
Biarlah sejenak Akira melupakan bayang-bayang jahat dari Rayrin, wanita yang terus mencari celah untuk membuatnya pergi dari pria yang ia cintai. Dengan dibekali rasa percaya dan kekuatan cintanya yang ia bangun dan pertahankan selama ini, ia akan menepis semua halangan yang wanita itu ciptakan.
Dengan penuh semangat kini Akira masih setia mengerjai sang suami yang sudah jelas tidak terbiasa pergi ke tempat yang sangat ramai dan rapat akan kendaraan juga manusia. Bersenggolan dengan banyak orang seperti ini sesuatu yang tidak biasa baginya, apalagi dengan aroma tak sedap yang berbeda-beda.
"Mas, bagus pink atau cokelat?" tanya Akira meminta pendapat dengan menggantung dua pakaian dengan model yang sama dikedua tangannya.
"Cokelat. Kau cocok dengan warna itu." sahut Farid cepat, tentu tidak asal karna Akira dengan kulit langsat namun sedikit kecoklatan memang cocok dengan warna itu,menurutnya warna pink akan merusak pesona alami dari istrinya.
Dengan tanpa ragu Akira menyingkirkan yang pink dan mengambil yang cokelat kemudian dibayarkannya dengan memberi selembar uang seratus ribuan pada penjualnya.
"Sudah puas, nona muda?" tanya Farid datar, tapi tentu tidak menyurutkan semangat seorang Akira.
"Belum! Kita harus makan jajanan disini dulu baru bisa puas." sahutnya lalu menarik tangan sang suami ke dekat stand es krim kacang merah.
Ia menyodorkan satu cup es krim kacang merah yang baru saja ia dapatkan pada suaminya, "Nih! Kamu harus coba ini lebih enak dari yang ada dikafe - kafe tau." ujarnya membandingkan.
"Memang apa bedanya,sama - sama kacang merah,justru yang ada dikafe lebih terjamin dan berkualitas bahannya"
"Ish! Kebiasaan, coba dulu baru protes emang tadi siapa yang nambah makan mie ayamnya ha?" sindir Akira pada Farid yang ternyata menambah porsi mie ayam yang ia remehkan sebelum mencobanya lebih dulu.
Hancur harga diri pria itu๐.
Baiklah mungkin sekarang ia kalah, tapi lihat nanti dirumah ia akan kembali menguasai istrinya yang mulai berani itu.
Saat ini mereka berkeliling lagi dengan membawa satu cup es kacang merah ditangan masing-masing.
Membeli beberapa jajanan tradisional atau juga jajanan pinggir jalan seperti telur gulung,seafood bakar, dan jajanan lainnya.
Mereka berkeliling sampai Akira puas.
"Ayo, ini sudah hampir sore, jangan sampai kelelahan, ingat babynya!" ucap Farid memperingati sembari menunjuk jam tangannya yang menunjukan angka dua.
"Sebentar, belikan aku boneka sapi yang besar itu baru kita pulang." tunjuk Akira pada sebuah boneka yang hampir sebesar dirinya.
Farid mengikuti arah pandang Akira, dan membawanya menghampiri penjualnya.
Rona bahagia terpatri diwajah manisnya ketika ia bisa mendapatkan dan memeluk sapi putih yang besar itu.
Sungguh, hari ini adalah hari paling menyenangkan bagi Akira, ia akhirnya merasakan seperti sedang berkencan dengan suaminya.
Yang tentu tidak pernah ia rasakan, mengingat mereka tidak pernah dekat apalagi berpacaran, suaminya juga bukan pria romantis yang penuh kejutan, tapi pria berkuasa yang mengagumkan.
Entah sudah berapa makanan yang ia jejali ke dalam mulutnya hari ini, entah berapa kantong jajanan yang ia bawa karna masih ketagihan. Intinya ia menggunakan uang suaminya dengan bijak hari ini, bijak yang dimaksud itu menghamburkannya.
Mereka memasuki rumah dengan Akira yang sibuk mengelus sapi besarnya dengan sayang, senyum terus mengembang dibibir indahnya.
"Sibuk sekali sama sapi baru!" sindir Farid yang merebahkan tubuhnya di ranjang melirik Akira yang duduk di sofa sambil memainkan sapi barunya.
Yang disindir tidak menggubris, masih tetap sibuk menggerak-gerakan bonekanya.
"Akira, istirahat sini!"
"Nanti, masih mau main sama bonekanya!"
"Kan bisa sambil istirahat, senang sekali kamu kelihatannya dengan sapi itu!" tukas Farid dengan mata yang memutar malas.
"Iya dong! Tau gak ini hadiah pertama yang aku dapat dari suami aku, ya walaupun harus minta dulu awalnya, tapi aku suka, aku senang!" pekik Akira mengerjap gemas sambil memeluk erat bonekanya.
Farid terdiam sejenak mendengar penuturan istrinya, benarkah? Jadi ini baru pertama kalinya ia membelikan sesuatu? Kalau diingat selama ini Akira hanya menggunakan nafkah darinya juga secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari bukan hal lain seperti ini.
"Sudah, sekarang bersihkan dirimu dan Istirahatlah, boy pasti lelah." titahnya yang langsung dituruti oleh Akira.
Farid menatap penuh kasih wajah lelah istrinya yang tengah terlelap dengan penuh kasih, "Aku mencintai kamu, Akira." ucapnya berbisik yang pasti tidak di dengar oleh istrinya, lalu mengecup kening Akira lembut.
Ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, yang mungkin akan dihalangi istrinya jika wanita itu mengetahuinya, ya bagaimana mungkin weekend begini masih mau bekerja?
Dan terdengarlah suara yang menghentikannya memasuki ruangan kerjanya, tapi bukan suara Akira seperti bayangannya, tapi suara pria yang tak lain adalah Wisnu.
"Tuan, ada Nyonya datang berkunjung."
"Baiklah, suruh dia menunggu dibawah" titahnya yang dibalas anggukan oleh kepala pelayannya.
.
.
"Farid, akhirnya kamu kemana aja sih ini sudah tiga kali mama kesini tapi kamu gak ada, jangan bilang kamu kerja?" ucap mama yang langsung berceloteh saat melihat puteranya menghampiri dirinya.
"Nggak ma, aku gak kerja kok" jawabnya datar. Tentu ia masih sedikit kesal dengan mamanya yang dengan lancangnya menyuruhnya menggugurkan anaknya sendiri.
"Kok gitu jawabnya, masih marah sama mama?" tanya mama dengan raut wajah kecewa.
"Ya bagaimana kalau mama aku suruh bunuh Farell? Mama marah gak kira - kira? Mau tidak bunuh anak mama sendiri?" ketusnya dengan menyebut nama adiknya agar mamanya sadar bahwa yang dilakukannya menyakiti hati anaknya.
"Maafkan mama, mama tau mama salah menyuruhmu membunuh anakmu sendiri, mama sadar itu, sekarang mama akan membiarkan wanita itu melahirkan anakmu baru setelah itu kamu bisa bercerai darinya dan-"
"Ma, bisa tidak setiap kemari tidak membahas perpisahan kami? Semenjak kehadiran Rayrin sepertinya mama semakin menjadi, apa dia mempengaruhi mama?"
"Farid kamu bicara apa sih!" bentak mama.
"Rayrin itu wanita baik - baik dan beretika tidak seperti istri kamu itu,jika mama tau pilihan kamu seperti itu, lebih baik kamu tidak usah menikah saja dulu!" sambungnya berapi-api.
"Mama yang bicara apa, dengar ya ma, tidak akan pernah aku bercerai dari Akira, sampai kapanpun ia akan tetap jadi istri Farid!" ucapnya lalu berbalik meninggalkan mama yang bungkam seketika.
"Sayang, kamu bangun?" tanya Farid kaget saat melihat Akira berdiri diundakan tangga terakhir dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan, tapi sejurus kemudian senyumnya mengembang untuk menjawab pertanyaan suaminya.
Dengan tegesa ia menarik tangan Akira dalam genggamannya untuk menjauh dari mamanya, yang menatapnya tajam.
"Akira kamu-"
"Iya, tapi gak papa kok, kamu bantah mama soalnya, tapi kalau suatu waktu kamu menuruti mau mama kamu aku ikhlas kok." tuturnya dengan senyum tipis yang terlihat lemah, jika begini mana tega dia balas mengerjai istrinya.
"Sst.. jangan bicara macam - macam dasar ibu hamil selalu terbawa perasaan!" ucapnya mencairkan suasana yang sukses mendapat pukulan kecil dilengannya dari Akira.
"Ahh iya, aku belum sempet makan pempeknya ih kamu sih suruh aku tidur tadi." protesnya tiba-tiba lalu berjalan cepat menuju ruang makan.
Astaga, Farid benar - benar tak habis pikir dengan kelakuan istrinya, terkadang rusuh, terkadang lembut,terkadang juga ganas.
Wanita itu benar - benar pandai merubah perasaannya dalam sekejap.
Nggak ada mama nggak seru slurr
biar lebih kuat anginnya wkwk.
vote vote vote vote!!!