Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Ensure



Aku terlalu lemah soal perasaan, aku lemah dalam mengambil keputusan terbaik, emosi terlalu membutakan - Akira Shafeena Malik.


Seorang wanita dengan seringai liciknya merasa puas dengan rencananya, ia puas bisa ,membuat Akira mendiamkan Farid tapi tidak, ia belum puas jika mereka belum berpisah, biar bagaimanapun, Farid harus jadi miliknya untuk memperkuat statusnya tetap berada dikalangan atas.


"Ini baru permulaan, kita tunggu saja nanti apa yang akan terjadi, kalian harus berpisah untukku, sejak awal Farid adalah milikku" ucapnya dengan seringai licik.


Sementara itu digedung Earthecnology disuatu ruangan yang ternyata milik pimpinan perusahaan itu, Farid sedang mencoba mencari penyebab istrinya bersikap tak bersahabat. Yang ia kira mungkin saja karna sang mama.


"Gio, bagaimana apa mama menemui Akira akhir - akhir ini saat aku tidak ada?" tanyanya serius sembari memainkan bolpointnya.


"Setahu saya Anda selalu bersama Nona akhir - akhir ini Tuan, dan saat Nona izin keluar tanpa Anda, ia hanya bersama dengan teman - temannya dan tidak ada yang bertemu dengannya setelah itu, karna Nona langsung kembali ke rumah, jadi saya kira tidak ada ancaman dari Nyonya ataupun Nona Rayrin" jelas Gio panjang lebar dan mantap.


"Begitukah? Tapi, aku yakin ada suatu hal yang aneh padanya, dia tipe yang tidak bisa diam, bagaimana dia mampu diam selama tiga hari lamanya, bahkan setelah dua hari aku menawarkan bahwa ia bisa keluar rumah awalnya senang sih tapi akhirnya diam lagi"


"Mungkin Nona sedang kesal dengan Anda, apa Anda melakukan suatu hal yang menyakitinya bermesraan dengan Rayrin mungkin atau mengancamnya lagi" tebak Gio tanpa takut.


"Kau mau aku kirim ke Afrika?! Mana tega aku bermesraan dengan wanita lain saat istriku bahkan sedang mengandung, mana bisa aku mengancam istriku sendiri?!"


"Itukan yang suka Anda lakukan pada Nona"


sahut Gio yang dibalas dengan Farid melempar bolpointnya ke arah Gio.


"Sialan kau benar - benar mau ke Afrika?!" ancam Farid.


"Tidak Tuan, terimakasih saya nyaman disini"


balas Gio berani, bagaimana tidak berani meskipun ia hanya sekertaris pribadi tapi ia juga sahabat Tuan-nya sehingga Farid selalu menanyakan pendapat Gio akan suatu hal yang membingungkan.


"Kosongkan jadwalku hari ini aku harus bersama Akira seharian, aku mau pulang!" titahnya, yang membuat sang sekertaris tercengang.


"Tapi Tuan -"


"Tidak ada tapi - tapian Sergio!"


"Baik Tuan"


Sepertinya Tuan sudah terlanjur jatuh cinta bukan lagi mulai mencintai, benar kan Nona itu berbeda ia pasti membuat Tuan jadi gila karnanya gumam Sergio.


Ditempat lain terlihat dua orang wanita sedang bersitegang disebuah restaurant.


"Ada apa? Nyonya Danuarta mengajak kekasih suaminya bertemu?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Rayrin.


"Jaga bicara kamu, saya mau bicara baik - baik sama kamu!" tegur sang lawan bicara, siapa lagi kalau bukan Akira.


"Begini saja, tidak usah banyak bicara tinggalkan Farid dan aku akan membiarkan kamu tenang" ujarnya santai.


"Jangan harap! Aku bahkan sedang mengandung anaknya! Aku akan mempertahankan suamiku apapun yang terjadi, Saya harap kamu mau meninggalkan suami orang dan berhenti jadi benalu!" ketus Akira tajam.


"Duh santai dong, kamu mau tau satu rahasia?" Akira diam tak menyahut membuang pandangannya.


"Kemarin saat makan siang, Farid berjanji padaku akan meninggalkan kamu setelah melahirkan, bagaimana kejutanku?"


"Bohong! Kau hanya mengada - ada! Farid sudah melupakan kamu!" hardik Akira.


"Emm bohong ya? Aku tidak bohong, memang Farid pernah bilang cinta sama kamu? Pasti enggak kan?"


"..."


"Ya iyalah karena dia mencintai aku, bukan kamu!" ujar Rayrin puas melihat keterdiaman Akira.


"Tutup mulut kamu dasar ******! Aku akan percaya suamiku daripada ucapanmu!"


"Jika kau percaya suamimu daripada aku, kenapa kau mengacuhkannya berhari - hari? Jelas kau ragu kan"


Akira membelalak kaget mendengar Rayrin yang mengetahui sikapnya pada Farid.


"Kaget ya?"


"Tau dari mana?!"


"Dari kekasihku dong, kemarin dia mengeluh padaku bahwa istrinya mengacuhkannya sehingga ia mencariku untuk mendapat perhatian" jawab Rayrin yang berhasil membuat Akira naik darah dan menyiramkan jus jeruknya ke wajah Rayrin.


"Dasar tidak tau malu!" hardik Akira lalu pergi dari tempat itu. Tanpa diduga saat ia melangkah keluar dari restaurant itu ia menabrak Rangga yang ternyata berada disitu, mungkin ia pemasok juga ditempat ini.


Akira hampir terjatuh karna sepatu hak tingginya, untungnya dengan sigap Rangga menangkapnya.


"Duh, maaf saya gak sengaja, saya pergi dulu terimakasih" ucap Akira, ia sungguh harus cepat pergi ia tak mau lebih lama bersama pria itu, ia merasa tak nyaman.


Saat sedang berjalan tiba-tiba ada seorang anak yang berlari kencang hampir menabraknya jika saja Rangga tidak menarik tangan Akira, yang berakhir dipelukannya.


Akira geram pada dirinya sendiri karna bisa diselamatkan dua kali oleh pria yang ia hindari.


"Hati - hati saat berjalan kau bisa celaka" ucap Rangga mengingatkan. Akira terlalu ingin buru - buru meninggalkan Rayrin hingga ia tak memperhatikan jalannya, juga ingin cepat menghindar dari Rangga yang membuatnya melakukan kesalahan yang sama.


pamit Akira dan segera pergi dari parkiran menggunakan mobilnya, ya dia menggunakan mobil bukan motor seperti dulu, demi kenyamanan bayi diperutnya.


"Yuk pak, buruan pulang!" titahnya pada sang supir.


"Kena kau Akira!" ujar seseorang yang tanpa disadari tengah memperhatikan Akira dari jauh.


.


.


.


Akira berjalan dengan kesal masuk ke dalam rumahnya, hingga saat ia membuka pegangan pintu sebuah suara menghentikannya.


"Dari mana?"


"Farid! Kamu kok sudah pulang mas?"


"Dari mana kau Akira tanpa seizinku?!"


"Aku? aku hanya pergi makan diluar"


sahut Akira beralasan, ia tidak mungkin bilang habis bertemu Rayrin.


"Kenapa tidak menyuruh pembantu saja untuk membelikan?"


"Aku ingin makan ditempatnya, kan kemarin kamu juga udah bolehin aku keluar" ucap Akira takut.


"Ah ya, tapi kau bisa izin padaku kau wanita bersuami Akira"


"Iya maaf"


"Ya sudah ayo masuk" ajak Farid yang dibalas anggukan dari Akira. Mereka berjalan beriringan.


"Siniin tas kerja sama jas nya, tumben udah pulang ini masih jam 11 siang?" tanya Akira saat mereka sampai diruang tamu dan mengambil alih jas serta tas kerja Farid.


"Terserah aku, aku bos nya memang aku tidak boleh jika ingin menghabiskan waktu dengan istriku?" tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


Akira hanya diam dan memilih berjalan menuju tangga untuk pergi ke kamarnya menaruh tas kerja suaminya. Farid mengikutinya dari belakang.


"Akira! Kamu diam lagi kamu sebenarnya kenapa terus mendiamkan aku begitu?"


tanya Farid saat mereka telah sampai dikamar mereka.


Akira berbalik melihat wajah sang suami yang terlihat frustasi, sebenarnya ia tak tega melihatnya, tapi hatinya meragu.


"Aku gak apa - apa, hanya moodku sedang buruk akhir - akhir ini" ucapnya tersenyum, membuat Farid bernapas lega.


"Far, kamu bisa memastikan satu hal?"


Farid mengernyit heran dengan ucapan Akira, "Bisa, tapi jangan panggil namaku mengerti?"


Akira mengangguk dan menarik tangan suaminya agar duduk disofa bersamanya.


"Apa yang mau kamu pastikan,hm?"


"Kamu gak akan ceraikan aku setelah anak ini lahir kan?" tanya Akira dengan wajah menunduk karena takut.


"Kamu bicara apa sih Ra?" Farid menyentuh dagu Akira membawa Akira agar menatap wajahnya, "Lihat aku Akira, bukankah aku sudah bilang, kita tidak akan bercerai sekalipun boy lahir, aku ingin boy memiliki orang tua yang lengkap!" jelas Farid menggebu - gebu berharap Akira langsung percaya, tapi tidak Akira masih memiliki pertanyaan dari jawaban Farid.


"Bagaimana kalau nanti kamu tinggalin aku terus menikahi Rayrin? boy masih bayi dan dia gak akan tau aku ibu kandungnya atau bukan, aku gak sanggup anak aku dibesarkan oleh Rayrin jahat itu!" cerocos Akira tanpa henti dengan air mata yang mulai menetes.


"Nggak, aku gak akan meninggalkan kamu, aku pastikan hal itu, sekarang kamu jangan marah lagi, kasian boy kalau kamu gak baik suasana hatinya" jelas Farid menenangkan Akira.


"Kenapa jadi kamu yang jauh lebih paham tentang kehamilan aku sih!"


"Kan aku yang hamilin jadi aku paham" seloroh Farid membuat Akira mencebikan bibirnya, lalu tersenyum samar. Farid mencubit pipi Akira gemas, rasanya ia senang melihat Akira yang mulai tersenyum.


"Jangan ditahan juga dong senyumnya"


"Ish apaan sih siapa juga yang nahan senyum!" desis Akira, sungguh ia kesal dengan kelemahannya yang satu ini, dia sangat mudah tersenyum dan tertawa tapi juga mudah marah.


Hello guys aku update lagi


Terimakasih untuk yang selalu menunggu dan penasaran dengan karyaku


Akan lebih berterimakasih lagi seandainya kalian bersedia vote karya ini agar masuk ranking hehe


With Love, Cotton Candy Zue🌻😊