
AWAS ADA ADEGAN NANINU
YANG NGGAK SUKA SKIP AJA GAESS
YANG SUKA KUY KLIK LIKE, KETIK KOMENTAR DAN TINGGALKAN VOTE.
...HAPPY READING...
"Stop, Far." cegah Akira dengan suara menahan desahan kala bibir suaminya menjelajah kulit lehernya tanpa henti.
"Aku masih marah sama kamu, kalau kamu lupa!" pekiknya tertahan, ia menggigit bibirnya dan tangannya mencoba menjauhkan kepala suaminya dari ceruk lehernya.
Tapi, bukan berhenti Farid malah menyentuh Akira kian dalam, tangannya menyentuh setiap jengkal kulit wanita tercintanya.
Mungkin kalian berpikir mereka telah lama menikah hal semacam memadu cinta semacam ini adalah hal biasa.
Tapi berbeda bagi Farid, sebab hubungan seperti itu sangatlah jarang terjadi di antara mereka.
Pertama, karena ia tak yakin pada perasaannya.
Kedua, kehamilan, rasa sungkan, lalu pertengkaran.
Ketiga, ia takut Akira tidak menyukainya dan kembali meminta berpisah jika ia terus memaksa kehendaknya yang ingin terus memadu kasih dengan istrinya.
Jangan kalian pikir, Farid biasa saja terus berdekatan dengan istrinya yang selalu menggoda saat di rumah.
Ia mati-matian menahan hasratnya demi menghargai Akira.
"Aku merindukanmu Akira.. " bisiknya di depan wajah Akira yang basah penuh peluh akibat perbuatannya yang membuat suhu di kamar mereka menjadi panas.
"Setiap hari kita bertemu." ucapnya dengan susah payah sebab tangan Farid tidak berhenti mengelus punggungnya yang membuatnya merasakan sensasi geli sekaligus aneh. Belum lagi bibir Farid yang tak pernah bosan menyesapi kulit dada Akira yang terbuka.
Farid mengecup pipi Akira yang memerah, "Jangan pura-pura polos, sudah berhari-hari aku tidak menyentuh milikku ini." lalu tanpa banyak pertimbangan langsung menyatukan dirinya dan diri Akira.
Merasakan miliknya yang berada di dalam milik Akira.
***
"Terimakasih, aku mencintaimu, sangat." ungkap Farid setelah menyelesaikan kegiatan panas mereka dan mengecup kening Akira lama penuh kasih sedangkan yang di kecup matanya seperti sudah tidak kuat untuk tetap terbuka. Akira hanya tersenyum samar.
Dan lagi, Akira yang marah tapi Akira yang selalu kalah. Ini adalah percintaan terpanjang yang pernah ia lakukan dengan Farid ia memejamkan matanya saat waktu menunjukan hampir pagi.
Rasanya, ia hampir pingsan jika Farid tidak langsung berhenti detik itu juga. Ia bahkan tak sanggup hanya untuk membalas ucapan terimakasih dan ungkapan cinta dari Farid.
Akira mengerjapkan matanya saat merasakan suhu mulai memanas, kepalanya pusing dan terasa berdenyut. Ia menengok ke arah pintu kaca yang menyambung dengan teras balkon yang sudah terbuka entah sejak kapan.
Matahari sudah tinggi, ia langsung mengecek ke arah jam dinding, "Ya ampun jam sebelas siang?!" pekiknya dalam hati dengan mulut yang melongo.
Demi Tuhan, badannya terasa remuk, semalam adalah percintaan terlama lebih lama dari saat percintaan pertama mereka dulu, bedanya lagi yang ini Farid melakukannya dengan perasaan, bukan emosi.
Ia menurunkan sebelah kakinya berniat segera bangun dan menyegarkan diri. Entah dimana suaminya itu, habis enak malah di tinggal pergi.
Eh, ada note kecil di nakas.
Aku ada perlu sebentar, aku janji akan kembali sebelum makan siang, istirahatlah.
I Love You ♥.
Akira berdecak kesal, apa-apaan ini, dia yang marah dia yang kalah, di tinggal pergi lagi setelahnya. Tapi ada yang membuatnya diam-diam tersenyum, tulisan I Love You dengan bentuk hati setelahnya.
Bukan, kebiasaan Farid. Tapi ini betulan tertulis jelas.
Ia segera merapatkan selimutnya lagi dan langsung pergi membersihkan diri.
Ia berniat turun untuk mengisi perutnya yang lapar bukan main.
"Eh iya, Farid kan lagi di luar titip cilor enak nih sama es campur."
Ia segera mengirimkan pesan singkat pada Farid, langsung ada balasan.
Hubby : Cilor? Makanan apa itu?
Akira mendengus sebal, " Ya ampun gak tau cilor lagi nih si Tuan Muda." gerutunya.
Ia segera menelepon nomor Farid.
Saat pertanda panggilannya telah di terima ia langsung nyerocos, "Mas, mas gak tau cilor?"
"Enggak, makanan apa itu?" tanya Farid di seberang sana.
"Iya, nanti aku belikan, sekarang aku harus menemui mitra kerjaku sebentar dan langsung pulang. Kamu istirahatlah dulu pasti masih lelah." jawab Farid lembut, bukannya kesal karena kalimat terakhir mengingatkan Akira dengan kegiatan panas mereka semalam, Akira malah tersenyum malu-malu mendengarnya.
Mereka sudah lama menikah tapi kenapa sekarang rasanya seperti baru saja berpacaran ya?
Dan tumben Farid tidak protes tentang makanan yang ia mau biasanya Farid akan protes karena alasan tidak sehat, tidak bersih, dan sebagainya.
"Yaudah, aku tunggu di rumah." jawabnya sambil mengulum senyum dan memutuskan sambungan telepon.
Sederhana. Tapi nada bicara Farid tidak sederhana, penuh kasih dan kelembutan, menyiratkan perhatian. Akira suka.
"Ya ampun mas... kamu pinter banget sih luluhin perasaan aku." rengeknya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Astaga, Akira! Ini cuma kalimat sederhana loh, gak ada yang manis-manisnya!
Ia turun dengan raut super bahagianya, Wisnu sampai heran dengan Akira yang turun dari tangga sambil bersenandung dan mengulum senyum yang sepertinya tidak tertahan.
Sinar kebahagiaan jelas terpancar dari wajah majikannya, mirip dengan pancaran sinar kebahagiaan yang terlihat di wajah Tuannya tadi pagi.
Akira menuju dapur bersih mencari susu UHT dingin untuk menyegarkan tenggorokannya.
Ia mengambil ukuran 100ml yang memang ia sengaja simpan banyak di lemari pendingin.
Ia berjalan duduk di bangku meja makan, meminum susunya dengan tenang, sesekali senyumnya tersungging. Sumpah, nada bicara Farid, notes Farid, ungkapannya dengan suara lembut dan penuh kasih semalam. Semua itu sukses membuat pipinya bersemu merah.
Baiklah, Akira harus akui, dia memang baperan.
"Wah, enak ya Nyonya Muda jam segini baru bangun." sinis seorang wanita paruh baya sembari membawa dua piring sayur matang di tangannya.
"Mama?" bisiknya pada diri sendiri.
"Hebat ya, jadi ini yang di perjuangkan sama Farid, bahkan yang buat sarapan untuk anak saya malah pembantu." sindir wanita tua itu sambil meletakan piring yang di bawanya dari dapur tempat masak memasak di lakukan.
Akira diam tidak menjawab. Ia pikir percuma di jawab. Lagian, Akira heran, mertuanya ini punya hati atau tidak sih?!
"Kamu pakai dukun mana?" tanya mama sambil mengangkat dagunya sombong.
Akira memicingkan matanya aneh, bibirnya tersenyum masam. Apa pikiran mama selalu di penuhi dugaan-dugaan buruk tentangku, batinnya.
"Kalau orang tua bicara itu di jawab!" teriak mama mencengkram dagu Akira.
"Aw! Ma, sakit!" keluhnya, karena cengkraman mertuanya memang cukup kuat.
"Mama? Saya bukan mama kamu saya juga gak pernah sudi jadi mertua kamu!" hardiknya lalu menjambak rambut Akira.
Wisnu yang mendengar keributan langsung menghampiri keduanya, "Nyonya, anda keterlaluan, hentikan Nyonya!"
"Diam! Kamu hanya pelayan, kamu tidak berhak ikut campur!"
Akira yang merasa ini keterlaluan langsung melepaskan paksa cengkraman tangan mama saat wanita tua itu lengah karena menjawab kalimat Wisnu.
"Nyonya Danuarta yang terhormat! Anda sudah keterlaluan, tidakkah anda memiliki sedikit perasaan?!" katanya dengan nada suara meninggi membuat mama melotot tajam ke arahnya.
"Berani kamu?"
"Saya sudah cukup lama diam atas perlakuan anda yang tidak berdasar, saya tidak merasa pernah melukai anda, saya tidak tau apa salah saya sampai anda sangat membenci saya tanpa alasan, apa hanya karena saya bukan dari kalangan konglomerat seperti keluarga anda yang sudah kaya sejak lahir begitu?!" cercanya pada sang ibu mertua.
"Berani kamu melawanku gadis murahan?! Kamu kira saya tidak tau bahwa kamu sebelumnya memiliki perjanjian pernikahan dengan anak saya?! Tapi kamu menjebaknya dengan kehamilanmu! Dasar licik, sama seperti ibumu!" hardiknya tanpa sadar mengucapkan hal yang ganjil.
Kemarahan karena Akira mulai berani melawan membuatnya bicara tidak jelas.
Akira mengerutkan keningnya aneh. Sedangkan, Wisnu sibuk menghubungi Tuannya.
"Ibuku? Kenapa anda jadi membawa ibu saya? Apa seorang ibu sekarang sampai hati menghina ibu yang lain?" tanyanya sarkastik.
"Ah.. bahkan anda bersuka cita atas kematian cucu anda sendiri,atau jangan-jangan anda terlibat bersama Rayrin? Sebagai seorang ibu di mana hati nurani anda?" cercanya berharap membuat mertuanya itu melunak dan sadar. Ia yakin yang baru terucap dari bibirnya benar.
Sebab, ia tak pernah merasa mertuanya senang atas kehamilannya, justru ingin membunuh janinnya. Pasti mertuanya senang atas kabar yang menyatakan dirinya keguguran.
"Aku tak akan sudi memiliki cucu dari wanita yang di dalam darahnya mengalir darah wanita murahan seperti Marina!"
"Anda mengenal ibu saya? Seingat saya, saya tidak pernah memberi tahu nama ibu saya pada anda?"
Akira mulai curiga, sebab sejak tadi ada yang mulai terasa ganjil.
JANGAN LUPA VOTE KARYA INI DI LOMBA UPDATE TEAM