbukan.
"Masih sekitar satu minggu lagi."
Sergio menyahut sembari mengambil posisi duduk di sofa dalam ruang kerja Farid yang ada di rumah.
"Itu sangat lama, aku mau secepatnya, ini menyangkut Akira, aku tidak mau dia terus menerus bersedih dan kebingungan seperti itu!" ucapnya membentak sekretarisnya.
"Tapi urusan tuan besar tidak bisa saya atur seenaknya, karena tuan punya kaki tangan sendiri dan karena perusahaan anda berdua terpisah tentu urusan juga terpisah sehingga saya tidak bisa seenaknya mengada-ada alasan perusahaan agar beliau pulang ke Indonesia."
Ini masalah profesionalisme, masa iya Gio mau suruh tuan besar untuk pulang buru-buru meninggalkan proyek pentingnya disana dengan alasan anaknya mencarinya?
Kalau sampai berimbas pada nama baik perusahaan bagaimana?
"Urusan apa? Apa lebih penting dari urusan keluarga?" dengan kesal ia membanting map yang sempat ia periksa isinya tadi.
"Tuan besar sedang mengurus proyek yang cukup besar, pembangunan pusat perbelanjaan di Singapura tentu saja akan semakin membesarkan nama perusahaannya."
Farid membuang napas kasar, tanda ia sangat tidak suka dengan apa yang sekretaris nya katakan.
"Tuan besar bukan anda, yang bisa seenaknya meninggalkan rapat demi Nyonya muda."
"Sialan kau Gio, berani sekali. Aku belum pernah melakukannya,istriku sangat pengertian!" Farid berdecak dan memcebik kesal mendengar tuduhan ketidakprofesionalan nya hanya karena demi istrinya.
"Kemungkinan besar anda bisa melakukan itu."
"Sekarang kau juga merasakan kan? beberapa hari yang lalu, kau terlambat datang bahkan aku ke perusahaan tanpa kau jemput! Istriku bilang kau berciuman dengan sepupuku di ruangannya. Kau terlambat karena sibuk pacaran!"
Sontak, mata Sergio membulat sempurna.
'Jadi aku ketauan, Nyonya muda?'
ia terus mengingat, seingatnya waktu itu tidak ada siapapun kecuali dirinya dan Zia yang sedang...
"Kau sudah tau kan rasanya jatuh cinta?" tanya Farid lebih merujuk pada mengejek.
"Sejak kapan?" tanya Farid dengan gaya angkuhnya.
"Kami tidak pacaran!" sela Sergio tegas.
"Lalu kenapa kalian berciuman?"
Farid memicingkan matanya curiga.
"Jujurlah padaku memangnya pada siapa aku akan mengedar rahasia mu?"
"Tuan, jangan lupa kalau istri anda itu salah satu dari sekumpulan mereka." merujuk pada gerombolan teman Akira.
"Kau! Lancang sekali! Sudahlah, jika memang papa belum bisa pulang, maka sekarang coba selidiki dulu apa yang sedang Wisnu selidiki."
"Bukankah urusan rumah itu urusan Wisnu, kenapa saya di ikutkan?"
"Sejak kapan kau jadi suka membantah?! Wisnu akan mencoba menyelidiki diam-diam di rumah, kau selidiki kemungkinan orang yang jadi pemicunya."
"Kau harusnya tau siapa saja yang aku duga." kata Farid dengan sorot mata tajam menelisik bayangan di otaknya tentang siapa yang menjadi pemicu adanya mata-mata di rumahnya.
"Ingatlah untuk tetap bersikap biasa saja seolah tidak mencurigai dan mencari tau apapun, jangan sampai pergerakan kita tercium bahkan oleh mamaku sendiri,pertemuan dengan papa juga tutup semua nya rapat-rapat."
"Baik, sesuai perintah anda, Tuan."
Cklek
Suara pintu terbuka menampilkan Akira dengan wajah letih. Gio langsung tutup mulut.
"Sudah pulang?"
Akira mengangguk dan berjalan menghampiri suaminya, lalu duduk di pangkuannya dan memeluknya erat tanpa perduli dengan keberadaan Sergio di sekitar mereka.
Farid tentu dengan senang hati menyambut pelukan istrinya. Ia mengibaskan tangan ke arah Gio bermaksud mengusir lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Farid setelah memastikan sekretarisnya pergi, ia bingung dengan gelagat istrinya yang seperti tidak bersemangat, padahal ia sudah menuruti mau Akira untuk memberi izin pergi ke pesta pernikahan Diana.
"Ngantuk, tapi tadi pas aku masuk kamar kamu gak ada." Akira menjawab sekenanya saja, jujur saat ini ia hanya butuh pelukan hangat dari suaminya berharap akan selalu dengan hangat memeluk dirinya dan tidak meninggalkannya, menjauhinya seperti Risa dan Deanno.
Farid melirik jam dinding, ternyata sudah pukul sembilan malam, betah sekali istrinya berlama-lama di pesta pernikahan itu sejak siang hingga malam.
Farid mengelus sayang surai hitam Akira dan membawanya dalam gendongannya memasuki keluar dari ruang kerja memasuki kamar mereka.
Ia menurunkan Akira di atas ranjang,
"Ganti dulu pakaiannya." melihat mermaid dress yang masih melekat di tubuh istrinya.
Farid beranjak berniat mencari pakaian ganti untuk Akira yang terlibat lemah, letih dan lesu.
Tapi dengan cepat Akira mencengkram kemeja suaminya agar tetap di hadapannya.
"Jangan tinggalin aku."
merengek sambil memeluk erat suaminya.
"Aku cuma mau ambil baju ganti, kamu aja gak mau gerak begitu."
Akira semakin mengeratkan pelukan itu.
"Pokoknya jangan kemana-mana, apapun yang terjadi jangan berubah jangan pernah tinggalin aku ya?"
Farid mendorong pelan bahu Akira, ia ingin melihat wajah Akira, rapi Akira sama sekali tak mau melepas pelukannya.
"Sayang, kamu kenapa, hm?"
"Aku cinta kamu."
masih dengan posisi berpelukan.
"Aku tau."
"Jangan tinggalin aku, jangan lupain aku!"
Entah kenapa, Farid menangkap maksud Akira yang ingin di manjakan melalui pergerakannya dan seperti ingin di pertahankan dengan kata-katanya.
"Takkan pernah." lalu merenggangkan pelukan mereka dan melabuhkan bibirnya pada bibir manis istrinya.
gak dapet feelnya?
iya aku nulisnya gak pake feeling.. 😌 kan abis kerja lembur bagai kuda jadi tap tap keyboard aja terus.
Gak sambil halu pake rasa, udah malem soalnya bentar lagi pagi.
yakin masi mau lanjutin novel ini?
yakin dong, kan ini karya sebagai pelajaran buat author ke depannya biar kalo nulis lebih good lagi, aku mah gak mau insecure gitu aja, meski aku akui ini berantakan sejak kehamilan Akira.
Menurutku sih sejak kehamilan Akira, menurut kalian gimana?
Bagi pendapat dong, gapapa meski menyakitkan aku😁